Rahasia Suamiku

Rahasia Suamiku
137. berharap datang


__ADS_3

Aldo melototkan matanya ke arah Erik. Bisa-bisanya temannya tersebut berbicara seperti itu. Anak Kak Maysa masih begitu kecil. Bahkan mungkin masih mengompol. Bagaimana bisa Erik merekomendasikan anak itu. Kenapa tidak sekalian saja anak yang baru lahir.


"Apa? Kenapa melihatku seperti itu? Aku cuma memberikan kandidat. Kalau kamu tidak suka, ya sudah, tidak usah melotot seperti itu," ucap Erik yang tidak ingin idenya disalahkan.


"Kamu pikir, aku ini pedofil? Yang suka anak-anak! Enak saja bilang seperti itu."


"Sekarang saja bilang seperti itu, nanti kalau anak itu sudah dewasa, kamu pasti suka sama dia. Sama emaknya saja klepek-klepek, apalagi sama anaknya? Aku bisa lihat kalau ada bibit-bibit kecantikan dalam diri anak itu."


Aldo tertawa mendengar apa yang dikatakan Erik. Sejak kapan pria itu bisa menerang masa depan. Untuk menerawang kehidupan besok saja dia tidak tahu, apalagi masa depan. Dia menggelengkan kepala kemudian, meninggalkan sahabatnya itu sendirian.


"Hei! Kenapa aku ditinggalin? Aku hanya mengatakan, lihat saja nanti. Kamu pasti akan jatuh cinta sama dia!" teriak Erik yang tidak digubris sama sekali oleh Aldo.


Beberapa tamu yang ada di sekitar mereka pun menatap ke arah Erik, yang tadi berteriak. Dia sampai lupa jika dirinya kini berada di pesta. Pria itu pun meminta maaf dan berlari mengikuti sahabatnya. Dari jauh, Aldo bisa melihat apa yang dilakukan putranya.


****


"Apa dulu kamu begitu dekat dengan kedua pria tadi, Sayang?" tanya Tama saat keduanya sudah dalam perjalanan pulang dari mengantar Mama Rafiqah. Anak-anak sendiri sudah tidur di kursi belakang.


"Siapa, Mas?" tanya Maysa sambil memainkan ponsel. Dia tidak tahu siapa yang dimaksud sang suami. Begitu banyak tamu yang datang, mana tahu maksud Tama yang mana.


"Itu tadi, yang namanya siapa, ya, Erik sama ...."


Tama berpura-pura tidak tahu nama pria itu agar sang istri tidak curiga. Maysa yang tahu siapa maksud suaminya pun menjawab. Dia tidak tahu mencurigai sang suami.


"Oh, Erik sama Aldo lumayan lama, Mas. Aku kenal mereka dari Riri masih zaman SMA. Saat itu aku sudah bekerja di pabrik, masih belum mengenal Kak Rafka juga. Memangnya ada apa, Mas? Kenapa tiba-tiba tanya tentang mereka sekarang? Kenapa tidak dari tadi saja?”


“Nggak enaklah kalau tanya di depan orangnya, Sayang. Apa kamu juga sangat dekat dengan mereka?"

__ADS_1


"Nggak juga, hanya saja mereka berdua memang yang paling ramai di antara teman Riri, tapi yang bikin aku heran. Meskipun keduanya anak yang bandel, tapi nilainya bagus banget. Malah pernah dapat rangking satu, padahal anaknya saja seperti itu. Awalnya aku emang nggak percaya. Riri akhirnya menjelaskan jika memang Aldo anaknya seperti itu, tapi saat di kelas dia adalah murid yang paling rajin."


Tama hanya mengangguk, ada perasaan cemburu dalam dirinya yang mencuat. Namun, sebisa mungkin pria itu menahannya. Maysa menatap sang suami, wanita itu merasa ada sesuatu yang Tama sembunyikan.


"Ada apa sih Mas? Jangan bilang kamu cemburu sama mereka. Mereka memang seperti itu, suka ceplas-ceplos kalau bicara, tapi aku sama mereka nggak ada hubungan apa-apa. Aku hanya menganggap mereka seperti adik sendiri, tidak ada perasaan lebih karena memang seperti itu adanya."


"Siapa yang cemburu? Aku tidak mengatakan apa pun, hanya aneh saja karena kamu mengenal mereka," sahut Tama seadanya, untuk menutupi perasaan yang dia rasakan.


Dari sini saja sudah bisa dijelaskan jika Tama sedang cemburu. Dasar pria itu yang tidak mau mengakui perasaannya. Namun, Maysa tidak mau memperpanjang masalah. Dia mempercayai apa yang dikatakan oleh sang suami saja.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan, akhirnya mereka sampai juga di rumah. Maysa menggendong Eira, sementara Tama juga menggendong Dio. Keduanya membawa anak-anak ke dalam kamar dan menidurkan di ranjangnya masing-masing.


