Rahasia Suamiku

Rahasia Suamiku
108. Mengambil hati


__ADS_3

Kini Tama tahu seberapa besar kesalahan yang dia lakukan pada sang istri. Tidak seharusnya tadi dirinya ikut campur dengan urusan Maysa dan Rafka. Namun, sebagai seorang pria dan seorang ayah, pria itu bisa merasakan apa yang Rafka rasakan. Tama hanya merasa berempati, tidak ada niat sedikit pun untuk menyakiti hati istrinya.


"Aku tidak bisa mengatakan apa-apa lagi, selain kata maaf. Aku tahu, sudah sangat besar kesalahan yang sudah aku lakukan, tapi sekali lagi aku katakan. Tidak ada niat sedikit pun untuk menyakiti hatimu. Aku juga tidak akan memaksamu untuk memaafkanku karena aku tahu, sebelumnya memang kamu sudah sangat-sangat terluka dengan masa lalumu."


Maysa masih terdiam dengan menundukkan kepalanya. Hatinya kini benar-benar dilema. Dia tidak ingin ada masalah antara dirinya dan sang suami, tetapi jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, wanita itu merasa tersakiti.


"Hanya satu yang aku inginkan. Jangan tunjukkan itu semua di depan anak-anak. Aku tahu tadi Dio dan Eira mendengar pembicaraan kita. Nanti aku akan berusaha untuk meminta maaf juga sama mereka. Pasti mereka juga terluka dengan apa yang aku lakukan padamu. Mereka sudah sangat menyayangimu, aku senang melihat hal itu. Semoga selalu seperti ini di masa depan agar ada yang melindungimu jika aku tidak mampu," lanjut Tama dengan tersenyum.


Maysa mengerutkan keningnya sambil menatap Tama, saat mendengar apa yang diucapkan oleh sang suami. Namun, mulutnya seolah terkunci dan enggan untuk bertanya. Hatinya benar-benar terluka


"Aku mau ke ruang kerja dulu. Ada beberapa berkas yang harus aku kerjakan. Kalau ada sesuatu, panggil saja aku di sana," ucap Tama yang kemudian meninggalkan sang istri menuju ruang kerja.


Sebenarnya pria itu berbohong. Dia tidak ada pekerjaan yang dibawa pulang kemarin. Pria itu hanya ingin menenangkan diri karena apa yang dilakukannya tadi, sudah sangat melukai istrinya. Satu hal yang tidak pernah Tama sesalia yaitu membantu Rafka.


Dia memang menyesal telah membentak Maysa, tetapi pria itu tidak pernah menyesal karena membantu Rafka. Bagaimanapun juga Tama tahu betapa susahnya menjadi Rafka. Di saat benar-benar tidak memiliki apa pun, cobaan justru datang kepadanya. Semua orang di dunia ini, pasti tidak menginginkan kejadian seperti yang Rafka alami.


Apalagi mengingat bagaimana sikap istri dari pria itu yang suka semena-mena. Pasti menjadi Rafka sangatlah sulit dan tertekan. Tama menggelengkan kepalanya. Pria itu tidak mau terlalu memikirkan urusan rumah tangga orang lain.


Yang penting baginya, dia sudah berusaha membantu Rafka. Mengenai hasilnya nanti, biarlah Tuhan yang menentukan. Tama kembali mengingat perjalanan kehidupannya hingga detik ini. Saat pertama kali menikah dengan almarhum mamanya Dio, hingga kini dia hidup bersama dengan Maysa.


Banyak sekali ujian yang dilewati pria itu. Tama berharap agar masalah kali ini bisa cepat terselesaikan. Saat sedang larut dalam lamunannya, pintu kamar diketuk seseorang dari luar. Pria itu pun berusaha mencari berkas untuk dikerjakan.


"Iya, masuk!" seru Tama membuat orang yang berada di balik pintu segera masuk.

__ADS_1


Orang tersebut pun masuk. Ternyata Mama Mirna, entah apa yang diinginkan wanita itu. Tidak biasanya mamanya datang ke ruang kerja, kecuali ada sesuatu yang penting.


"Tama, ada yang mau Mana bicarakan sama kamu," ucap Mama Mirna begitu masuk.


"Iya, Ma. Ada apa?" tanya Tama sambil menutup map ya dia buka baru saja.


