
“Mama, aku mau ganti baju,” ucap Dio yang baru saja memasuki ruang makan.
“Oh iya, Mama sampai lupa. Ayo, Mama bantu ganti baju! Adik Eira juga belum ganti. Ayo, sekalian ganti baju dulu!” ajak Maysa pada putrinya kemudian beralih menatap Lidya. “Bentar, ya, Lid. Aku tinggal gantiin baju anak-anak.”
“Iya, pergi saja. Aku tungguin kamu di sini,” sahut Lidya.
Maysa mengajak Dio dan Eira naik ke lantai atas menuju kamar anak-anaknya. Kedua anak itu hanya mencuci muka dan berganti baju. Setelah selesai, Maysa ingin mengajak kedua anaknya turun. Namun, Dio menolak, dia ingin bermain di kamar saja.
“Kenapa Dio mau di kamar saja? Di luar ada Oma, masa Dio di kamar terus?”
“Dio mau main di kamar saja, Ma.”
“Mainnya nanti saja, kalau oma sudah pulang, sekarang masih ada oma di ruang tamu. Nggak sopan kalau ada tamu ditinggal di kamar terus. Memangnya kenapa Dio nggak mau ke sana?"
“Dio nggak suka sama Oma,” jawab Dio dengan menundukkan kepalanya.
Maysa tentu saja terkejut mendengar jawaban anak itu. Dia penasaran apa yang membuat putra sambungnya tidak menyukai omanya. Pasti tadi terjadi sesuatu, padahal tadi Dio tidak masalah ada omanya. Maysa juga tidak begitu mengenal wanita itu.
“Kenapa Dio nggak suka sama oma?”
“Karena oma nggak suka sama Mama.”
Maysa merasa terharu mendengar jawaban putra sambungnya. Di usia yang semuda ini, Dio sudah sangat mengerti jika ada orang yang tidak menyukainya. Namun, bukan berarti Maysa mengiyakan apa yang dikatakan Dio. Dia tidak ingin anak itu berpikir yang tidak-tidak mengenai omanya.
Apalagi wanita paruh baya itu tidak menyukainya. Bisa bertambah masalah nanti jika Dio tidak keluar. Pasti Maysa yang akan dituduh yang tidak-tidak. Lebih dari itu, dia tidak ingin putra sambungnya tidak sopan pada orang yang lebih tua.
“Dio sayang tidak sama oma?” tanya Maysa membuat anak itu mengangguk dengan pelan. “Setiap orang pasti punya kesalahan, begitu juga dengan oma. Jadi Dio sebagai anak yang lebih muda harus bisa mengalah. Bukan berarti Dio membenarkan apa yang oma lakukan, tapi Dio ‘kan bisa memberitahu oma dengan pelan. Jangan memaksa, sama seperti Dio yang tidak suka dipaksa. Mama yakin anak Mama ini pintar, pasti tahu bagaimana cara berbicara dengan Oma."
Dio masih terdiam, dia memikirkan apa yang dikatakan Maysa padanya. Anak itu sendiri ragu apakah omanya mau mendengar atau tidak ucapannya. Mengingat selama ini wanita itu selalu saja bertengkar dengan papanya mengenai hal yang sepele. Untung saja selama ini Papa Tama orang yang suka mengalah jadi, masalah tidak menjadi panjang.
Setelah berpikir sejenak, akhirnya Dio mengangguk. Hal itu tentu saja membuat Maysa tersenyum. Wanita itu berharap agar omanya Dio tidak berbuat sesuatu yang akan semakin menyakiti hati anak itu.
__ADS_1
“Ayo, kita turun! Mau Mama temenin?”
“Tidak perlu, Ma. Kan, ada tante Lidya, kasihan dia sendirian.”
“Kalau begitu Dio temuin Oma, Mama mau temenin tante Lidya, ya!”
Dio pun segera pergi menuju ruang tamu, sementara Maysa bersama Eira menuju ruang makan. Gadis kecil itu mengajak Ica bermain di taman belakang. Di sana juga ada mainan Eira masak-masakan dan beberapa yang lainnya.
