Putra - Putri Mahkota

Putra - Putri Mahkota
Kabar duka


__ADS_3

Indra dan Tissa saling berdebat masalah wanita juga lelaki. Sepertinya mereka berdua punya kesamaan, sama-sama terauma karena sakit hati.


Bedanya Indra sakit hati karena dikhianati dan Tissa sakit hati karena telah dinodai. Hingga saat ini keduanya tidak percaya akan adanya cinta.


Akankah perbedaan ini bisa menyatukan keduanya? Akankah Indra kembali membuka hatinya? Entahlah hanya tuhan yang tahu.


Indra dan Tissa kembali ke ruangan Rani, kondisi Rani semakin melemah. Namun hatinya sudah tenang karena Rani sudah menyesali dan meminta maaf atas kesalahannya di masalalu. Mengingat perlakuan Rani pada Shila juga Bi Inem. Yang tak bisa di maafkan, namun berkat kelapangan hati keduanya kesalahan Rani telah di maafkan, itu membuat Rani akan pergi dengan tenang.


"Mah, apa Mama menginginkan sesuatu?" tanya Tissa yang menggenggam tangan Rani.


"Aku ingin bertemu cucuku." ucap Rani lirih.


"Dimana kita harus mencari Amber?" tanya Shila yang belum tahu bahwa Amber sudah ketemu, dan selama ini tinggal dengan Indra.


"Aku akan menjemputnya." ucap Indra


"Memangnya kamu tahu dimana?" tanya Shila.


"Selama ini Amber tinggal bersama dokter Indra." ucap Tissa membuat Shila terkejut. Seandainya Shila tahu mungkin dari awal Shila akan datang pada Indra.


"Katakan padaku, dimana aku harus menjemputnya? Biar aku saja yang menjemputnya karena kamu tidak boleh pergi dokter, Mama Rani membutuhkanmu." ujar Shila yang di angguki Indra. Indra pun memberitahukan alamat sekolah Amber yang baru, Shila pergi untuk menjemputnya.


Kondisi Rani semakin melemah, terpaksa Tissa harus menunggu di luar, karena Rani sedang di tangani Indra, dan Nita. Tissa terlihat tidak tenang dan gelisah.


****


"Satu."


"Sepuluh pak."


"Satu saja pak "


"Lima aja deh,"


"Satu ...."


"Aa ... akh ... lima." Stella merajuk manja


"Satu."


"Tiga aja deh pak "


"Satu."


"Cabenya satu atau tiga?" ujar si penjual rujak. Yang pusing mendengar perdebatan sepasang suami istri di depannya.


"Satu aja pak satu." ujar Joy

__ADS_1


"Satu mana pedes"


"Kalau kebanyakan nanti anak kita di dalam kepedesan, nangis nanti."


"Tapi kalau satu gak kerasa, tambah lagi ya ... dua aja."


"Stella Agruellulya bisa gak nurut sama suami, satu saja ngapain pedes-pedes, nanti kamu sakit perut, terus bayi kita di dalam kepedesan juga, kan." Stella hanya merengut kesal.


Stella masih merengut, memandangi rujak tumbuk yang baru saja di pesannya. Joy duduk di samping Stella memperhatikan Stella yang masih merengut.


"Makan! Tadi katanya mau rujak, jauh-jauh dari jakarta ke bogor untuk beli rujak, sekarang makan rujaknya."


"Ini bukan rujak tapi kolak" ucap Stella yang bibirnya manyun. "Kurang pedes gak enak."


"Makan, jangan banyak ngomong makan aja." titah Joy yang terus memperhatikan Stella.


"Aku mau ice cream. Beli ice cream dulu ya! Disana tuh di mini market." tunjuk Stella pada sebuah mini market yang berada di seberang.


"Iya, nanti ya ... makan dulu rujaknya."


"Sekarang, nanti aku makan kok rujaknya," Joy hanya bisa menghela nafas mengikuti permintaan Stella yang tidak bisa di nanti-nanti. Joy pun menyeberangi jalan menuju mini market untuk membeli ice criem. Tak lama kemudian Joy pun kembali dengan membawa satu kantong kresek di tangannya.


"Sudah habis?" tanya Joy saat melihat mangkuk rujak Stella yang hampir habis.


"Mau nyobain, ini enak banget." ujar Stella Joy pun mencicipinya sedikit. Mata Joy terbelalak sesaat, bibirnya terasa panas, Joy langsung mengambil air minum di depannya, lalu diteguknya sampai habis.


"Kenapa pedas banget."


"Mana ice creamnya." Pinta Stella, Joy pun memberikannya walau pun sebenarnya Joy kecewa, karena kecolongan Stella menambahkan cabe pada rujaknya saat Joy pergi ke mini market.


"Kamu mau, a ...." Joy terlihat pasrah saat Stella menyuapinya dengan ice cream. Kesabaran Joy benar-benar di uji saat ini, Joy harus banyak bersabar menghadapi Stella yang sedang hamil.


Drt ... drt ... drt ...


Tiba-tiba ponsel Joy berdering, menandakan ada panggilan masuk. "Sebentar aku angkat telepon dulu, dari Mami." Stella pun mengangguk.


