
hari yang di tunggu pun datang, Caca begitu cantik dengan gaun yang sudah di siapkan.
sedang Burhan sedang di bantu istrinya bersiap, "Desi aku tak ingin melakukan ini," kata Burhan memeluk Desi istrinya.
"tidak pa, papa sudah berjanji padaku untuk menikah dengan gadis itu, jadi papa gak boleh ingkar janji ya," kata Desi tersenyum pada suaminya itu.
"kalau begitu temani aku untuk melakukan acara akad nikah itu," mohon Burhan mencium tangan istrinya.
"iya pa, ayo Mama antar ya, dan ingat papa gak boleh salah loh," kata Desi tertawa menggoda suaminya.
sedang Burhan gemas melihat istrinya itu, dia bisa tersenyum meski akan melihat suaminya menikah dengan wanita lain.
Burhan datang dengan di gandeng Desi, wanita itu bahkan terus tersenyum pada setiap tamu.
Burhan duduk di depan penghulu, Caca datang dengan diapit oleh ibunya.
mereka pun akhirnya melaksanakan ijab qobul dengan hikmat, setelah itu langsung di lakukan resepsi besar.
Caca pun memasang wajah bahagia meski palsu, bahkan keluarga ayahnya tak ada yang ingin datang setelah tau semua uang di lakukan oleh Caca.
rombongan dari keluarga Utomo datang bersama pasangan masing-masing, kecuali Danish.
mereka pun masuk kedalam hotel itu, dan tak lupa mereka juga membawa hadiah untuk pengantin.
Dinda terus mengenggam tangan suaminya dengan erat, mereka pun naik ke atas pelaminan dan mengucapkan selamat.
"selamat atas pernikahan kaloan, semoga jadi keluarga sakinah, mawadah, warahmah dan kita sudah punya pasangan dan kisah masing-masing, jadi jangan berharap lagi karena aku bahagia dengan istriku, jadi kamu juga harus bahagia dengan suamimu ya," kata Daniyal.
"pasti dong," jawab Caca.
mereka pun mengambil foto bersama, setelah itu Daniyal merangkul pinggang Dinda.
"mas baik-baik saja?" tanya Dinda.
__ADS_1
"iya sayang, sebentar lagi kita akan melakukan resepsi di Samarinda karena pernikahan kita sudah sah di mata hukum kemarin," kata Daniyal.
"iya mas," jawab Dinda tersenyum lembut di balik cadarnya.
"aduh pengantin baru, udah yuk mesra-mesraannya, Sekarang ayo kita makan," ajak Adelia.
"dasar tukang makan," cibir Gabriel.
"mas ih, kok gitu sih sama adeknya," kata Husna.
mereka pun mengambil makanan dan mencari tempat duduk, setelah itu mereka melihat semua tamu yang datang adalah pengusaha besar.
termasuk Gabriel yang masuk list undangan Burhan VIP karena rekan bisnis.
Desi melihat ada Gabriel dan istri pun bergegas menghampiri pria itu, bahkan dia seakan melupakan sakitnya hari ini.
"apa kabar pak Gabriel dan istri, maaf saya tak tau anda sudah datang, semoga menyenangkan ya," kata Desi tersenyum bahagia.
"iya nyonya, anda juga terlihat begitu sehat, bahkan begitu bahagia," puji Gabriel.
Dinda melihatnya hanya bisa menahan tangisnya, ingin rasanya dia memeluk wanita di depannya itu.
"dek kamu kenapa? kurang enak badan?" tanya Daniyal khawatir.
"benarkah, mau ke ruang tunggu bersama ku, mari," ajak Desi.
"sayang wajah ibu Desi, kenapa mirip sekali dengan Dinda," bisik Adelia sambil menunjukkan foto pada Daniel.
"subhanallah, jangan-jangan mereka," jawab Daniel terkejut.
"maaf Bu Desi, boleh saya tanya sesuatu yang mungkin sedikit pribadi?" tanya Adelia.
"Adelia jangan bikin malu ah dek," kata Gabriel menahan adiknya itu.
__ADS_1
"iya silahkan, anda kan juga tamu saya, dan sebisa mungkin saya jawab," kata Bu Desi.
"apa anda memiliki seorang putri?" tanya Adelia.
"dek!" kata Gabriel sedikit membentak.
"sabar mas," kata Husna.
"ha-ha-ha tidak masalah kok pak Gabriel, saya tak memiliki seorang putri saya hanya memiliki dua putra dengan mas Burhan," jawab Bu Desi tersenyum.
hati Dinda hancur, dia tak mengira jika ibu yang begitu dia rindukan ternyata melupakan putrinya sendiri.
bahkan kehidupan Dinda tak sebaik ibu dan saudara tirinya di kota besar itu.
"dengan pernikahan sebelum tuan Burhan?" tanya Dinda.
Bu Desi terdiam sambil melihat gadis bercadar di sampingnya, "kalian ini kenapa?" tanya Gabriel yang mulai marah.
"maafkan saya kak, saya tak bisa berada di tempat sesak ini, aku ingin pergi, permisi ..."
"Dinda tunggu," panggil Daniyal yang mengejar istrinya.
"Dinda ...." lirih Desi sambil berbalik.
"iya dia Dinda, putri dari pak Rahman seorang pegawai negeri di Samarinda, mungkin ibu ingat," kata Adelia sebelum ikut pergi.
tiba-tiba kondisi Bu Desi memburuk, Doni langsung menahan tubuh ibunya agar tak pingsan di sana.
"Dinda...." panggil Bu Desi.
"ada apa Bun, kenapa panggil nama adek Dinda Bun," tanya Doni.
"Dinda disini ... dia bersama keluarga Utomo nak, cari dia nak ... ibu ingin minta maaf," mohon Bu Desi sebelum akhirnya pingsan.
__ADS_1
Doni pun mengendong ibunya dan membawanya segera ke rumah sakit, sedang dua adik sambungnya mengikutinya.
mereka tak memberitahu keadaan ini pada Burhan, agar dia tak khawatir karena pesta harus berjalan naik seperti pesan Bu Desi.