Rahasia Suamiku

Rahasia Suamiku
76. Rasa cinta Adit


__ADS_3

“Tunggu sebentar, Kak,” ucap Riri yang segera berdiri mengambil tasnya yang berada di lantai.


Entah kenapa benda itu berada di sana. Dia mengambil dompet dan mengambil foto kecil yang ada di dalamnya. Gadis itu sengaja menyimpannya di tempat yang tidak terlihat agar tidak ada satu orang pun yang mengetahuinya. Tama dan Maysa hanya melihat apa yang adiknya lakukan.


“Ini, Kak,” ucap Riri sambil menyerahkan foto tersebut pada Tama.


Pria itu mengerutkan keningnya saat melihat foto siapa yang ada di tangannya kini. Maysa menatap sang suami, dari ekspresinya pria itu seperti mengenal siapa Adit sebenarnya. Begitu juga dengan Riri yang ikut menatap kakak iparnya. Dia penasaran seperti apa pria yang selama ini dikenalnya.


“Mas, kenal siapa dia?” tanya Maysa sambil menatap wajah sang suami.


“Iya, Sayang. Aku kenal, tapi aku hampir tidak percaya jika Pak Adit bisa bersikap seperti itu. Selama ini beliau terkenal sangat baik pada siapa pun yang dia kenal. Memang dia jarang sekali terlihat bersama dengan istrinya. Apalagi belakangan ini juga sudah tidak pernah lagi bersama, tapi tidak pernah ada gosip yang menerpa keluarga mereka.”


“Mas, kenal baik dengan dia?”


“Iya, cukup baik. Pantas saja kemarin di pernikahan kita dia tidak datang. Dia bilang ada pekerjaan di luar kota. Pasti itu karena dia ingin menghindari Riri.”


“Jika dia memang seperti yang Mas katakan lalu, apa tujuannya untuk mendekati Riri? Jika dia pria yang baik tidak mungkin dia mempermainkan perasaan wanita.”


Tama mengangguk membenarkan apa yang istrinya katakan, tetapi dia merasa ada sesuatu yang tidak diketahuinya.


“Iya, kamu benar, tapi aku rasa ada sesuatu yang terjadi di sini. Pasti Pak Adit juga memiliki alasan, kenapa selama ini dia tidak jujur pada Riri.”

__ADS_1


“Apa pun alasannya, itu tidak dibenarkan, Mas. Laki-laki yang sudah memiliki istri, Tidak sepantasnya untuk menggoda seorang gadis.”


Tama ingin menyela ucapan sang istri. Namun, dia melihat gelengan kepala dari Riri, itu artinya tidak seharusnya dirinya berdebat dengan wanita itu. Akhirnya pria itu pun hanya bisa diam tanpa bisa mengutarakan isi hatinya. Saat itu juga, teleponnya berbunyi. Tertera nama Adit di sana. Hal itu tentu saja membuat Tama terdiam, dia tidak harus tahu harus berbuat apa.


“Kenapa diam saja, Mas? Kenapa tidak diangkat?” tanya Maysa sambil menatap curiga pada sang suami.


“Ini dari Pak Adit, Sayang. Sepertinya dia sudah mendengar apa yang terjadi hari ini. Dia pasti tahu kalau kita sedang berada di sini.”


“Biar aku yang angkat."


“Iya, tapi jangan keras-keras. Ada Mama yang sedang istirahat. Nanti beliau terbangun, malah akan semakin menambah beban pikirannya. Kasihan kalau beliau semakin tertekan,” ucap Tama pada sang istri.


Maysa menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya secara perlahan. Memang benar apa yang dikatakan sang suami. Mama Rafiqah sedang beristirahat. Dia tidak mungkin membuat wanita paruh baya itu kembali kepikiran.


Jika dia yang mengangkat sudah pasti akan terbawa emosi. Lebih baik sang suami yang mengangkat, setidaknya wanita itu bisa mengontrol kata yang akan keluar dari bibirnya. Maysa juga perlu mendengar penjelasan Adit.


Tama mengangguk kemudian menggeser tombol hijau. “Assalamualaikum, selamat sore, Pak Adit.”


