
Usai mengantar anak-anak ke sekolah, Maysa menuju butiknya. Begitu sampai di tempat kerja, wanita itu sama sekali tidak fokus dalam mengerjakan semua pekerjaan. Pikirannya selalu tertuju pada permintaan Eira yang ingin liburan bersama dengan papanya. Dia bingung harus bagaimana.
Bukan maksud Maysa untuk menghalang-halangi putrinya, yang ingin bersama dengan papanya. Akan tetapi, yang jadi masalah untuknya adalah keberadaan Vida. Dia sangat tahu jika istri dari Rafka itu tidak menyukai keberadaan Eira. Entah bagaimana nanti keadaannya jika putrinya berlibur dengan mereka.
Apalagi sekarang sudah ada anak di antara mereka. Pasti Vida akan menjadikan alasan anaknya untuk menguasai Rafka dan tidak memedulikan Eira. Dalam keadaan yang gundah, Maysa memutuskan untuk menghubungi sang suami. Dia ingin meminta pendapat dari pria itu.
“Halo, assalamualaikum,” ucap Maysa pada seseorang yang berada di seberang telepon. Baru saja wanita itu menghubunginya, semoga saja Tama tidak sibuk.
“Waalaikumsalam, ada apa, Sayang. Aku baru saja kerja, tapi kamu sudah menghubungiku. Apa kamu sudah kangen?” tanya Tama dengan nada menggoda.
“Apa sih, Mas? Aku sedang pusing.”
“Kamu sakit kepala? Nanti siang aku ada meeting jadi, nggak bisa ngantar kamu. Minta antar Riri nggak papa ‘kan periksa ke dokter. Apa aku batalin saja meetingnya.”
“Aku pusing bukan karena sakit kepala, Mas.”
“Lalu karena apa?”
Maysa menghela napas dan menjawab, “Dio dan Eira sedang bertengkar.”
“Biasanya juga seperti itu, kan? Nanti juga baikan lagi.”
“Tapi ini sepertinya berbeda, Mas."
“Berbeda bagaimana maksud kamu?”
Maysa pun menceritakan pada sang suami mengenai apa yang dia dengar dari putrinya tadi. Wanita itu juga memberitahu mengenai sikap Dio, yang tidak suka jika Eira pergi bersama dengan papanya. Maysa bingung harus mengizinkannya atau tidak. Eira juga berhak untuk pergi dengan papanya.
Jauh di lubuk hati Maysa yang paling dalam, dia tidak ingin memberi izin. Akan tetapi, wanita itu tidak ingin putrinya merasa sedih. Apalagi dirinya sudah pernah berjanji tidak akan menghalang-halangi Eira dan Rafka bertemu.
__ADS_1
“Sayang, bukan maksudku untuk membela, tapi bagaimanapun Rafka adalah ayahnya. Meski selama ini dia tidak pernah bertanggung jawab atas putrinya itu, tapi kamu tahu jika itu semua karena Vida, istri Rafka. Biarlah mereka menikmati waktu bersama. Mengenai bagaimana nanti keadaannya, biarlah waktu yang menjawab."
Rafka memang sudah tidak pernah memberi nafkah pada Eira. Seperti yang pria itu sampaikan dulu. Jika setiap bulan akan mengirimkan uang ke rekening yang sudah Maysa buatkan. Nyatanya kosong, itu karena Vida mengetahuinya dan melarang sang suami untuk mengirim uang lagi. Dia beralasan jika Maysa sangat mampu untuk menafkahi Eira, sedangkan dirinya masih sangat kekurangan.
“Itu juga yang sebenarnya memberatkan aku, Mas. Aku sangat tahu bagaimana Vida. Dia sangat tidak menyukai Eira. Entah bagaimana nanti jika Eira liburan bersama dengan mereka.”
“Kan ada Rafka, Sayang. Itu latihan untuknya agar bisa adil terhadap anak-anaknya. Mengenai Dio, dia pasti bisa luluh jika kamu yang membujuknya. Dia sangat manja sama kamu.”
“Dari mana kamu tahu kalau dia sangat manja padaku? Selama ini dia pendiam sekali.”
“Jangan kamu kira aku tidak tahu jika setiap malam, sebelum tidur dia selalu tidur di pangkuan kamu, sambil bercerita tentang kegiatannya sehari-hari,” ujar Tama membuat Maysa tertawa.
