Rahasia Suamiku

Rahasia Suamiku
121. Datang


__ADS_3

Setelah dibujuk oleh banyak orang, akhirnya Eira mau juga diajak melayat adik tirinya. Maysa merasa lega, setidaknya sang putri tidak memiliki dendam lagi pada adiknya. Bagaimanapun juga mereka sama-sama anak kecil, yang tidak tahu apa-apa. Tidak seharusnya diracuni dengan pikiran-pikiran kotor orang dewasa.


Maysa dan Tama kembali ke kamar setelah meminta anak-anak untuk bersiap. Keduanya juga harus bersiap. Mudah-mudahan saja mereka tidak terlambat karena memang tidak tahu kapan anak itu meninggal.


"Mas, kita tidak tahu Kak Rafka sekarang tinggal di mana. Terus kita sekarang mau melayatnya ke mana?” tanya Maysa pada sang suami, saat keduanya sudah berada di dalam kamar.


"Kalau kamu sendiri tidak tahu, bagaimana dengan aku, Sayang. Aku juga tidak mengenal keluarga mereka. Hanya Rafka saja yang kenal, itu pun juga tidak terlalu dekat."


Keduanya berpikir kira-kira harus bagaimana caranya, untuk mengetahui tempat tinggal Rafka. Tanpa harus merepotkan keluarga yang saat ini sedang berduka.


"Sebaiknya aku tanyakan saja sama Mia. Kalau sama dia aku masih terkadang berkomunikasi. Meskipun jarang juga," ucap Maysa yang diangguki oleh Tama.


Baru saja wanita itu menyalakan ponselnya, sudah ada panggilan masuk dari Tante Ishana. "Baru saja mau ditelepon, sudah ada panggilan masuk saja, Mas. Ini dari Tante Ishana," ucap Maysa sambil menunjukkan layar ponselnya ke arah sang suami.


"Sebaiknya diangkat saja, Sayang. Siapa tahu penting," ucap Tama pada sang istri.


Maysa pun mengangguk dan segera menggeser tombol hijau di layar ponselnya. Sudah lama mereka tidak berkomunikasi. Biasanya Mama Ishana hanya akan mengirim pesan chat saja. Jika menelepon pun akan bertanya lebih dulu sibuk atau tidak.


"Assalamualaikum, Tante. Apa kabar?" tanya Maysa, dia berpura-pura tidak mengetahui berita apa pun. Wanita itu tahu jika mantan mertuanya itu ingin memberi kabar jadi, lebih baik Maysa menunggu wanita itu yang bicara.


"Mama baik, tapi Mama mau memberi kabar, kalau anaknya Raka sudah meninggal. Mama harap kamu dan keluarga bisa datang, begitu juga dengan Eira. Mama sangat berharap kedatangannya, bagaimanapun juga mereka bersaudara," ujar Mama Ishana dengan suara serak. Pasti wanita itu habis menangis.


Maysa menghela napas pelan. Dia tidak ingin Mama Ishana tersinggung dengan sikapnya. Jujur wanita itu tidak suka ada orang lain yang mengatakan jika mereka bersaudara. Nyatanya orang tuanya tidak bisa bersikap adil kepada mereka.


Maysa tahu, bagaimanapun juga Eira memang tetaplah anak Rafka. Akan tetapi, rasanya tetap saja berbeda saat ada orang lain yang berkata seperti itu. Meski pada akhirnya dirinya sendiri juga berkata demikian.

__ADS_1


"Iya, Tante aku juga baru saja mengetahui berita itu. Insya Allah aku dan keluarga akan datang. Memang jenazah disemayamkan di mana Tante? Aku tidak tahu alamat tempat tinggal Kak Rafka sekarang."


"Jenazah akan dibawa ke rumah Mama jadi, kamu datang ke sini saja."


"Oh iya, Tante. Saya dan keluarga akan datang ke sana," ucap Maysa yang berbasa-basi sejenak, kemudian menutup panggilan telepon.


Maysa memandangi ponselnya. Dia bisa merasakan kesedihan yang begitu besar dari Mama Ishana. Pasti sangat berat kehilangan orang yang begitu disayangi. Wanita itu jadi bertanya-tanya, apakah dulu saat berpisah dengan Eira, Mama Ishana juga merasa sedih seperti ini.


Wanita itu segera menggelengkan kepalanya. Bagaimanapun kadarnya berbeda. Jika berpisah dengan Eira, masih bisa bertemu kapan saja, sedangkan anaknya Rafka sudah tidak bisa bertemu lagi.


"Bagaimana, Sayang? Apa kamu sudah tahu alamat tempat tinggal Rafka?" tanya Tama membuyarkan lamunan istrinya.


"Tidak, Mas. Kata omanya Eira, jenazah akan dibawa ke rumah beliau jadi, kita melayat ke sana saja. Aku juga merasa nyaman jika ada di sana, setidaknya ada kerabat yang akan membela Eira jika ada sesuatu.”


