
Daniel sudah kembali ke rumah dengan senyuman, dia menuju ke kamar rahasia di rumah itu.
setelah selesai bersih-bersih Daniel langsung menuju ke kamarnya, Daniel akan masuk tapi pintu di buka Adelia terlebih dahulu.
"dari mana?" tanya Adelia dengan kesal.
"baru selesai memeriksa pekerjaan, kamu belum tidur honey?" tanya Daniel.
"aku lapar..." rengek Adelia.
"uluh-uluh, istriku lapar ternyata, ya sudah ayo aku buatkan makanan," kata Daniel yang langsung mengendong Adelia.
mereka pun kembali turun ke dapur, Daniel mendudukkan Adelia di kursi sedang dia sibuk menyiapkan bahan.
"honey ingin makan apa?" tanya Daniel.
"aku ingin makan pasta saja," kata Adelia.
"baiklah," jawab Daniel.
dengan cekatan Daniel memasak pasta untuk mereka, bahkan Adelia hanya pergi mengambil jus yang ada di kulkas.
tak lama pasta selesai, Adelia mendekat ke arah Daniel, Daniel pun menyuapi Adelia.
"bagaimana enak?" tanya Daniel dengan lembut.
"emm," kata Adelia mengacungkan ibu jarinya.
Adelia juga menyuapi Daniel, mereka pun makan bersama, bahkan pasta itu belum di taruh piring.
(biar uwu kali ya๐๐๐๐)
setelah selesai, mereka pun kembali ke kamar, Daniel duduk sambil bersandar di kepala ranjang.
sedang Adelia bersandar di dada Daniel, "sayang sepertinya kita harus ke dokter," kata Adelia memecah konsentrasi Daniel yang sedang membaca.
"kenapa? kamu sakit honey?" tanya Daniel.
"tidak seperti itu, kita harus melakukan cek kesehatan dan juga program agar aku cepat hamil bila perlu," kata Adelia.
"honey, bukannya aku tak mau, tapi anak adalah Rizki dan titipan dari Tuhan, mungkin saat ini kita belum di percaya," kata Daniel.
"tapi aku takut jika tak bisa memberikan keturunan padamu, pada keluarga Sastrawinata," kata Adelia.
"kamu bisa hamil sayang, jadi kamu tak usah sedih, aku akan selalu bersama mu," kata Daniel.
Adelia mengangguk, Daniel pun mematikan lampu kamar hingga gelap gulita.
aku tersenyum saat Adelia mulai ketakutan karena gelap, dia makin menempelkan erat tubuhnya padaku.
aku hanya tersenyum, "sayang ayo tidur," ajakku padanya.
__ADS_1
"bagaimana aku bisa tidur jika lampu gelap seperti ini, lagi pula tangan mu juga nakal honey."
aku langsung menikmati bibir manis itu, bahkan Adelia pun ternyata sudah membalas sentuhan ku.
kami pun melakukan kegiatan panas kami, aku selalu hilang ke Dali saat bersama istri ku ini.
Adelia begitu nakal malam ini,bahkan aku pun takluk olehnya, bahkan selama kegiatan panas kami dua yang memimpin.
suara indahnya seakan alunan musik yang makin menambah ga*rah, setelah mencapai kepu*san kami pun tertidur.
pagi hari, Daniel terbangun dari tidurnya tapi tak mendapati Adelia di sampingnya.
Daniel pun memutuskan untuk mandi dan berganti pakaian santai, Daniel turun dan melihat Adelia sudah menyiapkan sarapan bersama ibu lestari.
"Daniel, tumben bangunnya siang, kelelahan semalam ya," goda pak Agung.
"apa sih yah," jawab Daniel cuek.
Daniel langsung menghampiri Adelia dan mencium pipi istrinya itu di depan semua orang.
"ish... malu mas," bisik Adelia.
"ha-ha-ha, anak ini tak tau tempat yah," kata Bu lestari menjewer kuping Daniel.
"aduh ibu ih, Adelia kan istri Daniel jadi apa salahnya," jawab Daniel.