Sebelum masuk ke dalam kamarnya, Maysa ingin melihat keadaan Mama Mirna. Sudah beberapa hari dia hanya tahu, saat menghubungi lewat sambungan telepon. Sang mertua selalu saja mengatakan dirinya baik-baik saja, tetapi saat wanita itu ingin video call, Mama Mirna selalu menolak. Dari sini Maysa tahu jika keadaan mertuanya sedang tidak baik.


"Mama, belum tidur? Baru aku mau ke sana, mau lihat keadaan Mama," tanya Maysa yang melihat mertuanya berjalan mendekatinya.


"Iya, Ma. Aku khawatir dengan keadaan Mama. Mama Rafiqah di rumah juga ada beberapa kerabat yang masih menginap jadi, tidak apa-apa. Sebaiknya sekarang Mama istirahat, ini sudah larut. Tidak baik untuk kesehatan Mama. Ayo, aku antar!" ajak Maysa yang kemudian membawa sang mertua ke dalam kamar.


Dia membantu mama Mirna atau berbaring dan menyelimutinya. Wanita itu duduk di tepi ranjang dan memijat pelan kaki sang mertua. Awalnya Mama Mirna melarang, tetapi Maysa terus saja memijat. Hingga akhirnya tanpa sadar wanita paruh baya itu pun tertidur.


Maysa pun meninggalkan mertua, sebelum itu dia menaikkan selimutnya terlebih dahulu. Wanita itu pergi menuju kamarnya ternyata sang suami masih belum tidur. Tama berdiri di balkon sambil melihat pemandangan luar. Maysa memeluknya dari belakang.


Sudah lama mereka tidak bermesraan. Apalagi sudah beberapa hari mereka tidak bertemu. Saat semalam baru ingin melepas rindu, harus diganggu dengan tingkah anak-anak. Tama tersenyum saat merasakan sebuah pelukan dan dia sangat tahu siapa pemilik tangan ini.


"Sepertinya ada yang ingin dimanja, nih?" tanya Tama sambil mengusap tangan Maysa yang melingkar di perutnya.


"Memangnya tidak boleh? Aku kan juga kangen sama kamu,” jawab Maysa tanpa melepas pelukannya. Dia menghirup parfum sang suami dalam dalam.

__ADS_1


"Tentu boleh, dong! Aku malah senang kalau kamu manja-manja seperti ini. Aku merasa kamu mencintai aku kalau sudah seperti ini."


"Aku memang selalu mencintai kamu, Mas. Memang kurang meyakinkan apalagi selama ini. Hanya kamu, laki-laki yang bisa menyembuhkan sakit hati, sekaligus memberi rasa cinta yang begitu besar.


Tama melepas pelukan sang istri dan berbalik menghadap wanita itu. Diselipkannya rambut yang menutupi dahinya. Sebelum mengenal Maysa, banyak wanita yang mengejarnya. Namun, tidak satu pun yang bisa menggetarkan hatinya. Hanya istrinya seorang yang bisa membuat seperti itu.


"Maysa, kamu juga wanita yang mampu masuk ke dalam hatiku, setelah sekian tahun aku hidup sendiri. Awalnya aku ragu, apakah akan ada wanita yang bisa membuatku berdebar, saat bersamanya atau membuatku salah tingkah saat ada didekatnya. Itu terpatahkan saat kehadiran kamu. Aku bahagia saat bersamamu."


Tama memeluk sang istri dengan erat. Begitupun dengan Maysa yang membalasnya tidak kalah erat.


'"Mas, sebaiknya kamu mandi dulu. Setelah itu baru aku."


"Apa setelah mandi kamu mau kasih aku hadiah?"


"Hadiah apa? Apa kamu ulang tahun?" tanya Maysa yang tidak mengerti.


"Masa begitu saja nggak ngerti, Sayang. Malam ini 'kan malam pertama buat Riri dan Adit. Kita sebagai Kakak, jangan mau kalah, dong. Kita harus tunjukkan kalau kita lebih hebat daripada mereka."


"Itu modus kamu! Bilang saja kalau kamu mau. Kenapa harus pakai Riri sebagai alasan."


Maysa segera mengambil handuk dan memberikannya pada Tama. Wanita itu meminta sang suami segera mandi, sementara Maysa sendiri harus membersihkan make up terlebih dahulu. Setelah itu, barulah membersihkan tubuhnya juga.


Saat sedang membersihkan make up, ponselnya berdering, ada pesan masuk dari mantan mertua maisa yaitu Mama Ishana. Wanita paruh baya itu menanyakan mengenai undangannya, untuk dirinya dan Eira agar datang ke acara empat puluh hari meninggalnya adik Eira. Maysa mengatakan jika dirinya masih sibuk mengurus pernikahan adiknya.


Mama Ishana masih berharap agar mereka datang, tetapi jika Maysa memang menolak, dia juga tidak bisa memaksa. Dia sangat tahu betapa terlukanya hati mantan menantunya itu.


.

__ADS_1


.


__ADS_2