
Adit duduk di tepi ranjang di dekat kaki sang papa. Dia ingin mengobrol bersama dengan pria yang sudah membesarkannya itu. Sudah banyak waktu yang terbuang selama ini, padahal mereka hidup dalam satu atap. Namun, tidak ada pembicaraan penuh keakraban dari hati ke hati seperti layaknya ayah dan anak. Hal itu membuat Adit merasa sedih dan ingin memperbaiki hubungan mereka mulai dari sekarang. Meski iya, rasanya ini sudah terlambat, tapi daripada tidak sama sekali.
Terkadang dia iri terhadap teman-temannya yang bisa dekat dengan keluarganya sementara dirinya sangat sulit berinteraksi dengan Papa Dimas, karena pria itu yang terlalu kaku saat diajak berbicara. Akhir-akhir ini saja dia sudah mulai melunak, mungkin karena penyakit yang pria itu derita dan tidak bisa lagi melakukan banyak hal sendirian dan lebih banyak membutuhkan bantuannya dan juga yang lainnya.
“Adit,” panggil Tante Nova. “Nanti kamu jangan lupa urus semua administrasi. Tadi ada perawat yang datang minta semuanya segera diselesaikan, biar nanti saat dokter datang hanya tinggal memeriksa saja. Kita juga bisa langsung pulang karena memang Papa kamu kan sudah boleh pulang dari kemarin ucap,” ujar Tante Nova setelah menghabiskan sarapannya. Tangannya yang ramping membereskan wadah-wadah yang telah kosong.
“Iya, Tante. Nanti akan Adit urus,” jawab Adit sambil menoleh ke arah Tante Nova.
“Nanti setelah dari rumah sakit, langsung pulang ya. Di rumah adik kamu kasihan sendiri, apalagi dia juga sedang hamil. Tante dari kemarin sudah kepikiran terus sama dia,” tambah Tante Nova.
Adit menganggukkan kepalanya. “Iya, Tante. Tidak apa-apa. Maafkan aku sudah merepotkan Tante dan Om. Terima kasih juga sudah mau menunggu Papa dari kemarin,” ucap Adit yang merasa bersalah karena sudah menyita waktu Tante Nova, padahal wanita itu juga sangat sibuk, punya keluarga yang harus diurusnya
“Jangan bicara seperti itu. Bagaimanapun juga Papa kamu juga kakakku. Sudah selayaknya sesama saudara saling menolong, jika ada sesuatu yang terjadi lagi jangan ragu untuk menghubungi Tante. Kalau Tante nggak ada kesibukan Insya Allah tante bisa bantu,” ujar Tante Nova yang diangguki oleh sang suami. Adit tersenyum senang mendengar kesediaan adik dari ayahnya itu.
“Iya, Tante. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih. Aku akan pergi untuk ke ruang administrasi. Riri, apa kamu mau ikut juga?” tawar Adit pada istrinya, dia melihat jika Riri masih canggung di tengah keluarganya, apalagi sedari tadi hanya menundukkan kepala saja.
Ditanya seperti itu, Riri mengangkat kepalanya dan menggeleng cepat. “Eh, tidak. Aku di sini saja,” ucap Riri. Adit tersenyum dan kemudian berdiri.
“Ya, sudah. Aku pergi dulu, ya. Tante, Om, jaga istriku dengan baik,” ucap Adit yang membuat Riri memerah di pipinya. Malu sekali, meski dia telah menjadi istri Adit, tapi mendengarnya menyebut ‘istri’ di depan keluarganya masih membuat Riri menjadi malu tak terkira.
“Oke, tapi jangan lama-lama, Tante sebentar lagi akan pulang,” ucap Tante Nova. Adit mengangguk dan meninggalkan ruangan tersebut.
“Gimana malam pertama kalian?” ucap Tante Nova menggoda pengantin baru yang ada di depannya. Wajah Riri semakin memerah mendapati godaan itu dari tante Adit.
“Em ... itu ....”
“Ma, sudah. Jangan ganggu Riri. Apa Mama nggak lihat wajahnya sudah semerah cabai? Haha!” Om Martin tertawa terbahak, melihat wajah Riri yang sudah merah matang. Ingin rasanya Riri menghilang dari hadapan keluarga suaminya itu sekarang juga.
__ADS_1
“Haha, kayaknya berhasil ya, Pa!” Tante Nova tertawa terkekeh, membuat Riri semakin malu saja.
Hampir sepuluh menit mereka menunggu Adit, tapi laki-laki itu belum kembali juga.
“Kak, Riri. Sepertinya kami pamit mau pulang sekarang juga. Tidak apa-apa, kan?” tanya Tante Nova sambil berdiri dan mengambil tasnya. Sebenarnya tidak enak hati, tapi mau bagaimana lagi karena dia juga harus mengurusi sesuatunya yang ada di rumah.
“Ya, kalian hati-hati di jalan,” ucap Papa Dimas. Sedangkan Riri hanya mengangguk saja.
Tante Nova mendekat ke arah Riri dan menepuk pundak istri keponakannya itu. “Hati-hati sama orang tua ini. Galak!” ucap tante Nova yang membuat Riri menelan salivanya sendiri. Tiba-tiba saja wanita itu tertawa saat mendapatkan pelototan dari sang kakak. “Aku bercanda. Papa mu ini baik, Cuma keras kepala saja,” tambah wanita itu, lalu keduanya berpamitan.
