
Elang sangat panik dengan keadaan Jolie, yang tiba-tiba pingsan. Di depan ruang UGD Elang, terus bejalan mondar-mandir tak tiada henti. Hatinya tak tenang juga gelisah menunggu Jolie yang sedang di periksa oleh Dokter.
Tak berselang lama Dokter pun keluar. Dengan perasaan cemas dan khawatir Elang, langsung menghampiri Dokter.
"Dokter bagaimana keadaan istri saya?" tanya Elang dengan mimik wajah yang begitu cemas.
"Selamat, istri anda hamil."
"Hamil?" Elang kembali bertanya, Dokter hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Tapi kenapa istri saya pingsan?"
"Istri anda hanya kelelahan, kepala pusing itu biasa terjadi pada ibu hamil, sebaiknya jangan biarkan istri anda kelelahan, apalagi dalam keadaan hamil muda. Usia kandungannya sudah 8 minggu." jelas Dokter.
Rasa haru dan bahagia menjadi satu, Elang memasuki kamar Jolie, Elang benar-benar bahagia. Elang sudah tidak sabar ingin memberikan kabar bahagia ini kepada mama tercinta yang memang sudah menanti seorang cucu.
"Sayang, kamu hamil?" ujar Elang seraya mengelus perut rata Jolie. Namun Jolie tidak merespon, Jolie masih marah. "Sayang, kamu masih marah?" tanya Elang, namun Jolie hanya memalingkan wajahnya.
"Sayang, kamu hamil kita akan punya anak, apa kamu tidak senang?"
"Apa kamu senang?" tanya Jolie balik.
"Ya tentu, aku sangat senang."
"Ya, kamu pasti senang! Setelah perutku membesar, terus aku jadi gendut, kamu bisa deketin wanita gila itu."
"Kamu, masih membahas itu? Ayolah sayang ... jangan bahas Anjani lagi."
"Tuh, kan. Kamu masih ingat namanya."
Elang hanya menghela nafas, sambil mengusap wajahnya kasar. Salah dan salah lagi batinnya.
"Sayang, sudah jangan marah-marah. Kasihan bayi kita."
"Jadi, menurutmu aku salah marah sama kamu,"
"Sayang ...."
"Sudah, aku tidak ingin bicara lagi denganmu." ketus Jolie yang memalingkan muka.
"Sayang."
"Diam."
"Sayang."
"Aku, sudah bilang aku tidak ma ...." Belum sempat Jolie melanjutkan perkataannya, Elang langsung menarik tengkuk lehernya dan Mm ... Elang mengunci bibir Jolie dengan bibirnya, dan itu merupakan cara ampuh bagi Elang untuk mendiamkan keceriwisan istrinya.
__ADS_1
Prang,
Sebuah suara mengejutkan keduanya, Elang dan Jolie langsung melepaskan ciumannya, di depan sana terlihat seorang suster yang sedang memungut beberapa barangnya yang jatuh.
"Ma-Maaf," ujar suster itu dengan tubuh gemetar. Lalu keluar dari kamar Jolie.
"Ya ampun, apa mereka pikir ini hotel!" umpat suster itu, dan berlalu pergi.
Jolie langsung diam, begitu pun Elang, mereka jadi malu, karena kepergok suster itu.
"Seharusnya kamu mengunci pintu dulu." ucap Jolie membuat Elang menoleh, dengan bola mata yang membulat sempurna.
"Apa! Maksudmu ...." ucapan Elang terhenti, ketika sudah mengerti apa maksud Jolie. Elang berjalan ke arah pintu, lalu menguncinya dari dalam. Dengan segera, Elang kembali menghampiri Jolie.
"Aku sudah mengunci pintunya, apa kita bisa melanjutkannya lagi?" Jolie mengangguk malu, setelah Elang mengatakan itu.
Dengan cepat Elang langsung menarik tengkuk leher Jolie kembali, keduanya saling menyesap, membelit bibir mereka dalam waktu yang cukup lama. Kalau sudah jatuh cinta dunia terasa milik berdua, rumah sakit pun mereka anggap seperti kamar mereka sendiri.
****
Joy menjalankan mobilnya dengan pelan, manik matanya sekali-kali melirik Stella yang ada di sampingnya. Stella hanya diam, sepanjang perjalanan tidak ada percakapan apa pun antara mereka. Stella terus memalingkan wajahnya pada kaca mobil di sampingnya. Stella hanya menatap pohon-pohon, dan gedung-gedung, yang berjalan mundur.
Sebenarnya Stella tidak nyaman dengan situasi seperti ini, tapi ... Stella masih kesal dan marah pada Joy, bahkan Joy hanya diam tidak membujuk, atau pun merayu ya. Joy tidak peka.
Di pertengahan jalan Stella melihat pedagang siomay yang berhenti di pinggiran jalan, Stella ingin sekali memakan siomay itu, tapi ... gengsi'lah kalau harus meminta Joy untuk berhenti, Stella, kan sedang marah. Tapi ... Stella ingin sekali siomay itu, sepertinya rasanya enak. Stella hanya bisa mendengus kesal, sambil mengusap-usap perut buncitnya.
