
“Iya, Bu.” Adit pun pindah ke kursi yang lain.
Mereka menikmati makan malam bersama. Adit merasa sangat senang karena masakannya disukai oleh Mama Rafiqah dan juga Riri. Dia berdoa agar usahanya tidak sia-sia, kalaupun nanti dirinya tetap ditolak, setidaknya pria itu sudah berusaha.
Adit tahu perjuangannya pasti akan sangat sulit, mengingat apa yang sudah pernah dilakukannya, yang sudah pasti sangat menyakiti hati mereka. Kehadirannya diterima saja sudah bagus.
“Mohon maaf, Nak Adit. Ini sudah larut, saya harap kamu bisa meninggalkan rumah kami. Saya tidak mau ada fitnah,” ucap Mama Rafiqah setelah selesai menikmati makan malam.
“Iya, Bu, tapi jangan larang saya untuk datang lagi besok.”
“Sudah saya katakan berapa kali, saya tidak bisa menerima kamu. Jangan la—“
“Saya mengerti, tapi izinkan saya untuk berusaha meluluhkan hati Anda. saya tidak meminta hal yang lebih, cukup terima kedatangan saya di sini dan berusaha membuat Anda menerima saya. Jika sudah sampai pada titik saya sudah lelah dan Anda belum menerima saya, detik itu juga saya akan berhenti.”
“Sebesar apa pun usaha kamu, saya tidak akan menyetujuinya jadi, percuma saja kamu berusaha.”
Mama Rafiqah memperhatikan wajah Adit, mencari kesungguhan dari pria itu. Dia tidak ingin menyesal di kemudian hari karena telah menerima pria yang salah untuk putrinya. Sama seperti dulu saat Maysa dikhianati.
“Saya percaya tidak akan ada usaha yang sia-sia. Saya yakin suatu hari nanti, Anda akan menerima saya sebagai menantu.”
Adit sangat percaya hal itu karena Mama Rafiqah adalah orang baik. Dia sudah banyak mencari tahu tentang mamanya Riri. Wanita itu pasti bisa melihat ketulusan hatinya.
Mama Rafiqah hanya diam, begitu juga dengan Riri. Keduanya tidak tahu harus menjawab apa. Sejujurnya Mama Rafiqah mulai luluh hatinya, tetapi dia tetap mempertahankan pendiriannya karena takut, jika Adit akan menyakiti putrinya.
“Baiklah, kalau begitu saya pamit pulang dulu. Insya Allah besok saya akan datang ke sini lagi.”
__ADS_1
Adit pun pergi dari sana, sementara Riri dan mamanya masih terdiam. Keduanya menyelami pikiran masing-masing, terutama Mama Rafiqah. Wanita itu benar-benar dalam dilema. Bahkan berkali-kali terdengar menghela napas.
“Apa kamu masih mencintai dia?” tanya Mama Rafiqah tanpa menatap ke arah putrinya.
Riri yang mengerti pertanyaan itu ditujukan padanya tampak tegang. Dia takut jika apa yang dikatakan akan menyakiti hati mamanya, tetapi gadis itu tidak mungkin diam saja. Berbohong pun rasanya percuma karena wanita paruh baya itu sudah pasti bisa melihatnya.
“Sejujurnya aku masih mencintainya, Ma. Rasa cintaku satu tahun yang lalu, yang berusaha aku kubur, nyatanya tidak pernah bisa hilang. Saat aku bertemu dengannya, rasa itu tumbuh begitu besar, rasa rindu setelah setahun tidak bertemu itu telah memberontak dalam hatiku. Aku merasa bahagia karena rindu itu bisa terobati.”
Mama Rafiqah terdiam. Jawaban putrinya secara tidak langsung adalah ingin agar dirinya menerima Adit, tetapi dia juga perlu keyakinan yang besar, untuk memberikan putrinya pada pria itu. Wanita itu hanya merasakan kekhawatiran sebagai seorang ibu. Dia hanya ingin yang terbaik untuk putrinya. Riri yang melihat mamanya melamun jadi merasa bersalah.
