Rahasia Suamiku

Rahasia Suamiku
123. Mengenang Rumah dulu


__ADS_3

Rafka duduk di tepi ranjang kamarnya, sambil memperhatikan foto anaknya yang ada di atas meja. Dia tidak menyangka jika anaknya lebih dulu mendahuluinya, menghadap Sang Pencipta. Pintu kamar terbuka, Vida memasuki kamar dan duduk di sofa yang ada di sana. Wanita itu bersikap layaknya orang yang tidak bersalah.


Meskipun wajahnya tampak sembab, tetapi dia tetap mempertahankan keangkuhannya. Dia sama sekali tidak peduli dengan apa yang terjadi pada suaminya. Yang penting bagi Vida, bisa hidup dengan layak, tanpa peduli ucapan orang lain.


"Apa kamu sudah puas sekarang? Setelah apa yang kamu lakukan pada Eira, kini dia tidak mau lagi bersamaku," ucap Rafka dengan nada sinis tanpa melihat ke arah istrinya.


Vida menatap sang suami dengan tersenyum sinis. Selalu seperti ini, hanya dia yang disalahkan. Tidak ada kebenaran dalam dirinya di mata Rafka dan orang lain. Mereka tidak pernah ada di posisi dirinya jadi, hanya bisa mencibir dan mencaci.


"Kamu merasa seolah-olah di sini hanya aku yang jahat dan kamulah pahlawannya. Kenapa kamu tidak mencoba berkaca, apa saja yang sudah kamu lakukan selama ini. Jangan hanya bisa menyalahkan orang lain, tanpa bisa melihat kesalahanmu sendiri," ucap Vida membuat Rafka menatapnya tajam.


"Apa maksudmu? Yang aku katakan memang benar, kan? Semua ini terjadi karena kamu. Kenapa kamu malah berbalik menyalahkanku?" Rafka mencoba menahan suaranya agar tidak berteriak.


Pria itu tidak mau orang-orang yang ada di luar mendengar perdebatan antara dirinya dan Vida. Sudah cukup kesedihan yang dialami penghuni rumah ini dengan kehilangan putranya. Rafka tidak ingin menambah dengan masalah antara dia dengan sang istri. Apalagi di sini masih banyak kerabat yang belum pulang.


"Kamu itu seorang laki-laki, seharusnya bisa tegas dalam mengambil keputusan. Itu juga yang membuat aku bisa memanfaatkan kamu dengan mudahnya. Kalau kamu benar-benar seorang ayah yang baik, kamu pasti bisa bersikap adil antara Eira dan putra kita, tapi nyatanya tidak. Kamu hanya menggunakan akalmu tanpa memainkan hati. Kamu itu seorang ayah, harusnya kamu lebih mengerti bagaimana perasaan anak-anak kamu. Bukan melempar kesalahanmu pada orang lain!"


"Aku tidak menyangka kalau hatimu benar-benar busuk. Aku sudah sangat-sangat menyesal sudah menikah denganmu."


Vida tertawa mendengar apa yang Rafka katakan. Memangnya selama ini apa yang dilakukan pria itu kepadanya. Tidak ada, hanya ada penderitaan, tidak ada kebahagiaan sedikitpun. Apalagi dengan keluarganya, yang tidak bisa menerima keberadaan dirinya, sebagai seorang istri. Itu juga menambah beban bagi dirinya.

__ADS_1


Wanita itu tidak ingin disalahkan terus menerus. Memang dia melakukan kesalahan dengan merebut suami orang. Akan tetapi, Rafka juga memiliki peranan penting dalam kesalahan ini. Seandainya pria itu punya ketahanan diri yang kuat, pasti tidak akan tergoda oleh dirinya.


"Bukankah kamu sudah menyesalinya sejak dulu? Kamu juga menyesal karena sudah meninggalkan Maysa, kan? Kenapa baru sekarang kamu mengatakannya?" tanya Vida dengan menatap sang suami. Namun, tidak ada jawaban yang keluar dari mulut pria itu. "Sekarang sudah tidak ada lagi yang mengikat kita. Sebaiknya kita berpisah saja."


"Berpisah? Mudah sekali kamu mengatakannya! Jangan harap kamu bisa berpisah begitu saja. Kamu sudah membuatku dalam keterpurukan dan rasa bersalah yang besar. Aku tidak akan melepaskanmu begitu saja. Kamu juga harus membayar atas apa yang sudah terjadi pada diriku dan keluargaku. Juga termasuk putra kita. Kita yang sudah memulai semuanya, maka kita harus menderita bersama-sama."


Vida membulatkan matanya menatap ke arah sang suami. Tidak menyangka jika pria itu bisa bersikap seperti itu. "Aku ...."


"Jangan harap kamu bisa meninggalkanku begitu saja. Ingatlah jika keluargamu tidak ada yang peduli padamu! Kamu juga tidak akan bisa lepas dariku dengan begitu mudah. Aku selalu bisa tahu ke mana pun dan di mana pun kamu berada, jadi jangan pernah mencoba untuk pergi."


