Rahasia Suamiku

Rahasia Suamiku
148. Calon adik


__ADS_3

“Bagaimana tadi memasang CCTV-nya? Apa semuanya sudah selesai?” tanya Adit pada sang istri saat dirinya baru saja selesai mandi.


“Iya, Mas. Semuanya juga sesuai dengan apa yang aku dan Kak Maysa inginkan. Semoga saja dengan begini, kita bisa tahu keadaan mama nantinya,” sahut Riri dengan tersenyum ke arah sang suami.


“Amin, semoga saja semuanya berjalan sesuai dengan kamu dan Kak Maysa.” Adit duduk di samping sang istri dengan pakaian santainya. “Mengenai perawat ini bagaimana?”


“Aku nggak tahu, Mas. Aku seharian pergi. Bukannya dia akan mulai bekerja besok?”


Adit mengangguk. “Kata Bik Ira, tadi dia banyak ngobrol sama papa. Mungkin dia ingin mulai pendekatan dengan papa. Kamu tahu 'kan kalau dari awal papa tidak setuju dengan keberadaan Fadli."


Sejak tadi di kantor, Adit sama sekali tidak bisa tenang. Dia memikirkan keadaan papanya. Pria itu takut kalau Papa Dimas mengusir perawatnya. Ditambah Riri sedang pergi ke luar. Untung saja masih ada Bik Ira yang bisa dihubungi.


"Iya, Mas. Semoga saja dia bisa mengambil hati Papa. Besok kamu ke kantor lagi, Mas?"


"Tidak, hari liburku masih dua hari lagi. Kamu mau pergi atau ke mana? Mumpung aku masih libur, besok kalau sudah sibuk pasti susah cari waktu luang."


"Tidak ada yang ingin aku datangi. Di rumah juga sama saja," jawab Riri dengan menggeleng. Dia senang saja saat ada yang mengajaknya liburan. Hanya saja untuk saat ini belum tepat.


Keduanya pun berbincang sambil bercanda, hingga tidak terasa mereka menghabiskan waktu hingga sore hari. Seharusnya Riri memeriksa laporan penjualan butik pun jadi lupa.


****


Di tengah malam, Maysa terbangun. Dia menuju ruang makan, di mana semua keluarganya sudah menunggu di sana, termasuk Eira dan Dio. semua orang juga sudah siap untuk memberi kejutan pada Tama. Mereka semua sepakat untuk memberi ucapan selamat ulang tahun pada Tama di tengah malam. Semoga saja pria itu suka dengan kejutan ini.

__ADS_1


"Bagaimana semuanya, sudah siap?" tanya Maysa pada semua orang sambil berbisik.


Mereka pun mengangguk bersamaan. Maysa berjalan di depan dengan membawa kue. Sampai di depan kamar, wanita itu menyalakan lilin yang di atas kue kemudian, masuk dalam kamar dengan perlahan dan menyalakan lampu. Terlihat Tama masih bergelung dalam selimut. Pria itu memang gampang terlelap saat tidur.


"Selamat ulang tahun ... selamat ulang tahun ... selamat ulang tahun, Papa. Semoga panjang umur." Mereka bernyanyi bersama-sama, hingga membangunkan semua orang.


Tama yang masih tidur pun berusaha untuk membuka matanya. Dia tersenyum ke arah semua orang, tidak menyangka jika akan mendapatkan kejutan malam ini. Pria itu tahu jika hari esok adalah ulang tahunnya. Tama mengira jika keluarganya akan memberikan ucapan selamat pada esok hari.


Namun, tidak menyangka kalau dia mendapatkan kejutan di tengah malam, tepat pergantian hati kelahirannya. Sungguh beruntungnya pria itu memiliki keluarga seperti ini, yang selalu menyayanginya. Bahkan kedua anaknya pun ikut memberi kejutan.


Setelah selesai dengan nyanyian, Tama meniup seluruh lilin yang ada di atas kue. Semua orang bertepuk tangan dengan riangnya. Mereka bahagia bisa ikut merayakan bertambah usianya Tama hari ini. Berbagai doa mereka ucapkan untuk pria itu, berharap ke depannya akan lebih baik lagi.