"Iya Mami ada apa?"


"Kamu dimana?" tanya Shila di ujung sana


"Aku sedang di bogor, Stella ngidam rujak. Memangnya ada apa Mami?"


"Mami ingin memberikan kabar duka."


"Kabar duka?" ucap Joy yang membuat Stella menghentikan makan ice creamnya.


"Mama Rani meninggal."

__ADS_1


"Nenek Rani? Innalillahi,"


"Cepatlah pulang, karena Mami akan membawa jenazah mama Rani ke rumah."


"Iya Mami, aku dan Stella akan pulang sekarang." Tut. Sambungan telepon pun di tutup.


"Ada apa? Siapa yang meninggal?"


"Nenek Rani, ibunya tante Tissa, kamu tahu, kan tante Tissa yang pernah bertemu di rumah sakit." Stella mengangguk.


"Sekarang kita pulang ya." ajak Joy


"Iya." jawab Stella dengan anggukan. Joy dan Stella pun segera kembali ke jakarta.


****


Ruangan Rani di penuhi dengan suara tangisan, Amber yang baru saja sampai tidak sempat berbicara dengan neneknya, Amber menangis histeris. Tissa terus memeluk Rani dengan berderai air mata. Pihak rumah sakit mendapat kesulitan untuk membawa jenazah yang akan di mandikan, karena Tissa yang tidak terima dan belum bisa menerima kenyataan bahwa Rani sudah tiada.


"Tissa, kamu harus ikhlas, Mama sudah tidak ada, kamu jangan seperti ini." ujar Shila yang mencoba menenangkan Tissa.


"Maaf Bu, jenazah harus segera di mandikan."


"Tidak, Mama bangun Mah, bangun ...." teriak Tissa


"Nenek, nenek bangun Nek, aku disini Nek, aku sudah pulang." ujar Amber dengan berlinang air mata.


"Amber ikhlaskan, nenek mu sudah pergi biarkan dia pergi dengan tenang," ujar Shila yang memeluk Amber mencoba untuk menenangkannya.


Hiks ... hiks ... tangisan Amber tak kunjung henti, malah semakin keras terdengar, Amber hanya bisa memeluk Shila membenamkan kepalanya pada dada bidangnya.


"Ini semua karena kau, nenekku meninggal."


"Amber tidak boleh begitu." bentak Shila saat Amber menuduh Tissa atas kematian neneknya. Tissa di tuduh seperti itu hanya diam, tatapannya begitu kosong, Tissa kembali teringat masalalunya. Tissa yang selalu membuat Rani susah atas masalahnya. Tissa selalu membuat masalah, namun Rani yang selalu menyelamatkannya dari masalah, Rani yang selalu melindunginya hingga saat ini. Tapi sekarang Rani sudah tiada siapa yang akan ada untuknya.


Tissa berjalan mundur menjauhi brankar yang membawa jenazah Rani, saat Tissa menjauh dari brankar itu kedua perawat membawa Jenazah Rani untuk di mandikan. Semua orang tidak kuasa menahan tangis, Indra juga merasa sedih karena belum bisa mewujudkan keinginan Rani yang ingin melihat Tissa dan Amber kembali bersatu. Indra hanya bisa melihat Amber dan Tissa yang sedang berduka karena kehilangan.


"Nita, tolong bawa mereka ke ruanganku, biarkan mereka tenang dulu." titah Indra yang menunjuk ke arah Shila yang memeluk Amber. Nita pun mengangguk dan membawa mereka ke ruangan dokter Indra.


Sedangkan Indra melihat Tissa yang duduk melamun, tatapan matanya begitu kosong. Perlahan Indra mendekat lalu duduk di samping Tissa.


"Tidak ada yang bisa kita cegah, yaitu kematian. Tuhan sudah mentakdirkan kapan manusia akan mati. Kita sebagai manusia harus siap kapan kematian itu akan datang, dan kita juga harus sabar dan kuat saat keluarga kita meninggalkan kita untuk yang terakhir kali."


"Kematian nyonya Rani sudah takdir, kamu harus mengikhlaskan kepergian ibumu, agar beliau pergi dengan tenang." ujar Indra namun Tissa masih diam membeku.


"Aku turut berduka. Semoga kamu tetap sabar dan kuat."


"Sekarang kamu bisa lihat, wanita begitu lemah saat di tinggalkan seseorang, yang bisa wanita lakukan hanyalah menangis. Apa kamu masih menganggap wanita itu buruk."

__ADS_1


"Aku tidak pernah menganggap wanita seperti itu."


"Tapi kenyataannya seperti itu, jangan pura-pura menguatkan hatiku, di saat kamu masih menganggap wanita itu buruk, asal kamu tahu wanita tidak selemah dan seburuk yang kamu kira, wanita adalah makhluk tuhan yang paling tegar dan kuat. Aku tidak butuh nasehatmu." ujar Tissa yang menatap Indra sejenak lalu berdiri dari duduknya dan akan melangkah pergi namun tubuh Tissa begitu lemah sampai akhirnya Tissa terjatuh dan pingsan. beruntung Indra menangkap tubuhnya, sehingga Tissa jatuh ke dalam pelukannya.


__ADS_2