Rahasia Suamiku

Rahasia Suamiku
pertanyaan bodoh.


__ADS_3

Daniel menghentikan motornya di pasar Wonokromo, Daniel turun dengan wajah dingin.


Adelia sadar jika suaminya itu sedang cemburu, Adelia langsung mengandeng tangan Daniel saat akan masuk ke dalam pasar.


"honey jangan ngambek gini dong, nanti jelek loh," kata Adelia.


"kenapa mau balik sama polisi tadi, kalau aku jelek," kata Daniel.


"ih.. kok gitu sih," jawab Adelia.


"terus aku harus gimana, aku harus seneng gitu istriku di lihatin pria kayak gitu," jawab Daniel.


Adelia hanya bisa melongo melihat Daniel yang cemburu buta padanya, "jangan marah lah honey, dia hanya orang yang aku kenal, dan kamu adalah satu-satunya pria yang aku cintai," kata Adelia sedih.


"maafkan aku sayang, aku hanya tak menyukai pria tadi menatap mu seperti itu," kata Daniel merangkul Adelia.


"iya honey, aku tau maka dari itu aku akan menjaga jarak dengannya," jawab Adelia tersenyum menatap Daniel.


siang itu setelah sedikit perdebatan, aku memulai belanja sayur meski sudah sedikit siang.


mas Daniel terus mengandeng tangan ku, bahkan saat aku melepas tangan ku untuk memilih sayur.


dia tetap setia di sampingku, entahlah pria ini begitu baik dan juga lembut, dan aku bahagia memilikinya.


"sudah sayang, sekarang mau cari apa lagi?" tanya nya padaku sambil mengandeng tangan ku lagi.


"tadi ibu minta di beliin iga sama ikan sayang, oh ya aku juga ingin makan sate usus deh," kata ku yang kini berjalan bersama nya.


"oh oke ratuku, Sekarang kita cari usus sama gromohan(ceker, kepala) ayam dulu, baru kita ke tempat daging dan ikan."


"siap sayang."


ya pria ini selalu teroganisir dalam melakukan apapun, bahkan belanja saja, aku bahkan hanya mengikutinya.


kami pun sampai di tempat penjual ayam, dia terlihat begitu cekatan memilih semua keinginanku.


"sayang kenapa beli gromohan juga?" tanya ku padanya.


"Karena aku ingin buat semur, karena kamu suka makan mie ayam kan," katanya sambil tersenyum.


"aduh mbak, bikin iri saja, suaminya sayang banget," kata penjual ayam.


"iya buk, dia suami terbaik, pokoknya gak ada duanya," jawabku sambil merangkul pinggang mas Daniel.


ibu penjual ayam itu malah tertawa mendengar jawabanku, ya mau bagaimana lagi suamiku ini memang yang terbaik.

__ADS_1


Daniel dan Adelia kini menuju ke tempat penjual daging, Adelia membeli iga sapi satu kilo.


setelah itu mereka menuju ke penjual ikan dan membeli ikat asap dan ikan tengiri pesanan Bu lestari.


setalah semua bahan sudah di beli, mereka pun kembali ke rumah, Adelia langsung membantu Daniel membawa belanjaan.


Bu lestari juga memilih beberapa bahan yang akan di masak, Daniel masuk ke kamar setelah membantu Adelia dan ibu Lestari.


Daniel langsung menghubungi Gabriel karena dia ingin menanyakan beberapa pertanyaan tentang Ali.


Gabriel sedang membuat masakan bersama dengan Puri dan Daniyal, sedang Danish sedang ikut Bella keluar.


Gabriel sedang mengisi pastel, sedang Puri sibuk membuat Somay di bantu Daniyal.


Gabriel mendengar nada dering ponsel nya, dan langsung menerima panggilan telpon dari adik iparnya itu.


"assalamualaikum, ada apa Daniel?" tanya Gabriel sambil sibuk mencubit kulit pastel.


"waalaikum salam, Gabriel aku boleh tanya sesuatu padamu? penting," jawab Daniel.


"ada apa? jangan bilang kamu baru ketemu pria yang kenal Adelia," tebak Gabriel yang berhasil memancing tawa kedua orang yang bersamanya.


"kau tau benar tentang itu, aku ingin tau pria bernama Ali Suhendra, apa kamu mengenalnya?" tanya Daniel serius.


