
Waktu terus berjalan, tidak terasa kini sudah satu tahun usia pernikahan Tama dan Maysa. Hingga saat ini, keduanya pun tidak pernah diterpa gosip mengenai orang ketiga atau lainnya. Anak-anak juga terlihat semakin hari semakin bahagia dan saling menyayangi satu sama lain.
Terkadang juga Dio dan Eira bertengkar, tapi masih dalam batas wajar. Setelah itu mereka berbaikan kembali, tentu saja Dio yang lebih dulu meminta maaf. Meskipun Eira yang salah.
“Sayang, kenapa lama sekali di kamar mandinya?” tanya Tama sambil mengetuk pintu kamar mandi.
Sudah dari tadi Maysa mandi. Namun, tak kunjung keluar juga. Padahal biasanya dirinya yang mandi lebih lama daripada sang istri. Pintu kamar mandi terbuka, tampak Maysa menundukkan kepalanya. Tama pun menjadi heran, apa yang membuat istrinya seperti itu.
“Ada apa, Sayang? Apa terjadi sesuatu tadi di kamar mandi? Kamu jatuh?” tanya Tama sambil memperhatikan seluruh tubuh Maysa yang dijawab gelengan oleh sang istri dan itu membuat Tama semakin khawatir.
“Lalu, ada apa?”
“Aku datang bulan lagi, Mas,” jawab Maysa pelan dengan mata berkaca-kaca.
“Memangnya kenapa kalau kamu datang bulan?” tanya Tama dengan wajah bingungnya.
“Itu artinya aku belum hamil juga. Padahal kita sudah satu tahun menikah,” jawab Maysa dengan nada sedih.
“Memang itu belum rezeki kita, Sayang. Kamu harus bersabar. Akan ada saatnya kamu bisa mendapatkan rezeki itu, bukan saat ini.”
“Tapi, ini sudah satu tahun, Mas.”
“Banyak di luar sana yang bertahun-tahun baru memiliki anak. Lagi pula kita juga sudah memiliki dua anak. Mungkin Tuhan memberi waktu pada kita agar lebih menyayangi Dio dan Eira.”
“Tapi aku merasa bersalah saja sama Mama karena belum bisa memberikannya cucu.”
“Memang Mama selama ini selalu mendesak kamu buat segera kasih cucu?”
“Nggak, cuma setiap kali ada anak bayi, Nama terlihat begitu senang. Makanya aku juga ingin membuat Mama bahagia.”
Tama menghela napas sambil menatap istrinya. Maysa selalu merasa tidak enak pada orang lain. Padahal dia yakin jika mamanya sama sekali tidak mempermasalahkan kehadiran bayi. Bagi Mama Mirna Dio dan Eira juga sudah cukup.
__ADS_1
“Aku rasa semua orang merasa senang saat melihat anak bayi. Kamu tidak harus seperti itu, kamu bisa membesarkan anak kita dengan baik, itu sudah cukup. Jangan terlalu memikirkan yang lain. Kita sayangi saja dulu anak kita.”
“Apa kamu nggak kecewa sama aku?”
“Nggak, aku nggak pernah kecewa. Jika Tuhan memberi kita rezeki, aku akan menerimanya dengan senang hati, tapi jika belum, kita harus mensyukuri apa yang sudah kita miliki dengan cara menyayangi dan merawat yang kita miliki dengan baik.”
“Iya, Mas. Maafkan aku sudah terlalu berlebihan.”
“Tidak, aku mengerti bagaimana perasaanmu. Sudah, ayo kita turun! Anak-anak sudah pasti menunggu kita,” ajak Tama.
Maysa mengangguk dan keluar bersama dengan sang suami menuju ruang makan. Di sana semua orang sudah berkumpul, bersiap menikmati sarapan. Eira juga terlihat tidak sabar untuk segera menikmati hidangan.
“Papa sama Mama lama sekali. Aku sudah lapar,” gerutu Eira dengan cemberut.
“Iya, maaf. Tadi Mama lagi buang air besar, makanya lama. Sekarang Eira mau makan apa? Biar Mama ambilkan.”
“Aku sudah ambil sendiri, Ma."
“Wah! Pintarnya anak Mama. Kak Dio juga sudah ambil makan?”
