
Husna begitu bahagia di sambut oleh keluarga dari suaminya itu, bahkan dia terus tersenyum bersama Puri dan juga si kembar.
"maaf tuan, ada sesuatu yang perlu Anda periksa," kata Sagara berbisik pada Gabriel.
"semuanya saya permisi ke ruang kerja sebentar" pamit Gabriel.
Husna pun melihat kepergian Gabriel, semua pun masih berbincang di ruang keluarga.
sedang Gabriel sedang memeriksa beberapa pekerjaan yang sudah dia tinggalkan beberapa hari.
dia juga menerima email dari Adelia dan Daniel yang kini terlihat begitu bahagia, apalagi perut Adelia sudah terlihat membuncit.
"apa ada masalah lain Sagara?" tanya Gabriel.
"iya tuan, proyek perumahan sedikit terhambat karena akses jalan dan cuaca," kata Gabriel.
"aku sudah memberi mereka solusi, dan minta agar pembangunan tak molor, karena aku tak menyukai itu, dan bagaimana dengan tambang?" tanya Gabriel.
"semua berjalan baik tuan, dan juga perkebunan dan ekspor kita meningkat sesuai rencana," jawab Sagara.
"bagus,dan jangan lupa berikan semua karyawan bonus, tapi ingat bereskan jika ada yang ingin membuat kecurangan di perusahaan," kata Gabriel datar.
"baik tuan," jawab Sagara. mereka pun melanjutkan pekerjaan yang masih menumpuk.
tok.. tok.. tok..
Sagara pun membuka pintu dan terlihat Puri di sana, Puri ingin mengatakan sesuatu pada Gabriel.
"maaf, apa aku menganggu?" tanya Puri.
"tidak, masuklah," jawab Gabriel.
Sagara pun undur diri hingga meninggalkan keduanya di ruangan itu, Gabriel menghampiri Puri.
"ada apa Puri?" tanya Gabriel.
"aku hanya ingin mengatakan jika aku akan kuliah di Surabaya, dan tinggal bersama ayah kecil," kata Puri.
"kenapa kamu pergi, apa karena kamu membenciku?" tanya Gabriel.
"tidak seperti itu, aku hanya ingin menggapai impian ku sebagai dokter," jawab Puri.
"apa luka mu begitu dalam Puri, sampai kau memilih pergi, terus bagaimana dengan ku nanti," kata Gabriel mengenggam tangan Puri.
"apa maksud kak Gabriel, sekarang ada istrimu Husna kak, jadi jangan bicara seperti itu," kata Puri.
__ADS_1
"tapi aku masih begitu mencintaimu, dan Husna aku masih tak bisa terbiasa dengan kehadirannya," kata Gabriel begitu sedih.
Puri pun memeluknya, Husna mundur beberapa langkah saat mendengar semua isi hati suaminya itu.
"aku sangat bodoh karena menganggap dia sudah mulai membuka dirinya untuk ku, tapi nyatanya dia bahkan tak menginginkan diriku," batin Husna yang berbalik.
Husna terkejut melihat Daniyal yang berdiri di depannya dengan tatapan mata begitu tajam, Husna mencoba tersenyum pada adik iparnya itu.
"kenapa mbak gak masuk, ini minum untuk bang Gabriel kan?" tanya Daniyal.
"iya Daniyal, dan bisakah kamu saja, tiba-tiba mbak merasa pusing," bohong Husna.
Daniyal pun menerima nampan berisi minuman dan kue, sedang Husna langsung berlari ke arah kamarnya dan Gabriel di lantai dua.
Husna mengunci kamar dan langsung terduduk menangis di sana, hatinya begitu hancur mendengar ucapan Gabriel.
Daniyal yang merasa ada yang salah langsung masuk dan kaget melihat Gabriel dan Puri yang masih berpelukan.
"apa yang kalian lakukan!" bentak Daniyal dengan suara begitu keras.
"Daniyal ini bukan seperti yang kau pikirkan," kata Puri terkejut.
"oh ini pria yang bertanggung jawab itu, kau di sini mesra-mesraan dan menyakiti istrimu sendiri, menjijikan," kata Daniyal.
