Putra - Putri Mahkota

Putra - Putri Mahkota
Tidak peka


__ADS_3

Joy dan Stella baru saja sampai di jakarta, pesawat yang mereka tumpangi baru saja mendarat. Kini mereka menuruni tangga pesawat bersama para penumpang lainnya.


Terlihat kebahagiaan di wajah keduanya, Stella yang selalu tersenyum, dan Joy yang selalu menggandeng tangannya. Kini keduanya sudah sampai di depan mobil mereka, yang di jemput oleh pak Beno.


"Selamat pagi Tuan? Non?" sapa Beno ramah.


"Pagi pak Beno" jawab Joy datar


"Pak Beno antarkan Stella ke rumah ya" titah Joy membuat Stella yang ingin masuk mobil kembali dia urungkan.


"Tuan muda tidak ikut?" tanya pak Beno yang merasa heran.


"Aku ada urusan sebentar, nanti aku menyusul, dan akan pulang naik taksi saja" jawab Joy santai.


"Kamu mau kemana? Kalau kamu tidak pulang aku juga tidak mau pulang, pak Beno pergi saja aku akan pergi dengan suamiku." ketus Stella yang sudah bete.


"Aku ada urusan dulu sebentar, kamu pulang duluan, nanti aku menyusul"


"Kenapa tidak bersamaku? Aku kan istrimu, memangnya kau mau pergi kemana sampai tidak mau mengajakku?"


"Aku akan ke kantor polisi sebentar, untuk membicarakan masalah kemarin, setelah selesai aku akan kembali ke rumah"


ke kantor polisi? Apa Joy akan bertemu wanita itu lagi, batin Stella yang merasa was - was mengingat pertemuan Joy dengan Sharon dulu.


"Aku trauma di antar sopir" ucap Stella agar Joy mau mengantarnya pulang.


Mengingat masalalu Stella, Joy pun mengerti dan maklumi bahwa masih ada ketakutan dalam diri Stella, Joy memutuskan untuk mengantarkan Stella terlebih dulu, setelah itu barulah dia pergi ke kantor polisi.


Stella senang akhirnya Joy mengantarkannya pulang. Di dalam mobil pak Beno bercerita tentang apa saja yang terjadi di rumah selama Joy tidak ada, pak Beno juga memberitahukan tentang pesta pernikahan Jolie dan Anna yang akan di segerakan langsung dan di rayakan di hari yang sama.


Stella sangat antusias ini di luar dugaannya.


"Wah, berarti akan ada pesta besar, aku tidak pernah melihat pernikahan kembar yang di lakukan bersama, ini pasti sangat seru" ucap Stella penuh semangat.


Setelah satu jam lamanya mobil mereka pun sampai di depan mansion Alvero. Joy dan Stella turun dari mobil, pak Beno mengeluarkan semua barang - barangnya. Joy ingin pamit pergi namun Stella ragu untuk mengizinkan, karena bagaimanapun Joy akan bertemu dengan Sharon.


"Aku langsung pergi, kau istirahatlah"


"Mm.... Apa kau tidak masuk dulu?"


"Tidak, aku harus segera pergi"

__ADS_1


"Aku ikut, aku bosan kalau diam di rumah" ucap Stella gugup sambil menunduk dan memainkan jari tangannya.


Joy menghampiri Stella, di angkatnya dagu Stella pelan hingga Stella mendongakkan kepalanya. Kini kedua matanya menatap mata Joy di depannya. Joy melihat ke khawatiran, dan keraguan di mata istrinya juga ketakutan. Walaupun Joy tidak tahu apa yang membuat istrinya itu ketakutan.


"Aku pergi bukan untuk satu tahun hanya satu jam, kalau sudah selesai aku akan langsung kembali. Jangan cemas masuklah aku akan segera kembali" ucap Joy yang meyakinkan lalu mengecup kening Stella lembut.


"Cepat, masuk" titah Joy lagi


"Kau akan bertemu wanita itu?"


"Wanita siapa? Aku pergi untuk urusan pekerjaan bukan menemui wanita"


Stella menghela nafas kasar "Sudahlah kau pergi saja, aku lelah aku mau istirahat" ketus Stella yang langsung melangkah pergi memasuki rumah. Joy diam termenung melihat kepergian Stella yang mencebikkan bibirnya.


"Kenapa dia? Wanita sangat aneh" gumam Joy lirih


"Biasa Tuan, kalau wanita lagi cemburu kaya gitu" cibir pak Beno sambil terkekeh.


Joy masih bingung, apa yang membuat Stella cemburu. Di ingatnya kembali siapa wanita yang di maksud Stella, sampai akhirnya Joy ingat "Sharon" ucapnya demikian, pasti ini yang membuat Stella cemburu.