“Ayo, baca doa dulu! Sekarang Kak Dio yang pimpin doa.”
Mereka pun membaca doa dan segera menikmati sarapan pagi. Setelah itu, Maysa mengantar anak-anak ke sekolah dan berencana akan ke butik, sementara Tama pergi ke kantor. Sepanjang perjalanan menuju sekolah, Dio dan Eira hanya saling diam. Biasanya kedua anak itu selalu berceloteh, terutama Eira.
Maysa merasa aneh dengan kedua anaknya. Dia menebak jika kedua anaknya tengah bertengkar, tetapi karena apa? Selama ini, apa pun masalah mereka, semua terselesaikan dengan cepat. Wanita itu berpikir jika masalah kali ini cukup serius.
“Aduh, sepi banget mobilnya. Kenapa pada diam-diam, nih? Nggak mau cerita sesuatu sama Mama?” tanya Maysa dengan pandangan masih ke depan.
Kedua anak itu masih terdiam, tidak ada yang menjawab satu kata pun. Maysa mencoba memancing mereka. Namun, mereka masih terdiam, tanpa mau menimpali ucapan mamanya.
“Eira, kenapa diam? Dio juga kenapa diam? Apa kalian sedang bertengkar?” tanya Maysa. Namun, keduanya masih tetap diam.
__ADS_1
Wanita itu pun menghentikan mobilnya di tepi jalan, membuat Eira menatap sekeliling, sementara Dio hanya diam saja. Biarlah jika hari ini kedua anaknya terlambat, asal dia tahu masalah sebenarnya. Wanita itu tidak akan bisa tenang jika belum mengetahui masalah yang sebenarnya.
“Kenapa berhenti, Ma? Kan belum sampai sekolah?” tanya Eira.
“Kenapa kalian saling diam?” tanya Mama Maysa tanpa menjawab pertanyaan putrinya.
“Nggak pa-pa, Ma.”
“Nggak pa-pa, tapi kenapa saling diam? Ini bukan anak-anak Mama. Kalian biasanya akan banyak bicara dan saling bercanda. Ini dari rumah tadi sampai sekarang tidak ada pembicaraan sama sekali. Ada apa?" tanya Maysa dengan wajah tenang. Justru itu membuat Eira takut. Gadis kecil itu tahu jika mamanya sedang marah.
"Kemarin Papa Rafka telepon aku, Ma. Papa bilang mau ngajak aku liburan, tapi sama Kak Dio nggak boleh," jawab Eira pelan dan menundukkan kepalanya.
Maysa terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh putrinya. Dia mencoba mengingat beberapa hari ini wanita itu sama sekali tidak mendapatkan telepon dari Rafka. Dari mana Eira bisa menelepon papanya?
"Eira, telepon Papa di mana?"
"Kemarin aku pinjam ponsel Tante Lidya. Aku cari nomor papa."
Maysa melihat ke arah Dio yang masih melihat keluar jendela anak itu enggan menatap dirinya dan Eira. Dia tahu perasaan Dio karena wanita itu juga merasakannya. Namun, Maysa tidak mungkin melarangnya.
"Memangnya Eira mau liburan sama Papa Rafka?" tanya Maysa membuat Dio menatap mamanya.
Awalnya anak itu berharap jika mamanya akan melarang Eira pergi, tetapi sekarang Maysa malah bertanya. Dia sudah sangat tahu arti dari pertanyaan itu.
"Aku mau, Ma. Setiap tahun aku selalu pergi sama Mama. Sekarang aku boleh pergi sama Papa Rafka, kan, Ma?"
Dio menggeleng ke arah mamanya. Berharap wanita itu melarang Eira untuk pergi. Namun, Maysa tidak sampai melakukan hal itu, ingin egois dengan menolak keinginan putranya.
"Kita bicarakan nanti sepulang sekolah, tapi Ingat kalian tidak boleh marah-marahan lagi. Mama nggak suka lihatnya."
Eira mengangguk dengan pelan, sedangkan Dio masih diam. Sepertinya mulai hari ini anak itu harus berusaha untuk dirinya sendiri. Semua pun mengiyakan saja tanpa banyak bertanya. Maysa kembali melajukan mobilnya menuju sekolah ansk-anak.
__ADS_1
.
.