Rahasia Suamiku

Rahasia Suamiku
139. Sakitnya Papa Dimas


__ADS_3

Adit dan Riri mandi secara bergantian, kemudian keduanya melakukan salat berjamaah dengan si pria yang menjadi imam. Rasa haru menyelimuti keduanya saat melakukan kewajiban beribadah bersama dengan pasangan halalnya. Salah satunya adalah menghadap Sang Khalik bersama dengan wanita yang dicintai.


Mereka tidak menyangka akan bisa sampai di titik ini, padahal sebelumnya ada rasa tidak percaya dalam diri Riri saat mengetahui siapa Adit sebenarnya. Doa tidak lupa keduanya panjatkan agar rumah tangga yang masih berumur sehari ini bisa bertahan hingga maut memisahkan keduanya.


“Sayang, hari ini kita ke rumah sakit ya buat jemput papa. Meskipun di sana sudah ada Tante Nova dan Om Martin, tetap saja kita harus ke sana buat mengurus semua keperluan Papa. Takutnya nanti Tante Nova kerepotan,” ucap Adit menatap pada sang istri dan berharap jika Riri tidak keberatan.


Riri tersenyum dan menganggukkan kepala. “Iya Mas, terserah kamu saja. Aku juga lebih senang kalau mengurus semuanya sendiri. Aku sama papa juga belum terlalu dekat, sekalian mendekatkan diri biar nanti saat satu rumah tidak terlalu kaku,” ucap Riri pelan. Jujur saja meskipun di dalam hati berdebar tak karuan akan bertemu dengan papa mertuanya, tapi dia sungguh ingin dekat dengan papa mertuanya itu.


Adit tersenyum, dia senang karena Riri sudah mau berusaha untuk mendekatkan diri dengan papanya. Semoga Papa Dimas juga mau dekat dengan Riri, karena pria itu tahu jika sang papa sangatlah sulit untuk berbaur dengan orang baru. Semoga Riri juga dapat memakluminya dan bisa membuat Papa Dimas nyaman saat berada di rumah.


“Sayang, ada yang ingin aku katakan sebelum kita pergi,” ucap Adit sambil menahan pergelangan tangan sang istri yang ingin berdiri.


Riri pun kembali duduk dan menggenggam telapak tangan sang suami. “Mau bicara apa, Mas?


“Sebenarnya papa akhir-akhir ini sering lupa. Maksudnya, em ... maksudku sering pikun. Kadang Papa sudah melakukan sesuatu hal, tapi dia bilang belum. Bahkan kadang juga buang air tidak di tempatnya. Aku sempat khawatir mengenai hal itu dan sekarang masih dalam tahap pengobatan juga. Jadi, aku harap kamu maklumi keadaan papa. Nggak pa-pa ya. Nanti aku juga akan sewa perawat untuk merawat Papa agar tidak terlalu menyusahkan kamu,” ucap Adit sedikit malu, juga tak enak hati terhadap istrinya itu.


Riri menatap suaminya yang menundukkan kepalanya, tampak tergambar ragu pada wajah sang suami. Di elusnya pipi sang suami sehingga Adit mengangkat kepalanya dan merasa damai saat melihat senyuman meneduhkan milik Riri.


“Kenapa harus pakai perawat, Mas? Aku nggak pa-pa kalau memang harus merawat Papa. Beliau juga orang tuaku.” Adit menatap sang istri lekat-lekat, tak percaya dengan ucapan Riri barusan. Riri memang wanita baik dan dia beruntung mendapatkannya.


“Tapi, bagaimana nanti kalau Papa buang air besar sembarangan? Lebih baik aku sewa perawat saja, nanti kamu tinggal bantu-bantu saja. Aku tidak ingin kamu terlalu lelah. Lagi pula Papa juga pasti akan malu kalau kamu selalu ada di dekatnya,” ucap Adit.


