
Setelah mendapatkan makanan yang Maysa dan Riri pesan, keduanya pergi meninggalkan restoran. Mereka menuju toko kue, tempat yang biasa Maysa beli.
"Kak, kita beli kue apa ini?" tanya Riri sambil melihat beberapa kue yang ada di etalase. Semua terlihat menggiurkan.
"Seadanya saja, ini sepertinya juga tinggal dikit-dikit semuanya. Sekarang sudah sore, mereka juga pasti tidak produksi lagi," jawab Maysa.
"Apa tidak apa-apa seperti itu?"
"Mau bagaimana lagi, semuanya hanya ada ini, daripada tidak ada. Lagi pula enak juga berwarna-warni."
Riri mengangguk dan menyebutkan nama kue apa saja yang akan dia beli. Maysa juga membelikan kue kesukaan anak-anaknya. Setelah itu, keduanya menuju penjual buah yang ada di pinggir jalan. Mereka sengaja memilih di sana karena memang satu arah dalam perjalanan pulang.
Kalau ke supermarket harus berputar balik lagi jadi, mereka cari tempat ada saja. Riri memilih beberapa buah, sementara Maysa hanya memilih satu buah saja, sambil memperhatikan adiknya. Dia tidak tahu gadis itu mau membeli buah apa.
"Kakak, kenapa diam saja? Bantuin dong!" seru Riri yang sedang kesal pada Kakaknya yang hanya memperhatikannya.
"Kakak 'kan nggak tahu kamu maunya buah apa."
"Terserah Kakak saja." Keduanya pun akhirnya memilih buah bersama.
Setelah dirasa cukup, Maysa dan Riri kembali pulang ke rumah. Hari sudah semakin sore, di rumah juga belum ada persiapan apa-apa. Mereka tidak sempat meminta om mereka yang berada di luar kota untuk datang.
Untungnya Mama Rafiqah sudah meminta maaf pada mereka karena memang acaranya serba dadakan. Om dan tante mereka pun tidak merasa keberatan. Rumahnya juga jauh, jika dekat pasti mereka akan datang.
"Assalamualaikum," ucap Riri dan Maysa saat memasuki rumah. Keduanya membawa beberapa kantong kresek. Di dalam mobil juga masih ada yang lainnya, nanti bisa diambil lagi.
"Mama sama Tante beli apa? Banyak sekali makanannya?" tanya Eira yang berada di ruang keluarga. Dia mengikuti mama dan tantenya menuju meja makan. Dio juga tidak mau kalah dan mengikuti mereka. Anak itu juga penasaran, apa yang dibeli kedua wanita itu.
"Ini ada kue dan makanan."
"Aku mau yang ini, Ma," ucap Eira sambil menunjuk kue kesukaannya.
"Iya, boleh. Dio mau juga?" tanya Maysa pada sang putra.
"Tidak, Ma. Aku sudah kenyang, tadi dikasih Oma kue juga," jawab Dio yang lebih memilih duduk di kursi meja makan.
"Kalau mau, ambil sendiri, ya! Mama mau beres-beres buat nanti ada tamu."
"Memang ada tamu siapa, Ma?" tanya Eira dengan mulutnya yang masih penuh dengan kue.
"Ada temennya Oma. Nanti Dio dan Eira bantuin, ya?"
"Iya, Ma." Eira masih menikmati kuenya, sementara Dio hanya diam memperhatikan adiknya sambil tersenyum.
Maysa dan Riri membereskan rumah dan menata apa saja yang dibutuhkan nanti malam. Tidak lupa juga Riri menyiapkan segala keperluannya.
"Ma, nanti keluarganya Adit berapa orang? Apa perlu kita menggelar permadani? Kursinya biar dibawa masuk ke dalam," tanya Maysa saat sedang membersihkan ruang tamu.
"Mama lupa, kemarin nggak tanya berapa orang. Bagaimana ini?"
"Lebih enakan sofanya dibawa masuk ke dalam saja, Ma. Nanti Mas Tama sama Mama Mirna juga datang.
