Rahasia Suamiku

Rahasia Suamiku
112. Tama Sakit 2


__ADS_3

Maysa masih menatap Tama. Sejujurnya dia juga sama seperti pria itu yang merindukan dirinya. Namun, wanita itu enggan untuk mengutarakannya. Bukan karena belum memaafkannya, tapi Maysa terlalu malu untuk mengakuinya.


Wanita itu bingung harus berbuat apa, dia hanya berdiam diri di samping ranjang. Ingin sekali Maysa menyembunyikan dirinya saat ini juga. Bagaimana bisa dirinya begitu kaku, tidak tahu harus melakukan apa.


"Kamu temani aku sebentar saja, sampai aku tertidur. Setelah itu kamu boleh pergi," ucap Tama yang akhirnya diangguki oleh Maysa.


Wanita itu pun berbaring di samping sang suami. Tama tersenyum sambil memeluk istrinya, akhirnya pria itu bisa tidur dengan lelap malam ini. Dua malam tidurnya sangat kurang, ada saja yang membuatnya tidak tenang. Entah itu karena Maysa atau karena hal lain.


Setelah dirasa Tama sudah tertidur, Maysa bangun untuk mengembalikan piring bekas makan sang suami. Dia masih harus melihat anak-anak apakah sudah makan atau belum. Ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikannya sebelum tidur.


"Tama nggak turun, May?" tanya Mama Mirna saat melihat Maysa turun seorang diri. Padahal sekarang sudah waktunya makan malam. Apakah putranya belum pulang. Dia juga sedari tadi tidak mendengar suaranya.


"Mas Tama sedang sakit, Ma. Tadi sudah minum obat, sekarang sedang tidur," jawab Maysa sambil meletakkan piring di wastafel. Wanita itu mencuci tangan dan segera ikut bergabung dengan mertua dan anak-anaknya di meja makan.


"Tama sakit apa, May?" tanya Mama Mirna yang masih penasaran dengan keadaan putranya.


"Badannya demam, Ma. Aku sudah bilang sama dia untuk ke rumah sakit, tapi dia nggak mau. Dia bilang cuma lelah saja."


"Biasanya kalau Tama lagi sakit, minumnya teh manis, May. Nanti kamu bawakan biar nanti saat bangun dia bisa minum."


Sebagai seorang ibu, Mama Mirna pasti sudah sangat tahu kebiasaan putranya. Itulah kenapa dia


"Apa tidak sebaiknya nanti saja, Ma, kalau Mas Tama sudah bangun. Takutnya aku buatin sekarang, Mas Tama malah bangunnya masih lama. Apa tidak apa-apa?"


"Iya, terserah kamu saja maunya bagaimana. Tama orangnya nggak repot kalau sakit."


"Iya, aku juga bingung, nggak tahu Mas Tama biasanya kalau sakit seperti apa. Selama ini 'kan dia nggak pernah sakit."


"Biasanya dia cuma minum teh hangat, sama obat yang ada di kotak warna putih. Tadi kamu kasih warna apa?" tanya Mama Mirna.

__ADS_1


"Iya, Ma. Aku tadi kasih yang putih."


"Syukurlah, kalau yang lain memang nggak cocok sama dia. Mau demam, mau sakit kepala, obatnya cuma itu."


Maysa mengangguk mendengarkan apa yang mertuanya katakan. Sekarang dia tahu harus berbuat apa jika sang suami sakit. Tama memang jarang sakit, tetapi langsung membuat orang panik.


"Sudah, tidak usah terlalu dipikirkan, nanti juga dia sembuh. Sekarang kamu makan dulu, jangan sampai kamu juga ikutan sakit," lanjutnya.


Maysa mengangguk dan mengambil makanan kemudian menikmatinya bersama mertua dan anak-anaknya. Setelah anak-anak selesai, mereka kembali ke kamar, sementara wanita itu membersihkan meja makan bersama sang mertua. Mama Mirna membersihkan meja dan menyimpan sisa makanan di lemari. Maysa sendiri mencuci piring dan gelas yang tadi dipakai.


"May mengenai asisten rumah tangga bagaimana?" tanya Mama Mirna pada Maysa.


Dia tidak bisa tinggal diam saja. Wanita paruh baya itu sudah menunggu Tama untuk mengambil keputusan. Namun, hingga kini tidak ada kejelasan mengenai hal itu. Mama Mirna merasa kasihan pada Maysa, yang setiap pulang kerja harus masak.


Pagi-pagi juga begitu, padahal seharian wanita itu sibuk di butik. Maysa hanya mengerutkan keningnya karena dia sendiri, tidak mengerti apa yang dimaksud oleh mertuanya. Wanita itu tahu jika asisten rumah tangga sebelumnya memang sudah berhenti, tetapi Maysa tidak tahu maksud perkataan Mama Mirna.


"Asisten rumah tangga apa, ya, Ma? Aku tidak mengerti?" tanya Maysa sambil mengerutkan keningnya.