“Jangan terlalu dipikirkan. Aku akan selalu menuruti keinginan Mama karena aku yakin, pilihan Mama tidak akan pernah salah. Jika Mama tidak yakin dengan Mas Adit, jangan menyetujuinya hanya karena aku masih mencintainya. Semua harus dari penilaian Mama sendiri,” ucap Riri sambil tersenyum ke arah mamanya.
Mama Rafika tersenyum. Dia senang memiliki Putri seperti Riri, yang sangat pengertian. Anak-anaknya sangat tahu apa yang menjadi pikirannya. Mereka juga selalu berusaha membuat dirinya tenang dan tidak terbebani.
“Mama istirahatlah dulu, aku mau membersihkan piring bekas makan."
Riri mengangguk dan mulai membersihkan semuanya satu persatu, sementara Mama Rafiqah sudah tidur di kamarnya. Gadis itu memejamkan matanya sejenak. Sepertinya dia harus merelakan perasaannya terhadap Adit. Riri tidak mungkin memaksa mamanya untuk menerima pria itu.
Dia tidak mau wanita paruh baya itu jatuh sakit. Dirinya sangat menyayangi mamanya, tidak mungkin gadis itu mengorbankan perasaan Mama Rafiqah, hanya demi bisa bersama dengan Adit.
Sementara itu, Mama Rafiqah yang berada di kamar pun tidak bisa tidur. Dia masih kepikiran dengan Adit dan Riri. Jika boleh, wanita itu ingin sekali putrinya jatuh cinta pada pria lain, yang lebih baik dan juga statusnya jelas.
Mungkin Adit saat ini statusnya jelas, tetapi jika mereka bersama, itu akan kembali hadirnya panggilan pelakor. Meskipun kemungkinannya sangat kecil sekali, tetap saja ada rasa takut jika itu terjadi. Dia juga tidak tahu, keluarga mantan istrinya mengganggu mereka atau tidak nanti.
"Ayah, apa yang harus Mama lakukan. Apakah Mama harus menyetujuinya? Andai saja Ayah ada di sini, pasti bisa membantu Mama berpikir mengenai anak-anak kita. Mama takut sekali, apa yang pernah dialami Maysa akan dialami oleh Riri."
__ADS_1
Mama Rafiqah menatap langit-langit kamar, seolah almarhum sang suami ada di sana.
***
“Pa, Ma, katanya kemarin kita akan pergi liburan kalau Eira sudah pulang. Ayo, kita liburan. Mumpung hari libur masih ada," ucap Dio pada kedua orang tuanya.
Tama dan Maysa saling pandang. Saat ini mereka berada di ruang keluarga, sedang menonton televisi. Keduanya tersenyum mendengar keinginan anaknya
"Memang kalian mau ke mana?" tanya Tama.
"Mau ke mana, ya?" Ulang Dio sambil menjentikkan jarinya di dagu. "Kamu mau ke mana, Dhek?" tanyanya pada Eira.
"Nggak tahu."
Maysa tersenyum melihatnya. Anak-anaknya memang selalu menjadi penghibur baginya. "Bagaimana mau pergi, kalau kalian nggak tahu mau ke mana," sela Maysa yang sadari tadi memperhatikan tingkat kedua anaknya.
"Terserah Papa sajalah, mau ke mana," pungkas Dio karena dia memang tidak ada ide mau ke mana.
"Baiklah, besok kita ke arena bermain saja, bagaimana? Biar nanti Papa telepon asisten Papa untuk ambil libur."
"Iya, Pa. Kita ke sana saja. Nanti aku mau naik kereta yang di atas. Besok kamu naik sama aku, ya, Dhek?"
Eira hanya mengangguk. Gadis itu tidak banyak berbicara sejak tadi, membuat Maysa merasa sedih. Putri yang selama ini selalu cerewet, sekarang jadi pendiam gara-gara kecewaannya terhadap sang papa. Wanita itu berjanji, tidak akan pernah mengizinkan Rafka untuk mengajak Eira lagi.
Keinginan putrinya sangat sederhana, tetapi Rafka sama sekali tidak peka. Bahkan terkesan tidak peduli, entah terbuat dari apa hatinya.
__ADS_1
.
.