Mama Rafiqah sedikit terkejut. Dia pun bertanya pada putrinya untuk memastikan hal itu. "Mertua kamu mau datang juga?"
__ADS_1
"Iya, Ma. Kita 'kan nggak ada keluarga jadi, aku minta Mas Tama buat ajak Mama Mirna."
Mama Rafiqah mengangguk. "Iya, tidak apa-apa. Biar Mama ada temennya juga. Ya sudah, kursinya dimasukkan saja. Siapa tahu nanti Adit membawa keluarganya."
Maysa dan Riri mengangkat sofa ke ruang keluarga. Segala persiapan mereka lakukan. Mama Rafiqah kembali memeriksa persiapannya, barangkali ada yang tertinggal. Dia takut mempermalukan putrinya.
Setelah Maghrib, Tama dan Mama Mirna datang. Keduanya di sambut Mama Rafiqah yang membukakan pintu.
"Maaf, Bu Rafiqah, saya datang terlambat jadi, tidak bisa bantu apa pun," ucap Mama Mirna yang merasa tidak enak pada besannya.
Tadi dia memang sudah membaca pesan dari Maysa, tetapi wanita itu terkejut saat Tama mengajaknya untuk datang juga. Mama Mirna tidak berpikir seperti itu sebelumnya. Dia pikir hanya anak dan menantunya yang pergi.
"Itu tidak perlu, Bu Mirna. Saya juga tidak ngapa-ngapain dari siang. Semuanya anak-anak yang beli. kami tidak sempat membuat apa pun. Acaranya semua serba dadakan."
"Apa pun yang terjadi, semoga saja semuanya berjalan dengan lancar."
"Amin, terima kasih doanya. Ayo, masuk! Silakan duduk dulu, kita ngobrol sejenak," ajak Mama Rafiqah.
Keduanya duduk di ruang tamu, sambil berbincang menunggu kedatangan keluarga Adit. Tama memilih masuk ke dapur untuk menemui sang istri.
"Kak Tama, sudah datang!" sapa Riri yang menata beberapa makanan.
"Iya." Tama melihat ke kiri dan ke kanan. Tidak ada siapa pun di sana, dia pun bertanya, "Maysa dan anak-anak ada di mana, Ri?"
"Ada di kamarnya, tadi mau nyiapin anak-anak."
"Aku ke sana, ya!"
Tama pun pergi menuju kamar, yang biasa digunakan olehnya saat menginap di rumah ini. Dia mengetuk pintu tiga kali kemudian membukanya dengan perlahan. Tampak Maysa yang sedang mendandani Eira.
"Assalamualaikum," ucap pria itu.
"Waalaikumsalam, Papa!" seru Eira yang kemudian memeluk pria itu.
Tama pun segera menggendong putrinya dengan berpura-pura kesulitan. "Aduh! Putri Papa semakin hari semakin berat saja. Papa sampai kesulitan gendongnya."
"Iya, dong, Pa. Aku tiap hari minum susu jadi, semakin sehat."
"Anak Papa memang hebat."
"Mas," sapa Maysa sambil mencium punggung tangan pria itu, diikuti oleh Dio. "Kamu sama mama, Mas?"
"Iya, Mama lagi ngobrol sama Mama Rafika di luar," jawab Tama yang kemudian duduk di tepi ranjang.
"Ayo, anak-anak sudah, kan! Kita keluar, yuk! Di depan ada oma!" seru Maysa pada kedua anaknya.
"May, biar anak-anak saja yang keluar. Kamu di sini saja dulu, ada yang ingin aku bicarakan sebentar," sela Tama yang kemudian bicara dengan putranya. "Dio, ajak adiknya ke depan ya?"
"Iya, Pa." Dio dan Eira pun berjalan ke depan, sementara Maysa duduk di tepi ranjang, di samping sang suami.
"Ada apa, Mas? Sepertinya serius sekali?" tanya Maysa setelah anak-anaknya tidak terlihat.
