
Setelah di cium tadi, Jolie jadi pendiam Jolie tidak bicara sepatah kata pun. Jolie menutup bibirnya rapat-rapat, takut kalau Elang menciumnya lagi.
"Kau tidak makan?" tanya Elang Jolie hanya menggeleng.
"Aku seperti bicara dengan tembok saja." cibir Elang sambil memakan makan siangnya.
Tembok! Dia bilang aku tembok, ishh menyebalkan, umpat Jolie dalam hati.
"Aku, akan pergi meeting kau tunggu, disini setelah itu kita akan pulang." ujar Elang yang berdiri melihat Jolie yang hanya mengangguk saja.
"Oh iya, nanti akan ada dokter datang untuk mengobati tanganmu." Lagi-lagi Jolie mengangguk sebagai jawaban. Elang hanya menggeleng lalu pergi ke ruang meeting.
Huffff, Jolie bernafas lega saat Elang sudah pergi. Hal yang tak pernah Jolie lakukan adalah diam. Jolie paling tidak bisa diam, apalagi tanpa bicara namun kali ini Jolie mengunci mulutnya karena takut dengan ancaman Elang karena akan membekapnya lebih tepatnya menciumnya. Tak lama kemudian seorang dokter wanita masuk ke dalam untuk mengobati lukanya.
****
Di rumah sakit, Amber berdiri sambil memandangi Tissa yang berada di dalam ruang ICU. Amber hanya bisa melihat Tissa pada kaca, beruntung Tissa masih bisa di selamatkan. Amber menyesal karena telah bersikap dingin pada Tissa, Amber tidak menyangka Tissa akan melakukan itu agar mendapat maaf darinya.
"Amber, kita pulang ya kamu harus istirahat." ujar Shila yang mengetahui keadaan Tissa dari Indra.
"Tidak, aku akan menunggu disini, aku tidak akan pergi kemanapun sebelum mama bangun."
"Amber, kalau kamu sakit siapa yang akan menjaga mamamu saat sudah bangun nanti. Sekarang kita pulang, kamu harus istirahat, ada dokter yang menjaga mamamu." Shila terus membujuk, sampai akhirnya Amber pun menurut dengan ajakan Shila. Shila membawa Amber ke rumahnya.
"Mas, aku membawa Amber untuk tinggal sementara disini, sampai Tissa sembuh." ujar Shila pada Vero. Amber cukup takut melihat wajah Vero yang dingin dan kaku Amber hanya menunduk.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Vero namun tatapannya tak berpaling dari Amber. Bagaimana pun juga Amber telah menghina putrinya juga keluarganya.
"Tissa masih kritis, dan belum sadarkan diri. Amber tidak punya siapa-siapa, sebelumnya Amber tinggal bersama Indra, namun sekarang Indra pasti sibuk di rumah sakit." Vero terhenyak saat mendengar Amber sempat tinggal bersama Indra namun, saat Shila menjelaskan kronologinya Vero pun mengerti dan paham.
"Baiklah, aku mengizinkanmu tinggal disini, tapi ingat jaga tingkah lakumu, kalau kau berani menghina putriku lagi aku tidak akan memaafkanmu."
"Mas." Shila menatap Vero tajam, saat mendapat tatapan tajam dari Shila Vero langsung memalingkan wajahnya, karena tidak tahan jika harus di tatap seperti itu oleh sang istri.
"Kamu jangan takut," ucap Shila pada Amber. ''Mas Amber itu keponakanku, kamu jangan seperti itu bersikap baiklah."
Hm ... Vero hanya ber hm ria.
"Kanza." Panggil Shila pada putrinya, Kanza pun menyahut.
__ADS_1
"Iya Mami." sahut Kanza yang berlari menghampiri Shila dan juga Vero yang duduk di ruang keluarga.
"Ajak Amber ke kamarmu ya, sekarang Amber tinggal disini. Amber pergilah bersama Kanza."
"Mami, kenapa denganku? Kenapa tidak di kamar tamu saja."
"Kanza, Amber bukan tamu dia saudara kita kamu dengan Amber adalah sepupu." Kanza merengut kesal. Baru kali ini Shila berbicara tinggi padanya.
"Amber pergilah, Kanza bawa Amber ke kamar ya."
"Ayo ikut aku." ketus Amber sambil berjalan menuju kamarnya.
****
Amber dan Kanza saling diam, posisi mereka pun berjauhan. Hanya guling yang memisahkan jarak antara mereka.
"Kalau kau tidak nyaman, aku akan tidur di luar saja." ucap Amber membuka keheningan.
