Putra - Putri Mahkota

Putra - Putri Mahkota
Lusi dan Amber


__ADS_3

BRAKk!!


Amber.... Dimana dia


Semua murid terkejut, melihat Kenzo di ambang pintu dia datang dengan penuh amarah dan langsung memukul daun pintu.


Kenzo yang sangat marah saat tak sengaja melihat mading sekolah, di bacanya dengan seksama tulisan pada mading itu. Kenzo mengepalkan tangannya seolah sudah tahu siapa yang membuat ini dia langsung berjalan menuju kelas Kanza adiknya.


Kenzo yang pendiam dan tak banyak bicara namun jika ini menyangkut Kanza dia yang akan sangat marah, apalagi Kanza yang sudah di hina.


Mata Kenzo kini tertuju pada satu siswi yang duduk di bangku paling pojok, siswi itu sangat santai dan tenang dia sibuk memainkan ponselnya tanpa menghiraukan Kenzo yang kini sedang berjalan ke arahnya.


BRAKK!! Amber terhenyak saat Kenzo menggebrak atas mejanya, Amber langsung menatap ke arah Kenzo lagi - lagi Amber terlihat tenang, dia menyimpan ponselnya di atas meja lalu berdiri menghadap Kenzo yang sudah tersulut emosi.


"Ada apa mencariku" ucapnya dengan tenang.


"Apa ini, apa maksud semua ini? Belum cukup kamu menghina adikku" ucap Kenzo dengan nada tinggi sambil menunjukan lembaran kertas yamg dia ambil pada mading tadi.


"Kenapa kau bertanya padaku seharusnya kau tanya saja pada mami mu. Ternyata banyak sekali yang terkejut, apa kau juga baru tahu hal ini?"


"Omong kosong macam apa ini," ucap Kenzo yang melempar kertas itu


"Kamu benar - benar virus, virus yang masuk dalam keluargaku, aku pastikan kamu tidak akan bisa masuk lagi ke sekolah ini"


"Aku tidak takut dengan ancaman mu, kau bisa bicara seperti itu karena papimu berkuasakan! Tapi itu tidak akan merubah kenyataan kalau Kanza adalah anak haram"


"Kenzo stop"


Hampir saja Kenzo melayangkan pukulannya pada Amber, kalau Lusi tidak mencegahnya. "Kenzo kendalikan dirimu ini sekolah, jangan sampai membuat keributan jangan dengarkan nenek lampir ini"


Akh... teriak Lusi yang rambutnya di jambak oleh Amber karena tak terima di sebut nenek lampir. "Rambutku" teriak Lusi yang rambutnya rontok seketika. Lusi berbalik ke arah Amber menatapnya tajam. "Iblis tidak boleh di biarkan yeah...." Lusi langsung menjambak rambut Amber begitu pula sebaliknya, kini keduanya malah saling menjambak satu sama lain.


Kenzo jadi heran, Lusi melarangnya membuat keributan tapi dia sendiri yang membuat keributan wanita memang aneh. Untung saja hari ini tak ada pelajaran karena para guru sedang rapat kalau tidak bisa ruyam semuanya.

__ADS_1


"Lusi hentikan" teriak Kenzo yang mencoba menengahi


"Aku tidak akan membiarkan iblis ini hidup."


"Kau yang iblis"


"Kalau aku iblis kau ratu iblis, ku musnahkan kau"


"Hentikan"


Bugh!! Kenzo yang tadinya ingin menengahi dan melerai perkelahian ini, malah terpukul oleh Amber dan membuat tubuhnya jatuh bersamaan dengan Lusi dan menindih tubuh Lusi.


"Wah, mendarat yang sempurna" ucap seorang siswi


"Waduh, kaya di film - film bolywood aja" ucap seorang siswi lagi


"Wah... Kenzo menang banyak" ucap seorang siswa karena melihat posisi Kenzo yang berada di atas tubuh Lusi dan hampir saja kedua bibir mereka bersentuhan kalau Kenzo tidak mengangkat kepalanya.


"Waduh, Kenzo apa yang kau lakukan kau mau di tampar paman Alvin" cibir Kenzie yang baru saja datang dan tak sengaja melihat adegan ini. Kenzo yang menyadari tatapan posisinya langsung bangun dan berdiri lalu membantu Lusi untuk berdiri. Semua murid tertawa dalam sekejap mereka melupakan kejadian tadi dan sibuk menggoda Kenzo dan Lusi.