"Tadi aku sudah bicara sama Mama Mirna, mengenai Mama Rafiqah dan dia juga tidak keberatan kalau Mama Rafiqah ikut kita pulang ke rumah. Tinggal kamu saja yang membujuknya. Aku sangat mengerti bagaimana perasaan Mama Rafiqah yang pastinya akan sulit meninggalkan rumah ini."
__ADS_1
Maysa tersenyum, dia tahu jika suami dan mertuanya menang orang baik. Mereka pasti tidak keberatan akan hal itu. Akan tetapi, membujuk Mama Rafiqah juga pasti akan sulit. Mengingat banyak sekali kenangan yang ada di rumah ini.
"Aku juga kemarin sudah mengatakan semuanya pada Riri dan Mama. Seperti yang kamu bilang, kalau Mama sepertinya enggan untuk meninggalkan rumah ini."
"Makanya itu, kamu harus membujuknya lagi. Beri pengertian secara perlahan, pasti Mama mengerti. Lagi pula di rumah juga ada Mama Mirna, pasti tambah seru. Mereka bisa sering berbincang atau melakukan hal sama-sama."
"Nanti aku coba bicara sama Mama lagi, Mas. Mudah-mudahan saja Mama mau."
Tama mengangguk, dia juga tidak bisa memaksa jika mertuanya menolak. Pria itu tahu betapa sulitnya beradaptasi di lingkungan baru. Apalagi untuk wanita seusia Mama Rafiqah. Dirinya saja terkadang malas harus berinteraksi dengan orang baru.
"Ya sudah, ayo kita keluar! Nggak enak kalau kelamaan di kamar."
Tama dan Maysa pun keluar dan bergabung dengan kedua wanita paruh baya itu. Anak-anak tampak diam mendengarkan para orang tua berbicara. Terkadang mereka juga menjawab jika ditanya.
Tidak berapa lama, terdengar suara mobil berhenti di depan rumah. Mereka yang mendengar pun segera keluar untuk menyambut tamu. Benar saja, itu adalah Adit bersama dengan keluarganya. Pria itu datang bersama dengan sang papa dan juga sepasang suami istri. Mungkin itu kerabatnya.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, Pak Adit, apa kabar? sapa Tama.
"Saya baik, Pak Tama. Sudah lama kita tidak bertemu," sapa Adit balik.
"Iya, mungkin karena kerjasama kita juga dilakukan oleh sekretaris jadi, kita jarang sekali bertemu. Silakan masuk, mari semuanya!" ajak Tama.
Mama Mirna dan Mama Rafiqah menyalami para tamunya, sementara Maysa menerima parcel yang dibawa oleh wanita yang datang bersama keluarga Adit.
"Maaf, ya, Pak. Kita duduk lesehan begini," ucap Mama Rafiqah yang merasa tidak enak. Keluarga Adit pasti tidak terbiasa dengan keadaan seperti ini.
"Tidak apa-apa, Bu. Justru lebih nyaman seperti ini, kekeluargaannya lebih terasa."
"Anda bisa saja."
"Ngomong-ngomong, pengantinnya yang mana?" tanya wanita yang tadi datang bersama dengan Adit. Dia adalah tantenya.
"Sebentar, Tante, biar saya yang panggilkan," sahut Maysa yang kemudian berlalu dari sana.
"Saya kira wanita itu tadi calon istrinya Adit," ucap Wanita itu sambil terkekeh.
"Bukan, Bu. Itu kakaknya," sahut Mama Rafiqah.
"Tante, itu tadi Kak Maysa, istrinya Pak Tama," sela Adit yang tidak ingin ada kesalahpahaman.
"Oh, maaf, Pak Tama. Saya tidak ada maksud apa-apa karena memang saya mengira hanya dia yang ada di sini."
"Tidak apa-apa, Bu. Saya mengerti maksud Anda."
Terdengar suara langkah kaki mendekati ruang tamu, semuanya pun melihat ke arah orang tersebut. Ternyata Maysa yang datang dengan menggandeng Riri. Gadis itu menundukkan kepala karena merasa malu menjadi bahan perhatian.
.
.
.
__ADS_1