“Waalaikumsalam, Pak Tama. Sebelumnya saya mohon maaf jika saya lancang. Anda pasti sudah mendengar apa yang terjadi pada saya dan adik Anda. Saya sungguh-sungguh minta maaf, tapi saya tidak bermaksud untuk mempermainkan perasaan adik Anda. Saya benar-benar mencintai dia, Pak. Mengenai apa yang mantan istri saya lakukan, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya,” ucap Adit yang berada di seberang.


Maysa akan berbicara. Namun, Tama lebih dulu mengangkat telapak tangannya agar sang istri tidak dulu membuka mulutnya. Dia masih perlu mendengar banyak hal dari versi teman bisnisnya itu.

__ADS_1


“Saya cukup terkejut mendengar apa yang terjadi saat ini pada keluarga mertua saya, Pak Adit. Saya penasaran apa yang membuat Pak Adit begitu berani mendekati adik saya. Padahal Anda sendiri masih berstatus suami orang.”


“Anda tentu tahu bagaimana keadaan rumah tangga saya. Saya tidak pernah bahagia, kami menikah karena dijodohkan. Lebih tepatnya pemaksaan karena dari awal saya tidak pernah mencintai istri saya. Namun, demi bisnis keluarga, saya dipaksa agar perusahaan tetap bisa berdiri. Saat itu saya menerima saja karena saya juga tidak memiliki seorang kekasih. Saya pikir dia wanita yang baik karena bagi saya pilihan orang tua tidak akan salah, tetapi saya salah. Dia sangat jauh dari wanita impian saya. Dia suka bersenang-senang dengan teman-temannya, keluar masuk club malam. Dia juga sama sekali tidak melakukan tugasnya sebagai seorang istri dengan baik. Satu tahun pertama, saya masih bisa bersabar. Hingga akhirnya saya mentalaknya. Saya juga sudah memulangkan dia ke rumah orang tuanya. Namun, justru orang tua saya yang marah pada saya. Mereka mengancam akan mencoret saya dari daftar kartu keluarga. Saya sama sekali tidak masalah akan hal itu, tetapi almarhumah mama, melarang saya untuk pergi dari rumah. Demi almarhumah Mama, saya bertahan. Namun, sebelum Mama saya meninggal, beliau berpesan jika saya sudah tidak tahan lagi dengan rumah tangga ini, saya boleh menceraikan istri saya dan memulangkannya. Saya sudah berulang kali mengajukan surat gugatan cerai ke pengadilan, tapi Anda tahu sendiri kekuasaan keluarga Istri saya sangat besar. Sangat sulit untuk melakukannya.”


“Jadi Anda sudah tidak tinggal lagi dengan istri Anda?”


“Tidak, sudah hampir dua tahun saya tidak tinggal dengan mantan istri saya. Saya tinggal di rumah orang tua saya. Meski terkadang wanita itu masih datang, tapi saya tidak pernah menerimanya. Dia masih bersikeras jika saya suaminya."


“Dia masih istri Anda secara hukum.”


“Mungkin di mata orang lain dia masih sah istri saya, tapi bagi saya, dia bukan lagi bagian dari hidup saya.”


“Bagaimanapun Anda menyangkalnya, dia tetaplah istri sah Anda, secara hukum. Alangkah lebih baiknya jika Anda tidak membawa adik ipar saya dalam masalah Anda. Jika tidak, Anda hanya akan memberikan masalah untuknya."


"Sekali lagi saya mohon maaf, Pak. Sungguh saya tidak bermaksud seperti itu. Itulah kenapa saya selama ini menyembunyikan hubungan saya dan Riri dari publik. Saya tidak ingin Riri dalam masalah, tapi untuk melepaskannya begitu saja saya tidak bisa. Adik Anda sudah sangat membuat saya jatuh cinta. Mungkin itu juga yang Anda rasakan pada istri Anda. Mereka dari keluarga baik-baik, sangat pantas untuk diperjuangkan."


"Tapi saran saya, sebaiknya Anda selesaikan dulu masalah Anda dengan istri Anda. Mengenai Riri, jika dia memang jodoh Anda kalian pasti akan dipersatukan. Namun, jika Riri bukan jodoh Anda, sekuat apa pun Anda mengikatnya, dia tetap akan pergi."


"Itulah yang saya takutkan. Saya benar-benar tidak bisa kehilangan dia. Saya sangat mencintai Riri," sahut Adit dengan suara pelan.


.

__ADS_1


.


__ADS_2