Putra - Putri Mahkota

Putra - Putri Mahkota
Membuatmu Ingat padaku


__ADS_3

Kenzie terus penasaran kepada Annisa, gadis yang telah membuatnya terheran-heran selama ini. Karena rasa penasarannya itu, Kenzie, tak pernah absen untuk datang ke kantin hanya untuk menemui Annisa.


Seperti saat ini, Kenzie terus menunggu Annisa, yang sedang melakukan shalatnya di dalam mushola. Kenzie, memperhatikan Annisa, dari jauh mulai dari berwudhu, dan melihat pergerakan shalatnya, Kenzie perhatikan sampai Annisa, selesai melakukan shalatnya.


"Anisa?" panggil Kenzie, saat Annisa, keluar dari mushola, Annisa pun berbalik ke arah Kenzie, dan langsung menunduk.


"Ada apa?" tanya Anisa, demikian.


"Apa kau baru saja melakukan shalat?" tanya Kenzie, Annisa pun mengangguk lalu berkata "iya." ucapnya demikian.


"Apa kau melakukannya setiap hari?" pertanyaan itu membuat Annisa, mendongak.


"Tidak, baik berbicara seperti ini." ucap Annisa, yang merasa canggung.


"Maksudmu?" tanya Kenzie.


"Apa masih ada yang ingin kamu bicara, kan?" tanya Annisa, Kenzie,pun mengangguk.


"Sebaiknya kita duduk disana, tidak baik jika mengobrol sambil berdiri," ucap Annisa, lalu berjalan ke arah meja di ujung sana. Annisa dan Kenzie, pun duduk di bangku yang sudah di sediakan. Kenzie, duduk berdampingan dengan Annisa, namun itu membuat Annisa, tak nyaman.


"Mundurlah," ucap Annisa,


"Mundur?" tanya Kenzie.


"Jangan terlalu dekat, jika wanita dan laki-laki duduk berduaan setidaknya harus ada jarak. Biar tidak jadi fitnah nantinya." Kenzie, menarik nafas sejenak, lalu di hembuskan nya kasar Setelahnya Kenzie, pun mundur sampai menyisakan jarak satu meter antar keduanya.


"Apa yang ingin kau tanyakan?" tanya Annisa.


"Apa yang kau rasakan setelah shalat?" tanya Kenzie.


"Shalat, sudah menjadi kewajiban bagi umat muslim, selain salah satu kewajiban atas perintah Allah swt Shalat juga bisa membuat hati kita, menjadi lebih tenang," jelas Annisa.


"Apa kamu mau mengajarkanku Shalat?" tanya Kenzie, yang membuat Annisa, mendongak.


"Apa kamu seorang muslim?"


"Ya, aku muslim. Tapi aku sudah lupa, bagaimana cara gerakan Shalat."


"Astagfirullah, apa kau tidak pernah shalat?" tanya Annisa.


"Aku, lupa bahkan sudah sangat jarang melakukannya." jawab Kenzie.


Kenzie dan keluarganya memang seorang muslim, namun mereka sering melupakan bagaimana hidup sebagai seorang muslim dan apa kewajiban seorang muslim. Karena yang mereka tahu, hanyalah hidup mewah dan bergelimang harta.


Annisa, jadi terenyuh mendengar ucapan Kenzie, Annisa merasa sedih akan hal itu.


"Kamu benar-benar sudah melupakan kewajibanmu sebagai muslim karena terlalu memikirkan duniawi. Apa kau yakin ingin berubah? Dan ingin aku mengajarkan mu shalat?"

__ADS_1


"Ya," jawab Kenzie.


"Aku senang kamu ingin berubah, tapi aku bukan guru yang baik untukmu, aku hanyalah orang biasa yang tak luput dari dosa, dan juga kesalahan. Mungkin aku hanya bisa memberimu arahan, kalau kau mau aku bisa mengajarkanmu sedikit tentang cara shalat," ucap Annisa.


"Iya, aku mau." Jawab Kenzie dengan senyuman.


****


Kenzie dan Annisa pergi ke perpustakaan. Mereka berjalan namun dengan jarak. Annisa, mencari beberapa buku bimbingan shalat juga buku bacaan-bacaan shalat, dan bacaan wudhu lainnya.


"Bacalah buku ini," ujar Anisa yang memberikan buku-buku itu pada Kenzo.


"Sebanyak ini?" Kenzo, terbelalak melihat tumpukan buku di depannya.


"Ya, mungkin ini masih kurang,"


"Ah, tidak-tidak jangan tambah lagi cukup ini saja."


"Baiklah, sekarang kau baca ya!" ujar Annisa, yang melangkah pergi.


"Tunggu, kau mau kemana?" tanya Kenzie, menghentikan langkah Annisa. Annisa, pun berbalik menghadap Kenzie.


"Aku, mau kembali ke kantin." ucapnya demikian.


"Lalu aku ... bagaimana denganku, maksudku kalau ada yang tidak aku mengerti, aku harus bertanya pada siapa? Tenang saja tidak akan jadi fitnah kok, disini, kan banyak orang," ucap Kenzie, yang membuat Annisa, kembali duduk di hadapannya.


"Aku ingat shalat fardhu ada lima waktu, subuh, duhur, asar, magrib, isya. Gerakannya aku masih ingat! tapi ... bacaannya aku sudah lupa." ucap Kenzie dengan suara melemah.


"Kapan terakhir kau shalat?" tanya Annisa.


"Entahlah aku lupa," jawab Kenzie. Annisa hanya membuang nafasnya kasar.


