
Gabriel dan Puri sedang memesan tiket untuk pulang ke Surabaya, untuk liburan dan juga Gabriel harus membantu Daniel.
"ya elah bang, kita jangan di cuekin Napa,"suara Danish mengejutkan Gabriel.
"kamu kenapa Danish, bosen? pesen makanan gih, Abang yang bayar," kata Gabriel melihat Danish yang begitu banyak tingkah.
"aku mau pizza, dan nasi Padang," kata Daniyal.
"ya kau pesen lah, aku sudah nyaman dan malas bergerak," jawab Danish.
"kampret lu, Abang mau di pesenin apa? dan nona cantik mau apa?" tanya Daniyal dengan suara di buat-buat.
"aku sama seperti kalian saja, punya kak Gabriel gak boleh pedas," jawab Puri.
"cih, kau ini perempuan kenapa makan mu banyak sekali, kamu nanti gembrot," kata Daniyal sambil membuka tangannya dan mengembungkan pipinya.
"Abang... lihat Daniyal mengejekku," kata Puri.
"Daniyal sudah pesan saja, jangan menganggu Puri, oh ya Puri kamu ke kamar saja jika ingin tidur, Abang ada sesuatu yang harus di bicarakan dengan mereka berdua," perintah Gabriel.
"oke Abang, aku ke kamar nonton Drakor ya, nanti panggil kalau makanan nya datang oke," kata Puri berjalan mengambil tasnya.
"kalian kemari," panggil Gabriel saat Puri sudah masuk ke kamar.
"oke bang, pesanan nya sudah, ada apa?" tanya Danish yang duduk di depan Gabriel.
"lusa kita akan ke Surabaya, kalian di sana jaga Adelia dan Puri, karna Abang dan Daniel harus menyelesaikan masalah eyang Andini," kata Gabriel.
"terus masalah pria menyebalkan itu kapan kaluan bereskan, aku saja sudah muak melihatnya," kata Daniyal.
"itu tak semudah yang kamu katakan Daniyal, bagaimana pun dia tetap saudara sepupu dari ku dan Adelia, dan eyang Sri juga bersama mereka," jawab Gabriel.
"ayolah bang, kasihan kak Adelia yang selalu mendapat gangguan dari pria itu, kita tak mungkin terus-terusan menyembunyikan semuanya dari papa dan bunda bukan," kata Danish lirih.
"kenapa kalian menghawatirkan Adelia, kalian lupa siapa suaminya itu, Daniel tak mungkin tinggal diam, dan pasti Adelia sekarang sudah berubah," kata Gabriel.
"kakak cenggeng itu berubah?" tanya Danish tak percaya.
"kenapa kau begitu, kalian tak yakin dia berubah, asal kalian tau kehilangan seseorang akan membuat orang itu menjadi kuat bahkan bengis," kata Gabriel menahan senyumnya.
"ya kita lihat saja," jawab Daniyal.
__ADS_1
"ya nanti malam jika kalian pergi bermain, ingat jangan melukai wajah kalian atau aku akan membatalkan mengajak kalian, mengerti," kata Gabriel memperingatkan kedua adiknya itu.
"siap bang," jawab keduanya.
tak lama pesanan mereka datang, mereka pun makan bersama, Puri Selly dapat perhatian dari ketiga saudara sepupunya itu.
sedang di Surabaya Adelia sedang ngambek pada Daniel karena tiba-tiba menghilang.
"Adelia kamu bisa membantu eyang sayang?" panggil eyang Andini.
"ada apa eyang?" jawab Adelia menghampiri sang eyang.
eyang Andini ternyata sedang ingin membuat masakan spesial untuk keluarga Adelia, tak di sangka saat mereka di dapur.
terdengar suara gedoran pintu depan dengan begitu keras, bahkan juga di ikuti dengan suara panggilan.
"keluar kau bajing*n!" teriak seorang pria di depan.
Adelia pun melihat terlebih dahulu siapa yang menggedor pintu tanpa sopan, saat tau Adelia langsung membuka pintu rumahnya.
"apa lagi yang kau ingin kan Rafa, berhenti menganggu ku!" bentak Adelia tak kalah datar.
"apa yang kau bicarakan, aku tak mengerti," jawab Adelia binggung.