Mama Mirna duduk di kursi di depan meja putranya. "Tama, asisten rumah tangga kita baru saja mengundurkan diri jadi, sebaiknya kamu segera mencari penggantinya. Mama kasihan kalau Maysa harus selalu masak sendiri."


"Memang kenapa dia mengundurkan diri?"


"Anak-anaknya sudah melarang dia untuk bekerja. Dia 'kan sudah lama ikut sama kita. Usianya juga sudah tidak muda lagi."


"Mama tahu 'kan kalau aku tidak pandai mencari asisten, kenapa tidak Mama saja?"


"Mama juga bingung mencarinya. Sekarang itu banyak sekali asisten rumah tangga yang masih muda. Kamu tahulah sebagai wanita, Mama takut kalau kamu tergoda oleh mereka."


"Mama ini, seperti tidak tahu anaknya saja," gerutu Tama dengan sedikit kesal.


"Meskipun kamu anak Mama, tapi kamu juga tetap laki-laki yang bisa saja tergoda oleh wanita cantik dan seksi. Apalagi wanita zaman sekarang Itu semuanya tidak tahu malu. Mereka menggoda suami orang tanpa memandang berapa usianya, yang penting banyak uang."


"Aku jadi bingung harus cari asisten rumah tangga di mana."


"Kalau nggak mencari, kasihan Maysa harus masak sendiri."

__ADS_1


Tama menggaruk kepalanya yang pusing. Belum selesai masalahnya dengan Maysa. Sekarang ditambah masalah ART. "Terus aku harus bagaimana, Ma?"


"Itu juga yang membuat Mama pusing. Bagaimana kalau kamu serahin saja sama Maysa. Biar dia yang cari," Mama Mirna memberi saran.


"Kalau Maysa yang cari, justru aku malah takut. Dia itu orangnya mudah kasihan sama orang, kalau yang dicari seperti itu, bagaimana kalau orang itu pintar berakting dan membohongi Maysa?"


"Iya juga, terus bagaimana?"


"Sebaiknya nanti aku bicarakan saja dengan Maysa, Ma. Aku juga tidak mungkin memutuskan sesuatu tanpa meminta pendapat padanya. Bagaimana pun dia yang akan sering berinteraksi dengan asisten rumah tangga nantinya."


"Iya, kamu benar. Ya sudah, terserah kamu saja. Mama cuma mau mengatakan hal itu. Mama mau keluar lagi, kamu juga sebaiknya jangan terlalu sibuk dengan pekerjaan. Luangkan waktu bersama istri dan anak-anakmu. Ini hari libur, kenapa kamu masih saja sibuk bekerja."


"Iya, Ma. Aku ikut mama keluar."


Sebenarnya Tama masih ingin sendiri di ruang kerja. Akan tetapi, dia tidak ingin membuat Mama Mirna semakin curiga jika dirinya sedang ada masalah. Pria itu pun berdiri dan keluar bersama dengan sang mama. Keduanya menuju ruang keluarga di mana ada Dio dan Eira sedang bermain.


Tama berusaha untuk mendekati anak-anaknya. Meskipun mereka masih saja cuek terhadap pria itu. Mama Mirna bisa melihat hal itu jika cucu-cucunya sedang marah pada Tama. Namun, dia tidak tahu alasan kenapa mereka bisa bersikap seperti itu.


Mama Mirna tidak mau terlalu ikut campur. Wanita paruh baya itu pun memutuskan untuk pergi ke dapur saja. Dia ingin membuat teh untuk dirinya. Sementara itu, Maysa yang tadinya masih di kamar pun turun dan ikut bergabung bersama dengan anak-anaknya.


Wanita itu bisa melihat usaha Tama untuk mengambil hati anak-anaknya. Namun baik Dio maupun Eira tidak menanggapi usaha pria itu. Tama tidak patah semangat, dia masih terus berusaha meskipun tidak mendapatkan tanggapan. Sesekali pria itu melirik ke arah istrinya.


Maysa yang merasa kasihan pun mencoba untuk membantu sang suami. Meskipun dirinya belum sepenuhnya memaafkan pria itu, tetapi bagaimanapun juga, dirinya tetap seorang ayah yang harus dihormati. Apalagi Tama juga sudah sangat menyayangi anak-anak. Pria itu hanya melakukan kesalahan yang tidak disengaja.

__ADS_1


.


.


__ADS_2