
"Tadi mama yang cerita, kalau kamu biasanya kalau sakit minum teh hangat," jawab Maysa dengan duduk di tepi ranjang di samping suaminya.
Tama mengangguk, biasanya memang Mama Mirna yang selalu menyiapkan segala sesuatu untuknya, saat dulu sebelum ada Maysa di rumah ini. Sekarang semua tanggung jawab dirinya beralih pada Maysa.
"Bagaimana, Mas? Apa masih kurang manis?”
"Tidak, ini sudah cukup, tapi Lain kali kalau buat lebih banyak lagi, ya, Sayang. Soalnya biasanya memang kalau lagi demam suka sering-sering minum."
"Kalau begitu aku buatin lagi saja." Maysa akan beranjak menuju dapur. Namun, Tama lebih dulu mencegahnya. Dia masih ingin berduaan dengan sang istri.
"Ini masih ada, Sayang. Nanti saja kalau sudah habis."
Maysa pun kembali duduk. Tama menarik sang istri agar mendekat. Keduanya duduk sambil bersandar di kepala ranjang. Pria itu memeluk sang istri dari samping, Maysa pun merebahkan kepalanya di pundak sang suami.
Wanita itu juga sudah sangat merindukan kebersamaan dengan suaminya. Marah dengan sang suami memang tidak mengenakkan. Mereka banyak kehilangan waktu kebersamaan yang menyenangkan. Cukup sekali ini saja perang dingin diantara keduanya, dia tidak ingin terjadi lagi.
"Kata mama kamu mau cari asisten rumah tangga baru? Kenapa belum cari juga?" tanya Maysa memulai pembicaraan.
"Astagfirullah! Aku sampai melupakannya. Pasti kamu sangat capek mengerjakan pekerjaan rumah, ya, Sayang?" tanya Tama yang merasa bersalah pada sang istri.
Dia terlalu sibuk dengan pekerjaan dan perasaannya, hingga melupakan apa yang sudah pria itu bahas bersama dengan sang mama. Seharusnya sudah dari kemarin Tama membicarakan masalah ini dengan Maysa, tetapi pria itu malah melupakannya.
"Tidak juga, Mas. Aku masih bisa mengerjakan semuanya hanya saja tadi Mama tanya sama aku. Aku 'kan bingung harus jawab apa, sementara kamu juga tidak mengatakan apa pun kemarin. Padahal mama bilang kamu akan menceritakannya kepadaku."
__ADS_1
"Itu dia, aku bingung mau mengatakan bagaimana sama kamu. Hingga akhirnya aku mengulur waktu sampai lupa. Aku menyerahkan semuanya sama kamu. Kamu mau cari asisten rumah tangga yang seperti apa?"
Maysa berpikir sejenak, dia juga tidak tahu harus bagaimana mencarinya. "Kenapa nggak Mama Mirna saja masih yang mencari, Mas? Aku tidak punya pengalaman dalam mencari asisten rumah tangga. Takutnya nanti yang tidak bisa cekatan dalam bekerja. Kalau Mama Mirna 'kan memang sudah pernah mencarinya. Beliau juga lebih mengerti hal ini."
"Mama hanya takut kalau asisten rumah tangganya masih muda. Sekarang banyak yang seperti itu, yang tua sudah pensiun. Mama Mirna takut kalau mereka menggodaku jadi, mama menyerahkan semuanya sama kamu saja. Kamu pasti bisa menilai mana orang baik dan tidak."
Maysa memikirkan apa yang dikatakan mertuanya. Memang benar sekarang banyak sekali asisten rumah tangga yang masih muda. Bahkan beberapa diantara mereka juga belum menikah. Sebenarnya tadi dia tidak memikirkan hal itu, tetapi setelah mendengar apa yang Mama Mirna katakan, tiba-tiba saja wanita itu juga takut hal itu terjadi.
Maysa masih sangat ingat dengan Rafka yang selingkuh dengan rekan kerjanya. Mereka setiap hari bertemu, apalagi sekarang asisten rumah tangga, sudah pasti akan bertemu setiap hari. Waktunya pun pasti lebih banyak. Meskipun dia ada di rumah ini, tetapi dia yakin jika penjahat lebih tahu bagaimana mereka bereaksi.
Tama melihat Maysa terdiam, dia yakin jika istrinya juga sedang memikirkan apa yang ditakutkan oleh mamanya. Pria itu pun semakin mempererat pelukannya pada sang istri. Itu untuk meyakinkan wanita itu, bahwa dirinya tidaklah seperti orang-orang yang di luar sana. Termasuk mantan suami Maysa yaitu Rafka.
