Rahasia Suamiku

Rahasia Suamiku
86. Baikan


__ADS_3

Siang hari Maysa menjemput anak-anaknya di sekolah. Tampak kedua anak itu masih saling diam-diaman. Akhirnya wanita itu mengajak mereka ke mall. Dia ingin anak-anaknya bermain di sana.


Sebelum itu, Maysa meminta anaknya untuk mengganti baju saat mengisi bahan bakar. Dia berharap di tempat bermain anak-anak bisa kembali baik.


“Kita mau ke mana, Ma? Kenapa pakai ganti baju segala?” tanya Eira yang baru saja mengganti bajunya.


“Sekarang kita mau pergi ke mall. Kita bermain di sana, bagaimana? Dio sama Eira mau, kan?” tanya Maysa sambil menatap kedua anaknya.


Lagi-lagi mereka terdiam, tidak ada yang mau bicara, apalagi menjawab pertanyaannya. Wanita itu hanya bisa menghela napas dengan tingkah kedua anaknya. Akhirnya mereka sampai juga di parkiran mall. Maysa menggandeng Dio dan Eira menuju tempat bermain. Untung saja hari ini tempat bermain tidak begitu ramai, hanya ada beberapa anak saja.


“Aku mau mandi bola saja, Ma,” ucap Eira.


“Aku mau ke sana saja, Ma. Aku mau main itu,” ucap Dio sambil menunjuk tempat yang berlawanan arah dengan Eira.


“Iya, kalian main sana! Mama tungguin di sini, di tempat tunggu.”


Keduanya pun menuju tempat yang dituju masing-masing. Maysa membiarkan anak-anak menikmati permainan. Setelah beberapa saat, Maysa melihat ke arah Eira yang masih asik bermain, sementara Dio sudah berjalan ke arahnya. Dia bisa melihat wajah sedih putranya.


“Kamu sudah selesai?” tanya Maysa pada putranya.


“Sudah,” jawab anak itu yang segera duduk di samping mamanya.


“Dio senang main sendiri?”


Dio hanya diam. Nyatanya dia tidak suka bermain hari ini. Biasanya dia akan selalu bermain dengan Eira. Meskipun anak itu tidak menyukai permainan yang dipilih adiknya, tetapi bisa bersama dengan Eira membuat permainan itu terasa menyenangkan.


“Mama boleh tanya sesuatu sama Dio? Tapi Mama harap Dio menjawabnya dengan jujur. Apa alasan Dio marah saat Eira akan jalan-jalan sama papanya. Apa Dio juga mau ikut pergi bersama dengan mereka!”


Dio menggeleng, bukan itu yang dia inginkan. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya, tetapi anak itu takut mengutarakannya. Dio pun mengatakan apa yang ditakutkannya pada sang mama.


“Aku hanya takut jika Eira akan pergi bersama dengan papanya selamanya dan tidak akan kembali ke rumah kita,” jawab Dio dengan menundukkan kepala.

__ADS_1


Maysa merasa terharu dengan jawaban anak itu. Ternyata begitu besar cintanya pada Eira, hingga Dio takut akan kehilangan gadis kecil itu.


“Boleh Mama berbicara sebentar?” tanya Maysa yang diangguki oleh Dio. Dia akan membicarakannya dengan pelan agar tidak menyakiti putranya. Wanita itu tidak ingin Dio berpikir jika dirinya hanya menyayangi Eira.


“Eira hanya ingin pergi bersama dengan ayahnya. Selama ini dia selalu bersama dengan kita, sama seperti Dio yang kadang juga merindukan nenek Lely. Begitu juga ayahnya Eira, yang juga rindu pada Eira. Kasihan juga mereka sering merindukan, tapi tidak bisa bertemu. Mama yakin Dio anak yang pandai, pasti bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah.”


Dio masih diam dengan menundukkan kepala. Maysa jadi merasa bersalah karena sudah memaksa anak itu untuk mengerti. Dia tahu jika putranya sangat pandai, tetapi Dio tetaplah anak-anak yang memiliki pemikiran sendiri.


“Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Pelan-pelan saja, lagi pula waktu liburan juga masih ada beberapa hari,” ucap Maysa sambil merangkul pundak anak itu.


