
Mobil yang ditumpangi Tama dan Maysa pun akhirnya sampai juga di rumah Mama Rafiqah. Tampak beberapa tetangga masih ada di sana. Wanita itu turun dan berlari memasuki untuk melihat apa yang sudah terjadi. Suasana tampak begitu tegang, tidak ada yang berani mengucapkan satu kata pun.
Rumah begitu berantakan, terlihat mamanya yang duduk di kursi dengan menangis meraung, sementara Riri berlutut di lantai dengan pakaian dan rambut yang acak-acakan. Sungguh Maysa begitu miris melihat keadaan keluarganya seperti ini. Sudut bibir adiknya juga membiru, entah siapa yang sudah melakukannya.
Hati Maysa begitu teriris melihat pemandangan yang dia lihat. Andai saja wanita itu bisa datang lebih cepat, pasti keadaannya tidak akan separah ini.
“Ma,” panggil Maysa yang segera mendekati mamanya.
Wanita itu memeluk Mama Rafiqah yang saat ini wajahnya sudah bersimbah air mata. Meski tidak tahu apa yang sebenarnya sudah terjadi, tetapi Maysa bisa merasakan betapa sakitnya hati sang mama. Mama Rafiqah tidak pernah menangis seperti ini, kecuali saat kehilangan suaminya. Kejadian hari ini sudah pasti sangat menyakitinya.
Dalam pelukan Maysa, Mama Rafiqah semakin menangis dan meraung. Dia merasa seperti seorang ibu yang tidak berguna karena tidak mampu mendidik anaknya. Selama ini wanita itu selalu bangga pada Riri, tetapi hari ini semuanya hancur begitu saja.
Tama yang baru saja masuk ke dalam rumah pun, tidak tega melihat keadaan keluarga mertuanya yang seperti ini. Dia meminta para tetangga untuk meninggalkan rumah ini. Biarlah semua ini menjadi urusan keluarga. Pria itu juga mengucapkan terima kasih pada mereka karena sudah mau membantu.
“Mama malu, May. Mau taruh di mana muka Mama? Bagaimana nanti Mama bertanggung jawab pada papamu karena tidak bisa mendidik anak kami dengan baik. Bagaimana Mama bertanggung jawab pada Tuhan? Mama sering menasehati anak orang, tapi tidak bisa menasehati anak sendiri,” tanya Mama Rafiqah dengan menangis. Maysa mengusap punggung mamanya agar wanita paruh baya itu lebih tenang.
“Mama tenang dulu. Apa pun yang terjadi hari ini, semuanya memang adalah cobaan untuk keluarga kita. Mama adalah wanita yang kuat, pasti bisa menghadapi semua ini dengan mudah. Mama selama ini membesarkan kami seorang diri tanpa bantuan siapa pun. Itu tandanya Mama adalah wanita yang hebat. Papa pasti bangga sama Mama. Apa yang terjadi hari ini adalah cobaan untuk kita, seberapa kuat kita bisa menghadapinya,” ucap Maysa yang masih memeluk mamanya.
“Maafkan aku, Ma. Aku sungguh tidak tahu jika Mas Adit sudah memiliki istri. Aku minta ma—“
__ADS_1
Mama Rafiqah segera mengurai pelukannya pada Maysa. Setiap kali mendengar pembelaan dari putrinya justru semakin membuat hatinya sakit. Dia sangat berharap semua ini hanya fitnah, tapi kenyataannya semua justru menyakitkan.
“Sebaiknya kamu diam! Setiap satu kata yang keluar dari mulutmu, itu sudah sangat menyakiti hati Mama jadi, lebih baik kamu diam saja!” seru Mama Rafiqah sambil memegangi dadanya yang terasa nyeri.
“Ma, sebenarnya apa yang sudah terjadi?” tanya Maysa pelan.
“Dia sudah menggoda suami orang. Tadi ada seorang wanita yang datang, dia marah-marah dan mengatakan kalau Riri sudah menggoda suaminya. Mama juga nggak percaya pada wanita itu. Mama pikir pasti itu hanya salah paham saja, tapi saat Mama tanya pada adikmu ini, ternyata benar adikmu telah dekat suami wanita itu,” ujar Mama Rafiqah sambil menunjukkan ke arah putrinya.
