
"May, dia sedang berusaha untuk putrinya yang sedang sakit. Tolong digaris bawahi tentang hal itu. Mungkin kamu dan Rafka sedang ada masalah, tapi jangan libatkan anak-anak dalam masalah kalian. Mereka tidak salah apa-apa," ujar Tama pada sang istri.
"Aku sama sekali tidak mengerti apa yang kamu bicarakan, Mas. Sepertinya kali ini kita berbeda pendapat. Sampai kapan pun aku tidak berniat untuk menjual rumahku," pungkas Maysa. Dia tetap pada pendiriannya.
"Kita tidak akan menjual rumah itu. Aku yang akan memberikan Rafka uang yang seharga rumah itu. Nanti saat Rafka sudah punya uang, dia juga harus mengembalikan uang seharga rumah itu kepadaku. Seperti itulah jadi kita anggap saja aku membelinya. Bukankah itu sa—"
"Tunggu, Mas. Itu berarti kamu yang meminjamkan pada Kak Rafka, begitu saja. Jangan artikan kamu membeli rumah itu. Sampai kapan pun aku tidak akan pernah menjualnya jadi, sekarang urusan Kak Rafka sama kamu karena kamu kan berniat untuk meminjamkan uang kamu. Aku juga tidak ada hak untuk berbicara di sini karena uang itu sepenuhnya milik kamu. Sebaiknya aku masuk ke dalam. Aku tidak ada kepentingan lagu di sini."
"May ...."
"Kak Rafka, Mas Tama sudah berniat baik ingin meminjamkan kamu uang jadi, bicara saja dengan dia. Ini sudah tidak ada urusannya lagi denganku."
Maysa memilih masuk ke dalam rumah. Begitu sampai di ruang tengah, wanita itu terkejut melihat Mama Rafiqah, Riri dan anak-anak ada di sana. Dia bahkan sampai melupakan keberadaan mereka karena terlalu emosi. Pasti Eira juga mendengar pembicaraan dirinya dan papak kandungnya tadi.
Maysa berusaha menenangkan diri dan mendekat ke arah anak-anak. Dia tidak mau ada trauma yang mereka rasakan.
"Kita sarapan dulu, yuk! Kalian pasti sudah lapar, kan?" tanya Maysa dengan tersenyum.
Semoga saja anak-anak tidak mendengar semua pembicaranya tadi. Meskipun kemungkinan itu sangat kecil, mengingat jarak antara ruang tamu dan keluarga begitu dekat. Nanti saja dia bicara dengan mereka. Sekarang wanita itu ingin menenangkan dirinya lebih dulu, yang sudah sangat emosi dengan kedatangan Rafka. Mama Rafiqah dan Riri juga mengikuti Maysa.
"Maaf, May. Tadi Mama mendengar Tama berteriak jadi, Mama keluar. Saat sampai di ruang keluarga, sudah ada anak-anak. Tadi Riri sudah mencoba mengajak mereka ke belakang, tapi tidak mau jadi, mereka mendengar semua pembicaraan kalian," ujar Mama Rafiqah yang merasa tidak enak pada putrinya.
"Tidak apa-apa, Ma. Aku juga lupa tadi, kalau mereka ada di sana saking emosinya. Ya sudah, ayo kita makan! Nanti saja kita bicara pelan-pelan sama anak-anak," ajak Maysa yang diangguki Mama Rafiqah.
Mereka berjalan menuju meja makan dan menikmati sarapannya. Mengenai Tama, terserah pria itu mau makan atau terus berbicara dengan Rafka. Maysa benar-benar merasa kecewa pada sang suami. Dia mengakui jika kata-katanya terlalu kasar.
Namun, semua itu karena Maysa sudah terlalu malas mendengarkan kata-kata Rafka. Wanita itu mengambilkan anak-anak makanan. Dia mencoba mengajak mereka berbicara meski di tengah terasa gelisah di hatinya. Maysa tidak ingin senyum di bibir anak-anak menghilang karena rasa kesal yang dirasakannya.
"Eira sama Dio mau disuapin sama Mama?" tawar Maysa.
__ADS_1
"Aku bisa sendiri, Ma," sahut Dio yang sudah menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
"Aku juga bisa sendiri," timpal Eira.
Maysa tersenyum melihat anak-anaknya yang makan dengan begitu lahap. Meski awalnya agak susah harus membujuk mereka. Pasti mereka memikirkan pembicaraannya tadi. Di saat mereka sedang menikmati makanan, Tama masuk ke ruang makan.
