Rahasia Suamiku

Rahasia Suamiku
kamu siapa?


__ADS_3

"rimba..." panggil Andhara.


burung elang itu pun hinggap di salah satu batu nisan, tak lama Daniel bersiul dan otomatis rimba langsung terbang kearahnya.


"lepaskan aku, Daddy keterlaluan!" teriak Andhara berontak.


"hei kalian, lebih baik lepaskan wanita itu, karena aku tak menyukai pria yang berbuat kasar pada wanita," suara Daniel mengejutkan semua orang.


"cih siapa kamu, berani ikut campur masalah ini," jawab Ardi.


"tuan anda sudah tua, dan jangan buat diriku harus melawan mu, lepaskan!" bentak Daniel.


para pengawal terkejut mendengar keberanian Daniel membentak Ardi, "kenapa kalian masih diam, bereskan dia!" bentak Ardi.


"baik tuan," jawab dua pengawal yang lain.


keduanya menyerang Daniel, tapi Daniel dengan mudah menangkis dan melumpuhkan mereka.


melihat itu Ardi makin marah dan geram pasalnya Daniel berani melawannya, burung elang itu pun terbang ke arah mobil.


"eyang tunggu di sini ya, Adelia harus memanggil mas Daniel," kata Adelia.


"baiklah Adelia," jawab dari eyang Andini.


Adelia langsung keluar dan berlari menuju keributan di makam itu, Adelia langsung bersiul dan rimba bertengger di tangan Adelia.


Andhara terkejut melihat Adelia yang datang dengan rimba di tangannya, Daniel sedang baku hantam dengan para pengawal Ardi.


"wah lihatlah, seorang pengusaha sukses bisa mengeroyok seorang pemuda yang ingin membantu seorang wanita," kata Adelia sambil mengarahkan ponselnya ke arah Ardi yang tersenyum.


"ini yang di sebut pengusaha internasional, bahkan sikap nya bisa seburuk itu, tuan Ardinata Abraham as Shiddiq, ini sifat yang di miliki yang mungkin tak di ketahui oleh semua orang," kata Adelia.


mendengar itu seorang pengawal langsung mencoba untuk merebut ponsel milik Adelia tapi pengawal itu langsung di serang oleh rimba.


Andhara tak menyangka akan ada orang yang berani membantunya, "semuanya hentikan, aku mohon berhenti!" teriak Andhara.


akhirnya semua orang berhenti, Adelia langsung menghampiri Daniel dan langsung memeluknya.


rimba kembali bertengger di tangan Daniel, Andhara seakan bisa melihat sosok asisten Angga pada pria yang berdiri di samping Adelia.


"Andhara ayo pulang, kau tak seharusnya di sini!" bentak Ardi.

__ADS_1


"tak seharusnya, apa maksud Daddy, berhenti mengatur hidup ku seperti ini, Daddy yang membuatku harus kehilangan suami dan juga putra ku," jawab Andhara dengan membentak.


"kenapa kamu peduli, mereka sudah mati, berhenti jadi seperti Andhara," kata Ardi.


"ha-ha-ha ya aku lupa, aku hanya wanita aib keluarga kan, bahkan setelah kejadian itu Daddy membuangku ke Amerika untuk menjauhkan dan menyembunyikan segalanya dari ku."


Daniel menahan amarahnya, dia ternyata sudah salah sangka terhadap Andhara.


"karena mereka tak pantas dan bersanding dengan keluarga kita, berhenti berontak Andhara," kata Ardi.


"hanya karena ayah seorang asisten dari keluarga Yusman, hingga dua tak pantas menjadi bagian keluarga as Shiddiq, aku ingin lihat bagaimana jika keluarga Shiddiq bangkrut," suara Daniel.


Andhara dan Ardi langsung melihat kearah Daniel, mereka terkejut melihat Daniel dan Adelia yang berdiri berdampingan.


"mas Angga..." lirih Andhara melihat Daniel memiliki wajah persis dengan sang ayah.


"kami siapa?" kata Ardi terkejut.


"aku bayi yang dua puluh tiga tahun lalu yang kau buang, dan tidak di harapkan, aku di sini berdiri di depan mu, kakek..." kata Daniel sambil menyeringai.


Adelia pun tersenyum melihat Ardi yang terkejut, " baiklah nona Andhara anda bisa pergi, karena kami juga harus pergi," kata Adelia mengandeng tangan Daniel.


