
Adelia terus mencari sosok suaminya yang tak terlihat, Adelia tak bisa menemukan pria yang sangt dia cintai itu.
Adelia langsung berlari menuju ke arah Gabriel yang masih terpukul dan terus menangis di samping peti.
"bang, suamiku kemana? bang kamu kan bersamanya? mana dia bang," kata Adelia sambil memukuli dada Gabriel.
"Adelia ikhlaskan dia, dia sudah tenang di sana..." lirih Gabriel.
Adelia menghentikan aksinya dan mundur sambil melihat peti mati yang berada di samping Gabriel.
"tidak, tidak, dia tak mungkin meninggalkan ku, bagaimana aku harus hidup dengan bayiku tanpa ayahnya!" teriak Adelia seketika.
Bu Lestari langsung memeluk Adelia yang histeris, "Adelia tenang nak, ada ibu di sini," kata Bu Lestari lembut.
"ibu suruh dia bangun Bu, aku tak mungkin bisa hidup tanpa nya Bu," kata Adelia histeris di pelukan ibu lestari.
Ali hanya bisa diam melihat wanita yang dia cintai sedang berduka, pasalnya dia di hubungi karena ada kejadian pembunuhan yang sudah di rencanakan.
tapi dia tak menyangka akan bisa melihat Adelia yang terpuruk, Bella pun membantu Bu lestari untuk menenangkan Adelia.
setelah selesai menyolatkan jenazah, mereka pun membawa nya menuju ke tempat pemakaman umum.
Adelia masih begitu terpuruk bahkan sekarang dia tak bisa menangis lagi karena terlalu syok atas kejadian itu.
Adelia terus memeluk foto Daniel yang di bawanya, saat sampai di pemakaman terlihat Andhara sudah berada di sana.
prosesi pemakaman segera di lakukan, Adelia kembali histeris saat melihat jenazah Daniel di makamkan.
"ibu, mereka tak boleh mengubur suamiku ibu, ibu kak Daniel tak boleh!" teriak Adelia yang berlari ke arah peti mati itu dan memeluknya.
"Adelia ikhlaskan nak, kami bersama mu, jangan seperti ini kasihan Daniel nanti," kata Bella dan Billy.
"tidak! mereka tidak boleh memakamkan suamiku, aku ingin bersamanya, jika kalian ingin menguburnya, maka kubur aku bersama dirinya," jawab Adelia membentak.
Gabriel langsung menarik Adelia dan menamparnya, semua orang terkejut melihat kemarahan Gabriel.
"cukup kau seperti ini, kasihan jenazahnya jika tak kunjung di makamkan!" bentak Gabriel.
Adelia kemudian hanya bisa menangis di pelukan Bu lestari, sedang Bella menahan Gabriel yang sedikit marah.
__ADS_1
prosesi pemakaman berjalan lancar, Andhara mendekat ke arah Adelia karena ingin tau kebenaran, tapi di halangi oleh Agung.
"kau puas bisa menyaksikan pemakaman putra mu dan Angga, aku harap mulai sekarang kau dan juga ayah mu yang sukses itu bahagia," kata agung yang langsung mengajak Bu lestari dan Adelia pergi.
Andhara terduduk dan berteriak saat tau ini adalah pemakaman dari putranya yang sudah dia cari selama ini.
semua sedang menyiapkan pengajian, kakek Yudha mendekat kearah Adelia dan memberikan sesuatu.
"ini adalah giok yang pernah aku miliki saat menolong sahabat baikku, semoga sekarang ini bisa menjagamu dan juga calon bayimu," kata kakek Yudha.
"terima kasih kek..." lirih Adelia tak bersemangat.
Adelia sekarang seperti mayat hidup, dia akan makan sedikit jika di paksa, dan hanya berdiam dan menangis sambil memeluk foto Daniel.
tubuhnya makin kurus dan lemah, sudah tujuh hari dari kematian Daniel dan Adelia makin terpuruk.
Gabriel menghampiri Adelia di kamarnya, bahkan terlihat Adelia mengunakan baju milik Daniel dan foto pun tak pernah lepas dari pelukannya.
Gabriel begitu sedih melihat Adelia yang tak punya semangat hidup lagi, bahkan tatapan mata Adelia begitu kosong.