"apa maksud mu dengan laporan ini Adelia," kata Rafa melempar sebuah berkas ke arah Adelia.
Adelia pun melihat laporan tentang pembekuan dana untuk Rafa, dan juga ada beberapa pembatalan kerjasama dengan pihak yang pernah di ajukan Rafa.
"kenapa ini semua terserah diriku, aku pemilik sah perusahaan milik kelurga Wijaya," kata Adelia.
"si*lan, seharusnya ku mati saja," kata Rafa langsung mencoba mencekik leher Adelia.
eyang Andini panik dan berteriak meminta pertolongan pada tetangga, tapi Adelia sudah tak bisa bernafas.
Daniel mengambil sebuah vas bunga keramik di depan rumah dan memukulkannya pada kepala Rafa.
Rafa langsung tersungkur, Adelia terbatuk-batuk setelah Rafa melepaskan cekikikan nya.
"pria sialan, aku selalu membiarkan mu, tapi sepertinya ku harus menerima hukuman karena berani menyakiti istriku," kata Daniel datar.
"kau hanya seorang guru biasa, apa yang bisa ku lakukan," jawab Rafa yang mengusap darah di kepalanya.
__ADS_1
"kita lihat saja, oh ya aku lupa cafe milikmu sudah di segel karena menjual minuman beralkohol tanpa izin," kata Daniel menyeringai.
"sialan berarti ini semua memang rencana klian, lihat saja aku akan membalas situ saat nanti, dan Adelia aku akan merebut semuanya dari mu, karena kau tak pantas menjadi pewaris. dari keluarga Wijaya," kata Rafa meninggalkan rumah itu.
Daniel membantu Adelia tapi malah Adelia mendorong Daniel, Adelia bangun sendiri dan langsung menuju ke kamarnya.
Adelia pun begitu frustasi dan langsung membanting semu brang di kamar itu, Adelia merasa tak becus menghadapi Rafa yang terus menekan dirinya.
bahkan Adelia tak berdaya menghadapi pria itu, Adelia hanya bisa menangis pada semua yang terjadi.
sedang eyang Andini menghampiri Daniel yang terlihat terpukul dengan sema kejadian yang menimpa Adelia.
"Daniel kuat kan dirimu, jika kmu seperti ini bagaimana dengan Adelia, sekarang hibur dia, karena hanya kamu yang bisa membuatnya tenang saat ini," kata eyang Andini.
"iya eyang," kata Daniel.
Daniel pun menuju ke kamarnya, Daniel langsung masuk dan mengendong Adelia seperti karung beras.
Adelia pun berontak, Daniel langsung menuju ke kamar mandi dan menyalakan shower dan membasahi keduanya.
Daniel langsung menurunkan Adelia, dan menatapnya dengan dalam, Adelia terduduk sambil menangis.
"berhentilah menangis, dia akan terus menindas mu jika kamu tak membalasnya," kata Daniel.
"tapi bagaimana aku membalasnya, dia punya perlindungan, sedang aku," kata Adelia.
"kau lupa sayang, aku adalah perlindungan terbesar mu, dan juga ada Gabriel, om Angga, om Bayu, dan kedua orang tuamu," kata Daniel.
"aku tak ingin merepotkan mereka, aku ingin menyelesaikan semu ini ..." lirih Adelia.
"kalau begitu kita hrus mulai membalasnya bersama, dan ingat jika kita tak membalasnya, aku takut kita akan kehilangan bayi kita lagi suatu saat nanti," kata Daniel meyakinkan Adelia.
"baiklah aku akan berusaha kuat melawan Rafa, bagaimana pun ini adalah keluarga ku, dia hanya orang luar," kata Adelia yakin.
Daniel pun memeluk Adelia memberi semangat baru, sedang Rafa merasa kesal karena selalu kalah dari Daniel.
bukan hanya kali ini usahanya di kacau kan oleh suami dari Adelia itu, bahkan Rafa sering mendapatkan hasil buruk.
terutama di club nya, bagaimana tidak, bisnis gelap yang di jalankan oleh Rafa selalu bisa terbongkar.
dan itu semua karena Daniel yang terus mengawasinya dan tak membiarkan nya bisa membut bisnisnya jaya.
__ADS_1