"kamu ini, ya sudah ayo sarapan dulu," ajak kakek Yudha.
di tempat lain Bhara begitu sedih pasalnya Abimanyu di curigai membunuh sang opa, apalagi di pisau yang di gunakan untuk menghabisi nyawa papa Roni, hanya ada sidik jari Abimanyu.
sedang mama Putri dan Kania sedang mengurus kepulangan jenazah papa Roni setelah di lakukan otopsi.
para dokter menyatakan papa Roni mati karena tikaman yang tembus hingga jantung, dan juga ada bekas jeratan di leher.
apalagi Abimanyu juga dalam pengaruh alkohol karena pulang dari bar bersama sang Opa.
AKP Ali datang bersama anak buahnya ke rumah sakit tempat Abimanyu di rawat, dia langsung menemui Bhara.
"selamat siang tuan," kata Ali.
"selamat siang pak, kenapa anda kemari aku sudah meminta pimpinan kalian menyelidiki kasus ini, jadi kalian tak ada gunanya kemari lagi," kata Bhara dengan wajah dingin.
"kami mengerti itu pak, tapi saya ingin mengucapkan turut berduka cita atas kematian papa anda," kata Ali mengulurkan tangannya.
"ya terima kasih," jawab Bhara.
Ali dan Arya pun memilih pergi, pasalnya mereka juga tau siapa Bharata Yusman, dan mereka tak bisa melawan perintah atasan.
"ndan, kita harus ikut operasi gabungan di jalan Wonokromo," kata Arya menginggat kan.
"iya aku tak lupa, sekarang kita ke sana, kau saja yang menyetir ya," kata Ali melemparkan kuncinya pada Arya.
__ADS_1
"siap Ndan," jawab Arya.
mereka pun menuju ke tempat kegiatan operasi gabungan di lakukan, Ali dan Tya juga langsung bergabung bersama yang lain.
tak di duga marya menghentikan motor Nmax putih, "selamat siang pak, boleh saya lihat kelengkapan surat-surat kendaraan anda," kata Arya.
"tentu," jawab Daniel.
Daniel pun menunjukkan semua surat kendaraan, mulai dari SIM dan STNK.
tak sengaja Ali meliht wanita yang berdiri di samping motor Nmax putih itu, Ali menghampiri wanita itu.
pasalnya dia ingat gadis kecilnya tinggal di Samarinda, Ali sudah sangat dekat dengan Adelia.
"Adelia Melgiska Wijaya," panggil Ali.
Adelia yang mendengar seseorang memanggilnya pin menoleh, begitupun Daniel.
Ali terkejut meliht Adelia kini berdiri di depannya, ingin rasanya Ali memeluk gadis itu.
"kamu mengenalnya honey?" tanya Daniel.
"enggak, aku tak mempunyai kenalan polisi," jawab Adelia ringan.
"bapak kenal istri saya?" tanya Daniel penuh selidik.
"perkenalkan nama saya Ali Suhendra, saya putra pertama dari pak Agra dan Bu Irma sahabat bunda Bella, kamu ingat Adel," kata Ali.
Adelia melotot kan matanya saat mendengar Ali, pasalnya dia adalah pria yang pertama mencuri perhatiannya.
"kamu kak Ali, teman kak Gabriel dulu," kata Adelia yang langsung tersenyum dan langsung menjabat tangan Ali erat.
"Adelia Sastrawinata," kata Daniel dingin.
"maaf lupa, hai kak, oh ya perkenalkan ini suamiku namanya Daniel Sastrawinata," kata Adelia merangkul lengan Daniel.
"suami, kamu sudah menikah?" tanya Ali terkejut.
"iya kak, aku sudah tiga tahun menikah dengan kak Daniel," jawab Adelia.
"perkenalkan Daniel Sastrawinata suami dari Adelia," kata Daniel mengulurkan tangannya.
"AKP Ali Suhendra, senang berkenalan dengan anda," kata Ali memaksakan senyumnya.
"baiklah AKP Ali, kami pamit dulu karena masih bnyak pekerjaan, kami permisi," kata Daniel mengenggam tangan Adelia.
"baiklah kami permisi, semoga bisa bertemu lagi ya kak, bye bye," kata Adelia yang langsung naik ke atas jok motor.
Daniel langsung melajukan motornya dengan kecepatan lumayan tinggi, entahlah dia tak menyukai tatapan Ali pada Adelia.
ingin rasanya Daniel mencongkel mata Ali saat itu, tapi Daniel msih bisa menahan amarahnya dan sadar jika ada Adelia di samping nya.
__ADS_1