Rahasia Suamiku

Rahasia Suamiku
126. Untuk pengajian


__ADS_3

"Tidak ada, hanya saja aku merasa aneh saat kamu mengatakan hal tersebut. Kamu selama ini tidak pernah menggombal, sekarang tiba-tiba mengeluarkan kata-kata gombalan. Aku dengarnya agak gimana gitu," ucap Maysa dengan terkekeh.


"Kamu pasti geli dengernya, ya? Tapi aku beneran nggak gombal. Tadi itu benar-benar kata-kata yang aku rasakan saat ini. Selama ini paling lama cuma semalam kita berpisah, tapi ini sudah dua hari, besok tiga hari. Itu sangat lama sekali," keluh Tama dengan nada lesu.


Maysa bisa merasakan jika saat ini sang suami yang sedang tidak bersemangat. Sejujurnya dia juga sangat rindu pada Tama. Namun, wanita itu juga tidak mungkin tidak datang ke rumah ini, saat mama dan adiknya sedang kerepotan. Mungkin jika itu hanya acara kecil tidak apa jika tidak menginap, tetapi ini acara besar adiknya.


Maysa akan menyesal jika tidak bisa membantu apa pun. Selama ini disaat dirinya sedang susah, mama dan adiknya yang selalu ada. Sekarang dia hanya bisa memberikan bantuan kecil yang tidak berarti. Semoga bisa meringankan beban mamanya.


"Tapi aku nggak bisa pulang sekarang, Mas. Di sini juga lagi sibuk-sibuknya," sahut Maysa dengan lesu juga.


"Iya, aku mengerti. Aku juga tidak meminta kamu untuk pulang. Besok sore juga aku ke sana, buat menghadiri acara pengajian. Sekalian aku juga bisa menginap di sana. Keadaan Mama sudah membaik. Asisten rumah tangga yang baru besok juga bisa menjaganya, tapi Mama tidak bisa datang ke acara pernikahan Riri. Tubuhnya masih lemah."


"Iya, tidak apa-apa. Aku juga sudah mengatakan hal itu sama mama dan Riri, kalau Mama Mirna sedang tidak enak badan, kemungkinan tidak bisa datang. Mereka mengerti dan tidak memaksa Mama untuk datang."


Tama lega mendengarnya. "Syukurlah kalau begitu," sahut Tama yang kemudian terdiam.


Hanya keheningan yang ada di antara sambungan telepon tersebut. Padahal kedua orang itu sama-sama rindu, tetapi tidak tahu harus berkata apa. Tadi Maysa juga berencana menanyakan banyak hal. Sekarang semua tiba-tiba otaknya kosong.


"May, kenapa diam?”


“Kamu juga diam.”


“Iya, aku tak nggak tahu harus bicara apa. Padahal tadinya banyak sekali yang ingin aku bicarakan sama kamu, tapi sekarang malah tidak tahu harus berkata apa."


"Kamu katakan saja apa yang ingin kamu bicarakan. Aku dengan senang hati akan mendengarnya."


"Entahlah, aku lupa mau bicara apa." Hening sejenak, kemudian Tama bertanya, "May, anak-anak tidak membuat kamu susah, kan? Mereka biasanya selalu buat heboh di saat di rumah Mama Rafiqah."

__ADS_1


"Tidak, Mas. Mereka tidak membuat susah. Ya, sewajarnya memang anak kecil banyak tingkah, tapi mereka masih dalam batas wajar. Malah mereka lebih suka mengganggu tantenya yang ada di kamar.”


Maysa tertawa mengingat tingkah anak-anaknya. Bagaimana tidak, mereka seharian main di kamar Riri dan memainkan alat make up gadis itu. Dari Eira yang bermake up sendiri, hingga merias calon pengantinnya. Yang sudah pasti hasilnya sangat hancur.


Maysa pun menceritakan apa saja yang dilakukan kedua anaknya selama dua hari ini. Tama hanya tertawa mendengarnya, sesekali ikut menimpali ucapan sang istri. Hingga tidak terasa waktu hampir tengah malam. Maysa sudah mengantuk.


Namun, wanita itu enggan untuk menutup panggilan. Dia masih ingin berbincang dengan sang suami. Tama juga sama, tetapi pria itu tidak tega. Bagaimana jika besok Maysa mengantuk, sementara pekerjaan di rumah mertuanya masih sangat banyak.


"Ini sudah larut, besok kamu harus mempersiapkan acara pengajian. Ngobrolnya disambung besok lagi. Mungkin aku datang ke sana setelah makan siang karena paginya aku masih ada meeting."


"Iya, Mas. Aku mengerti. Sekalian besok kamu jemput anak-anak di sekolah, ya? Paginya biar aku yang antar."