Daniel dan Adelia meninggalkan tempat itu, Ardi memegangi dadanya seketika, saat kedua orang itu pergi.


Andhara dan para pengawal membawa Ardi ke rumah sakit untik mendapat pertolongan.


sedang Daniel mencium tangan Adelia saat menyetir, "aduh, eyang kok jadi obat nyamuk gini yah," goda eyang Andini sambil tertawa.


mereka pun tertawa dan meninggalkan tempat itu, karena Daniel yakin jika Ardi akan mendapatkan balasannya tapi tinggal menunggu saja.


di Samarinda, trio anak SMA itu baru sampai di perusahaan Utomo, semua orang menunduk hormat saat melihat ketiganya.


mereka pun langsung menuju ke lantai atas untik bertemu Gabriel, tapi sayang nya Gabriel sedang rapat dan masih belum selesai.


Anya tak tau akan kedatangan dari ketiga orang itu, pasalnya dia sedang di toilet saat ketiganya datang.


Danish, Daniyal dan Puri langsung menuju ke kantor milik kakak mereka itu, dan mereka menunggu sambil mengerjakan PR mereka.


Puri selesai terlebih dahulu, "eh aku ke pantri ya, mau buat minum," pamit Puri.


"kenapa repot sih, panggil ob aja lah," kata Danish.

__ADS_1


"terserah dech, sana elu yang panggil mending," kata Puri yang kembali duduk.


"dasar, untung kamu perempuan kalau gak, udah tak jitak paling," kata Daniyal.


Daniyal pun memilih keluar dari ruangan Gabriel dan kaget melihat adegan yang terjadi.


"wah lagi main apa nih, kok gak ngajak?" kata Daniyal dengan wajah masam.


"sejak kapan kamu di sana?" tanya Gabriel yang mendorong Anya.


"ya sejak dari tadi, tapi untungnya bukan Puti yang kelur tadi," kata Daniyal mendekat ke arah Gabriel.


mendengar ada Puri, Gabriel langsung masuk ke ruang kerjanya dan menemui Puri, sedang Daniyal tersenyum mengejek kearah Anya.


"cih, ternyata kau pun sama seperti yang lain suka menggoda, tapi ku ingatkan sekali lagi ya nona Anya, jika ku berani menggoda kakak ku lagi, maka aku bisa membuatmu cacat seumur hidupmu," ancam Daniyal.


Anya ketakutan melihat pria itu dengan tatapan tajam, "ayolah tuan muda, jangan buat dia syok begitu, dia takkan berani, jika tidak aku sendiri yang akan mematahkan tangannya," kata Sagara merangkul Daniyal.


"terserah lu, sekarang minta ob buat minuman untuk kami di ruangan Abang, jangan lama ya," kata Daniyal yang bisa langsung berubah pada Sagara.


"siap tuan muda, oh ya besok kita bisa turun lagi, mau ikut gak?" tanya Sagara.


"boleh, biar gue ajak Danish sekalian," jwab Daniyal sebelum masuk ke ruang kerja Gabriel.


"oke di tunggu," jawab Sagara.


"kau dengar, minta ob membut minuman untuk keempatnya, dan jangan buat kesalahan, mengerti," kata Sagara dengan suara dingin.


"ba- baik asisten Sagara," jawab Anya yang masih sedikit syok dengan sikap Daniyal yang begitu menakutkan.


Daniyal masuk ke ruangan dan malah melihat Danish yang sedang bermain ponsel, dan tak mendapati Puri di sana.


"woi mna Puri, jangn bilang dia hilang ya," kata Daniyal menoyor kepala Danish.


"ah.. brengs*k lu, gue jadi mati nih, tuh mereka lagi milih gaun buat nikah," kata Danish menunjuk dengan bibirnya pada Gabriel dan Puri.


"dasar mereka lupa kita ada di sini," kata Daniyal tiduran di sofa panjang ruangan itu.


"woi kok lu lama sih?" tanya Danish.


"biasanya ada ulet yang tak tau diri, oh ya lusa kita bisa turun min nih, mau ikut gak, bang Sagara juga ikut tuh," kata Daniyal.

__ADS_1


"boleh juga tuh, ikut lah, lama nih gak olahraga," kata Danish.


__ADS_2