"dia dulu adalah pria yang pernah Adelia kagumi, tapi itu waktu Adelia kecil, dan yang aku tau Ali juga menyukai Adelia kecil, kenapa?" tanya Gabriel.


"tunggu kalian bertemu dengan nya, bukankah dia di Malang?" tanya Gabriel kaget.


"kami bertemu saat di lakukan operasi gabungan, sepertinya dia kepala Kapolsek yang baru di daerah Wonokromo," jawab Daniel.


"Daniel tenanglah, dia hanya masa lalu, sedang sekarang Adelia hanya milikmu, jadi bagaimana pun kau tetap pemenangnya," kata Gabriel.


"ya kamu benar Gabriel, aku hanya takut jika Adelia meninggalkan ku, apalagi aku hanya seorang guru biasa," kata Daniel sedikit murung.


"kau memang guru, tapi usaha milikmu lebih banyak dari pada punyaku, bahkan kos-kosan mu yang di Gresik ada seratus pintu dan belum kontrakan juga, jangan merendah seperti itu, dasar kau ini," geram Gabriel.


"woles bro, ya sudah kalau gitu, aku mau mengecek pekerjaan anak buah ku dulu, terima kasih, senang berbincang dengan mu," kata Daniel mematikan telepon nya.


"waalaikum salam," kata Gabriel kesal.


Daniyal hanya tertawa melihat Gabriel yang selalu banyak bicara saat bersama Daniel.


"beruntung ya kak Adelia punya kak Daniel yang begitu mencintainya," kata Puri tiba-tiba.


"tenang Puri, suatu saat pasti ada orang yang juga mencintai mu sepenuh hati, jiwa raga, bahkan bisa mengorbankan nyawa untukmu," jawab Daniyal.

__ADS_1


"raja gombal lu, udah ah dasar kamu ini Daniyal," kata Puri menggemplak kepala Daniyal.


"dasar si emak gak percaya," jawab Daniyal sambil mengusap kepalanya.


"Daniyal tangan mu kotor, kenapa malah mengusap kepala mu, dasar," kata Gabriel.


"ya lupa," kata Daniyal tertawa garing.


Gabriel pun hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah kedua orang itu, Puri sudah menata somay dan siap di kukus.


Gabriel membantunya dan juga sedang bersiap menggoreng pastel yang dia buat, sedang Daniyal memilih mandi.


"au.. panas" kata Puri tak sengaja menyenggol kukusan.


Gabriel langsung menghampiri Puri dan membantu membasuhnya dengan air dingin.


"bik, tolong ambilkan salep luka bakar, dan bibik Um tolong lanjutkan menggoreng, biar saya obati luka Puri dulu," kata Gabriel yang masih membasuh luka Puri.


"baik den," jawab bik Um.


setelah sepuluh menit di beri air dingin, Gabriel pun mengobati luka Puri yang sudah memerah itu.


Gabriel bahkan begitu hati-hati, Gabriel terus meniup-niup luka itu.


"apa masih sakit?" tanya Gabriel.


"tidak bang, sudah mendingan sekarang," jawab Puri.


"lain kali, jangan melukai dirimu Puri, jika kamu tak bisa sendiri, kamu bisa minta pertolongan padaku," kata Gabriel khawatir.


"aku hanya tak ingin membuat bang Gabriel repot," jawab Puri menunduk.


"dasar kamu ini, aku tak merasa keberatan jika kamu merepotkan ku, jadi mulai sekarang kamu bisa merepotkan diriku ya," kata Gabriel mengacak rambut Puri.


"oh bang Gabriel rambut Puri rusak," kata Puri.


"biarain, kamu tetep cantik kok," jawab Gabriel yang berhasil membuat Puri malu hingga wajahnya merah.


"idih... geli..."kata Daniyal yang langsung berlari ke arah dapur.


"DANIYAL!" teriak Puri yang masih malu.


Gabriel menahan dan menarik Puri yang ingin berlari mengejar Daniyal, Puri pun berbalik dan jatuh di pelukan Gabriel.


"jangan pernah menangis lagi, aku sakit melihat air matamu, jadi kamu harus terus tersenyum," kata Gabriel.

__ADS_1


blus... wajah Puri makin merah mendengar perkataan Gabriel.


__ADS_2