
“Tante ini bagaimana, sih! Kalau kita ke pantai sudah pasti basah. Ayo, main air sekalian! Sayang sekali sampai sini cuma dilihatin doang, nggak main,” ajak Dio. Riri pun akhirnya mengikuti ajakan keponakannya itu. Bajunya juga sudah terlanjur basah jadi, sekalian mereka bermain sepuasnya.
“Dio, ayo kita ajak mama papa kamu ke sini! Masa kita berdua doang yang basah mereka nggak,” ucap Riri.
“Boleh, Tante. Ayo!” Dio dan Riri pun berlari menuju ke arah Tama dan Maysa.
Keduanya menarik pasangan suami istri itu ke arah laut. Awalnya Maysa menolak. Namun, Riri terus saja menarik tangan kakaknya, sementara Dio yang menarik papanya sudah pasti akan kalah, tapi Tama sengaja mengalah pada putranya dan mengikuti sampai tubuhnya basah. Mereka tertawa bersama dan menikmati kebersamaan ini.
Sayang sekali tidak ada Eira di sana. Namun, sebisa mungkin mereka tetap menikmati liburan ini karena tidak ingin merusak suasana. Semoga saja Eira di sana juga sedang bersenang-senang. Mudah-mudahan Rafka bisa memanfaat waktu sebaik-baiknya.
Setelah cukup lama, mereka memutuskan untuk berganti pakaian. Untung saja di mobil ada pakaian Maysa yang sudah disiapkan. Riri terpaksa memakai baju kakaknya karena dia tidak membawa baju. Ukuran baju mereka juga sama jadi, tidak repot memakainya.
“Dio lapar nggak?” tanya Tama.
“Iya, Pa, aku lapar.”
“Kalau begitu kita cari restoran terdekat saja. Makas kalau harus putar-putar.”
“Memangnya kamu tahu restoran di dekat sini, Mas!” tanya Maysa.
“Yang aku tahu ada di sebelah sana. Tidak terlalu jauh, kok. Mudah-mudahan masih ada, sudah lama aku nggak ke sini."
“Ya sudah, kita ke sana saja.”
Mereka semua pun mengikuti Tama menaiki mobil dan menuju restoran terdekat. Begitu sampai pria itu merasa aneh karena restoran ini sangat terkenal. Dulu biasanya sangat ramai. Namun, hari ini tidak ada satu kendaraan pun yang terparkir. Tama berpikir apakah restoran ini sudah tutup. Pria itu pun bertanya pada tukang parkir yang ada di sana.
“Maaf, Pak. Apa restorannya tutup? Tapi itu tulisannya buka.”
__ADS_1
“Restoran memang buka, Pak, tapi hari ini restoran ada yang reservasi sampai acara selesai," jawab tukang parkir.
“Oh begitu, kalau restoran makanan khas Indonesia selain di sini, di sebelah mana, Pak?”
“Kalau restoran Indonesia selain ini agak jauh, Pak. Di sana, setelah lampu merah,” jawab tukang parkir sambil menunjuk arah.
“Bagaimana, Mas?” tanya Maysa yang mendekati sang suami bersama dengan Riri dan Dio.
“Restorannya sudah di reservasi, Sayang. Kita cari restoran yang lain saja, tapi agak jauh kalau mau makanan Indonesia. Di sekitar sini banyak restoran luar, kamu mau nggak?”
“Kamu 'kan tahu kalau aku dan Riri nggak terlalu suka," ucap Maysa dengan lesu. "Tapi nggak pa-palah daripada nggak makan.”
“Kenapa kita nggak cari warung pinggir jalan saja, Kak? Apa di sekitar sini nggak ada?” sela Riri.
“Aku kurang tahu. Ak—“
Tentu saja melihat orang itu membuat semua orang yang ada di sana terkejut. Terutama Riri, yang sudah satu tahun ini tidak bertemu dengannya. Ya, orang itu adalah Adit. Dia datang bersama dengan asistennya.
Banyak sekali perubahan yang terjadi pada pria itu. Sekarang terlihat berwibawa dan tegas. Riri juga merasa ada aura yang berbeda dari diri Adit. Gadis itu tidak berani menatap intens ke arah mantan kekasihnya. Hanya sekilas, tetapi mampu menggetarkan hatinya yang sudah dia coba tutup.
