Rahasia Suamiku

Rahasia Suamiku
136. Calon?


__ADS_3

Aldo dan Erik sama-sama terkejut, mendengar ucapan dari pria itu. Bukankah suami Maysa adalah Rafka. Keduanya juga sempat hadir di acara pernikahan itu, tetapi kenapa sekarang pria lain yang menjadi suaminya. Apa saja yang sudah terjadi pada wanita itu yang tidak Aldo ketahui.


"Bukankah suami Kak Maysa itu namanya Rafka?" tanya Erik yang sangat penasaran.


Aldo hanya memandangi Tama tanpa bertanya apa pun. Pria itu masih syok dengan apa yang dia dengar. Meski dalam hati rasanya sangat penasaran, ingin tahu apa saja yang sudah dialami Maysa selama ini. Aldo memang tidak tahu apa saja yang sudah terjadi pada wanita itu.


Bahkan pria itu juga menghindari Riri agar bisa melupakan rasa cintanya pada Maysa. Namun, semua itu tidak bisa dia lakukan. Semakin hari rasa rindunya pada wanita itu sangat besar. Sepertinya usaha Aldo selama ini sia-sia, saat di depan Maysa pun kini jantungnya masih berdebar.


"Aku sudah berpisah dengan Kak Rafka. Mas Tama ini sekarang suamiku. "


Erik menatap sahabatnya. Pasti Aldo saat ini sangat syok, dirinya saja begitu terkejut, apalagi sahabatnya. Selama ini, Aldo sudah mengikhlaskan Maysa kepada Rafka agar keduanya bahagia. Nyatanya mereka justru berpisah dan sekarang wanita itu sudah menjadi milik orang kembali.


Seandainya saja dulu Aldi tidak pergi. Mungkin saja ada kesempatan bagi pria itu untuk mendapatkan Maysa, saat wanita itu berpisah dengan suaminya. Namun, kembali lagi mereka tidaklah berjodoh. Hingga usaha apa pun yang dilakukan untuk mendapatkan Maysa tidak membuahkan hasil.


"Berpisah karena apa, Kak? Selama ini aku lihat Kak Rafka begitu mencintai Kak Maysa,” tanya Erik lagi.


"Biarlah itu menjadi rahasia rumah tanggaku dulu. Tidak perlu dibuka kembali, takutnya akan semakin menyakitkan," jawab Maysa dengan tersenyum.


"Maaf, Kak. Aku tidak bermaksud untuk itu," ucap Erik yang merasa tidak enak.


Tama sendiri dari tadi menatap Aldo dengan pandangan intens. Dia yakin jika pria itu memiliki rasa terhadap istrinya. Terlihat sesekali pandangan itu melihat ke arah Maysa dengan penuh cinta. Tama bisa merasakan hal itu karena dia juga laki-laki.


"Anak-anak ke mana, Sayang?" tanya Tama lagi.


"Tadi katanya mau ambil makanan, Mas. Itu di sana! Mereka lagi antri es krim," jawab Maysa sambil menunjuk ke arah kedua anaknya.


Tama pun mengangguk dan duduk di samping sang istri. Tadinya Maysa mengira jika suaminya akan menghampiri anak-anak, ternyata malah ikut duduk juga. Kalau begitu, untuk apa tadi Tama tanya keberadaan anak-anak, tetapi wanita itu tidak mau ambil pusing. Anak-anak juga masih bisa terlihat.

__ADS_1


"Oh ya, kalian berdua sekarang kerja di mana? Rapi sekali sekarang, dulu saja urakan, pakaian tidak pernah dimasukkan, sering bolos saat jam sekolah."


"Itu fitnah dari mana, Kak? Dari dulu kami berdua ini murid yang paling rajin. Itu juga yang membuat semua orang berebut ingin kerja kelompok dengan kita. Untungnya Riri itu termasuk dalam kategori wanita yang paling beruntung. Dia bisa ikut bergabung dengan kelompok kita," jawab Erik dengan gaya sombongnya.


"Bilang saja kalau kamu yang memang ngajak Riri supaya bisa datang ke rumah. Biar bisa dapat makanan gratis. Setiap kalian datang, pasti Mama juga masak buat kalian. Banyak alasan," cibir Maysa.


"Kak Maysa perhitungan sekali padahal Mama Rafiqah saja tidak pernah perhitungan. Lagi pula setiap kita datang juga kita selalu bawa bahan makanannya. Kita tidak datang dengan tangan kosong. Kita juga tahu diri," sahut Erik dengan cemberut.


Selain Erik, Mama Rafiqah juga tahu kalau Aldo menyukai Maysa. Namun, wanita paruh baya itu sudah berjanji untuk tidak mengatakan apa pun pada putrinya. Setiap kali Aldo datang, juga selalu membawa segala macam perlengkapan dapur dan juga buah-buahan. Hingga membuat Mama Rafiqah merasa tidak enak.


"Kalian berdua 'kan pandai memainkan perasaan. Pasti sebelum kerja kelompok kalian juga akan merayu mama terlebih dahulu. Seperti kalian menggoda para wanita yang dekat dengan kalian."