****


Di rumah sakit Shila baru saja siuman, Kanza yang menyadari ibunya sudah sadar langsung menghambur memeluk Shila sambil menangis.


"Mami maafkan aku, mami jangan sakit aku tidak mau lihat mami sakit" rengek Kanza yang masih memeluk Shila


"Sayang sudahlah, mami tidak apa - apa hanya kelelahan saja" ucap Shila sambil mengelus lembut kepala putrinya.


'Kanza, kamu ingin buktikan! Lakukanlah tes DNA sekarang juga" ucap Shila yang melirik ke arah Vero, dan Vero pun mengangguk sebagai jawaban.


"Tidak mami tidak perlu, aku tidak akan melakukannya aku yakin aku anak kandung papi."


"Lakukanlah, untuk membuktikan pada teman mu itu, biar tidak ada lagi yang menghina mu, lakukanlah Nak!" Kanza menatap Shila sendu lalu menatap Vero dia takut papinya akan memarahinya lagi.

__ADS_1


"Ikutlah bersama papi dan dokter Indra" titah Shila


"Ayo" ajak Indra. Kanza dan Vero pun mengikuti Indra untuk menuju ruangan dimana akan dilakukan tes DNA.


Tinggal Shila seorang. Shila terdiam memikirkan beberapa perkataan Kanza tadi yang sempat membuatnya syok. Setelah lama bergulat dengan pikirannya Shila turun dari atas brankar lalu mengambil tasnya dan berjalan keluar meninggalkan ruangan.


"Pak Beno antarkan saya ke sekolah" ucapnya saat sudah di depan mobilnya. Pak Beno yang di perintah hanya mengangguk lalu membukakan pintu untuk majikannya. Setelah itu pak Beno duduk di kursi kemudi dan melajukan mobilnya menuju sekolah Kanza.


****


Sesampainya di sekolah Shila langsung menuju ruang guru, semua guru terkejut akan kedatangannya yang tiba - tiba.


"Nyonya" seru salah seorang guru


"Selamat siang, maaf kalau kedatangan saya mengganggu" ucap Shila yang memang tidak tahu kalau ternyata semua guru sedang mengadakan rapat dan kebetulan ada pemilik sekolah itu sendiri.


"Sama sekali tidak mengganggu nyonya, silahkan duduk kami baru saja selesai rapat." ucap pak Herman selaku pemilik sekolah. Shila melangkah menuju kursi kosong yang sudah di sediakan untuk para tamu, setelah itu Shila duduk di ikuti oleh pak kepala sekolah beserta pak Herman.


"Kalau saya boleh tahu ada kepentingan apa ya yang membuat nyonya datang kemari." tanya pak Herman


"Saya ingin bertemu dengan murid yang bernama Amber, bisa kalian panggilkan!" pak kepala sekolah dan pak Herman saling tatap, seolah bertanya ada apa? Apa yang terjadi? Apakah ada masalah?.


"Baiklah, saya akan panggilkan" ujar pak kepala sekolah. Shila tersenyum ramah dan dalam waktu bersamaan seorang guru menaruh secangkir teh untuknya.


"Terima kasih" ucap Shila demikian


"Sama - sama nyonya, saya permisi" ucap guru itu lalu pergi.


Tak berselang lama pak kepala sekolah datang kembali bersama Amber yang mengikutinya dari belakang. Amber terlihat heran melihat Shila karena ini pertama kalinya mereka bertemu walaupun Tissa pernah memberikan sebuah foto Shila namun itu saat Shila masih muda, sungguh berbeda dengan sekarang.


Pak kepala sekolah menyuruh Amber untuk duduk, Amber pun duduk menghadap Shila.


"Saya ada kepentingan dengannya, ada yang ingin saya bicarakan masalah pribadi" ucapnya demikian, pak kepala sekolah dan pak Herman mengangguk mengerti . Mereka pun pergi meninggalkan mereka berdua di dalam ruangan.

__ADS_1


"Kamu yang bernama Amber?"


"Iya, anda siapa?"


__ADS_2