Riri berpikir sejenak, lalu dia hanya mengangguk saja. Meskipun dirinya sudah menganggap Papa Dimas seperti orang tua sendiri, tetapi tetap saja mereka orang lain. Keduanya juga berbeda jenis kelamin, pantas saja jika Papa Dimas ataupun dirinya pasti akan merasa malu.


“Aku terserah kamu saja, Mas. Kalau memang itu yang terbaik untuk Papa Dimas aku akan mendukung. Semoga saja Papa Dimas bisa segera sembuh." Doa Riri tulus.


Adit tersenyum dan mendekat, mencium kening istrinya lembut. “Terima kasih doanya, Sayang.” Adit tersenyum pada sang istri. Riri pun sama ikut tersenyum, terhanyut dengan kelembutan sang suami yang diberikan untuknya.

__ADS_1


“Em ... Mas, Tante Nova sudah tahu nggak mengenai keadaan papa?” tanya Riri.


Adit menghela napasnya berat. “Awalnya Tante Nova tidak tahu, tapi yang jaga Papa di rumah sakit kan Tante Nova. Otomatis dia tahu semuanya, bahkan kemarin Papa juga buang air di bawah ranjang. Mungkin kalau Papa tetap buang air di atas ranjang Tante Nova nggak akan curiga, tapi ini Papa udah turun malah buang air di bawahnya. Kan Tante Nova jadi merasa aneh, jadinya tanya sama dokter. Dokter pun juga menjelaskan semuanya,” terang Adit. Riri hanya mengangguk saja. Semua memang sudah terjadi, mau menutupi pun mungkin juga tak akan bisa.


Bukannya Adit mau menutupi tentang kesehatan papanya pada Tante Nova, tetapi dia hanya tidak mau nama Papa Dimas menjadi jelek di depan saudaranya karena sakitnya ini.


“Ya sudah. Tidak apa-apa. Tante Nova juga berhak tahu tentang keadaan Papa, Mas.” Riri mengusap pelan lengan sang suami, mencoba memberikan ketenangan meski dia sendiri tidak tahu apakah hal itu bisa berhasil tau tidak.


Adit menganggukkan kepalanya pelan. Ada banyak hal yang dia pikirkan, mengenai kesehatan papanya, dan juga takut dengan suatu hal yang menjadi tak baik, yang berhubungan dengan nama papa. Apalagi Tante Nova orangnya mudah khawatir, pasti akan sangat membuat wanita itu repot untuk ikut menjaga Papa Dimas. Beliau sudah terlalu banyak direpotkan oleh keluarga Adit, dan dia tidak ingin menambah repot wanita itu lebih banyak lagi dengan permasalahannya yang lain.


“Tante Nova juga pasti akan mengerti dengan keadaan papa. Umur papa juga sudah tidak muda lagi. Yang muda saja terkadang juga terkena penyakit seperti itu, apalagi Papa yang sudah berumur.” Riri mencoba memberi semangat pada sang suami. Dia tahu jika Adit juga pasti lelah, tetapi bagaimanapun juga Papa Dimas adalah papanya yang harus dia rawat dan dijaga dengan sepenuh hati.


“Ya sudah, Mas. Ayo kita siap-siap ke rumah sakit. Takutnya Papa Dimas sudah menunggu dari tadi. Beliau juga pasti tidak sabar ingin segera pulang,” ajak Riri.


“Ya, tapi sebelum itu kita mampir ke restoran dulu ya beli makanan juga buat Tante Nova dan Om Martin.” Riri mengangguk mengiyakan.


Adit dan Riri bersiap-siap untuk pergi. Mereka akan singgah ke restoran terlebih dahulu. Mereka membeli beberapa makanan kesukaan Tante Nova dan juga Om Martin.


Adit masih bersyukur karena Tante Nova masih mau menunggu Papa Dimas di rumah sakit saat dirinya tengah disibukan dengan acara pernikahannya kemarin. Jika itu orang lain, pasti sudah menolak mentah-mentah. Jika pun mau, pasti meminta dengan anggaran yang tidak sedikit. Ya, harus Adit akui jika dia juga tertolong dengan kesediaan Tante Nova menjaga papanya.