"kenapa bang, pukul tapi ingat aku tak akan membiarkan mu melukai mbak Husna, dia sudah kehilangan semua orang dan kini ku hanya membut Luka di hatinya," jawab Daniyal.
"apa maksudmu," lirih Puri.
"selamat kalian telah membut mbak Husna mendengar dan melihat kelakuan kalian yang menjijikan, aku tak menyangka itu dari kalian berdua," kata Daniyal meninggalkan ruangan itu.
Gabriel terdiam mendengar perkataan Daniyal, sedang Puri tak menyangka akan seperti ini, niatnya hanya ingin berpamitan.
"woy... Daniyal mau kemana?" tanya Danish.
"pergi, gue muak di rumah!" jawab Daniyal dengan suara meninggi.
Sagara menghampiri ruangan kerja Gabriel dan melihat Gabriel yang mematung sedang Puri terduduk lemas di lantai.
"tuan ada apa?" tanya Sagara.
sedang di kamarnya, Husna sedang menangis dengan takdir hidupnya, "kenapa ku menikahiku," lirih Husna.
"mbak aku mu pulang, aku tak mu di sini, mereka membohongiku," gumam Husna.
Gabriel yang tersadar langsung berlari menuju ke kamarnya, sedang Sagara membantu Puri untuk duduk di sofa.
__ADS_1
Gabriel membuka pintu tapi tak bisa karena terkunci, "Husna, aku mohon dengarkan penjelasan ku Husna, buka pintunya Husna, Husna!" panggil Gabriel dengan mengedit pintu.
Husna tak bergeming sedikitpun, dia sudah sangt terluka mendengar ucapan suaminya, apalagi perlakuan Gabriel yang membuatnya mensalah artikan semuanya.
semua orang kaget mendengar keributan, apalagi Daniyal pergi dengan keadaan marah.
Bella dan Billy pun menghampiri Gabriel di lantai dua, dan mereka terkejut meliht Gabriel terus mengendor pintu kamarnya.
"Gabriel ada apa?" tanya Bella.
"aku membuatnya menangis bunda, aku suami yang tak berguna, aku lupa aku menikahinya karena keinginanku sendiri," kata Gabriel yang duduk di lantai sambil menangis.
sedang Mega dan Angga menghampiri Puri di ruang kerja Gabriel setelah di beri tahu oleh Sagara.
"ada apa sayang?" tanya Mega memeluk Puri.
"kami melukai mbak Husna bunda," kata Puri terisak di pelukan Mega.
"apa maksud mu nak?" tanya Angga.
"aku hanya ingin berpamitan, tapi tak di sangka kak Gabriel mengungkapkan sema isi hatinya padaku, Krena ingin menguatkan dirinya aku pun memeluknya, tapi kami tak tau jika mbak Husna mendengar semuanya, bahkan melihat kami berpelukan," kata Puri.
Mega pun menenangkan putrinya itu, sedang Bella membantu Gabriel membujuk Husna untuk membuka pintu.
Billy mencari kunci duplikat di laci samping kamar Gabriel, dan menemukannya.
"Husna kita bisa membicarakan ini baik-baik nak, bunda mohon keluarlah," bujuk Bella.
"Husna maafkan aku..." lirih Gabriel.
tetap tak ada sahutan dari dalam, Billy uang makin panik, memilih masuk lewat kamar Danish.
Billy melompat melalui balkon kamar lantai dua itu, begitupun Danish yang membantu Billy.
"Husna!" panggil Billy panik melihat menantunya itu pingsan.
Billy tak bisa masuk karena pintu balkon pun terkunci, Danish yang panik pun mencari sesuatu untuk membuka pintu itu.
Danish mengangkat kursi besi yang ada di sana dan langsung menghancurkan pintu kaca itu.
saat pintu itu hancur, Billy langsung berlari menghampiri Puri yang sudah pucat dan mimisan.
Billy mengendong Husna, dan Danish membuka pintu kamar itu, Danish berlari terlebih dahulu di ikuti Billy.
semua panik melihat Billy yang mengendong Husna yang sudah pucat dan mimisan.
__ADS_1