Rahasia Suamiku

Rahasia Suamiku
100. Persiapan lamaran


__ADS_3

Mama Rafika dan Maysa saling pandang. Mereka tidak tahu apa yang harus dikatakan pada Riri. Mengingat betapa keras kepalanya gadis itu.


"Ri, jangan jadikan Mama sebagai penghalang masa depan kamu. Mama tidak masalah kalau kamu ikut dengan suamimu kelak. Mama juga bisa jaga diri sendiri. Kalau kamu tetap di sini hanya karena Mama, itu akan membuat Mama merasa bersalah," ucap Mama Rafiqah dengan pelan.


Dia tidak ingin menjadi penghalang untuk kebahagiaan putrinya. Apalagi selama ini Riri sudah banyak berkorban untuknya.


"Tidak, Ma. Ini sudah aku putuskan dari dulu. Kalau aku juga pergi meninggalkan Mama, Mama di rumah sama siapa? Aku yakin Mas Adit juga tahu mengenai hal ini karena dari sebelumnya, aku sudah pernah mengatakan ini juga padanya."


"Tapi dulu beda sama sekarang. Dulu papanya Adit masih bersama dengan istrinya, sekarang mereka sedang ada masalah dan sedang berpisah."


"Tapi buat aku, itu tetap saja sama. Aku tetap akan menerima lamaran Mas Adit kalau dia bisa tinggal bersama dengan Mama. Kalaupun tidak bisa tinggal di rumah ini, tidak apa-apa. Asal bisa bersama dengan Mama."


Riri masih tetap kekeh dengan pendiriannya. Dia ingin ada di samping mamanya apa pun yang terjadi.


"Mama tidak masalah jika kamu ikut dengan suamimu nanti," ucap Mama Rafiqah yang juga merasa bersalah pada Riri.


"Ma, kalau pun nanti Riri ikut dengan suaminya. Mama mau 'kan tinggal bersama denganku? Mama Mirna juga tidak keberatan kalau Mama ikut bersama kita. Kalau Mama di rumah sendiri, aku dan Riri tidak bisa tenang. Meskipun Mama selalu bilang tidak apa-apa sendiri di rumah, tetap saja kami kepikiran. Bukan maksud kami untuk menyepelekan keberadaan Mama. Kami hanya khawatir saja," timpal Maysa yang juga khawatir pada mamanya.


"Lebih baik pikirkan nanti saja. Yang pasti, Mama tidak mau keberadaan Mama menjadi penghalang untuk masa depan kalian. Sekarang sebaiknya kita pikirkan mengenai lamaran Adit nanti malam. Mama sama sekali tidak menyiapkan apa-apa jadi, kalian saja yang menyiapkan segalanya," pungkas Mama Rafiqah yang tidak ingin membahas hal ini lagi.


"Kenapa semuanya dadakan, sih, Ma? Kenapa tidak dibicarakan dari kemarin, di hari sebelumnya, jadi kita bisa ada persiapan lebih dulu. Kalau nanti malam, itu mendadak sekali," ujar Maysa.


"Sebenarnya Adit juga sudah bilang dari dua hari yang lalu, kalau dia akan segera datang, tapi tidak bicara kapan tepatnya. Lagi pula Mama yang bilang sama dia untuk segera melamar Riri."


Maysa mengembuskan napas kasar. "Ya sudahlah, lebih baik sekarang saja kita berangkat mencari sesuatu untuk disuguhkan nanti. Apa kita juga perlu menyiapkan makan malam, Ma?"


"Terserah kalian saja seperti apa. Mama serahkan semuanya pada kalian berdua."


"Kita beli di restoran saja, tidak perlu memasak," ucap Maysa pada akhirnya. "Aku titip anak-anak, ya, Ma. Biar aku sama Riri yang keluar atau mau sekalian saja mereka dibawa, ya?"


"Biarkan saja mereka di sini. Takutnya nanti malah kecapean. Mama bisa kok jaga mereka."


"Ya sudah, ayo kita pergi, Ri!" ajak Maysa pada Adiknya.


"Kita bawa motor apa mobil, Kak?"


"Bawa mobil saja, kalau motor nanti nggak bisa bawa makanannya."

__ADS_1


Riri mengangguk, keduanya berpamitan pada Mama Rafiqah dan meninggalkan rumah, sementara wanita paruh baya itu pergi ke taman untuk menemui Dio dan Eira. Dia juga membawa minuman untuk kedua cucunya.


"Ayo, minum dulu! Ini Oma bawakan minuman. Kalian pasti haus, kan?"


Dio dan Eira segera menikmati minuman yang dibawakan wanita itu. Mereka cukup senang berada di sini, meski berbeda dengan rumahnya, tetapi kasih sayang yang keduanya dapatkan sama saja.


"Oma, tadi aku dengar suara mobil. Apa Mama pergi?" tanya Dio.


"Iya, Mama sama Tante Riri pergi keluar sebentar cari makanan. Nanti juga pulang, kalau kalian mau mandi, mandi saja dulu. Di sini juga ada pakaian kalian."


"Iya, Oma. Aku dari tadi gerah mau mandi," sahut Dio.


"Mandilah. Eira juga mau mandi? Mau dimandiin sama Oma?"


"Nggak, Oma. Aku bisa mandi sendiri."


"Aduh, cucu-cucu Oma ini memang pintar-pintar semuanya. Bisa melakukan semuanya sendiri."


