
Mama Rafika dan Riri berada di ruang keluarga. Keduanya masih menatap televisi yang sedang menyala. Baru saja ada berita mengenai Adit dan juga istrinya. Ingin sekali gadis itu marah atas pemberitaan mengenai dirinya.
Riri tidak menyangka jika istri Adit akan membawa namanya ke dalam masalah rumah tangga mereka. Padahal dirinya tidak tahu apa-apa mengenai masalah mereka. Gadis itu memang dekat dengan Adit, tetapi dia juga dibohongi oleh pria itu mengenai statusnya. Namun, Riri bersyukur saat Adit mau membelanya.
Apalagi dengan bukti-bukti yang pria itu tampilkan. Riri merasa bersyukur karena dicintai oleh pria itu. Meski dia tahu jika Adit telah berbohong mengenai perasaannya saat jumpa pers tadi. Bisa saja Adit mengatakan jika Riri juga mencintainya. Namun, Adit tidak melakukannya demi menjaga nama baik dirinya.
Mama Rafika juga merasa lega saat tahu bagaimana Adit menjaga nama baik Riri dan perasaannya. Pria itu memenuhi janjinya jika dirinya akan menjaga Riri dengan baik. Andai saja Adit sudah mengakhiri hubungannya dengan Risa jauh-jauh hari, pasti dirinya akan merestui hubungan mereka. Sayangnya semua tidak seperti itu. Akan tetapi, jika suatu hari nanti mereka memang berjodoh, dia tidak bisa berbuat apa-apa selain merestui. Untuk saat ini, biarlah seperti ini.
“Ma, jika nanti ada wartawan yang datang ke sini bagaimana? Aku takut bicara dengan mereka,” tanya Riri.
“Mama juga nggak tahu. Sebaiknya kita bicara seperti yang Adit katakan saja. Mama masih berharap mereka nggak akan ke sini setelah apa yang Adit sampaikan tadi.”
"Semoga saja, Ma."
Saat keduanya sedang membicarakan masalah ini, ada pesan masuk ke dalam ponsel Mama Rafiqah, ternyata dari Tama. Pria itu mengatakan jika Adit baru saja menghubunginya. Adit ingin mengatakan jika nanti ada wartawan yang mencoba untuk mewawancarai Riri, sebaiknya gadis itu berbicara seperti yang Adit katakan di media tadi. Itu bertujuan agar kedepannya tidak menjadi masalah. Mama Rafika pun mengiyakan saja, ini juga yang dia inginkan agar putrinya tidak mendapat masalah.
“Saya sudah mengatakannya pada Mama Rafiqah, Pak Adit,” ucap Tama pada Adit yang saat ini berada di depannya.
Tadi setelah menggelar jumpa pers, pria itu memang menuju perusahaan Tama. Dia ingin menjelaskan semuanya dan mengatakan apa yang pria itu ingin bicarakan pada Riri. Namun, sayangnya Adit tidak bisa menghubunginya. Awalnya dia mengira jika nomornya diblokir, tetapi saat menggunakan nomor lain pun ternyata sama. Tama pun mengatakan apa yang terjadi.
“Maafkan saya, Pak Tama. Gara-gara saya semua menjadi masalah. Apa saya perlu membelikan Riri ponsel?”
“Itu tidak perlu, Pak Adit. Jika Anda melakukannya, itu akan semakin menambah masalah. Biarlah itu Riri sendiri yang memikirkannya jika memang dia ingin memilikinya. Setelah ini, apa rencana Anda? Saya dengar Anda sekarang tidak terjun secara langsung di perusahaan.”
“Iya, itu memang benar. Saya sudah menyerahkan perusahaan sepenuhnya pada orang kepercayaan saya. Saya ingin membangun cabang perusahaan yang baru di luar kota dan saya akan tinggal di sana.”
__ADS_1
“Apa ini juga sebagai bentuk menjauhkan diri dari Riri?”
“Anggap saja seperti itu. Jika saya tetap di kota ini, pasti akan ada saatnya bertemu dengannya dan saya belum siap untuk itu. Saya takut melihat dia bersama dengan pria lain. Saat ini saya masih menata hati saya yang masih sepenuhnya terisi dengan dia. Saya ingin melupakan semuanya agar hati ini bisa sedikit lega.”
