
Puri malah terpaku mendengar perkataan Gabriel yang begitu lembut, bahkan mereka saling mendekat.
"ada apa ini?" tanya Bu Rina mengejutkan keduanya.
"tidak Oma, tidak ada apa-apa, Puri ke belakang dulu mau lihat somay nya udah matang apa belum," kata Puri yang langsung pergi.
sedang Gabriel mengusap tengkuknya karena canggung, Bu Rina langsung menjewer kuping Gabriel.
"aduh sakit Oma," kata Gabriel menggaduh.
"kamu tadi mau ngapain, deket-deket Puri Hem," tanya Bu Rina.
"tidak ada Oma," jawab Gabriel berbohong.
"awas ya kalau kalian macem-macem, Oma hukum kamu," kata Bu Rina sambil tersenyum.
"pease Oma, yaudah Gabriel masuk kamar dulu ya mau mandi, udah sore," jawab Gabriel.
Bu Rina pun tersenyum melihat kepergian Gabriel, sebenarnya Bu Rina tau jika Puri sudah mencintai Gabriel.
dia tak marah karena keduanya bukan saudara sepupu kandung, jadi seandainya menikah pun tak masalah.
Gabriel merutuki kebodohannya karena hampir mencium bibir Puri, sedang Puri masih tak percaya dengan kejadian barusan.
sedang di Surabaya, Adelia sedang membantu Bu Lestari membuat cemilan sore dari ikan tengiri dan udang.
ya mereka sedang membuat dimsum, karena jika buat pempek kakek Yudha yang kesulitan untuk memakainya.
Daniel sedang melihat berita tentang kematian dari papa Roni, dia pun tersenyum menyeringai melihat berita itu.
"tenang Abimanyu, kau belum saat nya untuk mati, jika waktunya datang,maka aku sendiri yang akan mengantarkan mautmu," gumam Daniel.
Daniel memerintahkan pegawai restoran miliknya untuk mengirimkan bunga tanda berduka.
sedang baru nanti malam Daniel dan Adelia datang, toh papa Roni masih di semayamkan selama tiga hari kedepan.
aku melihat kembali rencana ku yang belum terlaksana, karena kebodohan kedua orang tua angkat ku dulu.
"cih.. kau masih bisa tersenyum orang tua, tapi tenang saja, sebentar lagi kau bahkan tak akan bisa tersenyum lagi."
aku begitu marah melihat foto Ardinata Abraham as Shiddiq, pria menjijikkan itu masih bisa bahagia setelah apa yang dia lakukan.
__ADS_1
"sayang sedang apa?"
aku terkejut melihat Adelia yang sudah berada di depan ku, "ini sayang sedang melihat laporan beberapa usaha ku, oh ya nanti malam kita harus memberi penghormatan terakhir pada tuan Yusman," kata ku sambil menarik Adelia untuk duduk di pangkuanku.
"oh ya, kamu benar honey, oh ya nanti saat di Jakarta, aku juga akan melakukan kerja sama bisnis dengan perusahaan Shiddiq Grub, sayang mau kan menemaniku," kata Adelia sambil memeluk leherku dengan manja.
"tentu sang demi istriku yang cantik."
"oh ya hampir lupa, aku tadi kemari untuk memanggilmu sayang, karena ibu sudah membut dimsum dan rasanya begitu enak, ayo semua orang sudah menunggu kita di bawah," ajak Adelia dengan semangat.
aku hanya tersenyum padanya, pasal nya istriku ini begitu menyukai cemilan manis dan asin, tapi anehnya tubuhnya tetap mungil.
Daniel bergandengan dengan Adelia menuruni tangga, tak di sangka ternyata ada tamu tak di undang yang datang.
Daniel malah tersenyum melihat kedua pria itu datang, merekapun bergabung di ruang tamu.
"wah ada angin apa nih, sampai om Rudi dan Arjuna mau Sudi main ke sini?" tanya Daniel saat duduk di sana.
"kau pasti tau Daniel, kami ingin meminta bantuan padamu," jawab Rudi.
