
ketiganya pun tertawa bersama, tak lama eyang Andini memghampiri Gabriel dan Daniel, JK langsung pamit masuk ke dalam.
"eyang sudah siap?" tanya Gabriel.
"iya, dan eyang akan percaya pada kalian berdua, dan untukmu Daniel aku titip Adelia," kata eyang Andini.
"iya eyang," jawab Daniel.
mereka pun bersiap menuju ke Jombang, begitupun eyang Andini yang sedang berpamitan dengan pak Kuncoro dan Bu Desi.
Daniel mengambil semua senjata yang di milikinya, mulai dari pisau hingga sumpit yang sudah di lumuri racun sebelum nya.
Gabriel pun sama menyiapkan semua senjata miliknya, keduanya pun sudah menaruhnya di mobil.
Adelia memeluk sang kakak terlebih dahulu, kemudian baru Daniel dengan begitu erat, Daniel pun memberikan kecupan di kening Adelia.
"kembali lah cepat, karena aku ada kejutan untuk mu," kata Adelia tersenyum menatap Daniel.
"baiklah, kamu juga harus jaga dirimu ya sayang, aku pasti kembali padamu," kata Daniel.
eyang Andini duduk di kursi belakang, Danie yang mengemudikan mobil menuju desa tempat tinggal eyang Andini.
butuh tiga jam untuk sampai di desa itu dari Surabaya, baru masuk gapura desa semua orang sudah terlihat begitu marah.
benar saja saat mobil baru berhenti di rumah eyang Andini semua orang langsung menyerbunya.
sedang Yusuf terlihat tenang dan tersenyum melihat kedatangan eyang Andini.
"dasar juragan pembohong, kau menghancurkan panen kami!" teriak salah seorang warga yang langsung melempar dengan telur ke arah eyang Andini.
untung Gabriel melindungi eyang, sedang Daniel yang melihat perbuatan itu langsung menerobos warga dan menyeret pria itu.
Daniel langsung menendangnya di depan semu orang, warga desa pun mundur melihat keberanian Daniel.
"aku tanya pada kalian, siapa yang berani menyakiti eyang maju, aku kan mematahkan kaki dan tangannya seperti ini," kata Daniel memutar tangan pria itu hingga patah.
semu orang mundur melihat itu, mereka tak menyangka jika cucu menantu yang selalu terliht santun.
ternyata memiliki sifat yang mengerikan, Danie langsung melihat kearah Yusuf yang terlihat marah.
Daniel berlari dan langsung mencekiknya, dan membawanya dan mendorongnya hingga jatuh di bawah kaki eyang dan Gabriel.
"kalian semua lihat, pria ini tak tau malu, dia bisa hidup karena kebaikan eyang Andini dan Gabriel, tapi apa yang dia perbuat, dia yang membuat panen kalian semua gagal dengan menandatangani kontrak dengan perusahaan pembuangan limbah kimia," kata Daniel.
semua orang kaget dan mulai berkasak-kusuk, tak di sangka saat Daniel lengah seseorang mendekat dan langsung menusuk punggung Daniel.
__ADS_1
"mampus loe sekarang, dan tak ada yang akan melindungi perempuan bodoh itu," kata Rafa tertawa.
Daniel yang terduduk langsung mencabut pisau yang di gunakan Rafa, dan meliht pria itu dengan tajam.
"kalau begitu kau pun harus mati bersama ku," kata Daniel yang langsung menikam Rafa berang kali.
"Daniel!" panggil Gabriel meliht Rafa yang sudah mati karena tikaman Daniel.
"maaf sepertinya aku harus membereskan sendiri, dan aku titip Adelia, katakan aku mencintainya," kata Daniel yang sudah penuh dengan darah.
saat melihat Yusuf akan kabur, Daniel mengambil pisau miliknya, yang dia sembunyikan di jaketnya, dan langsung melempar dan tepat menancap di punggung Yusuf.
Daniel tersungkur Krena kehabisan darah, Gabriel memghampiri temannya itu dan langsung meliht keadaan Daniel.
"kau harus bertahan, eyang telpon ambulan," kata Gabriel panik.
"katakan pada Adelia, aku akan selalu bersama nya, karena dia adalah hidupku," kata Daniel sudah begitu lemah.
"bertahanlah, bagaimana aku bisa mengatakan nya pada Adelia, kau tau sendiri dia begitu mencintaimu," kata Gabriel.
