
Setelah berbicara panjang lebar dengan Mama Rafiqah, Riri masuk kembali ke dalam kamarnya. Ternyata sang suami sudah selesai mandi. Pria itu pun sudah tampak sangat siap dengan pakaian santainya. Tampil santai begini saja Adit sudah menarik, apalagi rapi seperti tadi. Riri tidak tahu berapa banyak wanita yang sudah mendekati suaminya.
"Kamu sudah siap, Mas? Tadi aku sudah bilang sama Mama, kalau kita mau jenguk Papa Dimas. Mama juga tidak keberatan, sebaiknya kita pergi sekarang," ucap Riri.
Adit berdiri dan mendekati sang istri. "Iya, kamu sudah siap memangnya? Sekalian kita bilang sama Mama kalau nanti, kita langsung ke gedung resepsi. Mengenai Mama Rafiqah, biar nanti sama asistenku. Dia aku suruh tunggu di sini."
"Apa itu tidak merepotkan dia, Mas?" tanya Riri yang merasa tidak enak pada asisten sang suami. Dia saja tidak mengenal siapa pria itu, tetapi malah menyuruh seenaknya.
"Tidak apa-apa, dia memang bekerja denganku dan aku yang sudah memintanya untuk mengantar Mama Rafiqah nanti. Kalau Mama takut sendiri, nanti bisa bawa saudara yang lain."
"Iya, nanti aku bilang sama Mama. Ini sudah siap semuanya, ayo kita berangkat!"
Keduanya pun keluar dari kamar menuju ruang keluarga di mana beberapa kerabat juga berkumpul di sana. Tidak lupa juga Adit membawa tas yang berisi gaun pengantin Riri. Mereka berpamitan pada Mama Rafiqah dan menyampaikan apa yang Adit katakan tadi. Namun, wanita paruh baya itu menolak.
Nanti Mama Rafiqah akan pergi bersama dengan Maysa dan Tama. Itu memang rencana sejak awal. Akhirnya Adit pun meminta asistennya untuk pulang saja karena sudah ada, yang akan mengantar Mama Rafiqah nanti.
Adit dan Riri pun meninggalkan rumah. Keduanya menaiki mobil dan menuju rumah sakit, di mana Papa Dimas sedang dirawat. Mama Rafiqah hanya memandangi kepergian anak dan menantunya. Wanita paruh baya itu kembali masuk rumah.
"Si Riri sama suaminya mau ke mana, Kak? Mereka bukan mau ke tempat resepsi, kan? Ini masih lama sekali kalau sampai acara resepsi nanti malam," tanya kerabat Mama Rafiqah.
"Tidak, mereka mau ke rumah sakit, mau jenguk papanya Adit. Tadi malam saat acara pengajian papanya pingsan dan dibawa ke rumah sakit. Makanya tadi beliau tidak bisa datang," jawab Mama Rafiqah dengan tenang.
"Sakit kenapa, Kak? Jangan bilang dia sebenarnya nggak setuju kalau Adit menikah dengan Riri, makanya sampai sakit begitu?"
"Insya Allah tidak, Pak Dimas sudah menyetujui pernikahan Riri. Beliau memang sedang kurang sehat saja. Ditambah memikirkan pernikahan putranya jadi, makin drop. Setiap orang tua pasti akan kepikiran kalau anaknya menikah, kan?"
Mama Rafika tersenyum menanggapi ucapan para kerabat. Dia tahu jika itu hanyalah rasa iri yang mereka miliki. Wanita paruh baya itu pun tidak mau ambil pusing. Biarlah mereka bicara apa, yang penting anak-anaknya dalam keadaan baik-baik saja.
"Kita pulang ke rumah dulu, ya, Sayang? Mau ambil ponselku yang ada di sana," ucap Adit saat mereka sedang dalam perjalanan.
Riri segera melihat ke arah sang suami dan bertanya, "Jadi ponsel kamu masih di rumah, Mas?"
Wanita itu mengira jika Adit sudah memegang ponselnya, tetapi ternyata belum. Pantas saja sudah dari tadi pria itu tidak tampak mengotak-atik ponsel. Padahal sebelumnya setiap ada kesempatan, sang suami pasti akan selalu memainkan ponselnya. Entah membalas pesan klien atau melihat email yang dikirim oleh asistennya.
__ADS_1
"Memang masih di rumah, Sayang. Aku dari semalam belum pulang sama sekali. Tadi pagi saja asistenku yang bawa baju buat nikahan ke rumah sakit. Ini juga nanti sekalian mau ambil baju buat resepsi."
Riri mengangguk dan tidak bertanya lagi. Adit memang orang yang sibuk, dia harus membiasakan diri seperti dulu saat mereka bersama. Bedanya sekarang, sudah tidak ada kebohongan lagi diantara keduanya. Riri juga sudah berpesan jika dirinya tidak ingin ada kebohongan sedikit pun.
Adit mengiyakan semua permintaan sang istri. Pria itu juga sudah tidak memiliki rahasia apa pun dan tidak ingin memiliki rahasia. Memang setelah kejadian 'itu' dia sudah tidak pernah menyimpan apa pun. Kehidupannya selalu terbuka pada orang terdekatnya.
****
Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Maysa. Wanita itu pun segera melihat siapa kira-kira yang sudah mengirim pesan. Ternyata adalah mantan mertuanya. Sebenarnya dia sudah sangat malas jika berurusan dengan keluarga mereka. Selalu ada saja yang tidak penting untuk dibahas.
