Rahasia Suamiku

Rahasia Suamiku
141. ART baru


__ADS_3

“Selamat pagi!” sapa Maysa saat memasuki dapur, terlihat seorang wanita sedang memasak di sana.


“Selamat pagi, Nyonya,” sahut wanita tersebut, menghentikan pekerjaannya, mengangguk dan tersenyum ramah.


Maysa menatap wanita itu. “Kamu asisten rumah tangga yang baru di sini? Siapa nama kamu?” tanya Maysa.


“Iya, Nyonya. Nama saya Ningrum,” jawab wanita itu.


Maysa mengangguk dan memperhatikan wanita itu dari atas sampai bawah, terlihat biasa saja. Sebagai seorang istri tentu saja dia merasa takut jika ada wanita lain di rumah ini, apalagi kalau sampai berani menggoda suaminya.


“Kamu sudah menikah?” tanya Maysa ingin tahu.


“Saya sudah menikah. Sudah memiliki seorang anak, Nyonya,” jawab wanita itu lagi.


“Suami sama anak kamu ada di mana?”


“Suami saya juga bekerja di kota ini sebagai tukang kebun, kalau anak saya ada di kampung sama ibu saya.” Maysa menganggukkan kepala lagi, tapi tetap tidak mengalihkan tatapannya dari wanita itu sehingga orang yang ditatap sedikit tidak nyaman karena perlakuan majikannya.


“Apa anak kamu tidak pernah mencari kamu?” Maysa bertanya seperti seorang penyelidik.


“Awal-awalnya mungkin sering menanyakan keberadaan saya, tapi seiring berjalannya waktu dia sudah terbiasa hidup dengan neneknya,” jawab Ningrum seadanya.


Mungkin itu juga yang dirasakan Maysa dulu. Awal-awal dia sering menanyakan keberadaan Rafka, tetapi seiring berjalannya waktu anaknya itu sudah mulai terbiasa apalagi sekarang dengan keberadaan Tama sebagai pengganti Rafka. Sudah pasti semakin mengurangi rindunya pada papa kandungnya. Tama juga sangat menyayangi Eira seperti layaknya anak kandung. Maysa sangat senang sekali karena Tama tidak membedakan anak itu yang notabene bukan darah dagingnya sendiri.


“Lanjutkan saja pekerjaanmu, biar aku bantu,” ucap Maysa sambil berjalan mendekati kompor.


“Tidak usah, Nyonya. Saya bisa mengerjakan sendiri, takutnya nanti malah tuan marah.”


Ningrum merasa tidak enak karena harus dibantu oleh pemilik rumah. Meski ini pertama kali mereka bertemu, tetapi dia tahu jika yang berbicara dengannya adalah istri dari pemilik rumah karena foto pernikahan mereka terpajang dengan jelas di ruang tamu dan ruang keluarga.


“Tidak apa-apa. Saya sudah terbiasa seperti ini dan kamu juga jangan panggil saya nyonya. Panggilannya hanya untuk Mama Mirna. Panggil aku Ibu saja. Nama saya Maysa. Kamu bisa memanggil Ibu Maysa. Jangan terlalu kaku juga, aku juga tidak makan orang,” ucap Maysa tersenyum yang hanya ingin mencairkan suasana.


“Iya, Bu.” Ningrum tersenyum kaku. Ia merasa tidak enak pada majikannya. Namun dia senang karena Maysa sepertinya orang yang baik. Semoga saja di tempat yang baru ini dia bisa betah dan tidak mendapatkan kekerasan seperti di rumah yang sebelumnya.

__ADS_1


Maysa pun membantu Ningrum memasak. Tidak lupa juga wanita itu memberikan beberapa wejangan pada asisten rumah tangganya, apa saja yang bisa dimasak dan yang tidak boleh dimasak karena penghuni rumah ini tidak menyukainya. Ningrum mendengarkan semuanya dengan seksama. Dia akan mengingat semua yang dikatakan oleh majikannya agar tidak membuat kesalahan di masa depan, karena dirinya yang lupa.


Maysa juga mengatakan apa saja kebiasaan para penghuni rumah ini termasuk kegiatan anak-anak saat berada di rumah.


“Saya akan mengingatnya, Bu. Jika saya ada yang lupa atau tidak disengaja, mohon diingatkan,” ucap Ningrum dengan sangat sopan.


Maysa tersenyum dia senang dengan keberadaan Ningrum di sini, karena dia dapat melihat jika wanita itu orang yang baik. Semoga kedepannya juga seperti itu seterusnya.


“Oh ya, Ningrum. Kalau kamu punya teman kamu bisa rekomendasikan sama saya. Kamu tidak mungkin melakukan semua pekerjaan sendiri, apalagi nanti juga ada penghuni baru. Mama saya juga akan tinggal di sini. Tapi, saya harap kamu bisa memilih teman yang baik dan bisa diajak kerjasama dalam mengerjakan pekerjaan. Kamu tentu tahu maksud saya. Saya tidak ingin ada rasa iri diantara kamu dan temanmu saat mengerjakan pekerjaan, apalagi soal gaji. Saya paling malas berdebat mengenai hal itu karena baik kamu mau pun teman-teman akan menerima gaji yang sama,” ucap Maysa menerangkan.


Ningrum tampak diam dan berpikir. Kira-kira siapa teman yang bisa diajak bekerja di sini. Jujur selama bekerja sebagai asisten rumah tangga dia tidak begitu dekat dengan teman lainnya karena dia jarang sekali bergaul.


