
Setelah selesai salat, Maysa turun untuk menyiapkan sarapan untuk keluarganya. Anak-anak lari pagi bersama dengan Tama mengelilingi kompleks. Mereka terlihat begitu bersemangat.
"Kamu masak apa, May?" tanya Mama Mirna saat memasuki dapur. Dia melihat Maysa sedang masak di sana.
"Anak-anak minta masak ikan, Ma. Jadi aku masakin ikan sama sayur bening, ada sambal juga."
Mama Mirna mengangguk, sambil melihat apa saja yang sudah dikerjakan oleh menantunya. Anak-anak tidak begitu suka dengan sayur, apalagi yang ada daunnya. Maysa sudah mencoba mengolahnya dengan berbagai menu. Tetap saja mereka tidak suka.
"Bagaimana dengan Tama? Apa dia sudah baik?"
"Sudah, Ma. Sekarang malah sedang jogging sama anak-anak. Katanya mau keliling kompleks."
Mama Mirna menganggukkan kepalanya, dia merasa lega karena keadaan putranya sudah membaik. “Kamu sudah bicarakan sama suami kamu, mengenai asisten rumah tangga baru? Mama nggak mau hal ini berlarut-larut. Kamu malah makin sibuk nanti kecapean."
Maysa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Wanita itu tahu jika mertuanya begitu khawatir padanya, tetapi mau bagaimana lagi, Maysa benar-benar lupa. Mama Rafika menatap menantunya yang seperti kebingungan. Dia yakin pasti ada sesuatu.
"Jangan bilang kamu belum membicarakan masalah ini dengan Tama. Mama sudah bilang sama kalian, kenapa menyepelekan hal ini?"
"Semalam aku sudah membicarakannya dengan Mas Tama, tapi aku malah ketiduran. Aku nggak tahu Mas Tama bilang apa saja." Maysa meringis sambil melihat ke arah mertuanya. Dia jadi merasa tidak enak karena sudah lalai.
Mama Mirna menggelengkan kepalanya. Kalau seperti ini pasti akan semakin berlarut-larut. Sebaiknya dia bicarakan langsung saja pada keduanya nanti saat sarapan. Di rumah juga kalau sendirian wanita itu merasa tidak nyaman, seperti ada sesuatu yang kurang.
Mama Mirna membantu Maysa menyiapkan semuanya. Wanita paruh baya itu memang tidak pernah meragukan masakan menantunya. Apa pun yang dimasak, pasti terasa nikmat meski sederhana. Tama dan anak-anak juga sudah kembali dari joggingnya.
"Sarapan sudah siap, nih!" seru Tama saat memasuki ruang makan.
Sebenarnya tadi pria itu ingin mengambil minuman. Namun, saat melihat makanan yang sudah terhidang di meja, tiba-tiba saja dia merasa sangat lapar. Tama sudah tidak sabar untuk menikmatinya.
"Kamu nggak mau bersihkan tubuh kamu dulu?" tanya Mama Mirna saat melihat Tama yang sudah siap menikmati sarapan.
"Badan aku masih nggak enak, Ma. Jadi nggak mandi dulu," sahut Tama yang kemudian duduk di salah satu kursi yang ada di sana.
__ADS_1
"Walaupun kamu nggak mandi, setidaknya kamu cuci muka saja, lalu ganti baju biar nggak bau asem kayak gini. Masa enak-enak lagi makan, malah bau asem! Mengurangi selera makan orang saja. Sudah sana cepat! Cuci muka lalu ganti baju!" perintah Mama Mirna yang akhirnya membuat Tama berdiri dan berlalu dari sana.
Sebenarnya pria itu enggan untuk pergi, tetapi tetap saja Mama Rafiqah akan mengusirnya dari ruang makan nanti. Maysa hanya memandangi punggung sang suami dengan tersenyum. Meski pria itu adalah kepala rumah tangga, tetap saja Tama adalah anak dari Mama Mirna.
Terkadang pasti ada rasa rindu saat anaknya berlanjut dewasa. Mungkin dirinya kelak juga akan seperti Mama Mirna, yang merindukan masa-masa di mana sedang masa pertumbuhan anak mereka.
"Kalau kamu masaknya sudah selesai, Sebaiknya lihat anak-anak saja. Biar Mama yang siapin di meja makan. Anak-anak pasti butuh bantuan kamu."
"Iya, Ma. Ini tinggal sedikit lagi," jawab Maysa yang sedang membuatkan minuman untuk semua orang. Termasuk dua gelas susu untuk kedua putranya.
Setelah selesai dengan masakannya, Maysa pergi ke kamar anak-anaknya. Dia ingin melihat persiapan Dio dan Eira untuk pergi ke sekolah. Keduanya sudah terbiasa melakukan semuanya sendiri. Meski terkadang juga masih ada yang tidak sempurna.