Joy tidak menjawab, Joy langsung membuka seatbelt-Nya, lalu turun dari mobil. Joy berjalan meninggalkan Stella memasuki sebuah taman.
"Kenapa dia yang marah, bukannya aku yang harus marah." umpat Stella, yang kesal karena di diamkan Joy.
Stella turun dari mobil, lalu melangkah mengikuti Joy yang masuk ke dalam taman. Stella mencari-cari keberadaan Joy, yang tidak nampak. Stella sempat kesal sendiri karena Joy malah menghilang.
"Dimana Joy? Pergi kemana dia? Seharusnya aku yang marah kenapa Joy yang marah, uh ... menyebalkan. Hiks ... hiks ... Joy kamu tega ninggalin aku yang lagi bunting kaya gini." umpat Stella yang manja.
Tiba-tiba ada dua orang anak kecil, sekitar 5 tahunan yang menarik-narik tangan Stella, agar ikut dengannya.
"Eh, kalian siapa?" tanya Stella yang di tarik-tarik tangannya. Kedua anak itu tidak bicara, mereka hanya menunjuk sebuah tempat pada Stella.
"Apa kalian terpisah ibu kalian?" tanya Stella lagi, namun kedua anak itu hanya menarik-narik tangan Stella.
"I-iya, aku bantu kalian untuk cari ibu kalian." ujar Stella yang pasrah di tarik tangannya oleh kedua anak itu.
"Dimana ibu kalian? Masa tega sih ninggalin anak di tempat kaya gini." umpat Stella, seraya melangkah.
"Eh, kenapa berhenti?" tanya Stella. Namun kedua anak itu hanya menunjuk pada seorang pria yang berdiri menghadap danau, lalu kedua anak itu pun pergi.
"Eh, kalian mau kemana?" teriak Stella pada kedua anak itu yang berlari menjauhinya.
__ADS_1
Setelah anak itu menghilang, Stella kembali menatap seorang pria yang ada di tepi danau, dengan langkah pelan Stella, menghampiri pria itu. Dari jauh Stella, mengamati pria itu, dari poster tubuh, tinggi badan, baju yang di pakai, dan punggungnya, Stella sangat kenal dengan tubuh ini.
"Joy?" Stella memanggil, pria itu pun membalikan tubuhnya, menoleh ke arah Stella.
Stella terbelalak, saat melihat sebuket bunga mawar yang Joy pegang di depan dadanya.
"I'm sorry, mau kah kau memaafkan ku!" ucap Joy yang mengarahkan bunganya pada Stella.
"Kamu tahu arti bunga mawar merah? mawar merah melambangkan cinta dan kesetiaan, itu kenapa, mawar merah selalu di berikan kepada orang yang kita cintai. Seperti mawar merah ini, seperti itu juga cintaku pada mu. Aku mencintaimu, hanya kamu yang aku cintai tidak ada yang lain, aku juga lelaki setia, seperti mawar ini yang melambangkan kesetiaan."
"Do you forgive me? ( Apa kau memaafkan ku?"
Hiks ... hiks ... bukannya menjawab Stella malah menangis, membuat Joy panik dan langsung memeluknya.
"Hei, ada apa? Kenapa menangis? Apa ada yang sakit?" tanya Joy sambil menyapu air mata Stella.
"Kamu buat aku panik, aku pikir kamu ninggalin aku, kamu pergi tanpa memberitahuku." Joy kembali memeluk Stella.
"Aku, tidak akan meninggalkanmu, aku hanya pergi mencari bunga, apa kau memaafkanku? Hm." Stella hanya mengangguk, seraya mengambil bunga mawar itu.
"Sudah, jangan menangis, nanti bayi kita sedih." ujar Joy yang kembali memeluk Stella, lalu mengecup pucuk kepalanya.
"Apa kau lapar? Kau mau makan?" tanya Joy, yang di angguki Stella.
"Iya, aku lapar. Tapi aku ingin makan siomay yang tadi kita lewati." ujar Stella dengan nada manja.
"Kenapa kamu tidak bilang? Kita, kan bisa berhenti." ujar Joy yang menatap Stella.
"Aku, kan sedang marah." ucap Stella, yang membuat Joy tertawa.
"Dengar, kau boleh marah padaku, tapi ... kalau kau ingin apa pun segera katakan padaku mengerti?" Stella mengangguk.
"Ya sudah, sekarang kita balik lagi ke tempat yang tadi, mau?" Stella kembali mengangguk. Joy jadi gemas melihat istrinya yang manja dan merajuk, seperti anak kecil.
"Ayo," Ajak Joy seraya menuntun Stella.
"Pelan-pelan jalannya." ujar Joy, yang terus memperhatikan Stella, dan tangannya tak melepaskan genggamannya.
Joy memang dingin, tapi ... sikapnya yang harmonis dan romantis, membuat para gadis iri melihatnya.
...----------------...
Jangan lupa untuk likenya ya 😊
Oh, iya mampir juga yuk ke novelnya teman thor.
__ADS_1