
Seorang pelayan mendekati meja mereka. Tama dan keluarganya menyebutkan pesanan mereka masing-masing. Maysa bisa melihat jika sedari tadi Adit mencoba melirik ke arah Riri. Namun, adiknya itu terus saja menunduk, sesekali melihat ke arah Dio.
Riri seolah tidak melihat keberadaan pria itu. Maysa penasaran, apa Riri dan Adit masih memiliki perasaan yang sama atau sudah berubah. Mengenai Riri, dia yakin jika belum ada laki-laki lain di hatinya. Kalau Adit ini yang tidak wanita itu ketahui. Entah masih sama atau sudah ada wanita lain. Mengingat siapa Adit yang sekarang, sangat berbeda dengan yang dulu.
“Riri, kamu pesan apa?” tanya Tama.
“Samain aja, Kak,” jawab Riri.
“Disamakan saja, Mas,” kata Tama pada pelayan tadi.
“Mohon ditunggu sebentar, Pak, Bu.”
“Mas, jangan terlalu pedas, ya!” ucap Adit sebelum pelayan itu pergi, membuat semua orang yang ada di sana menatap ke arah pria itu, termasuk Riri.
“Iya, Pak,” sahut pegawai restoran yang kemudian pergi dari sana.
Adit sadar jika dirinya telah salah berbicara. Itu bisa menandakan jika dirinya belum move on. Sebenarnya memang begitu, tetapi dia takut jika membuat Riri tidak nyaman. Pria itu juga tidak tahu kehidupan gadis itu sekarang. Masih sendiri atau sudah ada pria lain di kehidupannya.
“Maaf, tadi saya hanya tidak ingin ada yang sakit perut saja,” Jawab Adit yang diangguki oleh Tama.
“Selamat siang, Pak Adit. Maaf saya terlambat,” ucap seorang wanita yang baru datang.
Dia sangat cantik membuat semua orang menatap kagum ke arahnya. Bicaranya pun terdengar sangat lembut dan sopan. Cara berpakaiannya juga tertutup. Meski tidak menggunakan hijab.
__ADS_1
“Anda tidak perlu khawatir, Bu Rini. Saya juga baru datang,” ucap Adit pada rekannya.
Wanita yang bernama Rini itu tersenyum kemudian melihat ke arah Tama dan keluarganya. Maysa yang melihat itu pun merasa tidak enak. Restoran ini pasti disewa wanita ini dengan sengaja, tetapi mereka malah ikut menikmatinya.
“Maaf, Bu Rini. Saya yang mengajak mereka. Pak Tama ini rekan kerja saya yang berada di luar kota. Mereka sedang berlibur dan mencari restoran makanan khas Indonesia. Anda tahu 'kan hanya ada restoran ini," ucap Adit yang mengerti arti dari tatapan rekannya.
“Iya, tidak apa-apa,” jawab wanita itu sedikit tidak suka. Padahal dia saat ini sedang merencanakan sesuatu dari sejak lama. Baru kali ini Adit mau diajak makan malam berdua. Itu pun dengan alasan pekerjaan. Padahal bukan itu alasan yang sebenarnya.
“Bu Rini, perkenalkan ini ....”
“Maaf, Pak Adit. Saya ada sesuatu yang ingin dibicarakan berdua. Bolehkah kita ke meja yang ada di sana. Meja itu sudah dipersiapkan untuk kita,” ucap Rini yang kemudian beralih bertanya pada Tama. “Tidak apa-apa, kan, Pak?”
Tama hanya mengangguk. Sejujurnya dirinya yang merasa tidak enak sudah mengganggu acara wanita itu dengan kedatangan keluarganya. Bagaimana lagi, mereka sudah terlanjur ada di sini. Mau tidak mau Adit pun mengikuti Rini duduk di meja, yang berada di tengah-tengah restoran dengan dua kursi.
Riri menarik napas dalam-dalam. Sepertinya dia sudah sangat mengerti arti dari suasana ini. Gadis itu pun segera memakan makanannya saat pelayan sudah menghidangkannya. Sebenarnya saat ini dirinya sudah sangat tidak berselera. Namun, dia harus tetap memakannya.