Dio dan Eira pergi ke kamar mamanya dengan berlari. Kedua anak itu terlihat begitu senang.


"Mandi di kamar Oma juga bisa atau di kamar tante," teriak Mama Rafika saat kedua anak itu masuk ke rumah.


Sementara itu, Maysa yang sedang mengemudi mobil mencoba mencari makanan dan juga kue. Dia tidak ingin membuat keluarganya malu di depan keluarga Adit. Sebisa mungkin wanita itu mencari makanan yang enak.


"Bagaimana nih, Dhek, perasaan kamu, yang sebentar lagi mau dilamar?" tanya Maysa saat keduanya di perjalanan.


"Apa, sih, Kak! Biasa saja," jawab Riri yang berusaha untuk tetap tenang.


"Bohong banget. Kakak saja yang sudah dua kali waktu itu masih deg-degan, apalagi kamu yang baru pertama kali."


"Menurut Kakak, apa aku harus menerima lamaran Mas Adit? Kalau Mas Adit menolak untuk tinggal bersama dengan Mama bagaimana?" tanya Riri tanpa menjawab pertanyaan kakaknya.


"Jika kamu menggunakan alasan itu, Mama pasti akan merasa sedih karena merasa sebagai peghalang kebahagiaan anaknya. Kamu 'kan bisa tiga hari tinggal bersama dengan orang tuanya Adit, tiga hari tinggal sama mama. Yang sehari terserah kalian. Nanti bisa gantian lah sama Kakak. Kalau kamu yang tinggal sama Mama, Kakak akan tinggal sama Mama Mirna jadi, Mama tidak perlu sendiri di rumah. Nanti kamu bicarakan berdua sama Adit. Jangan bicara saat ramai bersama keluarga yang lain."


Riri mengangguk. Nanti dia akan bicara dengan Adit mengenai hal ini. Gadis itu juga belum tahu mengenai rencana pria itu ke depannya. Kapan mereka akan menikah, entah kapan itu akan terjadi. Maysa membelokkan setir ke sebuah restoran ternama.


"Kak, kenapa ke restoran ini? Tempat ini pasti mahal sekali!" tanya Riri dengan melihat keadaan sekitar.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Padahal sebenarnya lebih enak makan di sini langsung, tapi tidak apa-apa. Buat dibawa pulang ke rumah, biar nggak malu-maluin Mama. Masa ada calon besannya datang dikasih ikan sama tempe doang. Meskipun kita juga tidak tahu sebenarnya makanan kesukaan orang tua Adit itu apa."


"Kenapa tidak beli makanan yang biasa saja, sih, Kak?"


"Kenapa? Takut kemahalan? Rasanya nggak enak? Kamu jangan salah meskipun ini restoran berbintang, tapi makanannya juga makanan rumahan jadi, jangan salah dengan tempatnya. Rasanya juga bisa diadu dengan restoran yang lain."


"Kakak pernah ke sini?" tanya Riri yang kemudian mengikuti Maysa turun dari mobil.


"Pernah, waktu itu diajak sama Mas Tama."


"Sekarang kelasnya beda, ya! Makannya di restoran berbintang. Dulu sama si Rafka, jangankan restoran berbintang. Pedagang kaki lima saja tidak pernah datang," cibir Riri.


"Sudahlah, tidak perlu membahas masa lalu. Ayo, kita masuk! Kamu juga bisa pilih makanan kesukaan kamu dan juga buat mama. Hari ini semuanya Kakak yang traktir," ucap Maysa.


"Beneran, Kak? Wah, berarti aku nggak perlu keluarin uang."


"Uang kamu buat beli kue saja, untuk makanan biar kakak yang bayarin."


"Oke, deh. Nanti jangan lupa beli buah juga, ya Kak!"


"Iya, pakai duit kamu, kan, kamu yang lamaran, masa harus Kakak juga."


"Ya ampun! Iya, maksudnya pakai uangku, tapi nanti tolong berhenti. Terserah mau di toko atau di pinggir jalan, yang pasti harus buah yang segar."


Keduanya memasuki restoran dan memesan beberapa makanan. Tidak lupa juga Riri memesan makanan untuk dirinya dan juga sang mama. Gadis itu memesan makanan lainnya untuk calon mertuanya, sementara Maysa mengirim pesan pada sang suami, mengenai acara yang sedang dilangsungkan di rumah Mama Rafiqah.


Maysa juga meminta Tama untuk izin pada Mama Mirna karena dirinya sekarang sudah benar-benar sibuk. Tadi dia sudah mengirim pesan. Namun, belum dibaca oleh wanita paruh baya itu, sementara Tama izin untuk datang terlambat karena dia harus mengurus beberapa pekerjaan, yang harus selesai besok.


"Sudah, Ri?" tanya Maysa yang baru saja bergabung dengan yang adiknya.


"Belum, Kak. Ini masih memilih beberapa menu, sambil menunggu yang lain masak," jawab Riri sambil membolak-balikkan buku menu.


"Anak-anak nanti sambalnya dipisahin saja, ya, Ri! Eira 'kan nggak suka pedas. Kalau Dio masih suka sedikit."


"Iya, Kak. Tadi sudah aku bilang sama mereka."


Keduanya memilih beberapa menu makanan dan menunggu di salah satu meja, sambil menikmati minuman yang keduanya pesan.

__ADS_1


.


.


__ADS_2