"Tidak, Ma. Sepertinya Mas Tama banyak pekerjaan, hingga lupa mengenai hal itu,” jawab Maysa berbohong.


Wanita itu tahu, pasti sang suami masih belum membicarakan hal itu karena dirinya yang masih marah. Memikirkan hal ini membuat Maysa merasa bersalah. Banyak hal yang sudah terlewati karena kemarahan. Sebenarnya dia juga sudah tidak lagi marah pada sang suami.


Tadi siang Maysa sudah berencana untuk berbicara dengan sang suami, mengenai masalah ini. Dia juga tidak suka saling diam dengan Tama. Apalagi sampai lebih tiga hari yang malah semakin membuatnya berdosa.


"Sebaiknya nanti kamu bicarakan sama Tama. Mama nggak mau kamu terlalu capek, habis kerja, masak. Pagi-pagi buta juga masak lagi. Belum membereskan rumah dan yang lainnya. Mama memang bantu, tapi Mama sudah tua, tidak segesit dulu."


"Iya, Ma. Nanti aku akan bicara sama Mas Tama kalau dia badannya sudah enakan. Sekarang dia masih sakit, aku nggak mau terlalu membuat dia berpikir."


"Iya, terserah kamu saja. Setelah selesai mencuci piring kamu langsung tidur saja, tidak usah melakukan pekerjaan yang lain. Kamu juga perlu istirahat, jangan sampai ikutan sakit juga," ujar Mama Mirna sebelum meninggalkan dapur.

__ADS_1


Wanita paruh baya itu senang, saat melihat perhatian yang diberikan Maysa pada putranya. Dia jadi bisa tenang ada yang merawat Tama. Sebelumnya selalu dirinya yang dibuat repot saat pria itu sakit dan lainnya. Kini sudah ada orang yang bertanggung jawab.


"Iya, Ma."


Mama Mirna meninggalkan dapur, sementara sang menantu mencuci piring. Sebenarnya pekerjaan seperti ini sudah biasa bagi Maysa karena dulu, saat bersama Rafka juga dia seperti ini. Semua pekerjaan wanita itu lakukan sendiri, tanpa bantuan siapa pun. Meskipun dirinya tetap bekerja.


Maysa jadi teringat dengan Bu Nadia. Sudah lama dia tidak berkunjung ke sana, berkomunikasi pun sudah hampir tidak pernah. Entah bagaimana keadaan butik beliau sekarang. Semoga wanita itu bisa berkunjung saat ada waktu senggang.


Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Maysa mematikan beberapa lampu. Dia juga memeriksa semua pintu dan jendela, apakah sudah terkunci semua atau belum. Meski di depan ada pak satpam, tetapi mereka harus tetap waspada. Takut jika ada orang ataupun sesuatu yang masuk ke dalam rumah.


Setelah dirasa semua aman, wanita itu naik ke lantai atas menuju kamar anak-anaknya. Maysa ingin memastikan mereka sudah benar-benar tertidur, barulah dia ke kamar untuk beristirahat. Begitu memasuki kamar, terlihat sang suami masih terlelap. Wanita itu pun tidur di sampingnya.


Sebelum itu, Maysa memeriksa suhu tubuh sang suami. Dia takut jika panasnya semakin tinggi, ternyata masih sama. Wanita itu menghela napas. Padahal tadi pria itu sudah meminum obat, tetapi kenapa panasnya tidak turun juga.


Maysa merebahkan tubuhnya di samping Tama. Dia juga sama lelahnya dan ingin beristirahat. Namun, matanya tak kunjung bisa terpejam. Wanita itu masih saja khawatir dengan keadaan sang suami.


Hingga tengah malam Tama terbangun. Dia melihat istrinya yang masih belum tertidur. Pria itu tahu pasti Maysa mengkhawatirkannya.


"Kamu belum tidur, Sayang?" tanya Tama yang membuat Kinan terkejut.


Tadi wanita itu hanya menatap langit-langit kamarnya. Entah apa yang dipikirkan oleh Maysa.


"Belum, Mas. Aku tidak bisa tidur, kamu mau apa? Tunggu sebentar, aku mau buatin kamu teh hangat dulu," ucap Maysa yang segera beranjak menuju dapur.


Tama yang ingin mencegahnya pun tidak bisa karena Maysa lebih dulu pergi. Pria itu tahu ada sesuatu yang dipikirkan oleh sang istri. Apa itu mengenai dirinya yang sakit atau mungkin hal lainnya. Apakah istrinya sedang ada masalah.


Tidak berapa lama, Maysa datang dengan membawa segelas teh hangat. Dia pun menyerahkan pada sang suami agar pria itu segera minumnya. Tama menerimanya dengan senang hati.


"Kamu tahu dari mana kalau aku sakit biasanya minum teh manis?" tanya Tama sambil melihat ke arah sang istri. Pria itu meminum teh hangat tersebut sedikit demi sedikit, sambil sesekali meniupnya.

__ADS_1


.


.


__ADS_2