"Ya sudah, kita siap-siap ke sana agar tidak terlambat. Semoga Eira masih bisa melihat adiknya."


Sepanjang perjalanan, tidak ada satu orang pun yang berbicara, termasuk Eira. Biasanya anak itu yang paling ceria. Namun, kali ini tidak satu kata pun keluar dari mulutnya. Dia hanya berbicara jika ada yang bertanya.


Dio sengaja ingin memancing adiknya agar berbicara dan tidak terlalu larut dalam kesedihan. Namun, tetap saja hanya satu, dua kata yang terucap. Maysa tersenyum dan mengangguk ke arah anak laki-lakinya. Dia senang melihat mereka saling mendukung.


Tidak berapa lama akhirnya mereka hampir sampai di rumah keluarga Papa Irfan. Dari jauh sudah terlihat banyak orang di sana. Semuanya sibuk mempersiapkan acara pemakaman. Tama pun memarkirkan mobilnya sedikit jauh dari rumah duka.


Mereka semua berjalan kaki ke sana. Maysa menuntun putrinya dengan pelan. Awalnya dia menawarkan diri untuk menggendong. Namun, gadis kecil itu menolak dan ingin berjalan saja.


"Assalamualaikum," ucap Maysa pelan, dia masuk ke dalam rumah bersama dengan kedua anaknya, sementara Tama berhenti di depan dan bergabung dengan pelayat pria yang lain.

__ADS_1


Mama Ishana segera menyambut kedatangan Eira dan memeluk cucunya itu. Selain karena ingin menumpahkan rasa sedihnya, dia juga meluapkan rasa rindu pada gadis kecil itu. Sudah sangat lama mereka tidak bertemu. Jika bertemu pun hanya sebentar sekali.


Rafka yang melihat kedatangan putrinya pun ikut berdiri dan mendekatinya. Pria itu memeluk Eira dengan begitu erat. Rasa bersalahnya yang selama ini dia kubur, muncul begitu saja. Seandainya waktu bisa kembali, Rafka akan berusaha seadil mungkin.


Vida yang melihat itu semua pun hanya bisa mengepalkan tangannya. Ingin sekali dia mengusir mereka dari sini. Namun, wanita itu tahu jika itu percuma. Seluruh keluarga Rafka sangat menyayangi Eira dan juga Maysa.


Mereka menganggap kedua orang itu seperti keluarga sendiri. Padahal Maysa sekarang bukanlah siapa-siapa. Justru keberadaan dirinya lah yang dikucilkan di sini. Keluarga Rafka tidak pernah menganggap keberadaannya, bahkan beberapa diantara mereka juga selalu mengabaikannya. Semua menganggap seolah-olah dirinya tidak pernah ada di antara mereka.


"Aku turut berduka cita, ya, Kak. Mudah-mudahan Kak Rafka dan Vida bisa menerima semuanya dengan ikhlas. Aku yakin Tuhan lebih sayang padanya dan tidak ingin membuat dia semakin tersakiti," ucap Maysa pada Rafka.


Pria itu mengangguk dan mengurai pelukannya. "Terima kasih kamu sudah mau datang ke sini. Kamu juga sudah bersedia membawa Eira. Awalnya tadi aku mengira kamu tidak akan mengizinkan Aira datang. Mengingat apa yang sudah pernah aku lakukan padanya. Ternyata aku salah, kalian masih mau datang. Padahal selama ini aku tidak pernah memperlakukan kalian dengan baik."


Rafka menunduk, dia merasa tidak pantas berdiri di depan orang-orang baik seperti mereka. Sudah berulang kali pria itu menyakiti Eira, tetapi selalu saja kata maaf terucap. Itu semakin membuat Rafka kecil.


"Semuanya sudah lewat, Kak. Bagaimanapun juga Eira juga saudaranya, dia berhak untuk datang dan aku tidak mungkin melarang."


Jika menuruti kata hati, ingin sekali Maysa mengeluarkan kata-kata mutiaranya. Namun, saat ini bukanlah waktu yang tepat. Rafka sedang berduka, tidak seharusnya dia menambah luka di dalam hatinya. Cukup kehilangan putra yang pria itu sayangi sudah sangat menyakitkan.


"Eira mau lihat adik?" tanya Mama Ishana.


Eira hanya diam dan menatap tubuh yang saat ini sudah tertutup kain. Mama Ishana Masih diam, menunggu jawaban dari cucunya. Dia tahu jika Eira masih berpikir, entah apa yang ada di kepalanya. Wanita itu juga tidak akan memaksa jika gadis kecil itu menolak.


Sampai akhirnya Eira mengangguk. Hal itu tentu saja membuat Mama Ishana dan Rafka senang. Itu artinya sang putri sudah menerima kehadiran adiknya. Mama Ishana pun mengajak cucunya untuk mendekat.


.

__ADS_1


.


__ADS_2