"Adelia... maafkan Abang yang tak bisa menjaga suamimu, kejadiannya terlalu cepat, tiba-tiba Rafa datang dan menusuk punggung Daniel, dan parahnya pisau itu sudah di lumuri racun," kata Gabriel sambil menahan tangis.
Gabriel menangis karena adiknya bahkan tak ingin berbicara dengan dirinya, "kalau begitu kakak pergi," kata Gabriel meninggalkan kamar Adelia.
Gabriel begitu terpukul melihat adiknya, tak lama Ratih datang dengan marah ke kediaman Kuncoro.
"keluarga pembunuh keluar kalian! temui aku, aku ingin menuntut balas!" teriak Ratih.
semua orang keluar dari rumah dan menemui Ratih yang ternyata membawa preman sebagai pengawalan.
"ada apa ini Tante, siapa yang Tante bilang pembunuh, itu putra Tante yang menyebabkan adik ipar ku kehilangan nyawanya, dan Daniel hanya melindungi dirinya," kata Gabriel.
"kau kira aku tak tau, selama ini kalian sengaja ingin membunuhnya karena ingin menguasai harta Wijaya, dan pria itu terus mencoba melukai putraku, dasar pria bi*d*b," maki Ratih.
"tutup mulut anda, atau aku akan merobek mulutmu saat ini!" teriak Lestari tak terima putranya di hina.
tak di duga Adelia yang mendengar semua keributan mengambil pedang yang terpajang di dinding kamarnya.
Adelia keluar dari rumah sambil membawa pedang itu dan langsung mengarahkan ke depan Ratih, Daniyal dan Danish serta JK langsung berdiri melindungi Adelia
__ADS_1
Bu Lestari tersenyum karena Adelia sudah siap menjadi putri keluarga Sastrawinata, sedang Bella dan yang lain terkejut melihat Adelia.
"sekali lagi kau menghina suamiku dengan mulut sampahmu, aku bisa membunuh mu Sekarang," ancam Adelia.
"lakukan jika kau bisa," kata Ratih mengejek.
semua preman ingin menyerang Adelia tapi langsung berhadapan dengan Daniyal, Danish, JK dan Gabriel.
meliht itu Ratih pun mundur, Billy akan membantu tapi Adelia memberi isyarat untuk tetap diam.
"dulu kau membuat kami kehilangan bayi kami, dan sekarang kau membuat kami kehilangan ayah dan juga suamiku, maka yang pantas untuk mu adalah maut!" bentak Adelia.
melihat perubahan Adelia yang begitu kejam, Ratih ketakutan hingga ingin berlari, tapi dia tersandung dan terjatuh.
"aku mohon ampuni aku, jangan membunuhku, kau juga seorang ibu, bagaimana jika putramu di habisi, pasti akan melakukan yang aku lakukan," mohon Ratih.
Adelia menancapkan pedangnya ke kaki Ratih, seketika Ratih kesakitan dan darah mengucur deras dari luka itu.
Adelia menahan rahang Ratih dan memaksa Ratih menelan beberapa butir pil yang pernah Daniel tunjukkan padanya.
"sekarang nikmati balasan mu," kata Adelia yang dengan santai menarik pedang itu.
Ratih pun kembali berteriak kesakitan, Adelia pun menyeret pedangnya dan saat di depan Bu Lestari.
Adelia tersenyum sebelum jatuh pingsan, Bu Lestari sigap langsung menahan tubuh lemah Adelia.
"papa cepat bawa Adelia ke rumah sakit," panik Bella.
keempat pria itu membereskan kekacauan di rumah, sedang para orang tua menunggu keadaan Adelia yang di larikan ke rumah sakit.
setelah mendapat pertolongan pertama, dokter menghampiri keluarga Adelia.
"keluarga pasien?" panggil dokter.
"kami dok," jawab Billy yang mendekat bersama Bella dan Bu Lestari.
"kondisi pasien sangat lemah dan juga kekurangan gizi, tapi beruntung kandungannya baik-baik saja," kata dokter.
semua orang bersyukur atas kesehatan dari Adelia, meski dia harus menginap di rumah sakit beberapa hari.
__ADS_1