Akan tetapi, wanita itu cukup bersyukur anak-anaknya sudah mulai mandiri. Namun, tetap saja sebelum berangkat Kinan harus mengecek segala kebutuhan. Barulah dia bisa melepaskan anak-anaknya untuk pergi sekolah.
"Anak-anak sudah siap semuanya?" tanya Maysa begitu memasuki kamar anak-anaknya.
"Sudah, Ma," jawab Dio sambil membantu adiknya memakai sepatu.
"Kenapa Adek nggak pakai sepatu sendiri? Kenapa Kakak yang pakaikan?" tanya Maysa langsung duduk di samping putrinya.
Gadis itu memang sering kali salah memakai perlengkapan sekolah. Terkadang bahkan tidak mau dibenarkan hingga sampai sekolah. Maysa sendiri tidak mau marah, dia akan mencoba memberi pengertian. Jika tidak bisa juga, terpaksa wanita itu membiarkan sudah.
"Ma, kata bu guru bulan depan ada acara ke kebun binatang. Mau dilihatin binatang-binatang apa saja yang ada di sana. Ada juga kegiatan dari gugus."
"Oh ya! Kapan? Mama nggak tahu soal itu."
"Kemarin, Ma. Masih di rundingkan sama Bu guru yang lain. Nanti juga bu guru kasih tahu sama Mama. Sekarang masih mencari hari yang tepat,” sahut Dio yang sudah selesai memakaikan sepatu Eira. Anak laki-laki itu pun berdiri. “Kita boleh ikut, kan, Ma?"
Jika memang itu acara yang diselenggarakan oleh sekolah dan pihak guru, Mama tidak akan keberatan. Mama senang jika anak-anak mau rajin. Semoga seterusnya seperti ini, Mama hanya ingin melihat kalian berdua sukses. Suatu hari nanti juga bisa membanggakan mama dan papanya. Apa pun ujian yang nanti akan kalian hadapi, kalian harus menjadi lebih kuat. Kalian mengerti, kan?"
“Mengerti, Ma,” jawab Dio dan Eira secara bersamaan.
__ADS_1
"Ya sudah, sekarang ayo kita sarapan! Sebelum berangkat ke sekolah. Nanti Mama anterin kalian sekolah."
"Tadi Papa juga bilang mau nganter kita ke sekolah. Apa Mama sama Papa mau ngantar kita sama-sama?" tanya Eira dengan antusias.
Tama memang sudah cukup lama tidak mengantar belajar anak-anaknya. Semuanya Maysa yang melakukan.
"Papa sedang sakit, mana bisa mengantar kalian?"
"Tapi papa sudah janji sama kita, mau mengantar ke sekolah. Papa 'kan sudah lama tidak mengantar kami," ucap Eira dengan nada sedih.
Maysa yang melihat wajah sedih putrinya pun tidak tega. Dia pun mencoba menghiburnya. "Nanti kita tanya sama Papa lagi. Ayo kita turun! Nanti makan yang banyak, biar tambah sehat dan kuat."
Ketiganya turun dari lantai atas menuju ruang makan. Di sana sudah ada Mama Mirna dan juga Tama. Pria itu sudah rapi dengan pakaian santainya.
"Papa, tadi janji mau nganter kita ke sekolah. Apa Papa mau membatalkannya?" tanya Eira begitu melihat keberadaan papanya.
"Jadi, dong, Sayang. Nanti Papa akan antar kalian ke sekolah. Memang siapa yang bilang kalau Papa batal nganterin anak-anak Papa yang cantik dan ganteng ini?" Tama mengusap rambut panjang Eira.
"Kata Mama, Papa masih sakit jadi nggak bisa antar?"
"Tidak, Papa masih bisa mengantar kalian. Nanti biar sopir yang mengendarai mobil. Papa cuma duduk saja sambil memperhatikan kalian."
"Mas, kamu 'kan masih butuh banyak istirahat. Lagi pula kamu juga benar belum benar-benar sehat."
"Tidak apa-apa, Sayang. Aku hanya mengantarkan anak-anak sebentar. Aku juga nggak nyetir. Tidak pa-pa, sesekali membuat mereka senang. Aku juga sudah lama nggak nganterin mereka. Ingin lihat bagaimana lingkungan sekitar mereka sekarang seperti apa."
"Sudahlah, May. Biarkan saja, ayo sekarang kita nikmati sarapan dulu! Baru kalian sibuk dengan aktivitas masing-masing."
Mereka semua pun menikmati sarapan dengan tenang. Dio dan Eira juga menceritakan pada papa dan omanya, mengenai rencana gurunya untuk mengajak ke kebun binatang. Tama dan Mama Mirna hanya bisa mendukung anak-anak. Mereka juga terlihat begitu bahagia.
Pria itu mana mungkin tega melarang anak-anaknya. Pihak sekolah juga pasti akan bertanggung jawab pada mereka, keluarga hanya perlu percaya pada pihak sekolah.
__ADS_1
.
.