Terkadang urusan dunia membuat kita lupa kepada Tuhan, karena kita sudah bahagia menikmati surga dunia, dan lupa akan surga di akhirat nanti. Kesungguhan Kenzie, ingin benar-benar berubah membuat hati Annisa, tergerak dan selalu membantunya. Kini keduanya selalu bertemu, dan Kenzie, banyak berdiam diri di dalam kamarnya hanya untuk menghafalkan do'a-do'a dan bimbingan shalat.


****


Di tempat lain Kenzo, tak pernah berhenti mengikuti Lusi, memantau semua gerak-geriknya. Karena ini yang bisa Kenzo, lakukan.


"Kenapa mobil itu selalu mengikutiku?" gumam Lusi, yang menunggu di depan gerbang kampusnya. Melihat mobil Kenzo, yang terus memantaunya. Karena penasaran Lusi, pun menghampiri mobil Kenzo, membuat Kenzo, ketakutan karena ketahuan.


Sesampainya di depan mobil Kenzo, Lusi, mengetuk kaca mobilnya, terpaksa Kenzo, membuka kaca mobilnya.


"Kamu?" ucap Lusi, yang melihat kenzo, pria yang pernah bertemu dengannya di rumah sakit.


"Kenapa kamu terus mengikutiku?" tanya Lusi,


"Setiap hari aku menjemputmu, hanya ... kamu saja yang tidak ingat." jawab Kenzo.

__ADS_1


"Memangnya kamu siapa? Sedekat apa hubungan kita?"


"Dekat, sangat dekat. Kita selalu melewati hari-hari bersama." Kenzo, hanya bisa bicara dalam hatinya.


"Dari, kecil kita memang dekat. Kita suka main bersama,"


"Benarkah? Tapi ... kenapa aku tidak mengingatmu?" tanya Lusi.


"Aku akan membuatmu ingat lagi padaku, masuklah aku akan membawamu ke suatu tempat." Titah Kenzo, yang membuka, kan pintu untuk Lusi.


"Kemana? Kemana kau akan membawaku?"


"Nanti kau akan tahu."


Lusi, pun menuruti apa yang Kenzo, perintahkan. Tidak ada percakapan apapun antara keduanya sampai akhirnya Kenzo dan Lusi sampai di sebuah danau. Tempat pertama kali Kenzo, menyatakan cintanya pada Lusi, berharap Lusi, akan ingat kembali padanya.


"Aku, seperti tak asing dengan tempat ini. Apa aku sering datang kesini?" tanya Lusi, yang terus berjalan sambil mengedarkan pandangannya ke menatap hamparan danau yang luas.


"Apa kau mengingat sesuatu? Ini adalah tempat yang sering kita kunjungi." ucap Kenzo, yang menatap fokus ke depan.


Sekilas bayangan pun terlintas. Lusi, mengingat sedikit bayangan-bayangan yang memperlihatkan hamparan danau di malam hari. Lusi, juga mengingat dirinya yang berdiri di tepian danau bersama Kenzo. Perlahan-lahan ingatan pun muncul kembali. Dan bayangan terakhir yang terlintas adalah bayangan Kenzo, saat mengecup pipinya dulu. Tiba-tiba ...


Arghh ... Lusi, meringis kesakitan, Lusi terus memegang kepalanya yang terasa sakit.


"Lusi, ada apa?" Kenzo, coba memeluk Lusi, dan bertanya ada apa? Tapi Lusi tidak menjawab, Lusi, hanya meringis dan terus memegang kepalanya.


"Lusi." Tubuh Kenzo, langsung melorot bersamaan dengan tubuh Lusi, yang terkulai lemah. Kenzo, menahan tubuh Lusi, yang tertidur di atas pangkuannya.


"Lusi, Lusi," teriak Kenzo, yang terus mencoba membangunkan Lusi.


"Lusi, aku mohon bangun, aku janji aku tidak akan memaksamu untuk mengingatku lagi asalkan kamu bangun Lusi, aku mohon." Kenzo, begitu cemas dan terus memeluk Lusi, sampai akhirnya Lusi, pun terbangun.


"Kenzo,"


Kenzo, langsung terdiam saat Lusi memanggil namanya.


"Kenzo," Lusi, kembali memanggil.


"Lusi, apa kau ingat sesuatu?" tanya Kenzo.


"Kenapa kau menciumku? Aku melihat itu di bayanganku, sebenarnya kau siapa? Apa hubunganku denganmu?" Hati Kenzo, terasa sakit saat Lusi, tidak mengingatnya orang yang pernah ada dalam hidupnya. Kenzo, benar-benar sudah tak tahan lagi, jika harus seperti ini, sepertinya Kenzo, tidak bisa menahannya lagi.


"Kau mengingat ciuman itu? Apa kau tidak ingat apa yang aku katakan? Aku, akan mengulangi masa itu, aku akan mengingatkanmu lagi akan hari itu."


"Memangnya apa yang kau katakan?" tanya Lusi, yang mendongak menatap wajah Kenzo, di atas wajahnya, karena Lusi, masih tertidur dalam pelukan Kenzo.


"Aku menyukaimu," ucap Kenzo, demikian yang langsung mendaratkan bibirnya pada bibir ranum milik Lusi. Lusi, terkejut dan ingin melepaskan ciuman itu, namun ciuman itu terlalu kuat, Kenzo, terus menyesap bibirnya, sampai akhirnya Lusi, pun pasrah dan diam, membiarkan Kenzo, melakukan apa yang dia mau. Perlahan-lahan Lusi, pun merasakan ada rasa yang tak biasa.

__ADS_1


__ADS_2