"May, Rafka mau pamit pulang," ucap Tama.
"Suruh saja pulang, Mas. Aku sedang makan sama anak-anak," jawab Maysa tanpa melihat ke arah Tama. Dia sibuk mengambil makanan untuk dirinya sendiri.
"Mama di sini nggak ada susu, ya?" tanya Dio yang sengaja ingin membuat mamanya sibuk.
"Di kulkas ada, sih, Sayang, tapi punya Tante. Nggak tahu apa bisa diminum anak-anak."
"Ya nggak bisa dong, Kak. Itu 'kan susu untuk pelangsing. Mana bisa buat anak-anak," sahut Riri yang mendengar pembicaraan sang kakak dan keponakannya.
Maysa tersenyum menanggapinya. "Ternyata nggak bisa, Sayang."
"Sebentar, Mama buatin. Mama lihat dulu ada buah apa di kulkas." Maysa berjalan meninggalkan meja makan menuju dapur.
Tama hanya bisa menghela napas dan kembali ke ruang tamu. Sepertinya sang istri masih marah kepadanya. Begitu juga dengan Dio yang seolah ingin menjauhkan istrinya. Dia sangat mengenal putranya.
Pria itu baru ingat jika anak-anak tadi ada di ruang keluarga. Saat dia membentak Maysa sudah pasti didengar oleh mereka. Dio sangat menyayangi wanita itu, pasti anak itu sangat marah mendengar pembicaraan tadi. Kalau Eira, Tama tidak tahu bagaimana karakter anak itu.
Mudah-mudahan saja gadis kecil itu tidak marah padanya. Rafka yang melihat Tama keluar seorang diri pun mengerti jika Maysa masih padanya. Itu sangat wajar karena dirinya sudah sangat keterlaluan, tetapi semua itu demi putranya.
"Maaf, Maysa sedang sibuk di dapur. Anak-anak ada saja yang diinginkan jadi, tidak bisa keluar," ucap Tama yang berusaha agar jawabannya tidak menyakiti Rafka. Meskipun akhirnya dia sangat mengerti kenapa Maysa tidak mau keluar.
"Baiklah, tidak apa-apa. Sekali lagi terima kasih atas bantuannya. Aku janji akan mengembalikannya nanti, saat uangku sudah terkumpul."
__ADS_1
"Jangan terlalu dipikirkan, yang penting sekarang adalah kesembuhan anakmu lebih dulu. Aku mengerti perasaanmu karena aku juga seorang ayah."
Rafka mengangguk, dia bersyukur bisa bertemu orang sebaik Tama. Pantas saja pria itu berjodoh dengan Maysa, keduanya sama-sama baik. Berbeda dengan dirinya yang tidak tahu bersyukur.
"Sekali lagi terima kasih. Baiklah saya permisi dulu, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Rafka meninggalkan rumah mantan mertuanya itu. Tama hanya memandangi tamunya hingga hilang di balik pagar. Pria itu kembali masuk ke ruang makan, dia juga belum sarapan pagi ini. Kedatangan Rafka yang sangat-sangat pagi membuatnya melewatkan sarapan di rumah.
"Sudah sarapan, Nak Tama?" tanya Mama Rafiqah begitu menantunya masuk ke ruang makan.
"Belum, Ma. Tadi buru-buru ke sini jadi lupa," jawab Tama seadanya.
"Ya sudah, kamu duduklah! Kita sarapan bersama," ucap Mama Rafiqah sambil tersenyum, sementara Riri diam saja.
Gadis itu juga sama seperti Maysa, tidak menyukai Rafka. Apalagi mendengar jika pria itu ingin menjual rumah putrinya. Bahkan membuat Tama marah dan membentak kakaknya. Dia tidak pernah membayangkan jika dirinya yang berada di dalam posisi kakaknya, sudah pasti Riri akan merasa sedih.
Tama duduk di kursi samping sang istri. Meski wanita itu sedang marah padanya, dia yakin akan sangat mudah membujuknya.
"Ini jus buat Dio dan buat Eira." Riri meletakkan dua gelas ditambahin
"Terima kasih, Ma."
"Sama-sama, Sayang. Ayo dilanjutkan makannya." Maysa kembali ke dapur, dia harus membuatkan teh untuk sang suami.
Padahal di ruang tamu masih ada teh buatannya tadi yang belum diminum. Rasa kesal yang dirasakan begitu besar, hingga Dia melupakan hal itu. Di meja makan semua orang sibuk dengan makanannya. Tidak ada satu pun yang berbicara.
.
__ADS_1
.