Setiap malam Dio memang selalu bermanja-manja dengannya. Anak itu harus menunggu hingga Eira tertidur dulu. Maysa pikir Tama tidak tahu hal itu karena dia juga tidak pernah membicarakannya hal itu di depan orang lain.
“Baiklah, Mas. Nanti aku akan coba bicara dengannya. Mudah-mudahan saja dia mengerti.”
“Aku percaya sama kamu. Kamu pasti bisa memberi pengertian pada Dio.”
“Iya, hati-hati jaga diri, assalamualaikum.”
"Waalaikumsalam."
Maysa menutup sambungan teleponnya. Dia merasa lega setelah berbicara dengan sang suami. Wanita itu pun melanjutkan pekerjaannya sebelum akhirnya Maysa harus menjemput anak-anak. Pintu ruangan wanita itu diketuk seseorang dari luar. Dia pun meminta orang itu untuk segera masuk. Ternyata Riri yang datang dengan membawa berkas.
“Ini, Kak, laporan untuk bulan ini," ucap Riri sambil menyerahkan berkas yang dibawa.
Maysa pun menerimanya dan memeriksa dengan teliti. Setiap bulan Riri memang selalu membuat laporan pada Maysa. Gadis itu juga yang mengatur pekerjaan pegawai.
“Kakak kenapa? Sepertinya sedang ada masalah. Tadi sewaktu datang, Kakak terlihat lesu.”
__ADS_1
“Itu, si Eira mau minta buat liburan kali ini bersama dengan papa kandungnya.”
“Tumben! Memang Kak Rafka yang mengajaknya?”
“Iya, kemarin. Aku tidak tahu kapan mereka telepon. Katanya Eira pinjam ponsel Lidya untuk menelepon Kak Rafka dan bilang mau ajak Eira liburan bersama.”
“Terus Kakak izinin?”
“Iya, masa Kakak melarang! Bagaimanapun Kak Rafka juga papanya dan Eira juga sepertinya sangat antusias sekali. Dia ‘kan biasanya liburan sama aku. Mungkin dia juga kangen sama papanya, tapi aku khawatirnya itu sama si Vida.”
“Iya, tapi Kak Rafka juga nggak mungkin tega menyakiti putrinya kalau bukan karena istrinya itu.”
“Kalau menurut kamu, apa salah jika Kakak mengizinkannya?” tanya Maysa dengan menatap adiknya.
“Nggak salah, Kakak pasti khawatir sama Eira, tapi Kakak juga tahu bagaimana Eira. Semakin dia dilarang, dia semakin nekat jadi, sebaiknya Kakak izinin saja. Mengenai Dio ‘kan masih bisa di bujuk. Kak Tama juga benar, Kakak pasti bisa membujuk Dio karena dia sangat percaya pada Kakak.”
“Itu tidak semudah yang kamu pikirkan, tapi ya sudahlah. Nanti Kakak akan coba bujuk Dio. Kasihan juga Eira yang ingin pergi bersama dengan papannya," ucap Maysa dengan menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan. Semoga keputusannya ini sudah benar.
"Boleh aku tanya, Kak. Mungkin ini sedikit menyinggung. Apa kata Tama tidak cemburu mendengar Eira akan pergi bersama dengan papanya? Walau bagaimanapun saat ini posisi Kak Tama juga papanya. Meskipun Papa sambung."
"Mas Tama mengerti bagaimana perasaan Eira. Dia juga tidak mau melarang Eira, asalkan anak itu bahagia. Selama ini Kak Rafka juga tidak membuat masalah."
Riri menganggukkan kepala. Kakak iparnya memang pria yang baik. Dia tidak pernah berpikir buruk tentang orang lain. Tama juga menyayangi Eira seperti putrinya sendiri.
Tiba-tiba saja Riri teringat tentang Adit. Pria itu juga sangat baik pada siapa pun. Gadis itu segera menggeleng saat teringat nama pria yang pernah mengisi hatinya. Sudah satu tahun mereka tidak bertemu. Entah bagaimana keadaan pria itu saat ini. Apakah Adit sudah menemukan penggantinya atau belum.
"Kamu kenapa menggelengkan kepala seperti itu?" tanya Maysa dengan menatap aneh pada adiknya.
"Tidak ada apa-apa, Kak," jawab Riri dengan tersenyum.
__ADS_1
.
.