"Pesan dari siapa, May?” tanya Tama, saat melihat ekspresi wajah sang istri seperti tidak bersahabat.
"Dari Omanya Eira, Mas. Dia mengundang kita untuk datang di acara empat puluh harinya adik Eira."
"Nggak ada salahnya, kan. Kalau kita datang ke acaranya?"
"Mas, tahu sendiri kalau kita datang, pasti nantinya akan ada masalah. Kemarin saja saat acara duka, ada saja yang menuduh kita meracuni pikiran Eira. Bagaimana besok!"
"Kita tidak perlu memikirkan ucapan mereka. Itu juga pasti hanya sebentar. Mungkin Eira juga ingin datang, kasihan dia," ucap Tama yang sebenarnya juga ragu.
"Iya, Mas. Nanti aku tanyakan dulu sama Eira, dia mau datang atau tidak."
Tama mengangguk, Maysa pun membalas pesan mantan mertuanya. Jika dia harus menanyakan dulu pada Eira, entah anak itu mau atau tidak. Maysa tidak mau mengambil keputusan sendiri, bagaimana jika nantinya Eira menolak untuk datang. Wanita itu tidak mau memaksa putranya.
"Aku keluar dulu, ya, Mas. Mau bantuin yang lain beres-beres," ucap Maysa yang diangguki oleh Tama.
Anak-anak sendiri, entah di mana keberadaannya. Mungkin sedang bermain dengan kerabat yang lain. Di samping rumah terdengar begitu ramai dengan suara anak-anak. Maysa sedang jika mereka bisa berbaur.
"Mama, lagi buat apa?" tanya Maysa saat melihat mamanya sedang sibuk di dapur.
"Lagi buatin kopi untuk om kamu. Kasihan dari tadi pagi belum ada yang bikinkan kopi. Biasanya dia selalu minum kopi pagi-pagi sekali."
Maysa mengangguk sambil melihat ke sekeliling. Hanya tinggal beberapa kerabat, yang lainnya banyak yang sudah pulang. Pasangan pengantin juga tidak tampak. Padahal tadi sebelum dia masuk kamar, keduanya ikut berbincang dengan yang lain.
__ADS_1
"Riri mana, Ma? Tidak kelihatan."
"Baru saja pergi ke Rumah Sakit, jenguk mertuanya," jawab Mama Rafiqah tanpa melihat ke arah Maysa. Dia sibuk mengaduk kopi yang dibuatnya.
"Jenguk mertuanya? Ayahnya Adit?"
"Memang kamu pikir mertuanya Riri siapa lagi? Ya, cuma papanya Adit."
"Papanya Adit kenapa, Ma? Kok, tiba-tiba saja sakit? Padahal sebelumnya tidak ada kabar apa pun. Riri juga nggak pernah bilang kalau mertuanya sakit."
"Riri juga baru tahu tadi. Dia bilang katanya semalam setelah pengajian, papanya Adit pingsan dan saat di rumah sakit, ternyata tekanan darahnya rendah. Mungkin terlalu banyak kepikiran, beliau juga kurang tidur. Maklumlah, para orang tua pasti khawatir saat anaknya akan menikah. Cuma papanya Adit mungkin selama ini ditahan, jadinya sekarang sakit."
Maysa mengangguk. "Pantas saja tadi aku cari papanya adik, nggak ada. Ternyata sakit, jangan kan orang tua, aku saja sebagai seorang kakak kepikiran saat Riri menikah. Beda banget sama yang waktu aku nikah sendiri," ucap Maysa, yang tiba-tiba mengingat dirinya beberapa hari ini yang sulit tidur.
"Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Sebaiknya kamu cuci piring itu, Mama mau ke depan, mau antarin kopi buat om kamu." Mama Rafiqah segera keluar dengan membawa segelas kopi.
Maysa pun melakukan apa yang diminta mamanya tadi. Dia mencuci semua piring bekas kue dan suguhan lainnya. Untung saja makanannya dari catering jadi, tidak terlalu banyak piring yang harus dicuci karena semuanya juga dari catering-nya.
"Tante mana, Ma? Di kamarnya nggak ada," tanya Eira yang baru saja masuk dapur.
"Tante Riri sudah pergi sama Om Adit. Papanya Om Adit sedang sakit jadi, Tante Riri mau jenguk ke sana. Memang ada apa? Kenapa Eira cari tante? Apa ada sesuatu yang penting?"
"Aku mau lihat gaun pengantin punya tante. Tadi pagi tante janji mau lihatin gaunnya, kenapa malah pergi sekarang?" ucap Eira dengan cemberut. Dia kesal karena Riri sudah mengingkari janji.
"Tante Riri bukannya nggak mau memperlihatkan gaunnya sama kamu, tapi Eira tahu sendiri, kalau tante sedang menjenguk papanya Om Adit yang lagi sakit. Semuanya juga di luar perkiraan Tante Riri jadi, Eira mengerti, kan?"
Eira mengangguk meski wajahnya tetap cemberut. Dia sudah sangat bersemangat, tetapi sekarang malah gagal.
"Padahal Eira sudah lihat waktu masih di butik Mama, kenapa masih ingin tahu saja?"
"waktu di butik Mama 'kan belum jadi sempurna. Sekarang beda lagi."
.
__ADS_1
.