"Iya, boleh. Biar sekalian jalan ke sana. Ya sudah, kamu istirahat dulu. Jangan lupa mimpiin aku, assalamualaikum," ucap Tama dengan tersenyum.


"Waalaikumsalam." Maysa segera menutup panggilan juga sambil tersenyum.


Wanita itu berharap kepercayaannya tidak disalahgunakan oleh sang suami. Mudah-mudahan Tama juga percaya padanya karena dia, bukanlah orang yang bisa menghianati pasangan. Maysa melihat ke arah jam yang ada di dinding, ternyata sudah jam dua belas malam. Pantas saja wanita itu sudah sangat mengantuk.


Dia pun membaringkan tubuhnya di ranjang bersama dengan anak-anak. Maysa mengecup kening kedua anaknya dan memejamkan matanya. Tidak menunggu waktu lama wanita itu akhirnya terlelap.


Sementara itu, Tama yang berada di ruang kerjanya, masih harus melanjutkan pekerjaan yang belum selesai. Padahal tadi hanya tinggal sedikit lagi, tiba-tiba dia tertidur begitu saja. Hingga satu jam kemudian, pekerjaan itu akhirnya selesai juga. pria itu pun pergi ke kamar dan beristirahat.


Besok masih ada pekerjaan yang harus Tama selesaikan, sebelum datang ke rumah mertuanya. Semoga saja nanti mama Rafiqah tidak mempermasalahkan dirinya yang datang terlambat. Apalagi dia juga sama sekali tidak ikut membantu persiapan apa pun. Untuk pesta pun dia tidak turut andil karena Adit menolaknya.


Bukan menolak dalam artian yang kasar. Adit hanya tidak ingin merepotkan orang lain. Dia ingin pernikahannya kali ini atas usahanya sendiri. Mengenai uang Mama Rafiqah, sebenarnya pria itu ingin menolak, tetapi demi menjaga perasaan mertuanya, Adit pun menerimanya.


****

__ADS_1


Pagi-pagi sekali, semua orang yang ada di rumah Mama Rafiqah dibuat sibuk. Ada yang mempersiapkan hidangan untuk nanti malam. Ada pula yang menyiapkan tempatnya, sementara Maysa harus mengantar anak-anak ke sekolah lebih dulu. Setelah itu barulah dia bisa membantu yang lain.


"May, kalau pulang sekalian mampir ke toko kue. Nanti kamu ambil pesanan Mama yang kemarin, ini struknya," ucap Mama Rafiqah sambil memberikan putrinya secarik kertas.


Maysa pun meneranya. "Apa sudah siap, Ma? Ini masih sangat pagi sekali."


"Mama juga tidak tahu karena nanti siang juga Tama yang jemput anak-anak jadi, siapa yang mau ambil."


"Struknya ditaruh tas anak-anak saja, Ma. Biar nanti Mas Tama sama anak-anak yang ngambil kue. Kalau sekarang pasti belum siap, ini masih pagi."


"Apa Tama mau?" tanya Mama Rafiqah yang merasa tidak enak. Baru kali ini dia meminta bantuan pada menantunya.


"Mama seperti tidak mengenal Mas Tama saja. Dia pasti mau menolong Mama, biar nanti aku yang bicara. Mas Tama justru senang bisa membantu meski hanya bantuan kecil."


"Kalau memang baiknya seperti itu, terserah kamu saja. Yang penting kuenya datang."


"Iya, nanti aku yang sampaikan sama Mas Tama. Aku dan anak-anak pergi dulu." Maysa pun pergi bersama kedua anaknya ke sekolah. Mereka menaiki mobil dan meninggalkan halaman rumah Mama Rafiqah.


"Nanti siang kami dijemput Papa, Ma?" tanya Eira pada mamanya saat mereka sedang dalam perjalanan menuju sekolah.


"Iya, nanti Papa yang jemput, Mama harus bantu-bantu di rumah Oma. Kasihan mereka banyak yang harus disiapkan untuk acara nanti malam."


"Memang nanti malam ada acara apa, Ma? Bukannya tante Riri menikahnya besok?" tanya Dio yang juga penasaran dengan kegiatan yang ada di rumah Mama Rafiqah. Padahal biasanya dia anak yang paling tidak mau ikut campur dalam hal apa pun. Namun, kini anak itu dibuat penasaran.


"Nanti malam ada acara pengajian untuk Tante Riri, sebelum dia melangsungkan pernikahan dan membangun rumah tangga. Sekalian doa bersama untuk mendoakan Tante Riri supaya nanti keluarganya bisa bahagia sampai tua nanti," jawab Maysa seadanya agar anak-anaknya lebih mudah mengerti.


.

__ADS_1


.


__ADS_2