
hari ini keempat orang itu siap naik pesawat yang akan membawa mereka ke Surabaya, tak butuh waktu lama untuk sampai di bandara Juanda Surabaya.
setelah satu jam tiga puluh menit, mereka berempat pun sampai di kota kelahiran dari sang bunda.
Daniel melambai kan tangan pada rombongan itu, Gabriel dan ketiga adiknya pun menghampiri Daniel.
"selamat datang di kota ku," sapa Daniel yang langsung berpelukan dengan Gabriel.
begitupun dengan Danish, Daniyal dan Puri, "kita langsung pulang atau mau makan dulu?" tanya Daniel pada keempat nya.
"kita makan di rumah saja lah, aku sudah terlalu lelah, aku ingin istirahat untuk nanti malam," jawab Gabriel.
"cih, kau tak asik kak, kenapa kita harus makan di rumah, padahal di Surabaya banyak penjual makanan enak," kata Danish kesal.
"kalau begitu kita ke rumah eyang saja bagaimana, lagi pula kalian akan tinggal di sana, selama kami menyelesaikan tugas," jawab Daniel.
"gak papa lah, mending aku mengajak Diego berkeliling, setidaknya kesukaan kami sama," kata Daniyal.
"asal kalian tak akan berurusan dengan pihak kepolisian, aku membebaskan, dan Puri kamu juga bisa bersama Adelia dan Dara nanti ya," kata Gabriel pada ketiganya.
"iya kak, aku sudah tak sabar mau shopping dengan kak Adelia," kata Puri senang.
"dasar wanita, oh ya jangan lupa belikan aku juga ya," kata Danish.
"tak masalah asal kalian harus mau memakainya," jawab Puri sambil mengedipkan matanya.
"aduh kok perasaan ku gak enak ya," kata Daniyal.
__ADS_1
mobil mereka pun sampai di area perumahan itu, Gabriel menginggat beberapa tempat meski sudah banyak yang berubah.
mereka pun berhenti di rumah yang cukup besar dan terlihat Adelia dan yang lain sudah menunggu kedatangan tamu jauh.
pak Kuncoro langsung menghampiri ketiga cucu laki-laki nya itu, sedang Adelia memeluk Puri.
"ya Alloh, kalian sudah besar semua, ayo masuk, Puri.." panggil pak Kuncoro.
"iya eyang," jawab Puri yang juga memeluk pak Kuncoro seperti halnya pak Jaya.
semua keluarga pun berkumpul, bahkan kedatangan keempat orang itu membuat rumah pak Kuncoro begitu ramai.
tak lama terdengar suara motor yang berhenti di depan rumah tak lama juga ada mobil yang datang.
"bang JK!" teriak Adelia, dan Dara bersamaan.
JK tersenyum melihat sepupunya yang selalu heboh saat dia datang, Namira dan juragan Wawan juga datang bersama putri kecil mereka yang bernama Alisa.
"baik adik El, sekarang kamu makin ganteng ya El," kata Namira.
"mami mah lihatnya bang Gabriel saja, kami yang ganteng gak nampak," kata Danish yang sedang bermanja dengan Bu Desi.
"huh ngapain mami ingat kamu, kamu mah bandel," kata Namira.
"itu Daniyal mami, aku mah anak baik," jawab Danish.
"sudah ih, apa kabar Puri, makin cantik saja, sudah punya pacar?" tanya Namira sambil melirik Gabriel.
__ADS_1
"belom mami, habis pria nya gak peka, Kasihan deh masak Puri di suruh dia tua baru sadar," jawab Daniyal.
"Daniyal!" teriak semua orang.
"apa kamu sudah siap?" tanya Daniel pada Gabriel.
"tentu, aku sudah tak bisa melihat eyang terus di manfaatkan oleh pria bajing*n itu, cukup aku akan mengakhiri semuanya," jawab Gabriel.
"kalian berdua jangan berdiri saja di sana, kemari dan ayo makan dulu, oh ya eyang uti kalian ini masak semua makanan kesukaan kalian loh," kata Adjie yang membantu menata tikar.
"eyang-eyang ku yang cantik sehat terus ya, biar nanti bisa lihat Gabriel menikah," kata Gabriel memeluk eyang Andini dan Bu Desi.
"kapan Gabriel, umur eyang mungkin tak akan lama lagi, karena eyang Andi dan ayah mu sudah menunggu eyang," kata eyang Andini sambil menepuk tangan Gabriel.
"tunggu Puri lulus sekolah eyang, pasti Gabriel akan menikah," jawab Gabriel.
"baiklah, semoga eyang Kakung mu mau menunggu," jawab eyang Andini tersenyum.
semua pun makan bersama dengan akrab, bahkan Adelia bisa tertawa lepas dsn melupakan kejadian beberapa hari yang lalu.
setelah selesai makan Gabriel dan Daniel memilih merokok di taman depan sambil membawa kopi.
tak lama JK pun menghampiri mereka, "kalian jika butuh bantuan aku bisa," kata JK menwarkan dirinya.
"tidak bang, kita bisa mengatasi pria itu, dan juga kami juga dapat bantuan dari anak buah om Bayu," jawab Daniel.
"kau tau Daniel tak bik meremehkan musuh mu, dan juga aku dengar dia begitu di hormati di desa itu," kata JK.
__ADS_1
"bang JK dari pada ngurusin orang lebih baik kuliah yang benar, masak gak malu sama kembar kampret itu," kata Gabriel.
"cih, asal kau tau jika bukan karena dosen pembimbingku yang menyebalkan itu, tak mungkin skripsi ku terus di tolaknya," jawab JK sambil membuang puntung rokoknya.