Rahasia Suamiku

Rahasia Suamiku
129. Papa Dimas sakit


__ADS_3

Cukup lama Adit menunggu di depan ruang UGD, bersama dengan om dan tantenya. Namun, belum ada tanda-tanda dokter keluar. Semakin malam justru membuat dirinya khawatir. Dia tidak tahu harus bagaimana menghadapi hari esok, di saat papanya sedang ada di rumah sakit.


"Kamu tenanglah, Insya Allah keadaan Papa kamu akan baik-baik saja," ucap Tante Nova sambil mengusap bahu Adit.


Pria itu pun mengangguk sekaligus mengaminkan apa yang di katakan tantenya. Berbagai pemikiran buruk masuk ke dalam kepalanya. Dia tidak tahu lagi harus berbuat apa. Papa Dimas selalu saja menutupi sakitnya, hingga membuat Adit bingung harus berbuat apa.


Tidak berapa lama akhirnya pintu ruangan UGD terbuka. Tampak seorang dokter keluar dengan tersenyum. Adit segera mendekati dokter tersebut. Om dan tantenya juga mengikuti.


"Bagaimana keadaan papa saya, Dok?" tanya Adit di samping Om Martin dan Tante Nova pun, juga ikut menunggu jawaban dari dokter tersebut.


"Alhamdulillah, Pak Dimas baik-baik saja. Beliau hanya lelah dan tekanan darahnya rendah. Pasti beliau akhir-akhir ini sering banyak berpikir dan tidak tidur. Seusia Pak Dimas memang sudah saatnya beristirahat dan tidak banyak berpikir."


“Saya kurang memperhatikannya. Saya juga sedang sibuk, harus mempersiapkan pernikahan saya jadi, jarang melihat beliau apa sudah tidur atau belum," ucap Adit yang merasa bersalah.


Tante Nova yang mengerti perasaan Adit, segera mengusap pundak keponakannya dan berkata, "Kamu jangan merasa bersalah seperti itu. Setiap orang tua pasti akan selalu kepikiran dengan masa depan anaknya. Itu hal yang wajar, papa kamu saja yang tidak kuat dengan tubuhnya, tapi tetap memaksakan kehendak."


"Apa kami sudah boleh menjenguk papa saya?" tanya Adit.


"Sebentar lagi perawat akan memindahkan beliau ke ruang rawat inap. Di sana Anda boleh menemaninya, tapi sebelum itu, sebaiknya Anda mengurus administrasi terlebih dahulu. Supaya pihak rumah sakit segera menyediakan kamar mana, yang sekiranya cocok untuk Pak Dimas."


"Baik, Dok, terima kasih."


"Sama-sama, semoga keadaan Pak Dimas makin baik. Saya permisi dulu." Dokter pun segera pergi meninggalkan Adit bersama dengan om dan tantenya.


Adit pamit pada om dan tantenya untuk mengurus administrasi. Tentu saja dia ingin yang terbaik untuk ayahnya. Segala hal terbaik pria itu siapkan semuanya. Adit tidak ingin papanya kekurangan sedikitpun. Setelah semuanya selesai, dia kembali ke depan ruang UGD.

__ADS_1


Ketiga orang itu masih menunggu perawat membawa Papa Dimas. Setelah beberapa menit akhirnya papanya keluar dari ruang UGD. Dua perawat mendorong brankar yang ditempati Papa Dimas, menuju ruangan yang sudah disediakan oleh pihak rumah sakit. Adit menatap papanya yang sedang terpejam.


"Adit, sebaiknya kamu pulang saja. Besok adalah hari pernikahan kamu. Kalau kamu masih di sini, pasti besok akan kesiangan karena kamu pasti kurang tidur. Kalau di rumah kamu bisa istirahat, besok bisa tampil lebih segar," ucap Tante Nova saat mereka sudah sampai di sebuah ruangan.


"Tidak usah, Tante. Di rumah juga aku pasti akan nggak bisa tidur. Aku pasti selalu kepikiran terus sama keadaan papa. Lebih baik ke sini, bisa melihat secara langsung dan memastikan keadaan beliau baik-baik saja," sahut Adit dengan pandangan yang tetap menatap papanya.


"Terserah kamu jika itu bisa membuat nyaman."


Adit tersenyum dan mengangguk. Pria itu tidak mungkin meninggalkan papanya sendiri, dia tidak setega itu. Meski terkadang sikap Papa Dimas membuatnya kesal. Namun, apa pun yang terjadi beliau tetaplah papanya dan hanya Papa Dimas yang dia miliki. Meski terkadang sikapnya juga membuat Adit kesal.


Pria itu duduk di samping ranjang papanya, sementara Om dan Tantenya duduk di sofa. Om Martin menghubungi saudara yang ada di rumah Adit, dia menanyakan keadaan di sana. Syukurlah keadaan baik-baik saja. Pria itu juga memberi kabar jika keadaan Papa Dimas baik-baik saja, hanya butuh istirahat yang cukup.


Tante Nova yang sudah sangat kelelahan pun, tidur di ranjang yang disediakan untuk keluarga pasien, sementara Adit sendiri masih tetap menunggu papanya sadar. Tadi perawat bilang jika sebentar lagi Papa Dimas akan sadar. Jika tidak mungkin besok pagi karena sekarang papanya pasti tertidur.