Untung saja restoran masih sepi, hanya ada beberapa orang yang datang jadi mereka tidak perlu mengantri untuk membeli makanan. Tidak lupa juga mereka membeli kopi dan teh hangat, karena biasanya tante dan om mereka menikmati minuman itu di pagi hari.


Setelah mendapatkan apa yang dipesan Adit dan Riri meninggalkan restoran menuju rumah sakit. Tidak ada perbincangan lain yang ada hanya obrolan sederhana mengenai pekerjaan keduanya.


Tidak berapa lama mobil yang dikendarai Adit akhirnya sampai juga di parkiran rumah sakit. Keduanya turun dan memasuki rumah sakit sambil bergandengan tangan. Adit tidak ingin melepaskan genggamannya pada sang istri, dia ingin menunjukkan pada dunia bahwa wanita cantik yang ada di sampingnya adalah miliknya. Istrinya.


Riri pun tidak keberatan akan hal itu, baginya wajar saja jika pasangan suami istri bergandengan tangan di tempat umum. Kakaknya pun sering melakukan hal itu saat sedang bersama dengan suaminya. Hal yang dulu membuatnya iri, dan sekarang ini dia juga mengalaminya sendiri.

__ADS_1


Senyum Riri mengembang sempurna, melihat genggaman erat tangan suaminya mengayun ke depan dan belakang di antara langkah kaki mereka.


“Kenapa?” tanya Adit saat melihat bibir Riri tersenyum sedari tadi. Riri menggelengkan kepala, rasanya cukup malu saat ketahuan seperti itu.


“Nggak apa-apa,” jawab Riri. Pipinya sedikit terasa panas sekarang.


"Duh, bisa-bisanya di saat seperti ini aku merona," batin Riri. Akan tetapi, jujur saja berjalan dengan tangan saling bertautan seperti ini membuatnya bahagia.


“Assalamualaikum,” ucap Riri dan Adit saat memasuki ruangan di mana Papa Dimas dirawat di sana. Ada Tante Nova dan Om Martin yang berdiri di samping ranjang dengan Papa Dimas yang berbicara. Entah apa yang mereka perbincangkan, lalu terdiam saat keduanya masuk ke dalam ruangan tersebut.


“Om, Tante. Sebaiknya sarapan dulu. Hari ini aku sudah belikan makanan tadi di restoran. Ada kopi dan tehnya juga,” ucap Adit.


“Kamu kenapa repot-repot. Nanti Om Martin bisa pergi ke kantin buat beli sarapan,” ujar Tante Nova.


“Nggak repot, Tante. Ini tadi sekalian jalan, aku dan Riri juga belum sarapan. Jadi, sekalian beli,” jawab Adit dengan meletakkan beberapa kotak makanan dan minuman di atas meja.


Papa Dimas melirik kotak makanan tersebut. “Buat Papa mana? Papa juga mau makan. Kenapa kamu cuma kasih Om sama Tante kamu. Kamu nggak mau kasih Papa makan, nanti kalau papa kelaparan bagaimana?” tanya papa Dimas dengan kesal, bak anak kecil saja cemberut seperti itu.


Adit tersenyum dan mendekat pada ayahnya.


“Memangnya Papa belum sarapan? Kan biasanya dapat dari rumah sakit. Kami juga tidak tahu makanan apa saja yang tidak boleh dimakan Papa. Jadi, Papa harus hati-hati makanya. Nanti kita tanya sama-sama dokter, kalau sudah jelas pasti lebih enak,” ucap Riri yang kini duduk di samping papa mertua, sementara Tante Nova dan Om Martin sudah duduk dan mulai menikmati sarapannya.


Papa Dimas rampak kesal, dia juga ingin makanan dari luar rumah sakit. Makanan yang dibawa oleh perawat rasanya hambar sekali. Tak ada rasa, seperti air yang hanya diberi garam dan gula saja.


.


.

__ADS_1


__ADS_2