
Husna hanya meliht ke arah Adelia yang tersenyum dengan perut yang sudah lumayan membesar itu.
"pasti kaget ya, perkenalkan aku Adelia adik betulan kak Gabriel," kata Adelia.
"adik betulan, maksud nya gimana?" binggung Husna.
"ya kami adik satu ibu satu ayah, kalau si kembar kan beda ayah, gitu loh maksudnya kakak ipar," kata Adelia menjelaskan.
"owh... jadi aku mohon bisa bilang padanya jika dia memilih Puri, tolong untuk melepaskan diriku," kata Husna lagi.
"sulit kakak ipar, kecuali ada pria yang mau menantangnya hidup dan mati, mungkin itu akan bisa," jawab Adelia.
"apa harus sekejam itu," kaget Husna.
"asal kakak ipar tau saja, suamiku, Simon, Siena dan kak Gabriel itu memiliki watak yang sama, sekali punya keinginan maka sulit untuk di tentang," jawab Adelia.
"terus aku harus bagaimana menghadapi dirinya," kata Husna.
"tarik ulur, itu hal paling dasar menghadapi manusia macam kakak ku itu," jawab Adelia.
"bagaimana itu," tanya Husna polos.
"aduh beruntungnya kak Gabriel punya istri seperti ini, gini ya kakak ipar, jangan langsung menunjukkan bahwa ku mencintainya, dan buat dia merasa cinta mu itu tulus dan tak akan dia temukan di gadis lain," jawab Adelia.
Husna hanya mengangguk mendengar semua ucapan Adelia, sedang Daniel sedang di kantin rumah sakit.
"ayolah Gabriel, jangan membuat gadis lemah melihat cintamu pada Puri, lagi pula kau sudah mengikat janji seumur hidup bersama nya, dan kau melukainya, itu bukan sikap pria bung, tapi pengecut," kata Daniel yang membawa kopi untuk Gabriel.
"aku binggung dengan diriku, aku merasa masih mencinta Puri, tapi saat Husna menagis aku merasa hatiku begitu sakit," jawab Gabriel sedih.
__ADS_1
"kalau begitu ikuti kata hatimu, jangan otak mu bro, Karena hati tak akan salah," kata Daniel.
mereka pun meminum kopi, tapi Gabriel melotot saat merasakan kopi miliknya.
"cih kau pesan kopi pahit, kau kan tau aku tak menyukai ini," kata Gabriel.
"sekali-kali rasakan rasa pahit kan gak papa, aku malah empat tahun merasakan tapi tak masalah karena terbiasa," kata Daniel.
"owh berarti Adelia sukses dong mengubah seorang Daniel Sastrawinata," kata Gabriel.
"tentu dia adalah wanita kuat, makanya kenali dan dalami hati istrimu, siapa tau dia bahkan wanita yang mengerikan, ingat itu," kata Daniel menyeringai.
Gabriel tak mengerti dengan apa yang di maksud oleh Daniel, yang Gabriel tau dia harus membujuk Husna bagaimana pun caranya.
mereka pun membelikan beberapa cemilan untuk Husna dan Adelia, sebelum masuk mereka mendengar suara begitu ramai.
"wah kebetulan mereka datang, kak Gabriel Puri ingin mengatakan sesuatu," kata Adelia melotot.
"silahkan bicara, maaf tadi membuatmu dalam masalah karena ku," kata Gabriel yang mendekat ke arah Husna dan menaruh buah untuk istrinya itu.
"maaf," lirih Gabriel.
"aku ingin berangkat ke Surabaya malam ini kak, tadi aku sudah izin kak Husna dan mengizinkan kakak mengantarku, apa kakak mu mengantar ku?" tanya Puri.
"maaf Puri, aku akan menemani istri ku di rumah sakit, aku tak bisa melihat dirinya menangis lagi, maaf kan aku," jawab Gabriel.
"iya kak tidak apa-apa, sekarang aku sudah lebih baik mendengar perkataan mu, kak Husna sekarang jaga pria ini baik-baik ya, aku pergi Semuanya," pamit Puri.
"iya dek, hati-hati ya, jangan lupa pulang saat kak Adelia lahiran dan bawa calon suami ya," kata Adelia.
__ADS_1
"siap kak," jawab Puri.
"Daniel jaga Adelia, dan ingat jangn membut kami bersedih lagi, dasar kau ini," kata Angga menepuk bahu Daniel.
"siap om," jawab Daniel.
Daniel pun menghampiri Adelia, "sayang pulang yuk, aku belum bertemu si kembar," kata Daniel.
"baiklah, kak Gabriel dan kak Husna baik-baik oke, kami pulang dulu, dan kak Husna jika suamimu nakal pukul saja, tak akan ada yang peduli, jadi ingat ya," kata Adelia berpamitan.
"yang sabar bro, orang sabar di sayang istri loh," kata Daniel.
"pergi sana, dasar pasangan gila, pergi cepat," usir Gabriel kesal.
Husna pun sedikit merasa baik sekarang, Gabriel duduk di depan Husna, dan menjewer kedua kupingnya.
"maaf istriku yang cantik," mohon Gabriel.
"iya mas, maaf ya aku terlalu sadis tadi," jawab Husna tersenyum.
"tapi ada satu syarat, apa aku boleh mengajar, itu kesukaan ku," kata Husna.
"tentu tapi di yayasan milik keluarga Utomo ya, asalkan tak boleh dekat dengan pria lain, mengerti," kata Gabriel.
"siap bos, terima kasih dan apa boleh jangan meminta hal mas dulu, sebelum aku yakin aku mencintaimu, dan begitupun sebaliknya," kata Husna sedikit lirih.
"tentu, aku ingin kita menjalani dari awal, hanya kita berdua, jadi bisakah kita memulai lagi," kata Gabriel.
"tentu mas," jawab Husna tersenyum kearah Gabriel.
__ADS_1