Adit masih setia menunggu di samping papanya. Hingga tanpa sadar dia pun juga ikut tertidur, sambil duduk dengan berbantalkan kedua tangannya. Padahal tadi Om Martin sudah memintanya tidur di sofa yang lebih nyaman. Namun, Adit menolak dan tetap tidur di sana.


Tengah malam, Papa Dimas terbangun. Dia melihat sekeliling dan merasa asing dengan tempat tersebut. Saat mendapati anaknya yang sedang tertidur, pria itu mulai paham jika dirinya sedang berada di rumah sakit. Papa Dimas mencoba mengingat apa yang sudah terjadi semalam. Namun, dia tidak mengingat apa-apa.


Yang diingat hanyalah, semalam mereka mengadakan acara pengajian dan besok adalah pernikahan Adit, sedangkan dirinya sekarang berada di sini. Calon pengantin pun juga ikut susah. Seharusnya sang putra di rumah beristirahat agar besok bisa terlihat lebih segar. Sebenarnya Papa Dimas ingin membangunkan Adit. Namun, dia tidak tega. Takutnya nanti setelah dibangunkan malah tidak bisa tidur, itu akan semakin dikhawatirkan saat acara pernikahan besok.


"Papa sudah bangun? Bagaimana keadaan Papa?" tanya Adit pada papanya, yang sedang melamun sambil menatap langit-langit kamar rumah sakit.


"Apa Papa mengganggu istirahatmu? Sampai kamu terbangun, padahal Papa sudah berusaha untuk tidak bergerak.”


“Tidak, Papa sama sekali tidak pernah mengganggu. Justru aku yang semakin membuat Papa susah, hingga sampai jatuh sakit seperti ini. Papa pasti terlalu banyak pikiran, memikirkan bagaimana pernikahanku. Padahal sudah aku katakan berkali-kali kalau tidak usah memikirkan hal itu. Semua sudah diurus oleh EO-nya sendiri."

__ADS_1


"Papa tidak memikirkan apa pun. Memang usia papa sudah tua jadi, mudah sakit, tidak ada hubungannya dengan pernikahan kamu."


"Papa bisa bohong sama semua orang, tapi tidak denganku. Sudah sangat lama aku mengenal Papa, dari lahir hingga aku sebesar sekarang. Aku sudah tahu baik buruknya Papa jadi, mulai sekarang pikirkan kesehatan Papa."


Papa Dimas hanya mengangguk tanpa mengatakan satu kata pun. Dia sudah tidak bisa berkata-kata lagi karena apa yang dikatakan putranya memang benar. Akan tetapi, sebagai seorang ayah, pria itu tetap saja kepikiran mengenai acara anaknya. Dirinya hanya bisa diam tanpa bisa melakukan apa pun.


Papa Dimas tidak ingin terlalu memikirkan keadaan yang sebenarnya baik-baik saja. Pria itu juga tidak menyangka jika tadi, dia bisa pingsan saat acara pengajian sedang berlangsung. Mudah-mudahan acara putranya besok berjalan dengan lancar. Papa Dimas tidak ingin ada yang tidak hadir. Apalagi itu keluarga terdekat terutama dari dirinya dan almarhumah sang istri.


"Di sini ada om dan tante kamu, sebaiknya kamu pulang saja, istirahat di rumah. Papa tidak mau kalau sampai kamu besok telat. Jangan meninggalkan kesan buruk pada calon mertuamu. Apalagi sampai telat, pasti keluarga calon istrimu akan menjadi bahan cemoohan. Makanya kamu harus banyak beristirahat."


Adit menatap papanya sambil tersenyum. Dia beruntung memiliki papa sebaik Papa Dimas. Meskipun sekarang keadaannya belum stabil, tetapi beliau selalu memikirkan keadaan anaknya.


"Terima kasih atas nasehatnya, tapi aku masih tetap mau di sini. Aku juga akan istirahat, tidak mungkin aku mengecewakan orang yang aku cintai. Sekarang aku hanya ingin menjaga Papa sebelum besok menghadiri acara pernikahanku. Papa besok bisa datang, kan? Hanya Papa yang aku miliki satu-satunya di dunia ini. Apa Papa juga tidak datang?”


Adit sebenarnya juga merasa bersalah pada papanya karena memaksanya datang disaat beliau sedang sakit. mau bagaimana lagi, mereka hanya tinggal berdua.


"Besok biar Papa yang bilang sama dokter dan meminta untuk pulang. Papa juga ingin melihat pernikahan kamu. Kamu juga keluarga Papa satu-satunya. Meskipun Papa memiliki beberapa saudara, bagi bapaknya kamu yang paling berarti karena kamu adalah darah daging Papa. Sebaiknya kamu tidur, biar besok terlihat lebih segar. Jangan mengecewakan calon menantu Papa. Takutnya nanti dia kecewa melihat keadaan suaminya, yang tidak sesuai dengan apa yang dia harapkan."


"Sekarang Papa lebih sayang sama menantu Papa daripada anak sendiri, ya?" tanya Adit dengan pura-pura ketus.


"Tentu saja! Kata orang anak perempuan itu lebih sayang sama orang tuanya, daripada anak laki-laki jadi, Papa juga harus menyayangi anak perempuan Papa. Lagi pula kamu juga pasti sudah terlalu kenyang dengan omelan Papa."


.


.

__ADS_1


__ADS_2