“Aku tidak bermaksud menggoda suami orang. Aku tidak tahu kalau Mas Adit sudah memiliki istri. Dia juga tidak pernah mengatakannya,” ujar Riri sambil menangis sesenggukan.
Sampai di sini Maysa mulai mengerti jika Adit lah yang dimaksud oleh Mama Rafiqah. Dia juga tidak bisa menyalahkan Riri. Wanita itu tahu jika adiknya tidak mungkin berbohong. Jika Gadis itu bilang tidak tahu maka itulah kebenarannya.
“Mama malu, May," sela Mama Rafiqah.
“Sudah, sebaiknya kita bicarakan semuanya dengan baik-baik. Walaupun Mama marah keadaan juga tidak bisa kembali seperti semula. Kita harus melewati semua ini sama-sama.”
Saat keadaan sedang tegang seperti ini, ponsel Riri yang berada di kamar berdering. Gadis itu sama sekali tidak beranjak. Dia sudah sangat tahu siapa yang sudah meneleponnya karena Riri sudah mengatur nada dering khusus untuk panggilan itu. Siapa lagi pelakunya jika bukan Adit.
“Kenapa kamu diam saja? Kenapa tidak diangkat teleponnya? Apa itu dari Pria beristri itu?” Riri mengangguk dengan pelan.
__ADS_1
Mama Rafiqah yang kembali emosi pun segera masuk ke dalam kamar Riri. Dia melempar ponsel itu berkali-kali hingga benda itu benar-benar hancur. Maysa dan adiknya hanya diam membiarkan Mama Rafiqah meluapkan emosinya. Riri juga sudah tidak peduli apa pun yang dia miliki. Asalkan mamanya mau memaafkan dirinya. Gadis itu juga siap menerima hukuman dari mamanya.
“Sekarang kamu pilih, mau tetap di rumah ini dengan aturan Mama atau kamu masih ingin bersama dengan pria itu. Kalau kamu memilih pria itu, kamu harus pergi dari rumah ini. Mama tidak mau hidup bersama dengan seorang pelakor.”
“Aku tidak mau pergi dari rumah ini. Apa pun yang Mama inginkan aku akan menurutinya, asal jangan usir aku pergi dari rumah ini,” ucap Riri dengan air mata yang semakin deras.
“Baguslah, kalau begitu mulai hari ini kamu di rumah saja, tidak usah bekerja lagi. Biar Mama yang bekerja, Mama tidak mau melihat kamu bertemu dengan pria mana pun dan siapa pun."
Semua orang terkejut mendengarnya. Mereka tidak menyangka dengan apa yang sudah menjadi keputusan Mama Rafiqah. Terutama Maysa, dia selama ini sangat mengenal mamanya yang lemah lembut, kini terlihat seperti orang lain. Dia tahu jika wanita paruh baya itu sedang dikuasai emosi.
“Selama ini Mama selalu memberi nasehat pada kami. Kalau kami tidak boleh membuat keputusan di saat kita sedang marah karena saat itu, kita sedang dikuasai oleh setan. Sebaiknya kita pikirkan masalah ini nanti saja, saat semuanya sudah tenang. Sekarang lebih baik Mama istirahat saja. Nanti Mama malah sakit," ucap Maysa yang mencoba untuk menenangkan Mamanya.
“Tidak, May. Keputusan Mama sudah bulat. Mama tidak mau nanti akan semakin menanggung malu dengan apa yang dilakukan adikmu. Lebih baik Mama yang bekerja keras, daripada kita mengalami apa yang baru saja terjadi. Pasti wanita itu merasa sedih karena suaminya bermain api dengan wanita lain," ujar Mama Rafiqah yang semakin membuat Riri merasa bersalah. Gadis itu pun menundukkan kepala untuk menyembunyikan air matanya.
"Sebaiknya sekarang Mama istirahat dulu. Biar aku yang bicara sama Riri. Nanti kita bicara lagi, mengenai apa yang harus kita lakukan selanjutnya." Maysa membawa mamanya ke kamar agar wanita paruh baya itu bisa beristirahat. Dia juga menunggu hingga Mama Rafiqah benar-benar tertidur.
.
.
__ADS_1