"maaf, aku titip Adelia..." lirih Daniel sebelum menutup matanya untuk selamanya.
ternyata pisau yang di gunakan oleh Rafa sudah di berikan racun yang mematikan.
Gabriel memeluk mayat dari Daniel yang tewas malam itu.
sedang di Surabaya Adelia merasa perasaan nya sedang bahagia karena dia baru tau jika dirinya sedang hamil.
Adelia ke dapur ingin membuat susu sendiri, tapi tak Sengaja gelas yang di gunakan pecah jadi dua.
"Adelia," panggil Namira terkejut meliht gelas itu pecah dan hampir mengenai Adelia.
Adelia terdiam sambil menangis, Namira memanggil pembantu dan langsung memeluk Adelia.
"ada apa sayang? kamu bisa bicara dengan mami?" tanya Namira.
"Adelia tak tau mami, tapi Adelia merasa ada yang buruk terjadi," kata Adelia.
Gabriel menghubungi kedua orang tuanya di Samarinda, Billy terkejut dan meminta semu orang berangkat ke Surabaya.
begitupun Mega dan Angga yang juga akan menuju ke Surabaya, Billy berangkat dengan pesawat dini hari.
"pa, bagaimana kita akan bicara pada Adelia," tangis Bella di pelukan Billy.
"tenanglah bunda, kita hrus kuat demi putri kita, bagaimana pun kita harus bersamanya," jawab Billy.
__ADS_1
Billy tak menyangka jika keputusan dari Gabriel dan Daniel akan berakhir seperti ini, apalagi Daniel yang harus tewas.
keluarga Sastrawinata juga sudah tau, pak agung orang pertama yang langsung menuju ke kota eyang Andini.
Gabriel tak mengizinkan jenazah dari Danie di otopsi, meski polisi memintanya, Gabriel hanya tak ingin Adelia sedih saat tau jasad suaminya hrus di otopsi.
pak Agung sampai dua jam setelah telpon dari Gabriel dan sampai di rumah sakit.
"dimana jasad Daniel?" tanya pak agung pada Gabriel.
"di ruang jenazah, dan aku sudah menolak otopsi terjadi," jawab Gabriel.
"bagus," kata pak agung yang langsung melihat kondisi Daniel.
tak terasa air matanya jatuh melihat pria yang sudah dia besarkan selama ini telah terbujur kaku.
semua keluarga sampai di rumah Surabaya pukul enam pagi, Adjie tak terkejut karena sudah mengetahui dari Gabriel.
dan hanya Adelia yang belum di beri tahu tentang Daniel, dan Bu lestari juga datang bersama kakek Yudha.
rumah sudah di persiapkan untuk menyambut kedatangan jenazah dari menantu mereka, Bella menghampiri Adelia yang terlihat begitu pucat.
"Adelia, bangun sayang ini sudah siang," kata Bella lembut.
"bunda di sini, maaf Adelia sedang kurang enak badan, kepala Adelia begitu pusing bunda," jawab Adelia.
"kamu kenapa sayang? perlu bunda panggilkan dokter?" tanya Bella khawatir.
"tidak usah bunda, ini Normal pada ibu hamil muda kan," jawab Adelia tersenyum bahagia.
Bella yang tau makin terpukul mengetahui jika Adelia tengah hamil dan harus kehilangan suaminya.
tak lama ambulans datang membawa jenazah Daniel yang sudah rapi di dalam peti mati, Gabriel, JK, Daniyal dan Danish membantu mengangkat peti itu.
Bu lestari terlihat syok, begitupun semua orang, pasalnya sore kemarin dia masih terlihat begitu bugar.
peti mati di letakkan di ruang tamu, Adelia binggung karena mendengar sirine mobil ambulans.
Billy menghampiri Bella dan Adelia, Billy terlihat begitu sedih saat datang, "papa juga di sini?" kata Adelia senang.
"iya sayang, sekarang Adelia harus kuatnya, sekarang ikut papa," kata Billy merangkul Adelia.
Bella sudah menangis tak bisa menyembunyikan kesedihannya, "ada apa pa?" tanya Adelia tapi Billy tetap diam.
ketiganya sampai di ruang keluarga, Adelia melihat semua orang sedih dan banyak polisi dan juga ada peti di tengah ruangan itu.
__ADS_1
"Adelia harus kuat, papa bersamamu, kita semua.." lirih Billy menghapus air matanya.
Adelia yang binggung melihat satu persatu orang yang ada di ruangan itu, Adelia tak melihat Daniel di sana.