"Sudahlah, nanti saja aku jelaskan sekarang aku harus pergi" ucap Joy yang langsung berbalik arah memasuki mobilnya dan pergi meninggalkan rumahnya.


****


Stella merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk, di ingatnya kembali masa - masa honeymoon nya, apa lagi saat malam pertamanya lebih tepatnya malam pertama di pagi hari, Stella senyum - senyum sendiri membayangkannya, sampai tidak sadar ada seseorang yang memperhatikannya di depan pintu.


"Apa yang membuatmu tersenyum nak?"


Stella di kejutkan oleh ucapan Shila yang baru saja masuk ke kamarnya, melihat Shila masuk Stella langsung bangun dari tidurnya.


"Mami"


"Bagaimana honeymoon nya? Sepertinya kamu sangat senang, itu berarti honeymoon nya lancarkan" goda Shila membuat Stella tersipu malu


"Mami" rajuk Stella, membuat Shila terkekeh.


"Dimana Joy? aku tidak melihatnya"


"Dia pergi lagi"


"Pergi?" Stella mengangguk

__ADS_1


"Katanya mau ke kantor polisi untuk mengurus perihal masalah Jolie kemarin, sekarang bagaimana dengan Jolie Mamih?"


"Semuanya baik-baik saja, itu juga berkat Joy yang cepat bertindak meriset semua akun yang menyebarkan berita tidak benar itu, dan akhirnya orang itu ketemu dan sekarang sedang di cari polisi."


"Jadi pernikahan Jolie dan Anna akan di langsungkan secara bersamaan?"


"Ya, minggu ini" Shila tersenyum


"Kalau mengingat masa kecil kalian, rasanya baru kemarin aku melihat kalian menangis, merajuk, manja, bahkan kenakalan kalian yang tak bisa di lupakan" Stella dan Shila terkekeh.


"Sekarang kalian sudah besar, Joy sudah menikah dengan mu, Anna dan Jolie sebentar lagi mereka juga akan menikah. Waktu berlalu begitu cepat"


"Mami juga yang selalu ada untuk ku, terima kasih Mami kau lebih dari mommy ku, aku kehilangan dua jiwa yang aku rindukan, tapi tuhan.... Memberikan mu sebagai jiwaku yang hilang, aku merasa Mommy masih ada bersamaku berkat dirimu"


Stella memeluk Shila begitu pun juga Shila, hubungan keduanya begitu erat dan hangat. Di saat keduanya saling berpelukan seseorang datang lalu masuk ke kamar Stella tanpa mengetuk terlebih dulu .


"Mentang - mentang punya menantu, Mami melupakanku!" ucap seorang wanita yang mengejutkan Shila dan Stella.


"Anna" yah! Orang itu adalah Anna yang baru saja pulang dari butik.


"Stella kau merebut Mami ku sekarang yah!" ujar Anna sambil bergurau, Stella tersenyum mendengar celotehan Anna.


"Kemarilah, nak! Kami baru saja membicarakan mu" ujar Shila yang terkekeh .


"Diam - diam kalian membicarakan ku dari belakang ya! Pantas saja telinga ku panas sekali" gurau Anna yang duduk diantara mereka, kini ketiganya tertawa bersama.


"Bagaimana fitting baju hari ini? Apa Kemi bisa memilih gaun yang cocok untuk mu?" tanya Shila pada Anna


"Semua yang aku pakai dia selalu bilang 'Apa pun yang kau pakai, kau selalu terlihat cantik' Aku jadi bingung mami harus memilih yang mana, Mami tahu, dia bilang begitu tapi matanya tidak melihatku dia malah fokus pada ponselnya aku jadi kesal. Lalu Mami tahu dia bilang apa lagi?"


"Apa?" tanya Stella dan Shila penasaran


"Mataku tidak melihat mu tapi hatiku selalu melihatmu. Hati ku tak pernah berpaling dari pandangan mu"


"Mami dia pintar sekali menggoda, gombalannya itu setinggi langit membuat wanita klepek - klepek tapi tidak dengan aku, aku tidak akan tergoda dengan gombalannya"


Haha... haha...


Stella, Shila, tergelak kini ketiga nya tertawa bersama, hubungan ketiganya begitu hangat, Shila adalah ibu yang baik, dia menjadi panutan para putra - putrinya, Shila tidak pernah membedakan antara Stella dan Anna, Shila menyayanginya dengan tulus.


Siapa pun akan sangat bangga dan bahagia mendapat sosok ibu seperti Shila, sosok ibu yang di dambakan semua orang, kasih sayangnya tiada tara, tidak pernah membeda - bedakan terhadap anak - anaknya, perhatian, peduli, dan menyayangi dengan tulus.

__ADS_1


__ADS_2