Rahasia Suamiku

Rahasia Suamiku
130. Tidak bisa dihubungi


__ADS_3

Rumah Mama Rafiqah sudah sangat ramai dengan segala persiapan akad nikah. Yang akan dilaksanakan pukul 08.00 nanti. Pengantin wanita saat ini sedang dirias di dalam kamarnya. Segala perasaan kini campur aduk, dari senang, gugup, takut dan banyak lagi.


Sejak tadi malam Riri tidak mendapat pesan dari calon suaminya, untuk mengirim pun tidak bisa. Nomor Adit tidak aktif entah dari kapan. Semalam masih bisa dihubungi meskipun tidak mendapat jawaban. Namun, pagi ini wanita itu sama sekali tidak bisa menghubungi calon suaminya.


Riri tidak memiliki satu nomor pun orang dari keluarga Adit. Dia tidak tahu harus menghubungi siapa lagi. Jujur wanita itu merasa was-was, takut jika terjadi sesuatu pada calon suaminya. Apa mungkin pria itu memang sengaja meninggalkan dirinya, tetapi rasanya sangat tidak mungkin.


Sekarang sudah jam tujuh. Satu jam lagi acara akad nikah akan dimulai. Riri sudah mengatakan pada Adit untuk datang setengah jam, sebelum acara dimulai agar tidak membuat penghulu menunggu. Maysa masuk ke dalam kamar bersama dengan dua anaknya.


Wanita itu begitu kagum pada adiknya, yang terlihat begitu sangat cantik dengan balutan kebaya warna putih. Tampilannya memang sederhana. Namun, terlihat begitu mewah dan elegan. Riri yang biasanya tampil sederhana dengan make up seadanya, kini menjelma seperti ratu.


"Wah! Tante cantik sekali!" seru Eira yang begitu takjub melihat perubahan tantenya.


"Iya, Tante cantik sekali. Nanti kalau aku menikah, pasti calon istriku juga cantik seperti tante," sahut Dio dengan pandangan yang terus menatap Riri.


"Kamu ini masih kecil, kenapa sudah ngomong soal pernikahan memangnya Dio sudah mau nikah?" tanya Maysa yang ingin menggoda anaknya.


Wanita itu cukup terkejut dengan apa yang dikatakan putranya. Selama ini anak itu banyak diam dan tidak peduli sekitar, tetapi sekarang malah membicarakan tentang pernikahan. Riri hanya tersenyum melihat perdebatan ibu dan anak itu. Kedua keponakannya itu memang selalu bisa menghiburnya.


"Tidak sekarang, dong, Ma. Nanti kalau aku sudah besar, sudah bekerja, banyak uang baru aku menikah," sahut Dio dengan santai.


"Uangnya berarti buat istrimu nanti, bukan buat mama, dong," sahut Maysa yang pura-pura merajuk.


Wanita itu merasa lucu dengan apa yang dikatakan putranya. Memang selama ini Dio lebih dewasa daripada Eira. Meskipun usia mereka hampir sama. Saat kedua anaknya berdebat, pasti Dio yang lebih sering mengalah, tetapi setelah itu Eira juga meminta maaf.

__ADS_1


"Uang Mama 'kan banyak dari papa, bahkan sangat banyak. Kenapa masih minta sama aku? Nanti kalau kurang, biar aku yang minta sama papa," jawab Dio membuat Maysa dan Riri tertawa.


Mereka tidak menyangka jika Dio akan berkata seperti itu. Dari mana juga anak itu tahu kalau papanya banyak uang. Padahal selama ini Tama juga tidak pernah membahas hal ini, begitu juga dengan dirinya. Sang suami juga tidak pernah hitung-hitungan soal uang.


Bahkan saat Maysa sudah mendapat uang bulanan, tetapi saat wanita itu meminta pun tetap beri lagi. Padahal saat itu sang istri hanya ingin menggoda saja. Namun, malah diberi benar. Wanita itu sendiri tidak tahu berapa banyak uang sang suami dan berapa gajinya.


Mama Rafika masuk ke dalam kamar putrinya, dia juga begitu takjub saat melihat Riri yang berubah menjadi begitu sangat cantik. Wanita paruh baya itu tidak bisa menyembunyikan rasa kagumnya. Hal itu tentu saja membuat matanya berkaca-kaca. Sebisa mungkin dia tidak ingin menangis di hari bahagia putrinya.


"Kamu sudah hubungin Adit belum , Ri? Dia sudah ada di perjalanan apa belum?" tanya Mama Rafika pada putrinya.


"Aku juga tidak tahu, Ma. Dari tadi aku sudah mencoba menghubunginya, tapi nomornya nggak aktif. Aku tidak tahu harus menghubungi siapa lagi, aku juga tidak memiliki nomor siapa pun di keluarga Mas Adit. Begitu juga dengan teman-temannya," jawab Riri membuat Mama Rafika menjadi gelisah.