"tentang kematian dari tuan Roni Yusman, tapi kenapa bukannya kasus ini sudah di selidiki oleh tim yang begitu unggul," kata Daniel sambil tersenyum.
"bukankah semua jalan di Surabaya ada CCTV, itu bisa jadi barang bukti kan," kata Daniel lagi.
"sayangnya CCTV rusak waktu itu, jadi kita tak ada bukti apapun," tambah Rudi.
"ya elah om, jika CCTV rusak bagaimana aku meretasnya, itu mustahil," jawab Daniel.
"mungkin ada cara lain, aku mohon tolong Abimanyu," mohon Arjuna.
"aku tak bisa berbuat apapun, lebih baik kita percaya pada pihak kepolisian, lagipula dua tak akan di hukum jika dia tak melakukan kejahatan itu," kata Daniel.
"baiklah hentikan omongan kalian, lebih baik kalian makan terlebih dahulu," kata Bu Lestari menyuguhkan dimsum di bantu Adelia.
mereka pun makan bersama, bahkan Rudi masih tak percaya bisa bertemu dengan guru yang mengajarinya.
malam hari Daniel dan Adelia menuju ke rumah duka bersama dengan pak agung dan Bu Lestari.
mereka pun langsung mengucapkan bela sungkawa atas meninggalnya papa Roni, dan tak lama ada seorang tamu datang.
"honey aku ke kamar mandi dulu ya," pamit Daniel.
__ADS_1
"jangan lama-lama ya," kata Adelia yang duduk bersebelahan dengan Bu Lestari.
Daniel pun mengangguk dan meninggalkan Adelia, dia langsung menuju ke kamar mandi, Daniel harus menenangkan dirinya.
Kania menyambut tamu yang datang, mereka saling berpelukan dan menyapa, begitupun dengan Sifa dan Riska.
Andhara pun tak menyangka jika dia masih di terima oleh keluarga yang sempat menjaganya selama di Surabaya.
Andhara tetap cantik di usianya yang sudah kepala empat itu, Andhara menghampiri Bhara dan mama Putri.
"mama, aku turut berduka," kata Andhara menghampiri keduanya.
"iya sayang, dan terima kasih kamu bisa datang," kata mama Putri.
Andhara memeluk wanita itu, Daniel pun memutuskan untuk merokok di luar untuk menenangkan dirinya.
tak di sangka Andhara juga keluar menerima telpon dari Ardi, "iya Daddy, aku besok akan kembali ke Jakarta, tenanglah, kenapa Daddy selalu begitu padaku, aku bukan gadis ingusan," kata Andhara kesal dan mematikan telpon ya.
saat akan masuk ke dalam rumah duka, tubuh Andhara seperti ada yang menahan dari belakang.
"kau tak merindukan ku sayang, Andhara aku kesepian di sini, bahkan kau tak pernah menjengguk putra kita."
Andhara diam membeku, suara yang begitu dia rindukan selama dua puluh tiga tahun ini, pria yang mengisi seluruh hatinya.
"mas Angga..."lirih Andhara.
"bahkan bau tubuhmu tetap sama dek, kau tau aku selalu mencintaimu, tapi kenapa kamu bisa meninggalkan kami, kamu tak kasihan pada putra kita."
"maafkan aku..." lirih Andhara dengan tangis.
"ingatlah aku selalu mencintaimu," kata Daniel yang pergi meninggalkan Andhara.
Andhara berbalik dan hanya bisa melihat bayangan itu berjalan menjauh darinya.
Andhara berlari mengejarnya tapi tak bisa mengejarnya, Andhara terduduk lemas sambil menangis.
"nyonya," panggil Safa yang kaget melihat Andhara menangis tersedu-sedu.
Daniel mengawasi semuanya sebum masuk ke dalam rumah duka, Safa pun memeluk Andhara, wanita itu begitu rapuh.
bahkan Safa baru kali ini melihat Andhara seperti ini, Daniel pun memutuskan untuk kembali bersama Adelia dan yang lain.
__ADS_1