“Pak Adit, Anda ada di sini?” sapa Tama balik sambil melirik ke arah adik iparnya.
“Iya, Pak. Kebetulan saya ada janji di restoran ini,” jawab Adit sambil menunjuk restoran yang ada di depan mereka.
“Jadi Pak Adit yang membuat reservasi di restoran ini?”
“Reservasi? Saya tidak melakukan apa pun. Saya di sini sedang ada pekerjaan dengan rekan bisnis saya, tapi untuk reservasi, saya rasa itu terlalu berlebihan untuk sebuah pekerjaan. Mungkin ada kesalahpahaman, sebaiknya kita masuk saja.”
__ADS_1
“Tapi saya merasa tidak enak, sebaiknya kami cari restoran yang lain saja. Kami takut mengganggu pekerjaan Pak Adit,” sahut Tama.
Pria itu juga tidak tahu bagaimana perasaan Riri. Ibu mertuanya juga pasti akan marah jika tahu mereka makan bersama. Lebih baik menghindar daripada mendapat masalah. Sekarang dia juga tidak tahu kehidupan rekannya ini sekarang.
Melihat penampilan Adit saat ini, rasanya tidak mungkin jika pria itu masih sendiri. Entah memiliki kekasih atau bahkan sudah beristri. Dia tidak mau Riri terlibat masalah seperti sebelumnya.
“Memang Pak Adit mau cari makan di mana? Restoran yang di sebelah sana tadi saya lihat tutup jadi, lebih baik ikut saya masuk. Mengenai rekan kerja saya, nanti biar saya yang menjelaskan. Bagaimanapun juga pasti ada kesalahpahaman antara rekan saya dan pemilik restoran ini. Kami hanya memesan satu ruangan private saja. Ada pekerjaan yang harus kami bicarakan,” sela Adit.
Tama masih ragu untuk mengiyakan ajakan Adit. Adit pun mencoba untuk meyakinkan rekan kerjanya agar ikut masuk ke dalam restoran. Dia sama sekali tidak melihat ke arah Riri karena pria itu tahu jika mantan kekasihnya pasti merasa tidak nyaman.
“Pak Tama 'kan tahu jika Bu Maysa dan adiknya tidak begitu suka dengan masakan luar. Hanya di sini yang tersisa sekarang. Apa Anda akan membiarkan mereka kelaparan, kita masuk saja.”
Tama tidak terkejut mendengar perkataan Adit yang tahu mengenai kesukaan istrinya. Pasti dulu Riri pernah bercerita jika dirinya dan keluarga tidak suka makanan luar. Mungkin juga mereka sering makan bersama.
“Pa, aku sudah lapar,” ucap Dio membuat Tama berpikir dan akhirnya mengangguk.
Tidak ada salahnya untuk ikut masuk ke dalam restoran. Nanti dia akan membayar pesanannya sendiri, tidak mungkin pria itu membiarkan orang lain membayarnya. Tama menggandeng istrinya memasuki restoran, sementara Riri dan Dio mengikuti dari belakang.
Gadis itu sebenarnya tidak ingin ikut. Dirinya sudah berjanji untuk menjauhi Adit. Namun, hari ini mereka dipertemukan kembali. Jika dia pergi begitu saja, itu terlihat tidak sopan. Apalagi kakak iparnya juga terikat pekerjaan dengan Adit.
Riri tidak ingin gara-gara dirinya, pekerjaan Tama jadi berantakan. Akan lebih baik dirinya ikut saja dan nanti dia akan diam. Adit terlihat berbicara dengan pegawai restoran. Menurut keterangan memang benar tempat itu di pesan atas nama rekan kerjanya.
Adit tidak mau ambil pusing karena dia sangat tahu jika rekannya juga termasuk orang kaya. Jadi wajar jika memesan restoran hanya untuk pertemuan bisnis. Namun, ada yang aneh di sini. Terlihat sebuah panggung sudah di dekorasi dengan sedemikian rupa. Para pemain musik juga sudah stand by di sana.
Adit mencoba menepis apa yang dia pikirkan. Mereka semua duduk di salah satu meja yang ada di samping, di dekat jendela. Di tengah-tengah ada satu buah meja dengan dua kursi. Mereka yakin jika itu sengaja dipersiapkan untuk Adit dan rekan kerjanya.
.
__ADS_1
.