Setelah beberapa saat, Dio pun berdiri. Dia sudah mengerti apa yang dimaksud mamanya. “Aku mau main sama adik, ya, Ma.”


Maysa tersenyum dan menganggukkan kepala. Akhirnya Dio bisa luluh juga, padahal dirinya sudah was-was, takut jika anak itu merasa tertekan saat dia memberi pengertian tadi. Dio segera berlari menuju tempat di mana Eira bermain. Terlihat Eira begitu senang saat kakaknya mendekat.


Keduanya bermain dan tertawa bersama. Maysa mengabadikan kebersamaan anak-anak dalam sebuah video dan mengirimkannya pada sang suami. Di kantornya Tama merasa senang saat melihat kedua anaknya sudah akur. Pria itu percaya jika sang istri mampu mendamaikan keduanya.


Waktu berlalu begitu cepat. Dio dan Eira terlihat kelelahan, mereka pun menghentikan permainannya dan kembali ke mamanya.


"Ayo, kita cari restoran!" ajak Maysa.


Anak-anak terlihat senang. Mereka berjalan lebih dulu sambil bergandengan tangan. Dio mengusap kening adiknya yang berkeringat dengan menggunakan sapu tangannya. Mereka pun masuk ke sebuah restoran. Maysa menyebutkan pesanannya saat ada seorang pelayan yang datang. Begitu juga dengan Dio dan Eira.


"Kakak sudah nggak marah lagi sama aku?" tanya Eira sambil menatap kakaknya.


"Nggak, buat apa Kakak marah sama kamu. Kata Mama kita nggak boleh marahan lebih dari tiga hari, nanti malah dosa."


Eira mengangguk dan kembali bertanya, "Kakak bolehin aku pergi liburan sama Papa Rafka?"


"Iya, tapi nanti kalau pulang jangan lupa beliin kakak oleh-oleh, ya!"


Eira tersenyum dan mengangguk dengan cepat. Dia senang setelah mendengar apa yang dikatakan Dio. Dari tadi anak itu bingung harus bicara apa dengan kakaknya. Di sisi lain gadis kecil itu ingin pergi bersama dengan papanya, di sisi lain dia tidak suka bertengkar dengan Dio.

__ADS_1


Bahkan Eira sempat ingin membatalkan rencananya pergi agar kakaknya tidak marah. Sekarang semuanya sudah baik, gadis kecil itu bisa pergi dengan tenang. Maysa hanya mendengarkan mereka sambil tersenyum.


"Nanti akan aku bawain oleh-oleh yang banyak," ucap Eira.


"Tidak usah banyak-banyak, nanti kamu nggak bisa bawa. Kamu 'kan kecil."


"Aku sudah besar, Kak. Kita sekolah satu kelas."


"Tapi kamu lebih pendek daripada aku."


"Tapi aku sudah besar," sahut Eira dengan cemberut membuat Dio tertawa.


"Sudah, sudah, kok malah bertengkar lagi," sela Maysa.


"Maafin Kakak, ya?" ucap Dio yang ingin membujuk adiknya. Eira hanya mengangguk dengan bibir yang masih cemberut.


"Eira sudah tahu mau liburan ke mana sama Papa?" tanya Maysa.


"Nggak tahu, Ma."


"Memang Papa nggak bilang mau ajak Eira ke mana?" tanya Maysa lagi yang dijawab gelengan oleh Eira. "Ingat pesan Mama, selama pergi jalan-jalan sama Papa, Eira jadi anak yang baik. Ikuti Papa ke mana pun, biar nggak tersesat, ya?"


"Iya, Ma."


Maysa tersenyum meski dalam hati, dia masih belum rela melepaskan putrinya bersama dengan Rafka. Wanita itu tidak ingin mengekang Eira. Benar apa yang dikatakan sang suami. Tidak mungkin Maysa Egois dengan melarang mereka pergi karena permintaan pergi bersama-sama ini adalah keinginan putri mereka sendiri.


Makanan pesanan mereka pun datang. Mereka segera menikmati makan siang, sebelum mereka kembali pulang.


.


.

__ADS_1


__ADS_2