
“Assalamualaikum,” ucap Tama dan Maysa saat memasuki rumah.
“Waalaikumsalam, kalian sudah pulang? Aku pikir masih nanti siang,” sahut Lidya yang tadi membukakan pintu untuk mereka.
“Kami khawatir sama anak-anak. Eira dan Dio sudah bangun?” tanya Maysa.
“Belum, mereka masih tidur.”
Mereka berjalan memasuki rumah yang masih tampak sepi. Semua orang pasti masih berada di kamar masing-masing.
“Apa semalam mereka merepotkanmu?”
“Tidak sama sekali, mereka anak-anak yang baik. Dio juga mampu menjaga adiknya dengan baik. Kamu jangan terlalu menghawatirkan mereka.”
“Tetap saja aku khawatir, Lid. Kamu tahu sendiri kalau Eira itu sangat manja.”
“Eira memang manja, tapi Dio juga bisa bersikap sangat dewasa jadi, mereka saling melengkapi satu sama lain.”
“Terima kasih sudah menjaga mereka. Ya sudah, kami masuk kamar dulu, sebelum anak-anak terbangun. Ayo, Mas kamu harus ke kantor hari ini, kan? Aku siapin bajunya.”
“Iya, Sayang. Kami ke kamar dulu, Lid," pamit Tama yang diangguki Lidya.
“Iya, nanti kalau anak-anak bangun aku kasih tahu mereka, jika kalian ada di kamar.”
Maysa mengangguk dan berlalu bersama sang suami menuju kamar mereka. Wanita itu mengambilkan pakaian untuk sang suami sambil bertanya, “Mas, Apa kamu mengenal istrinya Adit itu? Aku merasa wajah Adit tidak asing. Sepertinya aku pernah melihat, tapi lupa di mana.”
“Mungkin kamu pernah melihatnya di televisi atau di majalah. Dia ‘kan juga pengusaha terkenal jadi, wajar kalau kamu pernah melihatnya.”
“Bisa jadi.”
“Tunggu sebentar.” Tama mengutak-atik ponsel dan menyerahkannya pada sang istri. “Ini wajah istrinya Pak Adit, barangkali kamu mengenalnya.”
Maysa sedikit terkejut melihat foto yang diperlihatkan oleh sang suami. Memang benar dia mengenal siapa wanita itu. Pantas saja wajah Adit tidak asing baginya.
“Pantas saja aku seperti pernah mengenal Adit. Aku pernah melihat fotonya di rumah mertuanya. Nama istrinya Bu Risa ’kan? Aku pernah datang ke rumahnya, waktu beliau pesan gaun untuk acara keluarga. Dari dulu dia tidak pernah mau datang ke butik jadi, aku yang selalu datang ke rumahnya. Bahkan gaun yang sudah selesai pun kurir yang mengantar, kalau tidak sopirnya sendiri yang ambil. Dari pertama kenal Adit, aku sudah berusaha mengingat di mana aku melihatnya, tapi tidak berhasil. Sekarang aku baru ngeh kalau dia istri Bu Risa."
__ADS_1
“Bu Risa memang jarang bergaul kalau tidak dari kalangan atas.”
“Iya, Mas. Aku bisa melihat sikap dia yang sangat sombong. Bagaimana lagi dia juga pelangg*nku, jadinya mau tidak mau, aku harus melayaninya dengan baik.”
“Lalu rencana kamu apa mengenai Mama dan Riri?”
“Aku sangat mengenal Mama. Dia tidak akan begitu tega pada anaknya. Jika dia sudah tahu apa yang terjadi sebenarnya, tanpa membujuk pun dia sudah pasti akan mengerti. Aku hanya perlu menjelaskan saja. Aku sangat yakin Mama pasti akan luluh.”
“Ya sudah kalau begitu, aku mau ganti baju dulu. Sebentar lagi pasti anak-anak datang. Mana bajuku?” tanya Tama sambil menadahkan tangannya.
Maysa pun menyerahkan baju yang baru saja dia ambil kepada suaminya. Tama memilih pergi ke kamar mandi sekalian dia mau mencuci muka, sementara Maysa pergi ke kamar anak-anaknya. Wanita itu ingin tahu apakah anak-anak sudah terbangun apa belum. Dari semalam dia belum bertemu mereka, ada rasa rindu yang masuk ke dalam hatinya.