“Apa pun pilihan Anda, saya doakan mudah-mudahan itu memang yang terbaik. Saya tahu bagaimana perasaan Anda, pasti sangat menyakitkan saat kita mencintai seseorang. Namun, tidak bisa memilikinya.”
“Anda benar, Pak Tama. Itu benar-benar sangat menyakitkan.”
Adit menundukkan kepala guna menyembunyikan rasa sedih yang dia rasakan. Andai ada obat untuk menghilangkan rasa sakit ini, pasti pria itu segera membelinya.
“Baiklah, Pak Tama. Terima kasih atas waktunya. Semoga kita bisa bertemu di lain hari," ucap Adit seraya bangkit dari duduknya.
“Iya, pak Adit. Semoga kerja sama kita bisa berjalan dengan lancar. Mengenai rencana Anda membangun perusahaan di luar kota, semoga berhasil.”
Setelah kepergian Adit, Tama tiba-tiba berpikir, seandainya saja dia tidak mendapat restu dari Mama Rafiqah, pasti dirinya juga sama sedihnya seperti rekan kerjanya itu. Apalagi Dio juga sudah sangat menyayangi Maysa. Sejujurnya dia sangat setuju dengan hubungan Adit dan Riri. Mengingat betapa baiknya pria itu selama ini.
Adit juga tidak pernah macam-macam terhadap wanita di luar sana, tapi dia juga tidak bisa memaksa adik iparnya, terutama ini sudah menjadi keputusan mertuanya. Mereka punya pemikiran sendiri. Jika Adit memang berjodoh dengan Riri, sekuat apa pun semua orang memaksa memisahkannya, pasti akan bertemu kembali. Begitu pun juga sebaliknya.
Sementara itu, Adit yang berada di dalam mobil hanya diam sambil memandangi jalanan yang dia lewati. Pria itu ingin merekam semua kenangan tempat ini agar Adit bisa mengingat kota ini. Terutama tempat yang pernah dia datangi bersama Riri.
"Tuan, Anda ingin ke mana?" tanya Sopir.
"Apa Riri pergi ke butik?" tanya Adit tanpa melihat ke arah sopirnya.
"Tidak, Tuan. Nona Riri ada di rumah."
__ADS_1
"Kalau begitu kita pulang saja."
"Maaf Tuhan kita pulang ke mana?" tanya sopir dengan takut.
Adit memejamkan matanya. Dia juga bingung, tidak tahu hari ini akan pulang ke mana. Setelah kerusuhan yang pria itu lakukan, pasti papanya tidak akan membiarkannya tenang jika dia pulang ke rumah. Melihat keterdiaman atasannya membuat si sopir bingung, harus melajukan mobilnya ke arah mana.
"Cari tempat yang nyaman untuk istirahat saja. Entah itu di masjid atau tempat yang lainnya. Jangan ke hotel, pasti akan ada wartawan yang melihat," ucap Adit tanpa membuka matanya.
"Bagaimana kalau Anda ikut ke rumah saya saja, Tuan. Jika kita mencari masjid itu pasti juga akan terlihat oleh wartawan. Meskipun rumah saya tidak sebesar rumah Anda, tapi insya Allah nyaman untuk tidur satu malam," ujar sopir.
"Bolehlah kalau begitu, aku ke rumah kamu saja tapi kenapa cuma satu malam? Memangnya aku tidak boleh menginap di rumah kamu lagi?"
"Bukannya tidak boleh, Tuan, tapi saya yakin jika Anda tidak akan betah tinggal di rumah kecil seperti rumah saya."
"Kamu jangan lupa jika aku juga pernah jadi orang susah. Aku akan tinggal di rumah kamu malam ini."
"Baik, Tuan."
Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang. Saat ini yang penting bagi Adit adalah tempat istirahat yang nyaman. Tidak peduli bagaimana tempat itu, yang penting bisa mengurangi pemberitaan tentang dirinya. Tadi dia juga sudah menghubungi Risa.
Pria itu mewanti-wanti agar mantan istrinya itu tidak lagi membawa nama Riri. Jika tidak maka dia bisa melakukan sesuatu padanya. Saat ini kekuasaan Adit lebih besar daripada keluarga Risa, tentu saja wanita itu takut jika mantan suaminya melakukan sesuatu.
.
.
__ADS_1