
“Tapi dengan Anda tetap memaksa untuk dekat dengan Riri, itu justru menyakitinya. Tuduhan sebagai seorang pelakor akan selalu tersemat pada dirinya. Dia sama sekali tidak melakukan apa-apa. Dia juga tidak mengetahui status Anda karena Anda sendiri yang menutupinya, tetapi dia harus menanggung semuanya. Saya sebagai kakaknya juga tidak akan pernah rela jika dia harus menanggung sesuatu yang tidak pernah dia lakukan. Lebih tepatnya tidak dia ketahui. Saya harap Anda mengerti," ucap Tama panjang lebar.
“Saya mengerti maksud Pak Tama ... jika saya dan istri saya sudah bercerai, apa keluarga Riri akan merestui kami?” tanya Adit.
“Setelah apa yang sudah terjadi hari ini, apakah Anda mengira jika kami akan merestui Anda? Saya juga tidak yakin apa Riri masih mau bersama dengan Anda,” ucap Tama sambil melihat ke arah adik iparnya, begitu juga Maysa
Adit terdiam, dia tahu jika kesalahannya sudah sangat besar. Namun, pria itu tidak akan pernah menyerah begitu saja, itu bukanlah dirinya. Adit akan berusaha meyakinkan Riri dan keluarganya jika dia benar-benar mencintai gadis itu, terutama mamanya. Pria itu sangat tahu juga kekasih hatinya sangat menghormati Mama Rafiqah jadi, dia harus mengambil hati wanita itu.
“Saya akan membuktikan, bahwa saya benar-benar mencintai adik Anda.”
“Itu terserah Anda. Saya tidak akan melarang Anda melakukan sesuatu yang Anda inginkan, selama itu tidak merugikan keluarga saya."
“Terima kasih, Pak Tama, atas waktunya. Saya harap Anda dan keluarga mau memaafkan saya dan merestui hubungan saya dengan Riri. Saya tutup dulu teleponnya, sekali lagi maaf sudah membuat masalah. Jika saya sudah kembali dari luar kota, saya akan datang secara langsung untuk meminta maaf. Terima kasih, assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.” Tama mematikan ponselnya dan menatap istri dan adiknya.
Mereka sama-sama terdiam. Bergelut dengan pikiran masing-masing, tidak tahu harus berkata apa. Maysa bisa mendengar ketulusan dari pria itu. Namun, membiarkan adiknya mendapat julukan pelakor, itu tidak mungkin.
Dia tidak akan pernah rela kalau sampai itu terjadi. Apalagi jika sudah ada yang bilang jika Riri menggoda suami orang. Tuduhan itu akan mengikutinya sampai kapan pun jika mereka menikah.
“Sampai kapan pun, Kakak tidak akan pernah menyetujui hubunganmu dengan dia dan Kakak yakin, Mama juga sama sepertiku. Kakak harap kamu mengerti keadaan ini dan tidak lagi berhubungan dengannya," ucap Maysa tanpa melihat ke arah adiknya. Dia tidak tega harus menghakimi Riri yang sebenarnya tidak bersalah.
__ADS_1
“Iya, Kak. Aku juga tidak akan lagi berhubungan dengannya. Aku akan menuruti semua keinginan Mama dan Kakak," jawab Riri pelan dengan menundukkan kepalanya.
“Baguslah kalau seperti itu. Untuk beberapa hari ke depan, jangan datang dulu ke butik. Kamu jaga rumah saja, Kakak takut jika wanita tadi datang dan akan membuat masalah lagi denganmu. Apalagi di rumah ada Mama."
Riri ingin membantah, tetapi benar apa yang dikatakan Kakaknya. Bisa saja wanita tadi datang kembali dan semakin membuat masalah menjadi besar. Apalagi jika sampai membuat Mama Rafiqah kembali merasa bersalah dan bersedih. Hal yang paling ditakutkan oleh Riri.
“Mas, apa kita akan pulang? Aku khawatir Eira dan Dio akan mencariku,” tanya Maysa pada sang suami.
