
"meski bekerja di pertambangan, dia pasti punya jabatan tinggi," tebak Latifa.
"ayo duduk dulu, appun yang penting halal kan," jawab Husna.
pak Andi bersama beberapa pelayan menyuguhkan minuman dan makanan, Husna pun memberikan kunci mobil.
"oh ya pak Andi, tolong belanjaan saya di mobil di bawa masuk ya," kata Husna sopan.
"baik nyonya," jawab pak Andi.
"ayo silahkan di cicipi, anggap saja seperti rumah sendiri," kata Husna.
"Husna apa kalian hanya tinggal berdua?" tanya Furqon.
"iya mas, tapi keluarga suamiku tinggal di rumah utama di samping rumah ini," jawab Husna.
tak lama ada Danish yang Atang dengan berlari, Husna tak terkejut karena pasti dia sedang berulah hingga lari ke rumah samping.
"dia siapa?" tanya Latifa.
"itu adik ipr ku, biasa mungkin sedang bertengkar dengan saudara kembarnya," jawab Husna.
"Danish Alexander Utomo, kau cari mati hah!" teriak Daniyal.
"Daniyal bisakah jangan berteriak, mbak ada tamu," kata Husna.
"maaf saya tak tau, permisi," kata Daniyal berlari ke lantai atas.
saat Daniyal di atas Danish turun dengan lift dan berlari keluar, tapi langkahnya berhenti saat melihat Gabriel di depan pintu.
"bang Gabriel sudah pulang!" kaget Danish.
"ya kau di sana, jangan lari," kata Daniyal berlari turun dan berhenti saat melihat Gabriel menatap tajam.
Furqon dan Latifa binggung dengan suasana yang tiba-tiba berubah, "mas sudah pulang," kata Husna menyapa Gabriel.
"maaf aku sedikit telat, Sagara kamu bisa masuk keruang kerja ku," perintah Gabriel.
"baik tuan," jawab Sagara.
"dan kalian nanti malam aku ingin berbicara serius, sekarang pulang," kata Gabriel.
"baik bang," jawab keduanya.
Gabriel pun merangkul bahu Husna, dan menghampiri tamu yang datang.
__ADS_1
"maaf jika kalian tidak nyaman, perkenalkan aku Gabriel Harvey Kuncoro, suami Husna," kata Gabriel mengulurkan tangan pada Furqon.
" Abdullah Furqon Wahab, dan ini istriku Latifah Hanum, senang bertemu dengan anda," kata Furqon.
"mari silakan duduk," kata Gabriel.
"oh ya kami mau minta maaf karena tak bisa hadir pada saat pernikahan kalian, dan juga aku tak menyangka jika Husna akan mau ikut bersama suaminya," jawab Latifa.
"iya tak masalah, oh ya apa kamu takut suamimu ini melukaimu," kata Gabriel.
"tidak, dulu aku mengatakan itu karena ingin merawat orang tuaku, tapi sekarang aku hanya perlu berbakti pada suami dan keluarganya," kata Husna.
Gabriel pun tersenyum mendengar jawaban Husna, pak Andi menghampiri Gabriel.
"maaf tuan muda, tuan besar Utomo ingin bertemu debgan anda di ruang belajar utama," kata pak Andi.
"baiklah," jawab Gabriel.
"maaf sepertinya Opa ada pekerjaan penting, aku tinggal dulu, dan kalian mau kan makan malam di sini," kata Gabriel.
"tentu mereka harus makan malam di sini, mau kan," kata Husna dengan senang.
"baiklah, aku tak bisa menolakmu nona," jawab Latifa.
"iya mas," jawab Husna.
Gabriel sudah pergi menuju rumah utama bersama Sagara, Latifa langsung mendekat ke arah Husna.
"Husna suamimu keluarga Utomo?" tanya Latifa.
"iya, dia cucu tertua keluarga Utomo, memang ada apa?" tanya Husna.
"pantas dia begitu berwibawa, ternyata memang bukan orang sembarangan," kata Furqon.
"dia tetap manusia seperti kita, harta hanya titipan, ayo kalian istirahat dulu di kamar," kata Husna menunjukkan kamar utama.
Furqon dan Latifa pun tak bis menolak, Husna pun menuju ke kamar nya untik membersihkan diri.
sedang di rumah utama, dua bocah sedang mendapat hukuman dari pak Jaya, saat Gabriel masuk ke ruang belajar.
"kau datang El, bagaimana proyek pembangunan di Manado?" tanya pak Jaya.
"sesuai rencana Opa, mungkin dua bulan lagi kita sudah bisa memulai perusahaan cabang itu," jawab Gabriel sambil menaruh semua berkas proyek.
"kamu memang cucu terbaik, dan kalian berdua harus belajar dari kakak kalian ini," kata pak Jaya.
__ADS_1
"iya Opa," jawab kedua nya.
"dan bagaimana keadaan perusahaan keluarga Wijaya, apa juga berjalan baik?" tanya pak Jaya.
"tenang Opa, om Bayu melakukan pekerjaannya dengan baik, dan juga aku sudah menaruh semua anak buah terbaikku di sana," kata Gabriel.
"ingat Gabriel, kamu masih muda dan nikmati hidupmu, jangn terlalu sibuk dengan pekerjaan, dan cepat buatkan aku cicit," kata pak Jaya.
"iya Opa, dan semua itu butuh proses, kalau begitu Gabriel pamit ya, karena tadi ada sahabat dari Husna berkunjung," kata Gabriel.
"tentu," jawab pak jaya.
Gabriel pun meminta Sagara untuk pulang karena pekerjaannya sudah selesai, dan kini Gabriel menuju ke kamar Husna.
Husna pun kaget saat keluar dari kamar mandi, dia melihat Gabriel yang tidur di ranjangnya.
"mas kenapa di sini?" tanya Husna.
Gabriel pun langsung duduk dan melihat ke arah Husna, Husna binggung pasalnya mereka sudah sepakat untuk tidur terpisah selama pengenalan.
Gabriel mendekat ke arah Husna, dan langsung memeluknya, Gabriel begitu lelah hari ini.
"biarkan sebentar saja, aku lelah," kata Gabriel.
Husna pun mengusap punggung Gabriel, "mas bisa mandi di sini, dan biar aku ambilkan baju mas, mau kan?" tanya Husna.
"apa kamu masih begitu membenciku, bahkan kamu begitu tak ingin aku menyentuhmu," kata Gabriel sedikit kecewa.
"bukan begitu," jawab Husna.
"maaf aku tak bermaksud membuatmu tak nyaman," kata Gabriel yang meninggalkan kamar Husna.
"kenapa kamu tak pernah bisa merasakan cintaku mas, bahkan kamu adalah pria pertama yang bisa mengetuk pintu hati yang sudah aku tutup rapat," batin Husna.
Husna turun terlebih dahulu saat pak Andi memanggilnya, terlihat Furqon dan juga Latifa juga sudah keluar dari kamar.
"pak Andi, tolong panggilkan mas Gabriel ya," kata Husna.
"baik nyonya muda," kata pak Andi yang memanggil Gabriel.
Gabriel masih merenung dan binggung dengan perasaannya, di satu sisi Husna sudah membuatnya nyaman.
tapi otaknya mengatakan jika cintanya hanya untuk Puri, "aku harus mengikuti kata hatiku atau otakku," batin Gabriel.
mendengar ketukan pintu, Gabriel pun keluar dan bergabung bersama Husna dan juga tamu mereka.
__ADS_1