"Sebaiknya kita keluar yuk! Sambil menikmati kue ini," ajak Maysa yang diangguki oleh semua orang.


"Mas, ini hadiah dariku. Semoga kamu suka dengan hadiahnya," ucap Maysa sambil menyerahkan kotak kecil pada sang suami.


Tama penasaran, kira-kira apa hadiah dari istrinya itu. Pria itu pun melihat ke arah sang istri dan bertanya, "Boleh aku buka kadonya sekarang?"


"Buka saja. Semoga kamu senang dengan kado dariku," jawab Maysa dengan tersenyum.


Dia merasa deg-degan saat sang suami membuka kado tersebut, mengingat ini pertama kalinya dia memberi hadiah. Wanita itu terus memperhatikan Tama yang berusaha membuka kado. Semua orang yang ada di sana juga memperhatikan pria itu. Mereka penasaran, kira-kira apa isi kado tersebut.


Begitu kotak kecil dibuka, ternyata isinya adalah sebuah tespek bergaris dua. Mata Tama berkaca-kaca, tidak menyangka akan mendapatkan kado yang begitu berharga untuknya. Pria itu sudah menunggu moment ini tiba dan akhirnya bisa terpenuhi. Diusianya yang bertambah kali ini, kebahagiaan telah datang.

__ADS_1


Semoga ke depannya dia dan keluarga selalu bahagia. Semua orang yang ada di sana pun menunggu, kira-kira hadiah apa yang Maysa berikan kepada Tama. Namun, yang mereka lihat adalah pria itu yang sudah meneteskan air mata. Mereka penasaran, apa yang membuat dia menangis.


Hingga pertanyaan dari Eira, mengalihkan perhatian mereka. "Kenapa Papa menangis? Apa Papa tidak suka dengan kado dari Mama?"


Tama menggeleng dan menjawab, "Tidak, Sayang. Justru Papa begitu bahagia dengan kado yang diberikan oleh Mama. Eira tahu nggak kadonya apa?"


Eira hanya menggeleng sebagai jawaban. Hal itu justru membuat Tama terkekeh karena merasa lucu dengan tingkah putrinya. Pria itu mengusap kepala Eira Dan Dio. Dia mencoba untuk lebih dekat dengan kedua anaknya. Tama ingin menjelaskan apa yang sudah diberikan mamanya pada mereka. Pria itu berharap kedua anaknya menerima kedatangan keluarga baru.


"Begini, Sayang. Mama saat ini sedang hamil, dalam perut Mama sekarang ada dedek bayi. Eira dan dia juga harus menyayanginya, sama seperti Eira dan Dio saling menyayangi. Dedek bayi 'kan adiknya Eira dan Dio juga," ujar Tama sambil melihat kedua anaknya bergantian.


"Terus dedek bayinya kapan keluar, Pa?" tanya Eira yang tidak sabar ingin melihat adiknya.


"Masih lama, Sayang. Masih sembilan bulan lagi. Eira dan Dio suka tidak punya adik bayi?"


Eira segera mengangguk dengan cepat. Gadis itu terlihat senang saat Tama memberi kabar mengenai kehamilan sang istri. Sementara itu, Dio hanya diam saja. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Maysa yang melihat itu pun jadi merasa takut jika anak itu tidak mau menerima adiknya.


"Dio, tidak suka punya adik?" tanya Maysa pada putranya.


"Suka, Ma. Justru Dio senang karena punya banyak saudara. Dio cuma mau kalau mama dan papa juga tetap menyayangi kami meskipun ada dedek bayi," ucap Dio yang tidak ingin seperti temannya.


Di sekolah temannya ada yang cerita. Jika sekarang mama dan papanya sudah tidak menyayanginya lagi. Itu karena mereka lebih menyayangi adiknya. Temannya juga mengatakan kalau dia tidak suka memiliki adik. Orang-orang terdekat juga sudah tidak peduli lagi padanya.


.

__ADS_1


.


__ADS_2