"Mana ada seperti itu! Kakak suka ngarang."


Mereka pun terlibat perbincangan seru. Mengingat masa lalu, sementara Tama hanya tersenyum saat ada sesuatu yang lucu. Hingga tidak terasa waktu semakin malam.


Setelah cukup lama berbincang, Tama dan Maysa pamit pada Aldo dan Erik. Keduanya harus pulang karena anak-anak sudah waktunya tidur. Tadi juga mereka sudah bilang sama Riri, kalau tidak bisa mendampingi sampai acara selesai. Tidak lupa juga Maysa mengajak Mama Rafiqah untuk pulang.


"Sepertinya kali ini kamu terlambat lagi, Bro. Sekarang dia sudah menjadi milik orang lain. Mereka juga terlihat bahagia." Erik menepuk bahu Aldo, seolah memberi kekuatan pada sahabatnya itu.


Aldo tersenyum, dia mengiyakan ucapan sahabatnya. Meski hati ini masih untuknya, tetapi pria itu bukan orang yang suka memaksakan diri.


"Aku tahu, andai saja dulu aku tidak pergi begitu saja dan mengatakan, apa yang aku rasakan padanya. Apakah mungkin kejadiannya tetap seperti ini? Apakah aku masih memiliki kesempatan untuk memilikinya?"


"Aku juga tidak tahu harus menjawab apa."


"Dulu aku selalu berusaha untuk mengambil hati Mama Rafiqah. Aku juga berharap Kak Maysa bisa melihat hal itu, sebagai seorang wanita terhadap laki-laki. Bukan sebagai adik, tetapi sepertinya dalam keadaan apa pun Kak Maysa tetaplah menganggapku seperti adiknya. Tidak ada sedikit pun perasaan terhadapku."

__ADS_1


Erik menatap sahabatnya sambil membuang napas pendek. "Mungkin ini yang namanya tidak berjodoh. Saat kamu berusaha dengan semaksimal mungkin, tetapi ternyata hatinya sudah terpaut pada orang lain. Saat kamu menyerah, ternyata Kak Maysa malah disakiti oleh suaminya dan memilih pria lain, yang bisa menyembuhkan hatinya."


Aldo menatap Erik dengan kening mengerut. "Dari mana kamu tahu kalau Kak Maysa disakiti oleh suaminya? Kak Maysa 'kan tidak cerita tadi!"


"Kamu itu memang benar-benar tidak peka. Tadi Kak Maysa sudah memberi kode saat bercerita, kalau kamu itu nggak boleh merebut istri orang. Itu akan berdampak pada anaknya, secara tidak langsung dia itu menceritakan dirinya sendiri. Rumah tangganya itu hancur gara-gara orang ketiga," ujar Erik dengan kesal.


Sahabatnya ini memang kurang peka, pantas saja jika cerita cintanya berakhir tragis. Semoga saja nanti Aldo bisa menemukan seseorang, yang bisa mencintainya dengan tulus. Entah kapan waktu itu akan datang, semoga tidak akan lama lagi.


Aldo menganggukkan kepala, dia tidak pernah berpikir ke arah sana. Mungkin itu juga yang membuatnya sulit untuk memiliki cintanya. Padahal jika dibandingkan dengan orang lain, dia juga tidak kalah baik, tetapi kepekaanlah yang tidak pria itu miliki.


"Sudahlah, Bro. Tidak usah terlalu dipikirkan. Sudah aku katakan, sebaiknya cari wanita yang bisa menerima kamu apa adanya. Dicintai itu lebih baik daripada mencintai seseorang, yang tidak pernah membalas perasaan kita."


"Berbicara memang mudah, tetapi menjalankannya itu yang sulit. Aku sudah mencoba untuk membuka hatiku untuk wanita lain, tetapi ternyata semuanya tidak seperti yang aku inginkan. Aku selalu membanding-bandingkan mereka dengan Kak Maysa. Jangankan hatinya, dari segi fisik saja mereka sudah kalah jauh, lalu bagaimana aku bisa menerima mereka." Aldo menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan kasar. Dia benar-benar frustrasi.


"Itu dia, seharusnya kamu jangan jadikan Kak Maysa itu sebagai patokan untuk wanita yang akan mendampingimu. Setiap wanita pasti punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Begitupun dengan Kak Maysa. Sesempurna apa pun wanita itu, tetap saja memiliki kekurangan. Hanya saja saat ini sedang tertutup oleh rasa cintamu, yang begitu besar. Cobalah buka hati pelan-pelan, jangan terlalu dipaksa."


"Akan aku coba, tapi aku tidak bisa berjanji akan bisa seperti yang kamu harapkan."


"Kenapa jadi aku?"


Aldo tidak menanggapi keluhan temannya. Yang penting baginya saat ini adalah menyembuhkan luka yang ada di hati.


"Aku ada satu kandidat. Mungkin dia bisa membuatmu move on."


"Siapa?"


"Anaknya Kak Maysa."

__ADS_1


.


.


__ADS_2