Rafka segera meninggalkan kamar. Dia butuh menyendiri untuk menenangkan pikirannya. Pria tidak ingin emosi menguasainya dan melakukan kekerasan pada Vida. Rafka pergi dengan menggunakan motornya. Orang-orang yang tadinya berada di ruang tamu saling pandang, seolah bertanya ke mana pria itu akan pergi.


Namun, tidak ada satu pun yang tahu jawabannya. Ini masih dalam suasana duka, tidak seharusnya dia pergi begitu saja. Semua orang lebih memilih diam, mereka juga ingin menghargai Papa Irfan dan Mama Ishana yang ada di sana. Kedua orang tua itu bisa menebak, apa yang terjadi pada anak dan menantunya, tetapi mereka tidak mau ikut campur.


Hingga dia teringat sebuah tempat yang sedari dulu membuatnya nyaman. Rafka pun melajukan motornya ke sana. Pria itu berharap tidak ada satu orang pun yang dikenal di tempat tersebut. Saat ini dirinya hanya ingin mengenang masa lalu dan tidak ingin diganggu oleh siapa pun.


Tidak berapa lama akhirnya Rafka sampai juga di tempat yang harus dituju, yaitu rumahnya bersama Maysa dulu. Rumah yang memberikan pria itu keluarga yang begitu bahagia. Benar apa yang dikatakan Vida. Jika dia sudah sangat menyesal telah meninggalkan Maysa.


Nyatanya mantan istrinya itu yang sudah memberinya kebahagiaan, yang tidak pernah dia dapatkan dari Vida. Dulu keluarga besarnya juga sangat mendukung rumah tangganya bersama Maysa. Setiap ada acara keluarga, keduanya selalu dipuji sebagai pasangan serasi. Bahkan ada di antara mereka merasa iri dengan kebahagiaan yang Rafka memiliki.

__ADS_1


Tidak jarang mereka menyindir dirinya dan mengatakan bahwa, banyak pria di luar sana yang pasti akan antre, jika Rafka meninggalkan Maysa. Saat itu dia bersumpah tidak akan pernah meninggalkan istrinya. Sekarang apa yang dikatakan sepupunya benar. Banyak orang yang antre untuk mendapatkan wanita itu, sedangkan dirinya tidak akan pernah bisa mendapatkan wanita sebaik Maysa lagi.


Rafka memperhatikan setiap sudut rumah yang ada di depannya. Bayangan masa lalu saat dirinya bermain dengan Eira, serta tawa yang tercipta di antara dirinya dan Maysa, masih sangat terekam jelas di kepalanya. Pria itu berjalan ke arah rumah tersebut. Dia ingin masuk ke dalam. Namun, sayang pintu terkunci.


Sekarang Rafka sudah tidak memiliki kunci rumah itu. Baik kunci utama maupun cadangan. Semua sudah ada di tangan Maysa. Dia tidak memilikinya karena memang rumah ini bukan hak pria itu lagi.


"Assalamualaikum, Pak Rafka! Saya sampai pangling. Sudah lama tidak bertemu, apa kabar?" tanya orang tersebut yang tidak lain adalah RT di wilayah itu.


"Waalaikumsalam, alhamdulillah kabar saya baik-baik saja, Pak," jawab Rafka sambil bersalaman dengan Pak RT.


"Pak Rafka mau menempati rumah ini lagi? Kok, tiba-tiba datang ke sini?"


"Tidak, Pak.Saya hanya ingin berkunjung saja, sekalian melihat-lihat keadaan rumah ini. Sudah lama tidak ke sini."


"Oh, saya pikir mau tinggal di sini lagi. Padahal saya senang jika Pak Rafka memang benar-benar akan tinggal di sini. Kita bisa ronda malam sama-sama seperti dulu," ucap Pak RT yang semakin membuat Rafka sedih.


Pria itu sangat ingat, dulu jika jadwal dia ronda malam, pasti Eira selalu merengek menolak untuk ditinggal. Rafka harus menidurkan putrinya terlebih dahulu, sebelum pergi ronda bersama dengan bapak-bapak yang lainnya. Sampai di pos ronda juga pria itu diledek temannya, kalau dia tidak bisa lepas dari Maysa. Saat itu Rafka hanya bisa tersenyum.


Pak RT yang melihat kesedihan di wajah Rafka pun merasa tidak enak. Dia merasa jika pria yang ada di depannya kini sedang ada masalah, tetapi entah apa masalah yang dihadapi. Mudah-mudahan bukan masalah dengan istrinya karena Pak RT juga, sangat tahu bagaimana kisah rumah tangga Rafka. Yang demi wanita lain, rela meninggalkan istri dan anaknya.

__ADS_1


.


.


__ADS_2