
seakan mendengar panggilan dari Puri, Gabriel tersadar dari kondisinya yang baru selesai menjalani operasi.
dokter langsung mengecek kondisi Gabriel, dokter tak mengira jika kondisi Gabriel bisa kembali membaik dengan cepat.
Adelia pun menghampiri sang kakak, "bagaimana keadaan Puri," tanya Gabriel pada adiknya itu.
"ya elah si Abang, baru juga bangun tanyain Adel kek, ini malah Puri," jawab Adelia sambil menahan senyumnya.
"ayolah kamu baik-baik saja, tapi kondisi Puri sangat menghawatirkan," kata Gabriel.
"okelah, dokter ini kak Gabriel bisa di gabung aja ruangan nya, biar mudah merawatnya," usul Adelia.
"tentu nona, tuan Gabriel juga sudah membaik, hanya perlu pemulihan," kata dokter.
akhirnya Gabriel pun di pindah ke ruangan ketiga bocah itu, saat di depan pintu ruangan, Gabriel dan Adelia saling tatap karena masih mendengar teriakkan dari Puri.
tak lama Gabriel sudah di pindahkan, Puri yang melihat Gabriel datang dengan suster dan perawat.
Puri langsung mendorong dan menghampiri Gabriel, Adelia membawa Puri ke sisi yang lain, dan membantu Puri untuk tidur di samping Gabriel.
"kalian bisa memasang infusnya lagi," kata Adelia pada suster.
saat tangan Puri akan di infus Puri menggeleng, "Puri kuat kan, di sini ada Abang kok, jadi kamu gak usah takut ya," kata Gabriel.
Puri pun mengangguk, tapi saat jarum itu di pasang Puri berteriak.
"Abang!" teriak Puri.
Gabriel pun tersadar dari lamunannya saat kembali mendengar teriakkan Puri, dengan segera Gabriel masuk ke dalam kamar.
melihat Puri berontak Gabriel langsung memeluknya, "iya Puri sayang, Anang Gabriel di sini," kata Gabriel.
"jangan tinggalkan Puri bang, Puri merindukan Abang, Puri tak mau Abang pergi lagi," lirih Puri di pelukan Gabriel.
"iya adek Abang, Abang janji akan di sisimu," kata Gabriel tanpa sadar.
akhirnya malam itu semua orang pun kembali berkumpul bersama, Puri sedikit ceria dengan adanya Gabriel.
mereka pun tengah berbincang setelah makan malam bersama, "mau menghubungi Daniel dan Adelia?" tanya Gabriel pada semuanya.
"boleh Gabriel, kebetulan opa merindukan cucu perempuan itu, apalagi dia begitu sibuk saat ini," kata pak Jaya.
"lebih baik jangan deh, nanti kalian bisa terkejut," kata Daniyal.
__ADS_1
"maksud mu apa Dani?" tanya Billy.
"malu pa, kak Adelia tak tau tempat, kami pernah kaget melihat adegan uwu, saat sedang membahas pelajaran dengan kak Daniel," kata Danish spontan.
"ya elah, mulutnya ember amat sih Danish," jengkel Daniyal.
"ya maap, keceplosan Bray," kata Danish dengan usil nya.
"ya kita lihat saja, seberapa memalukan adik perempuan ku itu, jadi penasaran," kata Gabriel.
Gabriel pun menghubungi Daniel dengan video call, bahkan mereka menggunakan laptop agar bisa puas melihat saudara yang jauh di luar pulau.
tak lama di angkat oleh Daniel, "assalamualaikum semua nya, wah sepertinya tuan besar baru pulang ya," kata Daniel sambil tersenyum.
"waalaikum salam, cih kau menyebalkan sebagai adik ipar, kenapa tak ke Samarinda, kau tau kamu sudah merindukan kalian," kata Gabriel.
"sorry kakak ipar, kami begitu sibuk, aku pun bisa saat sedang liburan semester, sedang Adelia sedang menjalankan proyek yang cukup besar," kata Daniel.
"Daniel, kau hanya menyapa kakak ipar mu saja, atau kamu memang sudah terlupakan," kata Billy.
"maaf papa, aku terlalu fokus pada Gabriel, selamat malam semuanya, Opa, Oma, papa bunda, aunty dan om, dan duo kembar kesayangan ku," kata Daniel.