Adit masih di ruangan administrasi, belum juga kembali ke ruangan itu, sementara Tante Nova dan Om Martin sudah pulang. Tinggallah Riri dan Papa Dimas hanya berdua saja. Suasana terasa canggung meski Riri telah memantapkan hatinya untuk bertemu dengan Papa Dimas.
“Permisi.”
Riri dan Papa Dimas menoleh ke arah yang sama, pintu terbuka dan seorang perawat masuk ke dalam ruangan itu dengan mendorong troli di depannya.
“Waktunya makan, Pak Dimas,” ucap perawat dengan senyuman mengembang pada bibirnya. Dia menyimpan makanan tersebut ke atas lemari kecil yang ada di sebelah ranjang Papa Dimas.
“Em ... Papa mau makan nggak? Biar aku yang suapi,” tawar Riri malu-malu saat suster sudah keluar dari sana.
Papa Dimas pun merasa malu juga. Canggung rasanya dekat dengan wanita asing ini. “Itu ... makanan Papa nggak suka. Papa lagi mau makan pasta,” ucap Papa Dimas sedikit malu.
Riri yang sudah mengambil piring makanan Papa Dimas tersenyum kecil. “Iya, nanti. Kalau kita sudah pulang. Kalau Papa sudah benar-benar sembuh. Mau makanan apa pun pasti Riri buatkan. Sekarang makan ini dulu, ya Pa. Ayo!” Riri menyendokkan makanan ke depan mulut Papa Dimas.
Awalnya laki-laki itu ragu, tapi mau tidak mau pria itu pun akhirnya membuka mulut. Malu rasanya karena harus disuapi oleh menantunya, apalagi ini adalah hari pertama pernikahan Riri dan Adit, tetapi sudah direpotkan dengan keberadaannya yang tak berdaya di sini.
Satu suapan, dua suapan, ketiga, dan selanjutnya. Papa Dimas makan dengan begitu lahap. Tentu saja Riri sangat senang melihatnya. Tidak sia-sia usaha untuk mencoba lebih dekat dengan sang mertua.
__ADS_1
Setelah makanan itu habis dia memberikan minum dengan menyodorkannya langsung ke mulut Dimas.
“Pa, aku mau ke toilet sebentar ya. Papa jangan ke mana-mana di sini saja.” Papa Dimas mengangguk sebagai jawaban, Riri pun pergi ke toilet. Setelah selesai dengan hajatnya wanita itu kembali duduk di samping papa mertua. Dimas berbisik sesuatu pada Riri.
“Tadi papa masukkan uang Papa di tas kamu. Nanti buat belanja. Jangan bilang sama suamimu, itu buat kamu senang-senang. Belanja apa pun yang kamu inginkan,” bisik Papa Dimas pelan, meskipun tidak ada orang lain selain mereka berdua.
Riri mengerutkan keningnya karena merasa heran. Kenapa Papa Dimas memasukkan uang ke dalam tasnya. Padahal mereka baru saja bertemu. Sepertinya dari tadi juga dia tidak melihat sang mertua memegang uang atau tas.
Karena penasaran Riri pun membuka tasnya dan betapa terkejutnya dia, ternyata di dalam tas tersebut berisi tumpukan tisu yang begitu banyak. Dia baru teringat dengan ucapan suaminya tadi tentang penyakit sang mertua mungkin ini juga bagian dari ujiannya nanti ke depannya saat mereka tinggal bersama.
Adit masuk ke dalam ruangan dengan membawa beberapa berkas kesehatan milik Papanya. Urusan administrasi telah selesai dan Papa Dimas sudah bisa dibawa pulang.
“Semuanya sudah aku urus. Kita bisa pulang sekarang,” ucap Adit setelah mendekat ke arah papa dan juga istrinya.
Riri tersenyum senang mendengar kabar itu.
“Iya Mas. Semuanya juga sudah siap. Sudah dibereskan sama Tante Nova sebelum kita datang,” sahut Riri sambil menunjuk beberapa tas yang ada di sofa. Adit pun membantu Papanya untuk turun dari ranjang.
“Apa kita perlu menunggu dokter?” tanya Riri saat Adit tengah membantu sang papa.
Adit hanya menggelengkan kepala, tadi dia sempat bertanya apakah perlu menunggu keputusan dokter. Namun, para perawat mengatakan tidak perlu karena memang keadaan Papa Dimas sangat baik dan sudah diperbolehkan pulang sejak kemarin.
“Mas, sebentar ya. Sepertinya ada sesuatu yang tertinggal di dalam,” ucap Riri saat mereka baru saja keluar.
Adit mengangguk mempersilahkan sang istri untuk kembali ke dalam ruangan papanya tadi. Sementara dirinya masih menunggu di luar Riri masuk dan meletakkan kembali tisu yang tadi masukkan oleh sang mertua ke dalam tasnya. Riri tersenyum kecil, merasa lucu dengan tingkah sang ayah mertua.
Setelah dirasa semua tidak ada yang tertinggal Riri pergi keluar dan mengikuti sang suami meninggalkan rumah sakit ini.
__ADS_1
.
.