Entah kenapa, tiba-tiba dia memiliki prasangka buruk. Jika Adit tidak akan datang di acara pernikahan ini. Apa mungkin pria itu ingin membalas dendam karena dulu pernah ditolak, tetapi bukankah dia yang datang sendiri untuk melamar putrinya. Bahkan pesta juga semua dia yang membiayai. Meskipun Mama Rafiqah juga turut andil. Namun, itu tidak ada apa-apanya dengan persiapan yang dilakukan oleh Adit.


Wanita itu pun mencoba untuk menenangkan diri terlebih dahulu. Ini hari bahagia sang putri, dia tidak ingin membuat masalah dengan sakit yang dirasakannya. Maysa yang berada di sana pun mencoba untuk menenangkan mamanya. Sementara itu, Riri masih mencoba untuk menghubungi, nomor ponsel atau sosial media lainnya yang masih bisa dia hubungi.


Maysa yang melihat keadaan mamanya pun segera mendekati wanita paruh baya itu. Wanita itu duduk di samping Mama Rafiqah. Dia juga sama khawatirnya, tetapi masalah ini harus dihadapi dengan tenang. Jangan sampai emosi menguasai diri.


"Mama harus tenang, jangan sampai Mama kalah dengan keadaan ini. Kita semua harus tenang dalam menghadapi masalah apa pun. Kita hadapi semua ini sama-sama dan saling menguatkan. Aku yakin Adit pasti akan datang. Hanya saja dia sekarang sedang ada di suatu yang menghalanginya. Mama pasti bisa melihat seberapa besar cinta Adit pada Riri. Itu juga yang aku rasakan dari Mas Tama jadi, aku yakin kalau Adit pasti akan datang," ujar Maysa sambil mengusap lengan mamanya.


Mama Rafika mengangguk meski dalam hatinya, dia tidak yakin dengan apa yang dikatakan oleh Maysa. Entahlah, semuanya serba salah baginya.


"Kak, penghulunya sudah datang. Pengantin prianya bagaimana? Apa sudah jalan?" tanya adiknya Mama Rafika yang baru saja masuk ke kamar pengantin.

__ADS_1


Mama Rafika dan Maysa menatap Riri, menunggu jawaban dari gadis itu. Namun, pengantin wanita hanya bisa menundukkan kepala. Dia juga tidak tahu di mana keberadaan calon suaminya sekarang. Semua tamu sudah datang, begitu juga dengan penghulu, tetapi kenapa Adit belum juga datang.


Jika memang pria itu ada suatu halangan, setidaknya mengabari terlebih dahulu. Bukan seperti ini, pergi tanpa kabar sedikitpun. Apa ini memang pertanda jika dirinya memang tidak berjodoh dengan Adit. Selalu ada saja halangan setiap mereka akan bersatu.


"Ini jam berapa, Tante?" tanya Maysa pada tantenya itu.


"Jam delapan kurang lima belas menit."


"Berarti masih ada waktu lima belas menit untuk menunggu pengantin pria, kan, Tante? Tolong bilang sama pak penghulu untuk menunggu. Mungkin pengantin pria sedang terjebak macet," ucap Maysa yang diangguki oleh tantenya.


Setelah kepergian tantenya, ruangan tiba-tiba menjadi hening. Bahkan Eira dan Dio juga tidak berani bersuara. Kedua anak itu tahu jika saat ini sedang ada ketegangan di antara para orang tua. Maysa memberi kode pada Dio agar membawa adiknya keluar. Meskipun tidak mengerti apa yang terjadi, anak itu tetap menurut dan membawa adiknya keluar dari ruangan.


"Apa sebelumnya Adit tidak mengatakan sesuatu sama kamu, Ri?" tanya Maysa pada adiknya.


"Tidak ada, Kak. Mas Adit beberapa hari ini juga biasa saja saat telepon. Tidak ada tanda-tanda apa pun. Apalagi sampai tidak datang seperti ini," jawab Riri dengan suara seraknya karena sudah menahan tangisnya.


"Bukan tidak datang, belum datang. Aku yakin kalau dia sedang ada halangan. Dia bukan laki-laki pengecut yang meninggalkan calon istrinya begitu saja. Jika dia memang tidak ingin menikah dengan kamu, pasti dia sudah mengatakannya jauh-jauh hari, sebelum pernikahan ini tiba. Kamu harus yakin kalau dia pasti akan datang. Kamu sangat ingatkan kalau dia itu pria yang bertanggung jawab. Kamu sendiri yang mengatakan semuanya jadi, kamu harus meyakini hal itu."


Sebisa mungkin Maysa membuat mama dan adiknya berpikir positif. Meskipun dalam hati dia juga ragu. Akan tetapi, dia tidak ingin hanya karena suatu prasangka, menggagalkan acara yang sudah dirancang dengan sedemikian rupa.


"Apa kamu yakin kalau dia akan datang, May? Kamu sendiri tidak begitu mengenalnya," tanya Mama Rafika membuat semua orang terdiam.


.

__ADS_1


.


__ADS_2