“Saya sebenarnya ada, Bu. Tapi, dia tidak ada di agen asisten rumah tangga. Dia kakak saya. Dulu dia pernah bekerja sebagainya asisten rumah tangga, tetapi karena mertuanya sakit dia pulang dan baru seminggu lalu mertuanya meninggal. Dia juga pernah mengutarakan niatnya ingin bekerja kembali sebagai asisten rumah tangga, tapi usianya sudah tidak bisa untuk masuk kembali ke agen, tapi dia masih sanggup untuk beberes kok, Bu,” ucap Ningrum penuh harap. Ya, semoga saja Maysa bisa mengizinkan kakaknya di sini. Selain itu, Ningrum juga bisa merasa tenang jika bersama dengan kakaknya.


“Saya boleh uji coba tidak ya, kira-kira dua minggu atau satu bulan. Jika pekerjaannya bagus saya bisa mempertimbangkannya, tapi jika saya tidak suka saya terpaksa memberhentikannya. Tapi tenang saja selama masa percobaan saya tetap akan memberinya gaji. Bagaimana?” tawar Maysa.


Ningrum mengangguk dengan cepat, semoga saja kakaknya bisa bekerja bersama dengan dirinya di sini.


“Saya akan tanyakan dulu padanya, Bu. Jika dia setuju saya akan kasih ibu kabar,” ucap Ningrum dengan cepat.


“Ini semua sudah selesai masakannya, tinggal kamu pindahin ke mangkok lalu taruh di meja ya. Saya mau bangunin anak-anak dulu.”


“Terima kasih, Nyonya. Sudah bantuin saya, padahal ini pekerjaan saya,” ucap Ningrum kembali tak enak hati. Pekerjaannya menjadi ringan karena bantuan dari majikannya ini.


“Tidak apa-apa.” Maysa tersenyum dan pergi menuju kamar anak-anaknya. Dia ingin melihat apakah mereka sudah bangun apa belum, karena mereka juga harus ke sekolah. Kemarin mereka sudah libur satu hari. Tidak ingin anak-anaknya libur lagi.


Saat membuka kamar anak-anak terlihat Eira masih tertidur sementara Dio sudah tidak ada di atas ranjang. Maysa menebak jika putranya pasti sudah mandi, dia pun mencoba untuk membangunkan sang putri.


“Eira, ayo bangun! Nanti sekolahnya terlambat. Padahal tadi Subuh sudah bangun kenapa kamu tidur lagi?”


Maysa menggoyangkan tubuh putrinya agar anak itu segera bangun. Namun, gadis kecil itu hanya menggeliatkan tubuhnya tanpa mau membuka mata Maysa tidak patah semangat, dia terus saja berusaha agar Eira bangun. Setelah cukup berusaha akhirnya sang putri membuka matanya juga.


“Ma, aku masih ngantuk,” ucap Aira sambil mengusap matanya.

__ADS_1


“Hari ini kan harus sekolah, Sayang. Kemarin sudah libur sekarang harus masuk. Kan Eira katanya mau jadi dokter kalau jadi dokter harus rajin sekolah,” bujuk sang ibu.


Gadis kecil itu pun mengangguk meski dengan wajah yang ditekuk dan bibir juga yang cemberut. Maysa yang melihat itu pun hanya bisa tersenyum. Dia mengikuti putrinya menuju kamar mandi yang ternyata masih digunakan oleh Dio.


Eira nunggu sambil berdiri di dekat pintu sekali dia mengetuknya agar sang kakak segera keluar.


“Kakak! Cepetan!” teriak Eira masih dengan nada yang malas.


“Iya, Dek. Nggak sabaran banget sih. Ini juga sudah selesai,” ucap Dio yang baru saja keluar dari kamar mandi. Rambutnya telah basah, membuat anak itu terlihat segar dan sangat tampan.


Eira tidak mendengarkan apa yang kakaknya katakan. Gadis kecil itu masuk ke dalam kamar mandi. Saat akan menutup pintu Maysa menahannya karena dia juga ingin masuk untuk memandikan putrinya.


“Mama mau ke mana? Aku bisa mandi sendiri. Aku sudah besar nggak mau dimandiin sama mama lagi,” ucap Eira melarang sang ibu masuk ke dalam sana.


“Yakin bisa?” tanya Maysa dengan ragu. Memang Eira bisa mandi sendiri, tetapi apa mungkin bisa bersih seluruh tubuhnya? Meskipun ragu, akhirnya Maysa tetap membiarkan putrinya untuk mandi sendiri. Wanita itu pun memilih menyiapkan perlengkapan sekolah untuk kedua anaknya.


Dio, anak itu lebih mandiri, semua sudah dipersiapkan dari malam sementara untuk Eira masih ada beberapa yang harus di bantu untuk dipersiapkan.


“Oma Rafiqah sudah tinggal di sini, Ma?” tanya Dio pada mamanya.


“Belum. Di sana juga masih ada acara juga, jadi mungkin seminggu lagi baru Oma Rafika tinggal di sini. Memangnya kenapa Dio tadi nyariin Oma?” tanya Maysa melirik Dio yang kini tengah mengancingkan pakaian seragamnya.


“Iya, tadi aku pikir Mama akan tidur di kamar tamu, tapi waktu aku lihat kamarnya kosong. Mama nanti ke rumah Oma Rafika lagi?” tanya Dio lagi.


“Hari ini tidak, mungkin besok. Kasihan kalau Oma Mirna di tinggal terus. Mama juga nanti harus lihat butik dulu.”


Dio hanya menganggukkan kepalanya dan melanjutkan kegiatannya.


Maysa mengambil sisir dan merapikan rambut Dio. “Sudah tampan. Semangat untuk sekolah, ya,” ucap Maysa dari belakang Dio yang tampak dari bayangan cermin.


Dio balas tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


.

__ADS_1


.


__ADS_2