"Percayalah padaku, Sayang. Aku tidak akan pernah mengkhianatimu. Sekalipun nanti asisten rumah tangga itu sangat cantik, bagiku hanya kamu yang mampu mengisi hatiku. Kamu sudah pasti tahu, banyak wanita yang mendekatiku sebelum kita saling mengenal. Namun, tidak ada satu pun yang bisa menyentuh hatiku selain kamu. Apalagi Dio juga sangat menyayangimu melebihi sayangnya padaku."
Maysa mengangguk, saat mendengar apa yang suaminya katakan. Dia beruntung karena anak sambungnya itu sangat menyayanginya. Namun, sudut hatinya tetap saja tidak bisa tenang. Ada bayang-bayang pengkhianatan yang begitu melekat dalam pikirannya.
"Aku janji tidak akan menduakanmu. Aku juga akan selalu berusaha untuk jujur padamu. Kita akan sama-sama melewati setiap cobaan yang Tuhan berikan dalam rumah tangga kita. Kamu juga harus selalu berada di sampingku saat aku menghadapi cobaan."
Maysa tersenyum. "Tentu, Mas. Kita akan selalu bersama-sama apa pun rintangan yang akan kita hadapi."
Tama mencium kening sang istri. Betapa bahagianya dia memiliki wanita itu di sampingnya. Tidak akan ada yang bisa menggantikan posisi Maysa di dalam hatinya. Hanya wanita itu yang ada di dalam hati dan pikirannya saat ini, nanti dan selamanya.
Beberapa menit keduanya terdiam, memikirkan apa yang ada dipikiran masing-masing. Apa pun yang akan Maysa putuskan mengenai asisten rumah tangga yang baru, Tama akan menerima.
__ADS_1
"Apa kamu sudah ada gambaran bagaimana asisten rumah tangga yang kamu inginkan?" tanya Tama pada sang istri. Namun, tidak mendapat jawaban dari Maysa.
Wanita itu hanya diam. Tama mengira jika istrinya sedang berpikir. Namun, hingga beberapa menit tak kunjung ada jawaban. Pria itu mengira jika sang istri keberatan dengan adanya asisten baru.
“Sayang,” panggil Tama lagi.
Tidak mendapatkan jawaban juga, pria itu pun menundukkan kepalanya untuk melihat sang istri. Ternyata Maysa memejamkan matanya. Pasti Wanita itu sangat kelelahan, hingga tertidur dalam pelukannya dengan posisi terduduk. Tama tersenyum melihatnya.
Pria itu pun mencoba memindahkan dan memperbaiki tidur sang istri. Diciumnya kening wanita itu dan dia pun ikut merebahkan tubuhnya, sambil memeluk sang istri.
***
"Ri, bagaimana persiapan pernikahan kamu?" tanya Mama Rafiqah pada putrinya, yang sedang menyiapkan sarapan pagi.
"Aku belum ketemu sama Mas Adit, Ma. Jadi aku belum membicarakan hal itu. Kemarin aku tanya lewat sambungan telepon, katanya semuanya sudah diatur jadi, aku tidak boleh terlalu khawatir, tapi tetap saja aku jadi kepikiran. Aku tidak tahu bagaimana detailnya pernikahanku nanti, sampai mana saja mereka sudah mempersiapkannya. Aku jadi semakin pusing."
"Kalau memang seperti itu tidak apa-apa. Jika kamu mau tahu bagaimana persiapan pernikahan kamu. Sempatkan dulu waktu untuk bertemu dengan Adit. Jangan terlalu sibuk dengan pekerjaan, kakak kamu juga pasti akan mengerti kesibukan kamu. Jangan sampai nanti pas hari H-nya malah keteteran," ujar Mama Rafiqah.
"Iya, Ma. Nanti aku sempetin waktu bertemu dengan Mas Adit. Biar aku telepon Mas Adit nanti," sahut Riri yang diangguki Mama Rafiqah.
Setelah menyelesaikan masakannya, Riri menyiapkan semuanya di meja makan. Dia pun menikmati sarapan bersama dengan mamanya. Tidak ada yang mereka bicarakan, keduanya sibuk dengan pemikiran masing-masing. Hingga akhirnya sarapan mereka pun selesai.
Riri berpamitan pada mamanya untuk pergi ke butik. Dia masih harus memeriksa beberapa hal, sebelum membuat janji dengan Adit nanti saat makan siang. Gadis itu sangat tahu betapa sibuknya calon suaminya itu. Riri pun mengerti dengan membuat janji saat makan siang saja.
__ADS_1
.
.