“Tidak perlu, ini sudah hampir magrib, tadi aku sudah bilang sama Lidya, dia pasti bisa diandalkan. Aku juga sebelumnya sudah memperkirakan hal ini, Mama dan Lidya pasti bisa menenangkan anak-anak, mereka juga pasti bisa mengerti. Jika nanti Lidya tidak bisa menenangkan mereka, dia pasti menghubungi kita."
“Ya sudah, Mas mandi dulu, habis itu kita shalat magrib bersama.” Tama mengangguk dan berlalu menuju kamar sang istri yang ada di rumah ini.
“Kamu juga sebaiknya membersihkan tubuhmu, biar ruangan ini kakak yang bersihkan," ucap Maysa pada adiknya.
Kedua kakak beradik itu pun membersihkan ruang tamu yang berantakan. Maysa jadi penasaran jika istri Adit adalah anak seorang pengusaha, apakah dia juga mengenalnya atau mungkin mereka pernah bertemu? Semakin memikirkan hal itu, malah membuat Maysa emosi.
Sebaiknya nanti dia tanyakan lagi pada sang suami. Mungkin Tama tahu seperti apa wajah dari istri Adit. Wanita itu yakin pernah melihatnya karena wajah Adit tidak asing baginya. Setelah semua beres. Maysa dan Riri kembali ke kamar masing-masing untuk membersihkan diri.
Sementara itu, di rumah Eira mencari keberadaan mamanya. Lidya memberi pengertian jika Maysa sedang ada urusan. Awalnya gadis itu masih merengek ingin menemui mamanya. Wanita itu pun berusaha agar membuat Eira tenang. Dio juga tidak lupa membantu adiknya agar mengerti.
Akhirnya gadis kecil itu pun mulai tenang dengan bujuk rayu semua orang. Dio juga selalu berada di samping adiknya agar Eira merasa nyaman dan tidak lagi mencari mamanya. Bahkan saat makan malam pun Dio menyuapi gadis kecil itu, bahkan sampai melupakan jika dirinya belum makan malam.
__ADS_1
Setelah selesai makan malam, Dio menemani adiknya hingga Eira tertidur. Lidya begitu kagum pada keponakannya yang terlihat begitu menyayangi adik tirinya itu. Setelah gadis kecil itu benar-benar tertidur, Lidya mendekati keponakannya. Dia duduk di samping anak itu.
“Dio tadi belum makan malam, kan? Sekarang makan malam dulu, yuk! Tante temenin," ajak Lidya sambil mengusap kepala keponakannya.
“Tapi nanti Eira cari Dio, Tante.”
“Tidak, Eira sudah tidur. Nanti setelah makan, Dio bisa kembali ke kamar.”
Dio melihat adiknya yang masih terlelap kemudian beralih menatap tantenya dan mengangguk. Tidak dipungkiri jika dirinya juga sangat lapar. Lidya mengajak keponakannya menuju meja makan. Di sana masih ada Mama Mirna, sementara suami Lidya sudah pergi ke kamar bersama dengan putrinya.
“Eira sudah tidur?” tanya Mama Mirna.
“Sudah, Tante, baru saja. Makanya aku ajak Dio makan dulu,” jawab Lidya sambil mengambilkan makanan untuk keponakannya. “Tante, apa Dio selalu seperti itu? Maksudnya, apa Dio selalu menyayangi Eira?” tanya Lidya sambil berbisik.
“Iya, Dio memang menyayangi Eira. Kamu tahulah Dio dari dulu selalu ingin punya saudara. Dia juga bersikap seperti orang dewasa.”
Lidya mengangguk, dia memang sudah sering mendengar hal itu. Dia juga kagum pada Dio yang bisa berpikir dan bersikap dewasa. Mungkin jika anak lain, dia akan terpengaruh dengan apa yang Oma Lely katakan. Padahal anak seusai Dio sangat rentan terpengaruh hal-hal yang ada di sekitarnya.
Setelah Dio menghabiskan makan malamnya, anak itu kembali ke kamar. Dilihatnya Eira masih terlelap, dia pun menuju ranjangnya dan tidur di sana sambil melihat ke arah adiknya.
.
__ADS_1
.