"hai kakak ipar, oh ya paketnya sudah kami terima, dan terima kasih banyak, kau memang terbaik," kata Daniyal.
"Daniel, bagaimana keadaan Adelia saat ini? apa dia baik?" tanya Bella khawatir.
"dia baik bunda, sekarang kami sedang di rumah kakek buyut Yudha, oh ya aku mohon jangan bahas kejadian itu ya bunda dan yang lain, aku tak ingin Adelia sedih," kata Daniel.
"iya Daniel, kami juga sedih saat ingat bagaimana Adelia harus kehilangan bayinya, dan semoga kalian cepat di beri penggantinya," kata Billy.
"amiiin.." jawab Daniel.
"Daniel makin tampan saja, Oma jadi kangen kalian, mana Adelia?" tanya Bu Rina.
"sebentar Oma, biar aku panggil," kata Daniel.
"emm... awas bentar lagi ada adegan 18+++," kata Danish.
semuanya pun binggung, dan melihat Danish sedang Daniel tertawa mendengar celetukan Danish.
"honey.. kemarilah," suara panggilan Daniel untuk Adelia.
"ya Tuhan, mereka tetap mesra dan panggilan itu belum di ganti ternyata," gumam Mega menahan senyumnya.
__ADS_1
"ya honey, kau sudah merindukan ku, mau melakukannya di sini?" kata Adelia yang langsung duduk di pangkuan Daniel dan membelakangi layar laptop milik Daniel.
"Jan apa ku bilang, kakak itu malu-maluin," kata Daniyal.
sedang Daniel terus menghindar agar Adelia tak menciumnya, "Adelia kau bisa melakukannya nanti, dan jangan buat kami harus melihat kemesraan kalian," kata Gabriel kesal.
"honey, kenapa aku dengar suara pria menyebalkan itu," tanya Adelia pada Daniel.
"sayang aku sedang video call dengan keluarga Samarinda," bisik Daniel.
Adelia melotot dan langsung menoleh ke arah laptop Daniel, dan sudah melihat semua keluarganya berkumpul bersama
Adelia hanya tersenyum pada mereka, sedang Billy, Bella dan yang lain tertawa melihat kelakuan Adelia kecuali Gabriel.
"sampai kapan kalian akan terus bermesraan seperti itu, bubar!" teriakkan Gabriel mengejutkan Adelia yang langsung melompat dari pangkuan Daniel.
"ya perjaka tua marah, eh sana cari pacar, jangan iri sama kemesraan kami, hallo bunda, papa sayang, opa dan Oma tersayang juga, om Angga, aunty Mega dan Puri," sapa Adelia.
"ya kakak tak lihat kami apa," kata Daniyal kesal.
"cih, kalian berdua itu hantu kecil tau gak, apa yang kalian minta kemarin dari kakak ipar kalian, cepat katakan," kata Adelia sudah berkacak pinggang di samping Daniel.
"RAHASIA..." kata Danish.
" Danish Harvey Utomo!" teriak Adelia yang langsung di sambut tawa semua orang karena mukanya yang merah saat marah.
Daniel hanya bisa melihat istrinya itu yang sedang kesal dengan tingkah laku kedua adik kembarnya itu.
"Daniel nanti aku email kan hasil analisa ku padamu, dan semoga kamu bisa membantu gadis Bond*h itu, dan aku harap kau bisa menyelesaikan tugas berat ini," suara Gabriel terdengar begitu serius.
"tenang Gabriel, ku sudah mengetahui siapa aku, dan aku yakin akan bisa menyelesaikan dan membereskan ini semua," jawab Daniel.
"oh ya, kamu bisa meminta bantuan Bayu dan Rudi bukan," kata Angga.
"tentu aku akan merepotkan om Bayu, tapi aku tak akan meminta bantuan orang dari keluarga Yusman itu om," kata Daniel.
"kenapa kau begitu membenci keluarga Yusman nak?" tanya Billy.
"itu hanya cerita lama papa, dan aku tak ingin membahasnya," kata Daniel terdengar sedih.
Adelia langsung memeluk Daniel dengan eratnya, Billy tak ingin memaksa menantunya itu bercerita.
pasalnya itu adalah privasi dari menantunya itu, Billy menghormati Semuanya.
__ADS_1