“Itu emak-emak sering ya, May, datang ke sini?” tanya Lidya saat Maysa duduk di sampingnya.
“Emak-emak siapa?” tanya Maysa balik dengan mengerutkan keningnya. Dia benar-benar tidak mengerti siapa yang dimaksud oleh sahabatnya itu.
“Ya ... siapa lagi kalau bukan neneknya Dio.”
“Enggak, baru kali ini. Aku saja baru melihatnya hari ini.”
“Kamu hati-hati sama dia. Jangan sampai terkena penyakit hatinya, bisa nggak sembuh-sembuh kamu nanti."
“Hus ... kamu itu bicara suka ngawur.”
“Jangan keras-keras bicaranya. Kalau kedengaran mereka nggak enak,” tegur Maysa sambil melirik ke arah depan. Takut jika ada orang yang masuk.
“Untung saja tadi aku langsung hubungi Kak Tama, saat wanita itu datang.”
“Jadi kamu yang menghubungi Mas Tama? Pantas saja ini masih jam makan siang, tapi dia sudah ada di rumah,” ucap Maysa karena dia bisa mendengar suara suaminya di ruang tamu.
“Ya iyalah, selain Kak Tama, tidak ada yang bisa mengendalikannya. Tante Mirna nggak mungkin berani membantah apa yang dikatakan besannya. Tante Lely ‘kan orangnya judes dan ketus.”
“Sudah, tidak usah membicarakan orang lain. Lebih baik kamu cerita, selama ini kamu ke mana saja. Sampai nggak bisa datang ke acara pernikahanku,” pungkas Maysa.
“Iya, benar, Sayang. Jangan membicarakan orang lain, nggak baik. Malah makin nambah dosa saja,” timpal suami Lidya.
__ADS_1
“Senangnya aku bisa dikelilingi orang-orang baik seperti kalian jadi, saat aku melakukan dosa, ada orang yang mengingatkanku seperti sekarang ini. Semoga kita selalu bersama seperti sekarang ini.”
“Amin, Asalkan kamu nggak pergi ke luar negeri saja," timpal Maysa.
"Kalau aku tergantung suami kamu tahu sendiri dia suka ke sana kemari dan mau tidak mau aku pun harus ikut."
"Mengenai Ica, memang dia belum sekolah?"
"Belum, padahal seharusnya tahun ini sudah, sama seperti anak kamu, tapi gara-gara kita selalu pindah-pindah, kita nggak tahu mau daftarkan anak kita di mana," jawab Maysa dengan lesu.
"Lalu rencana kamu bagaimana?"
"Sepertinya, aku akan menetap di sini. Kalaupun suamiku harus pindah kerja Mungkin dia akan pergi sendiri."
"Nggak takut ada orang yang merawatnya nanti?" goda Maysa dengan menahan senyum.
"Lillahi ta'ala, daripada anakku terlantar nggak ada pendidikan sama sekali. Kalau dia memang mau niat selingkuh juga, kalaupun aku ikut tetap saja selingkuh."
"Enggak dong, Sayang. Aku tuh cinta mati sama kamu. Mana mungkin aku main gila sama wanita lain," sela Arif—suami Lidya—yang sedari tadi hanya diam mendengarkan dua wanita itu berbincang.
"Karena itu, Mas. Aku percaya padamu. Aku harap kamu juga tidak akan menyalahgunakan kepercayaanku."
Selama ini suami Lidya selalu bersikap baik jadi dia pun tidak mencurigai sesuatu. Wanita itu berharap agar tidak akan ada orang ketiga, keempat dan seterusnya dalam rumah tangganya, seperti yang dirasakan sahabatnya.
"Pasti, Sayang. Nanti juga aku akan berusaha untuk menetap saja di sini agar kita bisa bersama. Semoga saja atasanku setuju."
"Amin, semoga saja. Nanti aku daftarin Ica di sekolah Dio sama Eira saja."
"Itu terserah kalian mau daftarin Ica sekolah di mana. Asalkan icha-nya nyaman," sahut Maysa.
"Iya, nanti kita lihat dulu. Aku juga belum tahu bagaimana kondisi sekolah di sana."
__ADS_1
.
.