“Anak Mama sudah bangun?” tanya Maysa saat memasuki kamar anak-anaknya.
Tampak Dio yang sedang duduk sambil memainkan remote mobil-mobilan dari atas ranjang. Anak itu segera menghentikan aktifitasnya. Eira sendiri masih terlelap dalam tidurnya.
“Mama sudah pulang?” tanya Dio tanpa menjawab pertanyaan mamanya.
“Sudah tadi pagi, adik ngerepotin kamu, ya?”
Maysa duduk di tepi ranjang Dio. Anak itu segera merebahkan kepalanya di pangkuan mamanya. Dia hanya bermanja-manja dengan wanita itu saat keadaan sepi atau hanya berdua. Maysa mengerti jika Dio anak yang pemalu, dia pun tidak masalah akan hal itu.
“Eh, kok malah tidur! Sebentar lagi Dio harus sekolah jadi, harus mandi dulu," ucap Maysa sambil mengusap rambut putranya.
“Sekolahnya libur, Ma. Kemarin Bu guru bilang katanya ada kegiatan.”
“Oh ya! Mama nggak tahu.”
“Kata Bu guru sudah diberitahu pada para orang tua.”
“Nanti Mama coba lihat benar apa nggak kalau sekolahnya libur. Mama belum buka ponsel pagi ini.”
“Mama semalam ke mana sama Papa?”
“Ada urusan sebentar, ada yang harus kami selesaikan. Maaf ya nggak sempat pamit sama kalian. Kami terburu-buru soalnya,” jawab Maysa berbohong.
__ADS_1
“Nggak pa-pa, aku mengerti. Tante Lidya juga berkata seperti itu."
“Mama,” panggil Eira yang baru saja terbangun. Terlihat gadis itu menguap sambil mengucek matanya.
“Selamat pagi putri Mama,” sapa Maysa.
Dio segera menegakkan tubuhnya saat Eira turun dari ranjangnya. Gadis itu berjalan menuju ranjang kakaknya, di mana sang Mama duduk di sana. Dia pun naik ke atas pangkuan Maysa dan memeluk wanita itu.
“Mama ke mana tadi malam?” tanya Eira.
“Mama ada urusan sebentar, habis itu Mama pulang, tapi Mama nggak mau ganggu kamu. Jadi Mama langsung tidur. Ayo, sekarang siapa yang mau mandi duluan? Ini sudah siang, kasihan yang lain sudah nunggu di bawah buat sarapan pagi," ujar Maysa yang ingin mengalihkan pembicaraan. Dia tahu jika putrinya akan bertanya hingga ke akar-akarnya.
“Aku masih ngantuk, Ma,” sahut Eira dengan mata terpejam dan memeluk mamanya.
“Biar aku duluan saja, Ma,” sahut Dio yang segera turun dari ranjang menuju kamar mandi.
“Dio bisa sendiri? Mau Mama bantu?”
“Tidak usah aku bisa sendiri, Ma!” teriak Dio dari dalam kamar mandi, sementara Eira yang berada dalam pelukan Maysa masih memejamkan matanya. Sepertinya gadis itu masih mengantuk. Beberapa kali wanita itu juga mencium kening putrinya.
“Eira, kalau masih mengantuk tidur saja lagi. Nanti biar Mama siapin sarapan buat kamu dan Kakak. Nanti dibawa ke kamar.”
Gadis kecil itu menggeleng. Dia ingin turun saja ke bawah, tapi matanya sangat malas untuk terbuka. Apalagi Eira ingat jika ada Ica di bawah, semakin ingin pula dia turun.
"Aku mau turun saja, Ma. Nggak mau mandi."
"Mana boleh seperti itu, nanti yang lain bau asem bagaimana? Kan, jadi nggak selera makan, Sayang. Lagi pula itu juga nggak baik, jorok lihatnya. Mama sudah berkali-kali bilang, sesuatu yang tidak baik itu sebaiknya dihindari. Yuk, mandi! Dibantu sama Mama. Kak Dio saja sudah mandi."
Eira mengangguk dengan bibir yang mengerucut membuat Maysa menjadi gemas. Bukan hal yang aneh melihat tingkah putrinya yang seperti itu.
"Kamu duduk sini dulu. Mama mau siapin baju buat kamu dan juga buat Kak Dio."
.
.
__ADS_1