Tama dan Maysa saling pandang, keduanya seolah tahu apa yang dirasakan oleh Riri. Ternyata adiknya itu masih memiliki perasaan pada Adit, tetapi sekarang pria itu sudah berbalik, sudah ada wanita yang berada di sisi pria itu.
“Dio, dimakan makanannya. Setelah itu kita pulang, ya!” ucap Maysa yang diangguki oleh Dio.
Anak itu juga merasa ada sesuatu. Namun, dia tidak mengerti ada apa dengan semua orang. Riri mencoba untuk tidak memedulikan apa yang terjadi di meja yang berada di tengah-tengah restoran. Dia mencoba fokus pada makanannya sendiri. Meski hati dan pikirannya tertuju pada Adit dan wanita itu.
Setelah beberapa menit, suara musik terhenti. Suasana tiba-tiba menjadi hening. Hanya suara sendok dan piring dari Dio dan Riri yang terdengar. Gadis itu pun menghentikan gerakannya. Dia tidak ingin menjadi pusat perhatian.
__ADS_1
“Sebelumnya saya ingin minta maaf pada Pak Adit. Saya sudah lama memendam semuanya dan saat ini saya ingin mengatakan apa yang saya rasakan. Saya menyukai Pak Adit, Saya rasa Pak Adit juga merasakan hal yang sama seperti saya karena saya pernah mendengar Pak Adit menyebut nama saya saat sedang tidur. Meskipun saat itu saya tidak begitu jelas mendengarnya, tapi saya yakin jika itu nama saya. Selama ini juga Anda selalu baik sama saya. Meskipun Anda juga melakukan hal yang sama pada orang lain karena itu saya memberanikan diri hari ini. Saya ingin Pak Adit menikah dengan saya.”
Riri tersedak makanannya saat mendengar wanita itu tengah melamar Adit. Dia terbantu-batuk, bahkan sampai meneteskan air mata. Maysa pun segera memberikan air minum pada adiknya.
“Hati-hati, Dhek. Makanya kalau makan pelan-pelan, Kakak tahu kamu lapar,” tegur Mahesa. Dia sebenarnya sudah sangat tahu, apa alasan Riri sampai tersedak makanannya karena dirinya pun sama terkejutnya.
“Maaf, Kak. Tadi nggak sengaja,” sahut Riri yang masih saja terbatuk bahkan setelah meminum air.
“Mas, sebaiknya kita pergi,” ucap Maysa pelan agar tidak ada orang lain yang mendengar. Tama pun mengangguk dan segera berdiri dari duduknya. Namun, suara Adit lebih dulu menghentikan mereka.
“Tunggu, Pak Tama. Anda sudah terlanjur di sini jadi, Anda juga harus mendengarkannya sampai akhir.”
Terpaksa Tama dan yang lain duduk kembali. Riri terlihat sangat kesal. Dia merasa Adit memang sengaja ingin membuatnya cemburu. Jika itu memang tujuannya, berarti pria itu sudah berhasil.
“Sebelumnya saya mohon maaf, Bu Rini, tapi dari awal pertemuan kita sampai detik ini, saya tidak pernah memiliki perasaan apa pun yang seperti ibu Rini katakan. Saya juga tidak tahu dari mana Anda mengetahui tentang perasaan saya yang sebenarnta. Nyatanya itu tidak benar," ujar Adit pada rekan bisnisnya.
"Mana mungkin itu tidak benar. Saya sendiri yang mendengar Anda memanggil nama saya saat anda sedang tidur."
"Tapi saya mengatakan yang sesungguhnya, Bu Rini. Saya benar-benar tidak memiliki perasaan kepada Anda. Dalam hati saya, sejak tiga tahun yang lalu sampai detik ini, sudah ada nama seorang wanita dan sampai kapan pun dia tidak pernah tergantikan oleh siapa pun," ucap Adit membuat semua orang diam.
.
.
__ADS_1