"Tidak usah, yang ada nanti aku yang di marahi Mami." ketus Kanza sambil memeluk bonekanya.
"Kalau begitu aku akan tidur." ujar Amber yang merebahkan tubuhnya.
"Maaf, aku minta maaf atas kesalahanku waktu itu." ucap Amber lagi setelah sekian lama diam. "Aku salah, dan aku menyesalinya." lanjut Amber.
"Percuma kau menyesal, semua sudah terjadi." ketus Kanza. Lalu bangun dari tidurnya.
"Kau mau kemana?" tanya Amber yang juga terbangun.
"Aku akan tidur di kamar lain. Aku tidak biasa tidur dengan orang lain." ketus Kanza lalu pergi membawa boneka juga bantalnya. Amber hanya diam. Sikap Kanza padanya sama seperti sikapnya pada Tissa, mungkin Kanza juga belum bisa memaafkannya, dan Kanza juga pasti butuh waktu apalagi mengingat perlakuan Amber pada Kanza sebelumnya. Amber kembali tidur karena jujur Amber begitu lelah.
Tok ... tok ... tok ...
Cklek, Bugh .
"Aduh." ringis Kenzie yang tubuhnya di tabrak Kanza. " Kanza apa yang kau lakukan? Kenapa masuk ke dalam kamarku? Bawa bantal segala lagi." ujar Kenzie kesal.
"Aku akan tidur disini."
"Tidak bisa." sanggah Kenzie
__ADS_1
"Kenapa?"
"Kau, kan punya kamar sendiri."
"Di kamarku ada nenek lampir." ucap Kanza yang langsung melempar tubuhnya pada tempat tidur Kenzie.
"Apa? Siapa?"
"Siapa lagi, kalau bukan si ember cucian."
"Apa? Amber ada disini? Ngapain?" tanya Kenzie yang berlari menghampiri Kanza lalu melempar tubuhnya ke atas tempat tidur membuat tubuh Kanza melambung.
"Mana aku tahu, tanya saja pada Mami kata Mami dia akan tinggal disini."
"Oh, tidak apa lagi yang dia rencanakan. Hei Kanza, kau malah tidur."
"Aku ngantuk."
"Ish ... kau ini." gerutu Kenzie kesal, lalu pergi ke keluar menuju kamar Kenzo.
****
Elang baru saja selesai meeting, hari ini Elang cukup lelah karena banyak sekali pekerjaannya yang menumpuk karena cuti selama Jolie di rumah sakit.
Ting ...
Satu pesan masuk ke dalam ponselnya. Saat Elang ingin merapikan pekerjaannya, Elang pun mengambil ponselnya untuk melihat siapa yang mengirim pesan padanya.
Elang, ini aku Anjani aku ingin mengundangmu makan malam, kau bisa datang? please
Isi pesan dari Anjani, tanpa membalas Elang langsung menghapus pesan itu lalu kembali memasukan ponselnya ke dalam sakunya. Elang kembali merapikan pekerjaannya, lalu pergi meninggalkan ruang meeting.
Jolie pasti sudah sangat bosan, karena menunggunya lama dan Elang tidak tahu Jolie sudah makan atau belum.
Cklek, Elang membuka pintu ruang kerjanya lalu menutupnya kembali. Elang masuk lebih dalam, pertama yang di lihatnya adalah Jolie, yang tertidur di sofa dengan tangan kanan yang di perban. Elang menyimpan laptonya terlebih dulu, lalu menghampiri Jolie yang tertidur di sofa. Elang menatap wajah Jolie dalam waktu yang cukup lama. Elang tersenyum kecil mengingat pertemuannya dengan Jolie dulu.
"Mulutmu hanya bisa diam saat tertidur." ucap Elang yang masih memandang wajah Jolie. Lalu Elang merogoh ponselnya untuk menghubungi seseorang.
"Siapkan mobilku sekarang." ucap Elang pada sambungan telepon. Lalu Elang menggendong Jolie membawanya sampai ke lobby. Semua orang termasuk para pengunjung hotel dan karyawan hotel menatap Elang tanpa berkedip, ada yang merasa iri ada juga yang merasa kagum, Elang begitu romantis menggendong Jolie ala bridal style.
__ADS_1
Sesampainya di lobby, Elang sudah di sambut oleh bodyguardnya yang membukakan pintu mobilnya. setelah Elang mendudukkan Jolie, Elang menutup pintu mobilnya lalu mengitari mobil dan masuk lalu duduk di bagian kemudi. Elang melajukan mobilnya meninggalkan area hotel di ikuti kedua bodyguard yang menaiki motor sport mereka.